NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Sekeping Perak dan Kebaikan Hati

Tepat di saat Lin Cheng merasakan keputusasaan merayapi dirinya, dan hendak membalikkan badan untuk pergi, sebuah suara tenang memanggil.

"Tunggu, anak muda."

Lin Cheng dan penjaga galeri menoleh. Pria paruh baya yang tadi diam-diam meneliti lukisan bambu di dinding kini melangkah maju. Raut wajahnya tenang, namun ada aura berwibawa yang menguar darinya.

Melihat pria itu bergerak, penjaga galeri segera terkejut dan tergagap memanggil,

INI

"Yang Mulia Hakim Prefektur!" Tubuhnya membungkuk dalam-dalam, menunjukkan rasa hormat dan sedikit ketakutan.

Bahkan Lin Cheng pun merasakan lututnya sedikit lemas. Hakim Prefektur? Dia adalah sosok penting di kekaisaran, yang kekuasaannya mencakup seluruh wilayah prefektur. Lin Cheng merasa takut bahwa dia dipanggil oleh sosok penting itu, khawatir akan masalah baru yang menimpanya.

"Dari mana asalmu, anak muda?" tanya Hakim Prefektur, suaranya tenang namun penuh otoritas. Matanya yang tajam menatap Lin Cheng.

Lin Cheng menelan ludah, sedikit gentar.

"Saya... saya dari Desa Mushan, Yang Mulia," jawabnya, suaranya sedikit bergetar. Dia tidak menyebutkan bahwa desa itu sudah ditinggalkan, khawatir akan pertanyaan lebih lanjut.

Hakim Prefektur mengerutkan kening, mencoba mengingat.

"Desa Mushan... nama itu terdengar familiar di masa lalu. Tapi... seperti telah terlupakan dan terabaikan."

Dia memejamkan mata sejenak, mencoba menarik ingatan dari benaknya.

"Pernah dengar di mana ya?" Gumamnya, mengulang nama desa itu beberapa kali. Namun, pada akhirnya, ia menggelengkan kepala pelan.

"Tidak berhasil mengingat dan menemukan petunjuk apa-apa."

Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada gulungan sketsa di tangan Lin Cheng.

"Boleh beli lukisan itu, anak muda?" tanyanya lembut, mengabaikan penjaga galeri yang kini pucat pasi.

Lin Cheng segera menyerahkan perkamen itu. Hakim Prefektur mengambilnya, namun anehnya, ia tidak membuka gulungan lukisan itu. Ia hanya memegangnya, menatap perkamen sejenak lalu mengabaikannya.

"Lukisan ini... aku akan membelinya," kata Hakim Prefektur, suaranya mantap.

Ia mengeluarkan sebuah kantung koin dari jubahnya, dan tanpa ragu, menyerahkan satu keping perak yang berkilau kepada Lin Cheng.

"Ini adalah harga yang baik untuk kegigihanmu. Mungkin kamu membutuhkan uang dengan segera dan darurat."

Lin Cheng terkesiap. Satu keping perak! Itu setara dengan seratus keping perunggu! Jauh melampaui apa yang ia harapkan. Dia menerima koin itu dengan tangan gemetar, rasa syukur dan kelegaan membanjiri dirinya.

Hakim Prefektur hanya mengangguk kecil padanya, lalu berbalik pergi, meninggalkan Lin Cheng dan penjaga galeri yang masih terperangah.

Dengan sekeping perak di genggamannya – sebuah harta karun yang tak terduga – Lin Cheng segera tahu apa yang harus ia lakukan. Dia harus segera membelanjakan segala kebutuhan pangan, bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk Xiao An.

Lin Cheng membelikan berbagai macam bahan makanan untuk dirinya: beberapa potong roti yang lebih empuk dari roti ban karet, sedikit daging kering, dan beberapa buah-buahan segar.

Untuk Xiao An, ia membeli persediaan yang jauh lebih besar dan beragam, memikirkan kebutuhan Xiao An yang tidak bisa mencari makan sendiri. Lin Cheng membeli beberapa karung tepung yang berat, garam, dan sedikit minyak untuk memasak.

Ia juga membeli perkakas dapur esensial: sebuah kompor batu api ukuran kecil yang portabel dan beberapa peralatan masak dasar seperti panci dan wajan, serta beberapa mangkuk dan sendok. Ia ingin memastikan Xiao An bisa memasak makanannya sendiri di pondok.

Selain semua kebutuhan pangan dan perkakas dapur, Lin Cheng juga memikirkan Xiao An yang hanya memiliki satu setel pakaian. Ia pergi ke sebuah toko pakaian sederhana dan membelikan tiga setel pakaian seperti yang ia pakai: pakaian dari bahan kasar, kelas untuk ekonomi bawah. Itu cukup untuk memastikan Xiao An memiliki ganti.

Setelah semua belanjanya, Lin Cheng memeriksa sisa uangnya. Ia menghitungnya: dari seratus keping perunggu (satu keping perak), ia kini menyisakan tujuh belas perunggu.

Barang bawaannya sangat banyak dan berat. Karung tepung, peralatan masak, dan pakaian, semua menumpuk. Menyadari ia tak mungkin bisa membawa semuanya sendiri, terutama dengan jarak 15 kilometer ke Desa Mushan, Lin Cheng akhirnya menyewa seorang porter gerobak seharga lima belas perunggu untuk mengangkut semua barangnya kembali ke desa. Ini adalah pengeluaran yang signifikan, tapi sangat diperlukan.

Dalam hatinya, Lin Cheng sangat bersyukur. Keberhasilan mencapai Skin Tempering telah menjadikannya jauh lebih tangguh dan kuat. Kini, ia bisa menjelajah hutan lebih luas lagi, mencapai daerah yang sebelumnya terlalu berbahaya atau sulit dijangkau, dan menemukan lebih banyak herbal langka.

Ditambah lagi, kakeknya yang berhasil menerobos ranah Qi Gathering telah melonjakkan kembali vitalitasnya yang layu dimakan usia. Dengan dua orang pencari nafkah, dan keduanya dengan kekuatan yang jauh melampaui orang biasa, Lin Cheng yakin masa depan keluarganya akan hidup lebih baik lagi. Beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan.

Dia optimis. Kunjungan ke Kota Bunga Giok berikutnya pasti akan menghasilkan uang yang lebih dari cukup. Dalam benaknya, Lin Cheng sudah berencana.

Prioritas utamanya adalah memperbaiki bangunan-bangunan keluarganya yang bobrok, terutama Kuil Mukui yang menjadi tempat mereka bernaung. Impian untuk memiliki tempat tinggal yang layak kini terasa lebih dekat dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!