Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.12 DIUSIR DAN MEMILIH HIDUP DENGAN AYAH ANAKKU
Di Villa, Sinta dan Nana langsung mendekat ke arah Dimas yang kini sedang sangat terluka atas apa yang sudah terjadi.
"Ayah, kita tau pasti Ayah sedang kecewa dengan kelakuan Kak Aline! Tapi tindakan Ayah tadi sudah benar untuk memutus hubungan dengan Kak Aline... jika tidak nama baik keluarga kita akan hancur dan tidak memiliki muka lagi." ucap Nana dengan wajah sedih yang di buat-buat, namun nada bicaranya mengandung hasutan yang mematikan.
Dimas yang semula sempat merasa bersalah terhadap putrinya kembali memancarkan kilatan mata yang tajam.
Dari sisi lain, Sinta mengelus tangan suaminya dengan lembut seolah ia benar-benar ikut prihatin dengan kejadian itu.
"Mas! kamu tidak perlu merasa bersalah, aku pun akan melakukan hal yang sama jika semua itu terjadi pada Nana." sambung Sinta dengan nada lembut, matanya memancarkan kilatan kelicikan untuk memanas-manasi suasana yang semakin membuat Dimas merasa sikapnya benar terhadap putrinya sendiri.
"Kalian benar, aku terlalu memanjakannya sehingga membuatnya seperti ini dan aku harus tegas dengan kelakuannya itu." kata Dimas yang sudah termakan hasutan kedua wanita itu.
*
*
*
Kini Mobil yang di kendarai Erlangga sudah terparkir tepat di depan Villa milik Dimas Prasetyo.
Aline menghembuskan napas sejenak guna menenangkan hatinya.
"Kamu boleh pergi, terima kasih sudah mengantarku." ucap Aline.
Erlangga menggeram marah saat wanita itu mengusirnya secara langsung. "Aku akan tetap di sini, Aline! Sudah aku katakan... bahwa aku akan bertanggung jawab."
"Apa karena ada anak ini?" tanya Aline tiba-tiba, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. "Jika karena anak ini sebaiknya pikirkan lagi—"
"Ada atau tidaknya anak itu! Aku akan tetap menikahimu, aku akan menebus dosa yang sudah aku lakukan terhadapmu, Aline!" sela Erlangga tegas.
Aline terpaku sejenak saat melihat kesungguhan Erlangga. Apakah ia masih bisa berharap pada laki-laki di hadapannya ini, pikirannya mulai berkecamuk dan tiba-tiba saja kedua matanya tanpa sengaja melihat ayahnya.
Tanpa membalas perkataan Erlangga, Aline langsung bergegas ke luar dari mobil dan berlari menghampiri ayahnya untuk meminta maaf.
Erlangga yang melihat gelagat aneh Aline langsung mengikuti arah pandang wanita itu. Tanpa ingin membuang waktu lagi ia langsung ke luar dari mobil dan menyusul langkah kaki Aline. Ia tidak ingin terjadi sesuatu lagi pada wanitanya.
Di sisi lain, tiba-tiba saja Dimas membawa barang-barang putrinya ke luar Villa.
Di susul Nana dan Sinta dari arah belakang sambil membawa tas milik Aline juga, dengan kasar kedua wanita itu melemparnya tepat ke wajah Aline. Saat Aline sudah berdiri di depan mereka untung saja Erlangga langsung sigap menarik wanita itu agar tidak terkena lemparan barang tersebut.
Erlangga yang melihat wanitanya lagi-lagi di perlakukan seperti itu. Seketika darahnya kembali mendidih. "Bisa-bisanya... Ayah kandungnya sendiri memperlakukannya seperti ini."
"Ayah... kenapa barang-barangku di bawa ke luar semua?" tanya Aline yang langsung memunguti barang-barangnya.
"Bukanya sudah saya tegaskan! Saya sudah memutuskan hubungan denganmu, untuk apa lagi kamu berada di sini." jawabnya, lalu Dimas menoleh menatap Erlangga dengan pandangan tajam. "Sebaiknya bawa dia pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi."
DEGH!
Jantung Aline berdetak sangat cepat hingga membuatnya sesak napas. Dunianya runtuh saat itu juga, ayahnya tidak main-main dengan perkataannya.
"Ayah! Ini semua terjadi karena ulah mereka. Kenapa Ayah selalu menutup mata jika menyangkut tentang mereka!" marah Aline menunjuk ke arah Nana dan Sinta, matanya berkaca-kaca memancarkan kekecewaan dengan sikap pilih kasih ayahnya.
"Saya akan terima kamu kembali... tapi dengan syarat! Gugurkan anak itu." permintaan itu keluar begitu saja dari mulut Dimas tanpa rasa iba sedikit pun.
Tubuh Aline membeku, saat mendengar kalimat yang tidak ada belas kasih itu keluar dari mulut ayahnya sendiri.
Di samping Aline. Rahang Erlangga mengeras, tanganya mengepal erat di samping tubuhnya. Laki-laki itu mati-matian untuk tidak menghajar pria paruh baya di hadapannya. Berani-beraninya dia menyuruh putrinya menggugurkan bayi yang tidak berdosa terlebih itu darah dagingnya sendiri.
"Kurang ajar?! Apa maksud Anda menyuruhnya melakukan itu, hah?!" murka Erlangga.
"Itu syarat jika dia ingin kembali lagi." jawab Dimas santai, bahkan terlalu santai untuk seseorang yang akan menjadi kakek dan meminta cucu kandungnya sendiri untuk di lenyapkan.
Erlangga menoleh ke arah Aline, ia menggeleng pelan seolah memberi isyarat untuk tidak melakukan itu. Bahkan ia berani memberikan seluruh hidup dan kekayaannya asalkan wanita itu tidak melenyapkan anaknya.
Aline hanya bisa mematung seolah seluruh jiwanya benar-benar dicabut secara paksa. Orang yang selama ini begitu ia percayai dan sayangi berani meminta hal yang bahkan tidak mungkin seumur hidupnya melakukan hal tersebut.
Ia menarik napas dalam-dalam mencoba mereda rasa sesak pada dadanya. "Baiklah, Ayah! Aline menerimanya..." Ia menjeda kalimatnya sejenak berusaha untuk tidak menangis lagi.
Erlangga yang mendengar pernyataan itu tubuhnya membeku. Ia menatap tidak percaya pada wanita di sampingnya tanpa bisa dicegah sudut matanya meneteskan air mata, anaknya yang belum sempat di lahirkan ke dunia ini akan dihilangkan begitu saja. Ia tidak bisa terima.
Di sisi lain, Nana dan Sinta tersenyum penuh kemenangan melihat kejadian itu.
"Ibu! Kalau dia beneran menggugurkan anaknya, laki-laki itu pasti membencinya dan aku bisa mendapatkannya." bisik Nana dengan girang, ia menunggu momen untuk menjerat laki-laki itu yang notabenya tampan, gagah dan juga kaya.
Sinta hanya mengangguk mantap dengan rencana putrinya, bagaimana pun putrinya yang cantik itu harus mendaptkan suami yang kaya untuk menopang kehidupan mereka kedepannya.
"Baguslah, jika kamu menerimanya, Ayah sendiri yang akan mengantarmu langsung ke dokter kandungan untuk menggugurkan anak itu."
"Ayah tidak perlu repot-repot... Aku menerima untuk memutuskan hubunganku dengan Ayah dan seperti ucapan Ayah sendiri, aku akan menganggap Ayah sudah tiadak seperti Ibu." jawab Aline tegas tanpa air mata tanpa rasa kecewa hanya ada tatapan dingin dan kosong.
DEGH!
Dimas merasakan perasaan yang sulit ia jelaskan, sesuatu dalam sudut hatinya mengatakan bahwa dia sudah kehilangan putrinya. Ia berusaha mencoba menepis perasaan itu.
Di samping Aline, Erlangga tidak bisa lagi menahan kegembiraannya. Ia mengucapkan rasa syukur berkali-kali dalam hati dan berterima kasih pada wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.
Erlangga berjanji akan memuliakan dan menyangi Aline selama hidupnya. Ia menggenggam lembut kedua tangan Aline, menatap ke dalam mata wanita itu.
"Terima kasih... aku tau keputusan ini sangat berat untuk kamu, Aline. Sekali lagi terima kasih sudah memilih mempertahankannya dan juga memberinya kesempatan untuk melihat dunia ini."
Erlangga membawa wanita itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat namun tidak menyakiti, seolah ia takut kehilangannya lagi.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣