NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Hidup Mati dan Pukulan Penguji

​Tawa sombong Zhao Kuang menggema di udara saat ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Pelataran 404. Zhao Hai menatap Lin Tian dengan senyum penuh ejekan, seolah ia baru saja melihat orang mati, sebelum akhirnya menyusul kakaknya.

​Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti halaman. Lin Chen menelan ludah dengan susah payah, kakinya terasa lemas hingga ia nyaris jatuh terduduk jika Lin Tian tidak menahan bahunya.

​"Kakak Tian... kau menerimanya? Itu Duel Hidup Mati!" Suara Lin Chen bergetar hebat. "Zhao Kuang bukan Wang Li! Dia berada di tingkat enam. Di tingkat itu, seorang kultivator bisa melapisi senjata mereka dengan Qi pelindung yang setajam silet. Tinju kosongmu akan terbelah sebelum bisa menyentuh tubuhnya!"

​Lin Tian menepuk bahu adiknya dengan lembut. "Chen'er, ingatlah satu hal. Di jalan kultivasi, mundur satu langkah dari ancaman berarti mengorbankan separuh keberanian di hatimu. Jika aku menghindari Zhao Kuang hari ini, iblis bayangan akan tumbuh di meridianku, dan aku tidak akan pernah bisa mencapai puncak."

​Lin Tian membalikkan badannya, menatap sisa-sisa gerbang kayunya yang hancur. "Lagipula, tingkat enam hanyalah keunggulan kuantitas Qi, bukan kualitas. Malam ini, istirahatlah dengan tenang. Besok, aku akan menunjukkan padamu apa arti kekuatan mutlak."

​Melihat ketenangan di mata kakaknya, rasa panik di hati Lin Chen perlahan mereda. Sejak mereka menemukan mutiara aneh di Mata Air Iblis, Lin Tian belum pernah membuat janji kosong.

​Keesokan siangnya, Puncak Luar Sekte Pedang Langit digemparkan oleh sebuah berita.

​Arena Hidup Mati yang biasanya hanya digunakan sebulan sekali untuk menyelesaikan dendam darah antar faksi, hari ini kembali dibuka. Dan yang lebih mengejutkan, pertarungan ini melibatkan seorang murid baru yang baru saja lolos dari pelataran pelayan melawan salah satu tiran kecil di sekte luar, Zhao Kuang.

​Ribuan murid luar berkerumun mengelilingi panggung batu melingkar berdiameter lima puluh meter tersebut. Panggung itu telah menodai banyak darah jenius selama ratusan tahun.

​"Apa anak baru bernama Lin Tian itu sudah gila? Jarak tiga tingkat di ranah Mortal adalah jurang yang tak bisa diseberangi!" celetuk seorang murid luar tingkat lima.

​"Kudengar dia beruntung mendapatkan pusaka pelindung lengan tingkat rendah, makanya dia menjadi sombong. Hari ini kita akan melihat pusaka itu dihancurkan bersama pemiliknya," sahut murid lainnya.

​Di kursi wasit di tepi arena, Penatua Hukum Sekte Luar duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Di hadapannya, terdapat sebuah meja kecil berisi cawan anggur darah, syarat mutlak sebelum duel dimulai.

​WUSH!

​Sebuah bayangan melesat melompati kepala kerumunan dan mendarat dengan keras di tengah arena. Batu pijakan di bawahnya retak ringan. Zhao Kuang berdiri tegap, mengenakan jubah pertarungan berwarna abu-abu gelap. Di punggungnya, terhunus sebilah pedang besar setinggi dada manusia yang memancarkan kilau perak dingin.

​"Lin Tian! Keluar kau, Pengecut! Jangan bilang kau melarikan diri menuruni gunung!" raung Zhao Kuang ke arah kerumunan.

​"Menghadapimu, tak perlu terburu-buru," sebuah suara datar dan tenang memotong keriuhan penonton.

​Kerumunan otomatis terbelah. Lin Tian berjalan santai menaiki tangga arena, sama sekali tidak memancarkan aura membunuh. Pakaiannya hanya jubah murid luar standar tanpa pelindung apa pun. Lin Chen menunggu di bawah arena dengan wajah tegang namun penuh harap.

​Penatua Hukum berdiri. "Zhao Kuang. Lin Tian. Apakah kalian berdua secara sukarela memasuki Arena Hidup Mati ini? Begitu anggur darah diminum, sekte tidak akan ikut campur, dan pertarungan hanya berakhir jika salah satu dari kalian berhenti bernapas."

​"Saya bersedia, Penatua!" jawab Zhao Kuang lantang.

​"Saya bersedia," jawab Lin Tian tenang.

​Keduanya menenggak cawan anggur darah tersebut, lalu membantingnya ke lantai batu hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahan itu adalah lonceng kematian.

​"Mulai!" teriak Penatua Hukum, mundur ke tepi arena dan mengaktifkan lapisan formasi pelindung agar sisa energi pertarungan tidak melukai penonton.

​Begitu aba-aba diberikan, Zhao Kuang tertawa gila. Fluktuasi Qi tingkat enam meledak dari tubuhnya layaknya badai abu-abu. Ia langsung mencabut pedang besar dari punggungnya. Qi yang tajam mengalir melapisi bilah pedang tersebut, membuatnya bergetar dan mengeluarkan suara dengungan yang menyakitkan telinga.

​"Mati kau, Sampah! Tebasan Pembelah Gunung!"

​Zhao Kuang tidak berniat membuang waktu. Ia mengerahkan teknik bela diri tingkat fana menengah, mengayunkan pedang raksasanya secara horizontal langsung ke arah pinggang Lin Tian. Kecepatan ayunan itu menciptakan gelombang angin tajam yang memotong udara. Jika tebasan itu mengenai sasaran, tubuh Lin Tian pasti akan terbelah menjadi dua.

​Kerumunan menahan napas. Banyak yang memejamkan mata, enggan melihat hujan darah di detik pertama pertarungan.

​Namun, di tengah tekanan mematikan itu, mata Lin Tian menyipit tajam. Ia tidak mundur, tidak juga menghindar. Ia hanya mengambil kuda-kuda dan mengepalkan tangan kanannya. Siluet naga hitam di dadanya berdenyut seketika.

​Ia tidak menggunakan Tinju Runtuh Sembilan Lapis. Ia hanya ingin menguji seberapa jauh batas kekuatan fisiknya saat ini setelah ditempa di tebing.

​Qi ungu keemasan meledak, melapisi kepalan tangan kanannya. Lin Tian melontarkan pukulan lurus yang terlihat sangat sederhana, menyambut bilah pedang raksasa itu dengan tinju kosongnya.

​"Gila! Dia menggunakan tangan kosong untuk menangkis Tebasan Pembelah Gunung?!" teriak salah satu penonton histeris.

​TRANGGG!

​Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema di seluruh arena.

​Gelombang kejut yang dahsyat menyapu permukaan panggung, membuat batu-batu di sekitarnya hancur menjadi kerikil. Alih-alih melihat lengan Lin Tian terpotong, pemandangan yang tersaji di depan mata membuat seluruh murid luar, termasuk Penatua Hukum, membelalakkan mata tak percaya.

​Bilah pedang raksasa yang dilapisi Qi tingkat enam itu terhenti total di udara, berbenturan langsung dengan buku-buku jari Lin Tian!

​Tinju pemuda tingkat tiga itu tidak mengeluarkan setetes darah pun. Sebaliknya, Qi abu-abu dari pedang Zhao Kuang tampak mendesis dan memudar, seolah baru saja menabrak sebuah gunung besi yang tak tergoyahkan.

​"T-tidak mungkin..." Wajah Zhao Kuang memucat. Kedua tangannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat, merasakan gaya tolak yang luar biasa keras dari kepalan tangan lawannya.

​"Tingkat enam," ucap Lin Tian pelan, suaranya terdengar jelas di tengah keheningan arena yang membeku. Ia menatap Zhao Kuang dengan sorot mata yang membuat bulu kuduk pemuda itu meremang. "Hanya sekuat ini?"

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!