Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 - Liu Tian
Langit sore di atas Sekte Langit Biru mulai berubah jingga. Awan tipis berarak perlahan, seolah hendak menutup matahari yang mulai meredup. Di halaman latihan sekte, suara senjata beradu dan pekikan jurus masih terdengar, namun ada satu nama yang belakangan ini selalu dibicarakan dengan nada kagum, sekaligus iri: Liu Tian.
Nama itu tidak asing di kalangan murid. Bahkan, sebelum Lin Feng datang, hampir semua murid menjadikan Liu Tian sebagai panutan—entah karena kekuatannya, bakatnya, atau sekadar karena aura angkuh yang membuatnya seakan berdiri di atas semua orang.
Tetapi, dari mana semua itu berawal?
Liu Tian bukanlah anak desa biasa seperti Lin Feng. Ia lahir dari keluarga berpengaruh di Kota Utara, sebuah keluarga pedagang besar yang menguasai sebagian besar jalur perdagangan mineral langka dan obat-obatan spiritual. Ayahnya dikenal sebagai sosok keras, tegas, dan selalu mengajarkan bahwa hidup adalah tentang siapa yang berdiri di puncak, bukan siapa yang berjalan bersama-sama di bawah.
Sejak kecil, Liu Tian tumbuh dengan kemewahan. Ia tidak pernah kekurangan makanan, pakaian, atau guru. Bahkan sebelum usia sepuluh tahun, ia sudah diperkenalkan pada berbagai kitab dasar ilmu kultivasi yang sulit dijangkau oleh murid biasa. Ayahnya rela membayar harga tinggi demi mendatangkan ahli dari luar sekte hanya untuk membentuk fondasi putranya.
Lingkungan itu melahirkan dalam dirinya rasa superioritas. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya memang berbeda, bahwa darah dan garis keturunannya membuatnya lebih pantas untuk berada di atas orang lain.
Namun, tidak bisa dipungkiri pula bahwa Liu Tian memang benar-benar berbakat. Sejak pertama kali ia menyentuh aliran qi, aliran itu mengalir dengan cepat, teratur, dan nyaris sempurna. Para guru menyebutkan bahwa dantian-nya luas dan bersih, ibarat wadah kristal yang tidak memiliki celah.
Pada usia dua belas tahun, ketika sebagian besar murid baru saja belajar mengatur napas dan menahan aliran qi, Liu Tian sudah mampu membentuk aliran dasar jurus pedang. Pada usia lima belas, ia sudah menembus tahap Qi Dasar tingkat menengah, sementara yang lain masih berkutat pada permulaan.
Tak heran bila sikap angkuh itu semakin menebal.
***
Kedatangannya ke Sekte Langit Biru awalnya disambut dengan penuh harapan. Para tetua percaya, Liu Tian akan menjadi salah satu pilar kebanggaan sekte di masa depan. Guru-guru pun lebih sering memperhatikannya, memberikan arahan, bahkan kadang menutup mata pada kesalahannya karena menganggap itu hanyalah wajar dari seorang jenius muda.
Namun, perhatian yang berlebih itu menciptakan jarak dengan murid lain. Liu Tian tidak pernah sungguh-sungguh menganggap mereka sebagai saudara seperguruan. Baginya, mereka hanyalah batu pijakan, pengisi kosong di sekitar dirinya. Jika ada yang mencoba menyaingi, ia tidak segan-segan mempermalukan di depan umum.
Bahkan, ia sering berkata dengan nada dingin:
"Sekte ini terlalu kecil untuk menampung ambisiku. Suatu hari, aku akan melampaui semua orang, termasuk guruku sendiri."
Ucapan itu pernah didengar Lin Feng pada hari pertama ia memasuki aula latihan. Waktu itu, Lin Feng hanya diam, menunduk, seolah tak mau terlibat. Tetapi jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa panas—entah kagum, iri, atau dorongan untuk membuktikan bahwa tidak hanya Liu Tian yang bisa bersinar.
***
Meski sikapnya menjengkelkan, Liu Tian memang tidak bisa dianggap remeh. Dalam ujian latihan antar murid, ia selalu menang telak. Gerakan pedangnya cepat, tajam, nyaris tanpa celah. Jurus-jurus dasar yang bagi murid lain masih kaku, di tangannya berubah menjadi indah, mengalir, dan mematikan.
Beberapa tetua bahkan berbisik bahwa Liu Tian memiliki akar spiritual ganda—jarang sekali ditemukan di antara murid biasa. Akar spiritual itu membuat aliran qi-nya lebih padat dan stabil, serta memberinya kemampuan untuk belajar jurus lebih cepat.
Kombinasi antara dukungan keluarga, latihan khusus, dan bakat alami menjadikan Liu Tian seolah tidak tersentuh.
Namun, ada satu hal yang tidak disadarinya: semakin tinggi ia menatap langit, semakin ia meremehkan tanah di bawahnya.
***
Sikap angkuh Liu Tian semakin menonjol setelah kedatangan Lin Feng. Lin Feng sudah merasakan sendiri bagaimana Liu Tian memandang rendah semua orang. Bagi Liu Tian, Lin Feng hanyalah murid baru dari desa kecil yang tidak memiliki latar belakang berarti.
Saat pertama kali mereka beradu pandang di arena latihan, Liu Tian bahkan sempat tersenyum sinis.
"Seorang bocah desa sepertimu ingin belajar di Sekte Langit Biru? Jangan berharap terlalu tinggi. Kau akan menjadi bayangan di belakangku sepanjang hidupmu."
Ucapan itu menusuk, bukan hanya bagi Lin Feng, tapi juga bagi beberapa murid lain yang diam-diam mengagumi Lin Feng karena ketekunannya.
Sejak saat itu, benih persaingan tersembunyi mulai tumbuh.
Luka Tersembunyi dalam Hati Liu Tian
Meski tampak angkuh di luar, Liu Tian menyimpan luka yang jarang diketahui orang lain. Ibunya meninggal ketika ia masih berusia delapan tahun. Satu-satunya pesan terakhir yang ia dengar adalah:
"Tian’er, jangan pernah kalah. Kau harus selalu menjadi yang teratas, agar tidak diinjak seperti ibumu."
Ucapan itu menancap dalam-dalam di hatinya. Ayahnya pun selalu menekankan hal serupa: hidup adalah tentang mendominasi. Maka, dalam pikirannya, kerendahan hati adalah kelemahan. Persahabatan hanyalah beban. Ia harus selalu berdiri di depan, meski harus sendirian.
Inilah yang membentuk kepribadiannya yang keras, angkuh, dan sulit didekati.
Tetapi, kehadiran Lin Feng perlahan mengusik keyakinan Liu Tian. Meski ia masih jauh lebih kuat, ia bisa merasakan ada sesuatu pada Lin Feng yang berbeda—sebuah ketekunan, sebuah api kecil yang enggan padam meski diterpa angin.
Bagi Liu Tian, ini adalah ancaman yang tidak boleh ia abaikan. Maka ia mulai semakin keras, semakin angkuh, seolah ingin menekan Lin Feng sejak awal agar tidak pernah punya kesempatan bangkit.
Namun, di sisi lain, tanpa ia sadari, Lin Feng justru menjadikan sikap angkuhnya sebagai bahan bakar.
Sekte Langit Biru perlahan menjadi medan dua arus besar yang saling bertolak belakang: angkuhnya seorang jenius bernama Liu Tian, dan tekad keras seorang murid biasa bernama Lin Feng.
Dan dunia tahu, ketika dua arus ini bertemu, badai pasti akan lahir.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa