Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Arjuna menatap Pak Hendra dengan tatapan tajam memerintah, ciri khas Tuan Muda Adhitama yang tidak pernah hilang meski sedang dalam pelarian.
"Pak Hendra, kumpulkan semua orang yang bisa dipercaya. Semua mantan karyawan, insinyur, mekanik, siapa saja yang setia pada mendiang Arya Wijaya dan tidak terima suap. Kita butuh tim. Kita butuh tenaga. Dan kita butuh keamanan ketat. Jangan biarkan siapa pun mendekat tanpa izin."
Pak Hendra mengangguk bersemangat, matanya berkaca-kaca melihat anak majikannya bangkit kembali dengan wibawa yang sama persis dengan ayahnya.
"Siap, Tuan Muda. Siap, Nona. Saya akan bergerak malam ini juga."
Setelah Pak Hendra keluar dari ruangan untuk mulai menata ulang keamanan bangunan itu, tinggalah Arjuna dan Kirana berdua di ruangan kantor itu. Suasana menjadi tenang kembali, namun ada ketegangan halus yang berbeda dari sebelumnya, ketegangan antara dua hati yang saling mendekat.
Kirana berjalan mendekati sebuah lemari kaca besar di sudut ruangan. Ia membukanya. Di dalamnya, tergantung rapi sebuah setelan baju kerja, jaket kulit tebal berwarna cokelat tua, berlambangkan sayap elang di dada kiri. Baju kerja kebanggaan Ayahnya, Arya Wijaya.
Kirana mengusap kain itu pelan.
"Aku rindu dia, Arjuna. Aku rindu suaranya, aku rindu cara dia mengajarku soal mesin, cara dia tertawa lepas seolah tidak ada beban di pundaknya ... padahal dia memikul beban seberat dunia demi melindungi kami."
Tiba-tiba, Kirana merasakan sentuhan hangat di bahunya. Arjuna berdiri tepat di belakangnya, jarak mereka begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hangat tubuh pria itu dan aroma parfum mahal yang kini sudah tercampur bau debu perjalanan.
Arjuna tidak bicara banyak. Sesuai karakternya, ia jarang bicara, tapi apa yang ia lakukan selalu bermakna dalam. Ia memutar perlahan tubuh Kirana hingga gadis itu berhadapan dengannya.
Wajah Arjuna yang biasanya dingin, kaku, dan sulit dibaca, kini melembut luar biasa. Matanya menatap lurus ke manik mata Kirana, menembus sampai ke kedalaman jiwa gadis itu.
"Dulu aku pikir hidupku sudah lengkap. Uang ada, kekuasaan ada, segalanya bisa kubeli dan semua orang tunduk padaku. Aku berpikir aku adalah orang paling hebat dan paling mandiri di dunia sampai aku bertemu kamu malam hujan itu ..."
Arjuna mengangkat tangannya perlahan, jari-jarinya yang panjang dan halus menyentuh pipi Kirana, membersihkan sisa debu halus di sana dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati.
"Kau gadis paling berisik, paling aneh, paling keras kepala, dan paling bikin buat tensiku naik tiba-tiba. Kau selalu bicara apa adanya, kau tidak peduli aku siapa, kau bahkan pernah mengatai mobilku mahal sebagai 'sampah berharga' dan aku sendiri sebagai 'tuan muda manja yang tidak tahu apa-apa soal dunia nyata'..."
Kirana yang tadinya sedang haru, mendadak bibirnya bergetar menahan tawa mendengar kutipan lama itu. Ia hendak membalas dengan omelan atau candaan seperti biasanya, tapi Arjuna memotongnya dengan senyum tipis yang langka dan sangat menawan, senyum yang hanya untuk Kirana.
"Tapi justru itulah yang membuatku gila. Kau satu-satunya wanita yang tidak takut padaku. Kau satu-satunya wanita yang melihat Arjuna Adhitama sebagai manusia biasa, bukan sebagai Tuan Muda yang ditakuti semua orang. Dan semakin aku tahu siapa kamu sebenarnya ... semakin aku sadar, hatiku sudah lama ada di tanganmu, di bawah kap mobil rusak itu, di tengah hujan deras malam itu."
Napas Kirana tertahan. Jantungnya berpacu liar, jauh lebih kencang daripada saat ia dikejar penjahat tadi. Wajah Arjuna makin mendekat, suara pria itu terdengar rendah, berat, dan penuh janji yang tak tergoyahkan.
"Kau tidak berjuang sendirian, Kirana. Dulu ayahmu berjuang sendirian karena tidak ada yang dia percaya. Tapi sekarang ... kau punya aku. Apa pun bahayanya. Siapa pun musuhnya. Seberapa besar pun kekuatan mereka... Aku ada di sisimu. Aku akan melindungimu dengan nyawaku kalau perlu. Aku akan membantumu menjaga warisan ayahmu. Dan aku akan membuktikan ... bahwa aku bukan sekadar 'tuan muda manja' itu. Aku akan menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu."
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Udara di ruangan itu terasa panas meski dingin. Tatapan mereka saling terkunci, berisi segala rasa yang selama ini mereka sembunyikan di balik pertengkaran dan ketegangan.
Kirana merasakan pipinya memanas, sesuatu yang jarang sekali terjadi padanya. Ia, gadis jalanan yang pemberani, gadis yang biasa berkelahi dengan preman, gadis yang berani menerobos tempat berbahaya ... kini mendadak menjadi gugup hanya karena tatapan pria ini.
"Kau ... kau bicara banyak sekali hari ini, Tuan Muda, apa ini efek karena turun tahta?" bisik Kirana dengan suara serak yang berusaha dibuat biasa saja, meski matanya berkilat terharu dan bahagia.
Arjuna tersenyum lebih lebar, senyum yang sangat langka dan sangat indah. Ia sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke telinga Kirana, suaranya berbisik penuh getaran.
"Hanya untukmu, Nona Montir. Hanya untukmu."
Dan di ruangan kantor tua itu, di antara debu masa lalu dan mesin-mesin besar yang tidur, benih-benih kekuatan baru mulai tumbuh. Pasangan itu berdiri berdampingan, satu sama lain melengkapi kekurangan. Arjuna punya otak bisnis, wawasan dunia, dan kekuasaan; Kirana punya otak jenius, naluri jalanan, dan keahlian tangan yang tiada tara.
Di luar jendela, langit mulai gelap. Tapi di dalam sana, ada api harapan yang menyala terang.
Mereka belum tahu, bahwa keputusan mereka untuk bertahan dan berjuang bersama ini, akan membawa mereka ke dalam petualangan yang jauh lebih gila, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih menakjubkan dari apa pun yang pernah mereka bayangkan.
Dan di kejauhan, di balik bayang-bayang pepohonan, sepasang mata mengawasi gerbang bengkel itu. Mata milik seseorang yang dikirim oleh Ratna, mata yang melaporkan setiap gerak-gerik mereka.
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️