Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memorable Love 17
Owen duduk di ruang makan, dikelilingi oleh keluarga Janice yang ramah dan hangat. Ayah Janice, Tuan Jason, duduk di kepala meja, sementara Ibu Janice, Ibu Naomi, duduk di sebelahnya. Janice duduk di sebelah Owen, tapi dia tidak terlihat senang dengan kehadiran Owen.
"Aku sangat senang kamu bisa bergabung dengan kami malam ini, Owen," kata Jason, sambil mengangkat gelinya.
"Kami tidak sering memiliki tamu yang spesial seperti kamu,” sambung Jason.
Owen tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Paman. Aku sangat senang bisa bergabung dengan keluarga Arkana malam ini."
Naomi tersenyum dan mengangguk. "Ya, kami sangat senang. Janice, kamu harus lebih sering mengajak Owen ke rumah,”
Janice hanya mengangguk dan tersenyum lemah, sambil terus makan. Dalam hatinya sudah merutuki sikap Owen yang mencari perhatian kedua orang tuanya.
Jason menoleh ke arah Owen. "Owen, bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit? Apakah ada kendala?"
Owen tersenyum dan menjawab, "Sejauh ini belum ada, dan semoga saja tidak ada kendala selama aku bekerja di rumah sakit itu.”
Naomi tersenyum. "Mengapa kamu tidak meneruskan perusahaan Papa kamu?”
Owen kembali tersenyum. “Aku masih nyaman dengan profesiku saat ini, Bi. Tapi, tidak juga melepas tanggung jawabku sebagai keturunan Wister. Mungkin suatu saat nanti aku akan memegang perusahaanku sendiri. Nasib seseorang kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Jadi, ya… aku menikmati saja selama aku bekerja sebagai dokter,” jawab Owen, tersenyum lembut pada calon mertuanya itu.
Janice menyimak setiap ucapan Owen dan terus makan, sambil mencoba menghindari pandangan Owen.
Jason menoleh ke arah Janice. "Janice, Papa tidak salah memilih Owen untuk menjadi pendampingmu. Dia tampan, pintar, dan sopan."
Janice tersenyum lemah dan menjawab, "Ayah, sebenarnya aku masih belum siap dengan semua ini. Aku baru memulai kuliahku, kalau aku menikah cepat dengannya bagaimana dengan kuliahku. Yang ada takut tertunda lagi,” jawab Janice yang akhirnya meluapkan isi hatinya sejak kemarin malam tertahankan.
Naomi tersenyum. "Oh, kamu harus siap, Janice. Kamu tidak bisa terus sendiri ‘kan? Urusan kuliah, kami yakin kamu akan menyelesaikannya tanpa hambatan. Owen, kamu harus lebih sering mengajak Janice keluar. Agar kalian berdua semakin dekat,” pinta Naomi pada calon menantunya itu.
Owen tersenyum dan mengangguk, sambil mencoba menghindari pandangan Janice yang mulai marah. “Bibi dan Paman tenang saja. Aku akan sering mengajak Janice jalan-jalan, apalagi dia baru satu Minggu di negara ini.
Jason pun, menoleh ke arah Owen lagi. "Owen, kamu juga harus lebih sering mengajak Janice ke rumahmu. Biar Papa dan Mama kamu lebih mengenal Janice,”
“Siap, Paman. Akan aku lakukan,” jawab Owen, sambil tersenyum lebar.
Makan malam terus berlanjut, dengan keluarga Janice yang terus menggoda dan membicarakan pernikahan Janice dan Owen. Janice hanya bisa tersenyum lemah dan mencoba menghindari pandangan Owen yang terlihat menyebalkan. Hatinya benar-benar masih sangat kesal pada pria itu.
Setelah makan malam usai, Owen pamit untuk pulang. Jason pun, meminta Janice untuk mengantar dan menemani Owen sampai ke mobilnya.
“Puas?” tanya Janice saat mereka sudah keluar dari rumah.
Owen tertawa kecil, “Tidak.”
Owen melirik dan maju selangkah, membuat Janice memundurkan langkahnya. “Aku belum puas memandangi calon istriku ini,” katanya kembali, sambil tersenyum menggoda.
Janice tersenyum sinis. “Ingin rasanya aku mencakar wajahmu itu,” ketus Janice yang membuat Owen tertawa kencang.
“Jangan kotori tangan cantikmu itu untuk melukai seseorang, kau adalah calon Nyonya Wister. Lebih baik kau gunakan itu untuk menyentuh tubuhku setelah kita menikah nanti,” kata Owen, sambil menggoda.
Janice membulatkan matanya, mendengar perkataan yang begitu frontal di depannya. “Dasar gila.. pria mesum!”
“Hahaha… mesum dengan calon istriku sendiri, tidak apa ‘kan. Asalkan jangan sama pacar orang, yang ada nanti aku gagal menikahi kamu.”
Janice benar-benar dibuat kesal oleh Owen. Sedangkan pria itu hanya tersenyum mengejek menanggapi kekesalan Janice. Janice memilih untuk meninggalkan Owen saja, namun ucapan Owen membuatnya mengurungkan langkahnya.
“Bukankah kita sudah deal untuk menerima perjodohan ini, Nona Janice?”
Janice menoleh dan melihat Owen yang sudah bersandar di atas kap mobil, sambil menyilangkan kedua tangannya. Janice mengalihkan pandangannya ke arah lain, sambil merutuki dirinya yang lupa akan hal itu. Benar, dia lupa kalau kemarin setuju akan menerima perjodohan ini. Tapi, setelah menerima pesan dari Rodez yang mengirimkan foto Stendy sedang terbaring akibat mabuk. Mampu membuatnya bimbang, dan memilih untuk membatalkan perjodohan itu pada Jason.
Terlebih ada pesan dari Rodez yang membuat Janice kembali dirundung rasa gelisah. Dalam pesan itu, Rodez mengatakan kalau Stendy selalu mencari dirinya. Bahkan saat bersama Harisa pun, Stendy terus berusaha mencari keberadaannya.
Owen yang sejak tadi memperhatikan Janice yang hanya diam, pun akhirnya mendekati wanita itu. Ditatapnya Janice begitu lekat. Owen dapat melihat saat ini Janice sedang memikirkan sesuatu.
Owen menghela nafasnya, “Kau memikirkannya?” tanya Owen, seolah tahu apa yang sedang Janice pikirkan.
Janice terhenyak mendengar ucapan Owen. Rasa gugup kini dirasakannya, ia pun menggeleng cepat.
“T-tidak.”
Owen tersenyum kecut, ia tidak bisa dibohongi. Ekspresi Janice sangat mudah dibaca olehnya.
“Tidak perlu berbohong di depanku. Aku tahu kamu masih sulit melupakannya,” kata Owen yang lagi-lagi membuat Janice terkejut.
Tatapan keduanya kembali bertemu, dan hanya saling menatap tanpa sebuah kata yang keluar dari bibir masing-masing. Keheningan pun menyelimuti keduanya yang masih sibuk saling menatap.
“Apa kau menyesal karena telah mengakhiri hubunganmu dengannya?” tanya owen yang mulai memecahkan keheningan diantara mereka.
“Tidak!”
Owen menaikan satu alisnya. “Lalu mengapa kamu terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu? Apa kau merindukannya?” Owen kembali bertanya, sebab ia juga tahu kondisi Stendy semenjak kepergian Janice.
Rindu? Iya, ada rasa rindu dalam hati Janice. Bagaimanapun dirinya masih belum bisa melupakan Stendy. Pria yang berhasil meluluhkan hatinya sejak sekolah menengah atas dulu. Owen tersenyum melihat Janice yang hanya diam saja. Pria itu menghela nafas kasarnya, dan menyadarkan Janice dari ingatannya itu.
Owen tersenyum lembut pada Janice, membuat wanita itu merasakan tidak enak pada pria itu. Janice terhenyak saat tangan Owen menyentuh kepalanya, dan mengusapnya dengan lembut.
“Masuk dan istirahatlah, angin malam tidak bagus untuk tubuhmu. Jangan begadang. Kalau kamu sulit tidur, kamu bisa menghubungiku. Aku akan mengajakmu jalan-jalan malam hari,” kata Owen, tanpa melunturkan senyuman di wajahnya.
Janice tertegun mendengar ucapan Owen yang bisa dikatakan hal kecil seperti ini mampu membuat hatinya tersentuh. Baru pertama kali Janice merasakan hal itu, sebab selama bersama Stendy, ia tidak pernah merasakan atau mendapatkan perhatian sekecil ini.
Tak mendapati Janice yang bergerak, akhirnya Owen memutar tubuh Janice dan berbisik di telinga wanita itu.
“Masuklah, sepertinya hujan akan turun. Aku tidak ingin calon istriku terkena hujan, lalu sakit.”
Terlihat kilatan putih di langit malam ini, pantas saja angin malam ini sedikit berbeda. Tidak lama terdengar suara gemuruh di langit sebelah Utara. Janice kembali menoleh menghadap Owen. Pria itu masih tersenyum lembut, dan melambaikan tangan.
“Cepat masuk kedalam!” Owen kembali memberi perintah pada Janice.
Janice pun, mengangguk. “Hati-hati di jalan,” jawabnya sambil tersenyum kaku.
Owen semakin melebarkan senyumnya saat melihat Janice tersenyum. Pria itu terus menatap punggung Janice sampai wanita itu menghilang di balik pintu rumah. Owen pun, masuk ke dalam mobil. Dirinya diam sejenak sebelum menyalakan mesin mobilnya.
“Aku akan tetap menunggumu membuka hati untukku, Janice. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu,”
Cukup lama Owen berada di dalam mobil, dan terus memperhatikan lantai dua. Dalam hatinya berharap dapat melihat Janice berdiri di sana. Benar saja, terlihat bayangan perempuan berambut panjang, dan membuka hordeng kamar. Lagi-lagi Owen tersenyum melihat Janice. Tangannya melambai penuh semangat.
Tanpa sadar pula Janice ikut membalas lambaian tangan Owen. Wanita itu salah tingkah. Owen yang melihat itu hanya bisa tertawa. Merasa sudah puas, ia pun menyalakan mesin mobil dan melakukannya perlahan meninggalkan halaman rumah keluarga Arkana.
Hujan turun deras di luar, menciptakan suara yang monoton dan menenangkan. Tapi, Janice tidak bisa tidur. Dia berbaring di tempat tidur, mata yang terbuka lebar menatap ke arah langit-langit. Pikirannya berkecamuk, tidak bisa berhenti memikirkan tentang Stendy dan Owen.
Stendy, pria yang pernah dia cintai dengan sepenuh hati. Pria yang telah membuatnya merasa seperti wanita yang paling bahagia di dunia. Tapi, dia telah meninggalkannya, meninggalkan dia dengan hati yang hancur.
Owen, pria yang telah menunjukkan ketertarikan padanya. Pria yang selama ini terlihat tidak pernah menyukai dirinya, ternyata adalah pria yang dijodohkan dengannya. Dan, akan menjadi pria di masa depannya. Janice juga teringat pembicaraan mereka, dan baru Janice sadar kalau Owen diam-diam memberi perhatian kecil padanya. Tanpa sadar tangan kanannya mengusap kepalanya, Janice teringat saat Owen mengusap lembut kepalanya. Hal yang tidak pernah ia rasakan saat bersama Stendy.
Janice menghela napas, mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu. Tapi, mereka terus kembali, terus mengganggu pikirannya.
Haruskah dia melupakan Stendy dan melanjutkan hidupnya dengan Owen? Atau haruskah dia tetap setia pada perasaannya yang masih ada untuk Stendy?
Janice menutup matanya, mencoba untuk tidur. Tapi, pikirannya terus bekerja, terus memutar-mutar pertanyaan-pertanyaan itu.
Dia memikirkan tentang Stendy, tentang bagaimana dia telah dikhianati olehnya. Dia memikirkan tentang Owen, tentang bagaimana dia telah menunjukkan jiwa lembutnya.
Janice membuka matanya, menatap ke arah jendela. Hujan masih turun, menciptakan suara yang monoton dan menenangkan.
Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya tahu bahwa dia tidak bisa terus seperti ini, tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian.
Janice menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan, dan dia harus membuat keputusan itu sekarang.
Ponselnya pun berdering, sebuah pesan dari grup yang berisikan sahabat lamanya, membuat Janice segera membacanya.
Freya : [Bagaimana hari ini, Jen?]
Briant : [Pasti dia sedang tidur, mengingat kita beda negara]
Jeremy: [Janice sedang mengetik]
Janice tersenyum melihat chat grup itu. Tangannya pun lincah membalas pesan dari sahabatnya.
^^^[Hari ini menyenangkan, walau ada orang yang membuatku kesal] ^^^
Freya : [Siapa yang berani membuat sahabatku kesal, hah]
Jeremy : [Katakan siapa, Jen. Biar orang itu dihajar Freya]
^^^[Hahaha… tidak perlu. Aku masih bisa mengatasinya] ^^^
Di tempat lain, Owen baru saja tiba di rumah. Saat hendak masuk, dirinya berpapasan dengan Hansel.
“Kakak baru pulang?” bertanya dengan nada heran.
“Bukankah…”
“Aku mampir sebentar ke rumah Paman Jason,” kata Owen, langsung memotong ucapan Hansel.
Tatapan mata Hansel memicing, sebab setahu dia memang Owen di hari ini pulang cepat. Hansel pun, tersenyum menggoda. “Ooh, menemui calon Kakak iparku…” ucap Hansel, sambil manggut-manggut.
Owen menghela nafasnya. “Ini sudah malam, mengapa kau belum tidur. Besok bukankah kau sekolah. Jangan begadang main game terus,” kata Owen, menasehati sang adik sambil memukul pelan pipinya.
Hansel mengerucutkan bibirnya. “Iya, sebentar lagi aku tidur. Ini aku mau ambil minum,” jawab Hansel.
“Lekas kembali ke kamarmu!”
Hansel mengangguk. “Kakak sudah makan?” tanya Hansel.
Owen mengangguk, “Sudah.”
Owen memasuki kamar, menutup pintu di belakangnya. Dia berjalan ke arah jendela, menatap ke arah hujan yang masih turun. Pikirannya berkecamuk, memikirkan tentang perjodohannya dengan Janice.
Setelah membersihkan tubuh dan berpakaian, ia pun merebahkan tubuhnya di kasur. Dia tahu bahwa Janice masih belum bisa melupakan Stendy, pria yang mengkhianatinya. Dia tahu bahwa Janice masih memiliki perasaan untuk Stendy, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.
Tapi, Owen juga tahu bahwa dia telah jatuh cinta dengan Janice sejak lama. Dia sudah mulai berani menunjukkan ketertarikan padanya, dengan memberi perhatian kecil. Dia tidak ingin kehilangan Janice kedua kalinya, tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memiliki dia sebagai istrinya.
Owen menghela napas, mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran itu. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan, harus memutuskan apakah dia akan terus melaksanakan pernikahan tersebut atau tidak.
Owen menutup matanya, mencoba untuk menenangkan pikirannya. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan, dan dia harus membuat keputusan itu sekarang.
Setelah beberapa saat, Owen membuka matanya, menatap ke arah jendela. Hujan masih turun, menciptakan suara yang monoton dan menenangkan.
Dia tahu bahwa dia akan terus melaksanakan pernikahan tersebut, akan terus mempertahankan Janice sebagai istrinya. Dia tahu bahwa dia akan membuat Janice bahagia, akan membuat dia melupakan Stendy.
Owen tersenyum, merasa yakin dengan keputusannya. Dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat, dan dia akan terus melaksanakan pernikahan tersebut dengan sepenuh hati.
*
Beberapa minggu berlalu. Stendy duduk di kantornya, sibuk dengan pekerjaannya. Tapi, dia tidak bisa fokus, karena pikirannya masih terkenang Janice. Dia masih belum bisa melupakan wanita itu, dan itu membuatnya merasa frustasi. Entah frustasi karena kehilangan, ataukah frustasi karena keputusan sepihak dari Janice yang belum bisa diterimanya.
Tiba-tiba, sekretarisnya masuk ke dalam ruangan. "Tuan Stendy, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda," katanya.
Stendy mengangkat kepala, "Siapa? Bukankah sekarang ini saya tidak ada janji, tolong buatkan dia mengerti," balas Stendy sembari membaca dokumen di atas mejanya
Sekretarisnya hendak pergi, tapi kemudian dia berhenti dan berkata, "Tamu itu adalah Nona Harisa, Tuan."
Stendy mengangkat kepala, "Harisa? Kirim dia masuk."
Harisa masuk ke dalam ruangan, dengan senyum yang manis. "Hai, Stendy. Aku cuma ingin mengantar makan siang untukmu," katanya, sambil meletakkan makanan di atas meja.
Stendy tersenyum, tapi tidak terlalu antusias. "Terima kasih, Harisa. Tapi aku sibuk sekarang."
Harisa tidak peduli, dia duduk di kursi di depan meja Stendy. "Aku tidak peduli, aku ingin berbicara denganmu," katanya, sambil memainkan rambutnya.
Stendy merasa tidak nyaman, tapi dia tidak ingin membuatnya marah. "Apa yang ingin kamu bicarakan, Harisa?"
Harisa tersenyum, "Aku hanya ingin tahu, apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? Aku tidak pernah melihatmu di klub atau di restoran favoritmu. Kau juga sering mengabaikan pesanku,"
Ya, semenjak kejadian dirinya mabuk dan membayangkan sosok Janice. Membuat Stendy seperti menjauh dari dunia yang sudah menjadi kebiasaannya.
Stendy mengangkat bahu, "Aku sibuk, Harisa. Aku tidak punya waktu untuk itu, saat ini perusahaan Ayahku sedang tidak stabil."
Apa yang dikatakan Stendy memang benar adanya. Kini perusahaan milik Fandy sedang dalam keadaan krisis. Bahkan banyak investor yang tiba-tiba saja menarik kerjasama mereka. Sebab itu Stendy sibuk mengembalikan perusahan Fandy seperti sedia kala, walaupun tidak seperti dulu. Setidaknya perusahaan sang ayah, dalam kondisi stabil.
Harisa tidak percaya, "Aku tidak percaya, Stendy. Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Apa kamu punya pacar baru?"
Stendy mendesah kasar. Dia tidak suka sikap Harisa yang seperti ini. Namun, dirinya tidak ingin membuat wanita yang pernah mengisi hatinya itu sakit hati.
Stendy tersenyum, "Tidak, sayang. Aku tidak punya pacar baru. Apa yang aku katakan adalah kebenaran,"
Harisa tidak puas, "Aku tidak percaya, Stendy. Aku akan terus mencari tahu."
Stendy mengusap wajahnya dengan kasar, "Kamu bebas, Harisa. Tapi aku tidak akan berubah."
Harisa tersenyum, "Aku akan membuatmu berubah, Stendy. Aku akan tetap mempertahankan dirimu sampai kita resmi menikah,” kata Harisa dengan senyum centilnya.