NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: PREDATOR YANG TERUSIK

Kertas memo kecil di dalam kantong plastik bening itu bergetar halus, bukan karena embusan angin pendingin ruangan rumah sakit, melainkan karena cengkeraman jemari Dafa Mahardika yang mendadak mengeras seperti batu karang. Sepasang mata elang sang CEO membaca baris demi baris kalimat ancaman itu dengan tatapan yang begitu pekat. Setiap huruf yang tertera di sana seolah menjadi pemantik yang membakar habis sisa-sisa kesabaran yang ia miliki siang ini.

Di sampingnya, Nazya masih terduduk kaku di atas kursi roda. Kalimat ancaman pemerasan lima miliar dan paksaan untuk membatalkan pemecatan Rendy seolah menjadi gada berat yang menghantam dadanya hingga sesak.

"Rendy..." bisik Nazya, suaranya nyaris tidak terdengar, parau dan penuh dengan ketakutan yang mendalam. "Ini... ini pasti perbuatan Rendy dan ibunya, Mas... Mereka tidak pernah puas sebelum melihat hidupku dan keluargaku hancur berantakan. Sekarang... sekarang mereka bahkan berani meracuni Ayah..."

Nazya mencengkeram lengan kemeja Dafa dengan sisa tenaga yang ia miliki, mendongak dengan mata yang kembali merebakkan air mata keputusasaan. "Mas Dafa, tolong... lepaskan saja Nazya. Batalkan pemecatan Rendy. Berikan mereka apa yang mereka mau... Nazya tidak peduli lagi dengan harga diri Nazya, yang penting Ayah bisa selamat, Mas... Nazya mohon..."

Mendengar kalimat rapuh istrinya, Dafa perlahan menurunkan pandangannya. Aura menindas yang memancar dari tubuh tegap pria itu seketika membuat koridor rumah sakit di sekitar mereka terasa semakin dingin. Dafa berlutut di hadapan Nazya, meraih kedua tangan istrinya, lalu menggenggamnya dengan kekuatan yang tidak bisa dibantah.

"Nazya, lihat aku," seru Dafa, suaranya berat, bariton, dan penuh dengan penekanan mutlak yang menenangkan sekaligus mengerikan. "Keluarga Mahardika tidak pernah bernegosiasi dengan kecoak. Mengalah pada mereka hanya akan membuat mereka merasa di atas angin dan terus mengisap darahmu sampai habis."

Dafa mengusap air mata di pipi pias Nazya dengan ibu jarinya yang kasar. "Ayah Handoko sedang berjuang di dalam ruang ICU di bawah penanganan dokter terbaik. Tugasmu sekarang adalah tetap di sini, berdoa, dan jaga kesehatanmu sendiri. Jangan biarkan pikiran bodoh itu meracuni otakmu lagi. Urusan sisa serangga ini... adalah urusanku."

Dafa berdiri tegak kembali, membalikkan tubuhnya menatap Mikael yang sejak tadi berdiri siaga dengan kepala tertunduk hormat. "Mikael."

"Siap, Pak Dafa."

"Serahkan bukti kertas ini ke tim forensik digital kita sekarang juga. Aku mau sidik jari dan sisa DNA yang menempel di kertas ini dicocokkan dengan keluarga Rendy dalam waktu tiga puluh menit," perintah Dafa dingin tanpa ekspresi. "Dan satu lagi... hubungi Kepala Kepolisian Daerah. Katakan padanya, penahanan Lastri dan dua anak laki-lakinya di kantor polisi tadi jangan hanya dikenakan pasal tindakan tidak menyenangkan."

Dafa menyunggingkan senyum tipis yang sangat kejam di sudut bibirnya—senyuman seorang predator yang siap mengunyah mangsanya hidup-hidup. "Tambahkan pasal percobaan pembunuhan berencana, pemerasan tingkat tinggi, dan konspirasi kriminal. Pastikan mereka membusuk di dalam sel isolasi tanpa hak kunjungan dari siapa pun, termasuk pengacara mereka."

"Baik, Pak. Segera saya laksanakan," jawab Mikael tegas, lalu berbalik cepat meninggalkan koridor menuju lift.

Setelah kepergian Mikael, Mami Kinanti melangkah mendekati kursi roda Nazya, lalu memeluk menantunya itu dari belakang dengan penuh kasih sayang.

"Nazya, sayang... dengarkan kata Dafa," ucap Kinanti lembut, mencoba menyalurkan kekuatan seorang ibu. "Suamimu itu tidak akan pernah membiarkan siapa pun melukaimu lagi. Percayalah padanya. Sekarang, biarkan Mami mengantarmu ke kamar peristirahatan khusus di sebelah ruang ICU ini ya? Kamu harus istirahat, nak. Kondisimu juga belum pulih benar setelah operasi kaki."

Nazya menatap pintu kaca ruang ICU yang masih tertutup rapat, di mana di balik sana ayahnya sedang dipasangi berbagai macam selang medis dan alat bantu napas ventilator. Dengan berat hati dan tubuh yang teramat lelah, Nazya akhirnya mengangguk pasrah. "Iya, Mami..."

Dafa memperhatikan sosok istrinya yang didorong oleh ibunya masuk ke dalam kamar perawatan VIP yang terhubung langsung dengan area ICU. Setelah memastikan pintu kamar tersebut tertutup rapat dan dijaga oleh dua orang pengawal pribadi berbadan tegap di depannya, Dafa melangkah menuju ke arah jendela besar di ujung koridor yang menghadap langsung ke arah lanskap kota yang padat.

Pria itu merogoh saku celananya, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Asap putih tipis membubung ke udara, menyatu dengan kaca jendela yang menampilkan pantulan wajah tampannya yang penuh dengan kilat amarah yang tertahan.

Dafa tahu, Lastri dan dua kakaknya memang sudah berada di dalam jeruji besi sekarang. Namun, ingatan Dafa berputar pada isi surat ancaman itu. 'Berikan kami uang tebusan lima miliar dalam waktu 24 jam...'

Keluarga Rendy adalah kalangan menengah ke bawah yang tidak punya otak atau jaringan untuk menyusun rencana pemerasan sehalus ini—bahkan sampai menyusupkan racun ke dalam rumah kediaman utama Mahardika yang memiliki sistem keamanan super ketat. Pasti ada orang lain. Ada dalang besar di balik layar yang memanfaatkan kemarahan keluarga Rendy untuk menghancurkan reputasi bisnis Dafa atau bahkan mengincar nyawa keluarga Nazya.

DRRR... DRRR...

Ponsel di dalam saku jas Dafa kembali bergetar. Dafa mengambilnya tanpa melihat layar, lalu menempelkannya ke telinga. "Ya?"

"Pak Dafa, ini Mikael," suara asisten pribadinya terdengar sedikit panik dari seberang telepon. "Hasil forensik digital baru saja keluar. Sidik jari di kertas itu memang milik salah satu kakak Rendy. Namun... tim keamanan rumah utama baru saja memeriksa rekaman CCTV tersembunyi di area belakang rumah."

Dafa menyipitkan matanya tajam, menghisap dalam-dalam rokoknya. "Apa yang mereka temukan?"

"Dua jam sebelum Pak Handoko ditemukan pingsan, ada sebuah mobil van hitam tanpa plat nomor yang berhenti di dekat gerbang belakang. Seseorang berpakaian kurir melemparkan sebuah paket kecil ke dalam pekarangan, yang kemudian diambil oleh salah satu pelayan baru kita yang bertugas di bagian dapur. Dan dari data transaksi rekening pelayan tersebut... ada aliran dana masuk sebesar lima ratus juta rupiah dari sebuah perusahaan cangkang di luar negeri."

Rahang Dafa kembali mengeras, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Siapa pemilik perusahaan cangkang itu, Mikael?"

Suara Mikael di seberang telepon mendadak merendah, sarat akan ketakutan saat menyebutkan nama tersebut. "Perusahaan itu... terdaftar atas nama anak perusahaan milik Sanjaya Group, Pak. Rival bisnis utama kita yang bulan lalu kalah dalam tender proyek pelabuhan internasional."

Mendengar nama Sanjaya Group, Dafa seketika mematikan rokoknya di asbak besi dengan gerakan kasar. Matanya berkilat mengerikan di balik kaca jendela. Jadi ini semua bukan murni karena dendam keluarga mantan suami Nazya. Sialan. Musuh bisnisnya ternyata menggunakan kerapuhan masa lalu Nazya dan kepolosan Pak Handoko sebagai senjata untuk menyerangnya dari belakang.

Dafa membalikkan tubuhnya, melangkah mantap kembali menuju kamar perawatan VIP tempat Nazya beristirahat. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Nazya sedang berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam, namun air matanya masih mengalir perlahan di sudut matanya—menandakan bahwa istrinya itu tidak benar-benar tertidur, melainkan sedang tenggelam dalam siksaan batin yang luar biasa.

Dafa berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang, lalu mengusap dahi Nazya dengan lembut. Nazya membuka matanya perlahan, menatap suaminya dengan pandangan yang kosong dan rapuh.

"Mas Dafa..." panggil Nazya lemah.

"Tidurlah, Nazya. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Dafa dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, menyembunyikan badai pembunuhan yang sedang bergemuruh di dalam dadanya. "Aku bersumpah demi nama baik Mahardika... siapa pun yang telah menyentuh keluargamu, siapa pun yang telah membuatmu menangis hari ini... mereka akan membayar setiap tetes air matamu dengan kehancuran total seluruh hidup mereka."

Nazya tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh suaminya yang posesif itu. Namun, aura dominan dan protektif yang terpancar dari tubuh Dafa malam itu perlahan memberikan sedikit rasa aman di tengah badai yang sedang mengoyak jiwanya.

Dafa berdiri, mengecup kening Nazya dengan lembut dan lama, sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup rapat, Dafa langsung menatap dua pengawal di depan pintu. "Jaga istriku dengan nyawa kalian. Aku harus pergi keluar sebentar."

Dafa berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, merogoh ponselnya, lalu menekan sebuah nomor kontak darurat yang hanya ia gunakan saat keadaan benar-benar darurat. Begitu panggilan tersambung, Dafa berbicara dengan suara yang sangat dingin dan mutlak.

"Siapkan seluruh tim penasihat hukum, tim audit finansial, dan tim eksekutor lapangan. Malam ini juga... kita ratakan Sanjaya Group dari bursa saham nasional. Hancurkan bisnis mereka sampai tidak menyisakan satu sen pun."

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!