NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Satria

Kehidupan di batalyon terpencil itu mulai memiliki polanya sendiri yang menenangkan. Alisa sudah terbiasa dengan suara terompet pagi, derap langkah lari prajurit, dan keheningan hutan yang menyelimuti malam. Novel keduanya sedang dalam proses penggodaan ide, dan joglo batalyon tetap menjadi markas utamanya. Sore itu, hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang tajam dan uap tipis yang naik dari permukaan aspal pangkalan. Alisa sedang asyik berkutat dengan draf bab pertama saat seorang pemuda asing muncul di tangga joglo, tampak ragu-ragu dengan sebuah map besar di tangannya.

Pemuda itu tidak mengenakan seragam loreng lengkap, melainkan kemeja taktis berwarna pasir dengan celana kargo senada. Tubuhnya tegap namun tidak sekaku prajurit infanteri pada umumnya. Wajahnya terlihat asing, mungkin anggota baru atau pindahan dari satuan lain. Ia sempat terdiam melihat Alisa yang duduk sendirian dengan laptop dan segelas teh kopi yang masih mengepul. "Maaf, apa saya mengganggu? Saya sedang mencari area Wi-Fi yang katanya paling stabil di sini," tanya pemuda itu dengan suara yang ramah namun sopan.

Alisa mendongak, merapikan letak kacamatanya. "Tidak mengganggu. Silakan, di sini memang titik sinyal terbaik. Saya Alisa," jawabnya singkat. Pemuda itu mengangguk lega, mengambil posisi duduk di kursi yang agak jauh agar tidak mengusik privasi Alisa. "Saya Satria. Lettu Satria. Saya baru pindah dari bagian perhubungan pusat untuk membantu Om Damar di proyek transmisi ini," ia memperkenalkan diri sambil membuka laptopnya sendiri yang tampak dipenuhi dengan diagram kabel dan frekuensi.

Suasana kembali sunyi, hanya terdengar suara ketikan keyboard yang saling bersahutan. Alisa sesekali melirik ke arah Satria yang tampak sangat serius menghadap layarnya. Ada sesuatu yang berbeda dari pemuda ini; ia tidak sekaku para prajurit yang biasanya takut-takut jika berpapasan dengan putri Komandan. Satria tampak lebih santai, seolah ia sudah terbiasa dengan lingkungan militer namun tetap menjaga sisi manusianya. Keheningan itu pecah saat Satria tiba-tiba bersuara tanpa menoleh. "Judul novel kamu yang pertama bagus. Penjaga Pangkalan Terakhir. Saya sudah membacanya saat masih di Jakarta."

Alisa tertegun, tangannya berhenti mengetik. "Kamu membacanya? Saya pikir orang-orang di perhubungan lebih suka baca manual teknis daripada fiksi." Satria akhirnya menoleh, tersenyum kecil yang membuat wajahnya tampak lebih ramah. "Fiksi itu manual teknis untuk perasaan, Alisa. Kadang kita butuh itu supaya tidak jadi robot di lapangan. Bagian tentang penantian di dermaga itu... jujur sekali. Kamu pasti sangat merindukan Ibumu saat menulis itu."

Pernyataan itu membuat Alisa sedikit tersentak. Jarang ada orang yang langsung bisa membaca emosi di balik tulisannya dengan begitu tepat, apalagi seorang pria yang baru ia temui sepuluh menit. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di hatinya. Satria tidak memujinya sebagai "anak Komandan yang hebat", melainkan sebagai seorang penulis yang berhasil menyampaikan rasa. Mereka mulai mengobrol lebih banyak, beralih dari urusan internet ke urusan buku. Satria ternyata memiliki minat yang luas pada literatur klasik, sesuatu yang jarang Alisa temukan di pangkalan ini.

"Ayahmu, Mayor Cakra, adalah orang yang sangat disiplin. Om Damar sering cerita tentang kegalakannya di akademi dulu," ujar Satria sambil tertawa kecil. "Tapi melihat dia membangun joglo ini dan memastikan internet lancar hanya agar kamu bisa menulis, saya rasa dia adalah ksatria paling romantis yang pernah saya tahu dengan caranya sendiri." Alisa tertawa, setuju dengan pengamatan Satria. Ia mulai merasa nyaman dengan kehadiran pemuda ini. Satria tidak berusaha mengintimidasi atau bersikap sok tahu; ia hanya menjadi teman bicara yang sepadan.

Tak lama kemudian, Cakra muncul dari arah kantor markas dengan langkah tegapnya. Ia berhenti sebentar saat melihat Alisa sedang mengobrol dengan seorang perwira muda yang belum pernah ia lihat di joglo sebelumnya. Alisa sempat merasa tegang, khawatir Ayahnya akan kembali ke mode protektif yang kaku. Namun, Cakra hanya berjalan mendekat, menatap Satria dengan tatapan menyelidik yang khas. Satria segera berdiri tegak dan memberikan hormat militer yang sempurna. "Lapor, Lettu Satria, pindahan dari Perhubungan Pusat, izin bergabung di area komunikasi, Mayor!"

Cakra membalas hormat itu dengan santai. "Oh, kamu keponakan Damar yang katanya jago sistem itu? Duduk saja. Jangan terlalu kaku kalau di luar jam dinas." Cakra kemudian menarik kursi di sebelah Alisa, ikut bergabung di joglo. "Sudah kenalan dengan anak saya? Hati-hati, dia suka memasukkan orang-orang di sekitarnya ke dalam novel. Kalau kamu salah bicara, besok namamu bisa jadi karakter antagonis di bukunya." Kalimat candaan Cakra membuat suasana menjadi cair. Satria tertawa, sementara Alisa merona merah karena godaan Ayahnya.

Sore itu, untuk pertama kalinya, joglo itu terasa lebih ramai dan hidup. Cakra, Alisa, dan Satria duduk bersama sambil memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik perbukitan. Satria menceritakan beberapa pengalaman lucunya saat bertugas di Jakarta, sementara Cakra sesekali menimpali dengan pengalaman lapangannya yang lebih berat. Alisa lebih banyak mendengarkan, namun ia merasa sebuah babak baru sedang dimulai. Pertemuan dengan Satria memberikan warna berbeda dalam rutinitasnya di pangkalan yang sepi itu.

Bagi Alisa, Satria adalah kejutan yang menyenangkan. Di tengah dunianya yang hanya berisi Ayah, Damar, dan para prajurit, kehadiran pemuda yang menyukai sastra dan memahami teknis komunikasi adalah sebuah perpaduan yang unik. Satria seolah menjadi jembatan lain yang ia butuhkan untuk memahami lebih dalam dunia Ayahnya tanpa harus kehilangan dunianya sendiri. Alisa melihat Satria dan Ayahnya terlibat dalam diskusi serius tentang jangkauan sinyal di perbatasan, dan ia menyadari bahwa pangkalan ini tidak lagi terasa seperti pengasingan.

Malam mulai turun, dan lampu-lampu joglo menyala otomatis. Satria pamit untuk kembali ke barak perwira setelah menyelesaikan laporannya. "Sampai ketemu besok, Alisa. Saya tunggu draf bab satu kamu. Kalau butuh riset soal alat komunikasi militer, jangan sungkan tanya," ucap Satria sebelum turun dari tangga joglo. Alisa mengangguk sambil tersenyum. Setelah Satria pergi, Cakra menoleh ke arah putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Anak itu pintar. Damar tidak salah merekomendasikannya ke sini. Dia sopan."

Alisa hanya tersenyum tipis, kembali menatap layar laptopnya. Namun kali ini, kursor di layarnya tidak lagi berkedip diam. Ia mulai mengetikkan karakter baru, seorang pemuda yang membawa map besar di tengah hujan reda, seseorang yang menyebut fiksi sebagai manual teknis perasaan. Di bawah naungan joglo batalyon, Alisa menyadari bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari seorang perwira muda yang hanya sedang mencari sinyal Wi-Fi. Bab baru dalam hidupnya—dan dalam novelnya—resmi dimulai hari itu.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!