DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: ADIL YANG TIMPANG**
**
Ruang kerja Junaedi pagi itu masih berbau kopi yang belum sempat diminum habis, ketika David melangkah masuk dengan wajah serius, di belakangnya Anto membawa laptop, dan di belakang lagi, berdiri Rambo dengan badan tegap yang membuat satpam pribadi Junaedi sendiri otomatis mundur selangkah.
"Pa, saya mau ngomong sesuatu yang penting," David membuka, suaranya tenang tapi ada tekanan yang tidak bisa disembunyikan.
Junaedi mengangkat alis, menyandarkan badan ke kursi kulitnya, "Ngomong apa lagi, David? Kalo soal berantem lagi, Papa udah bosen dengernya."
"Ini soal Reza, Pa. Dia nyewa orang buat nyulik, bahkan mungkin nyelakain saya."
Junaedi tertawa pendek, nada mengejek, "Lah, David, lo kira ini sinetron? Reza mana berani nyewa orang buat hal kayak gitu. Punya bukti?"
David menatapnya datar, "Punya, Pa. Makanya saya bawa mereka."
Anto melangkah maju, membuka laptopnya, menunjukkan bukti transaksi mencurigakan, tiga puluh juta yang ditransfer dari rekening pribadi Reza ke nomor yang sudah diketahui sebagai milik kelompok preman bayaran, lengkap dengan log percakapan yang berhasil dia sadap diam-diam.
Junaedi mengerutkan kening, memperhatikan satu per satu detail di layar, tapi wajahnya masih menyimpan keraguan, seperti orang yang sebenarnya sudah lihat kebenaran tapi memilih pura-pura buta demi kenyamanannya sendiri.
Lalu Rambo maju, menundukkan kepala sedikit, suaranya berat tapi penuh hormat, "Saya yang dibayar, Tuan Besar. Saya yang disuruh Tuan Reza buat nyulik, bahkan kalau perlu, melukai Tuan David. Saya bersaksi langsung."
Ruangan itu sunyi sebentar, hanya suara AC yang mendengung pelan, sementara Junaedi menatap bukti di depan matanya, menatap Rambo yang badannya lebih besar dari satpam pribadinya sendiri, lalu menatap David yang berdiri tanpa gentar sedikit pun.
Akhirnya, setelah diam yang terasa lama, Junaedi menghela napas, suaranya datar, terlalu datar untuk sebuah pengkhianatan yang baru saja terbongkar di hadapannya.
"Baik. Saya sudah tau. Kalian boleh bubar."
David mengerjap, menunggu kelanjutannya, menunggu hukuman, menunggu kemarahan yang sepadan dengan apa yang baru saja terjadi.
Tapi Junaedi cuma menambahkan, suaranya bahkan lebih lemah dari sebelumnya, seperti orang yang malas berurusan lebih jauh, "Buat Reza. Masuk ke kamar sebelum Papa marah."
Itu saja.
Tidak ada pemecatan dari jabatan Deputy CEO. Tidak ada pelaporan ke polisi. Tidak ada teguran keras yang sepadan dengan upaya penculikan dan kemungkinan pelukaan serius. Hanya kalimat sederhana yang terdengar lebih seperti menyuruh anak kecil tidur siang ketimbang menghukum seorang penjahat yang nyaris menghabisi nyawa adiknya sendiri.
***
Setelah semua orang bubar, ruangan itu hanya menyisakan David, Anto, dan Rambo yang berdiri diam menyaksikan punggung Junaedi menghilang di balik pintu kerjanya.
David menatap pintu itu lama, dadanya naik turun, menahan sesuatu yang panas, sesuatu yang ingin meledak tapi terlalu lelah untuk benar-benar diledakkan.
"Keluarga macam apa ini," gumamnya pelan, lalu makin keras, "Papa yang kelewat sayang sama anak dari istri mudanya, sampe gak peduli anak yang dikandung istri pertamanya nyaris diculik. Gak adil. Gak adil banget."
Dia menggeleng, matanya berkaca-kaca tapi ditahan habis-habisan, "Dasar tua bangka. Istri aja mau dua, adil aja kagak bisa. Kalo gue David yang asli, gue kutuk lo jadi batu, tua bangka!"
Rambo, yang berdiri di belakang dengan kebingungan yang jelas terpancar di wajahnya, menyahut hati-hati, "Maksud Tuan gimana? Apa yang Tuan maksud, David yang asli?"
David menoleh, menatap Rambo dengan tatapan yang seketika berubah jadi malas, "Lah, lo gak akan ngerti urusan orang dewasa. Lo mah makan aja masih sama kecap, ini urusan dewasa."
Rambo, badan besar yang baru semalam menundukkan diri di hadapan David karena kekuatan silatnya, sekarang malah berdiri dengan ekspresi seperti anak SD yang baru ditegur guru, menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas.
Anto yang menyaksikan itu cuma bisa menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangan, geli melihat sosok preman bayaran yang katanya paling ditakuti di Jawa Barat, sekarang diperlakukan seperti anak kecil oleh David.
***
David menarik napas panjang, mencoba membuang sisa kekecewaan yang masih mengendap di dadanya, lalu berbalik ke arah dua orang itu dengan nada yang sudah kembali ringan.
"Lusa, kita ke Lembang."
Rambo mengangkat kepala, bertanya penuh rasa ingin tahu, "Lembang? Ada apa di sana, Tuan? Apa ada saudara Tuan di situ?"
David menatapnya sebal, "Diem deh, nanya mulu kayak proklamator berita."
Rambo, dengan jujur dan tanpa maksud melawan, membenarkan, "Maaf, Tuan, itu salah. Bukan proklamator, tapi reporter."
"Suka-suka gue mau Ultraman ribut juga gapapa," David menjawab cepat, tidak mau kalah, walau jelas-jelas salah sendiri.
Rambo menunduk lagi, tapi kali ini, di balik wajahnya yang penuh bekas luka pertarungan, ada senyum kecil yang terselip, senyum yang aneh, asing, karena baru kali ini dalam hidupnya yang penuh kekerasan dan bayaran gelap, dia merasakan sesuatu yang berbeda dari sosok yang sekarang dia panggil tuan.
Bukan rasa takut semata. Tapi ada kehangatan yang lucu, absurd, dan entah kenapa, membuat dadanya yang biasa keras itu terasa sedikit lebih ringan.
"Baru kali ini saya punya majikan yang seabsurd ini," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar, sambil mengikuti langkah David yang sudah berjalan keluar ruangan, menuju hari-hari berikutnya yang entah akan membawa kejutan apa lagi.
*(bersambung)*