NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Sang Mafia

Pernikahan Paksa Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia Seleb

Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Atas Pasir Putih

Udara malam di pulau pribadi itu mendadak berubah menjadi pekat, berat, dan berbau karat. Elena bisa merasakan dinginnya dinding semen ruang bawah tanah rahasia menembus kain kaos merah muda yang dikenakannya. Ruangan ini tidak terlalu luas, namun sangat kokoh. Di sudut ruangan, terdapat monitor kecil yang terhubung dengan kamera pengawas tersembunyi di luar pondok, menampilkan visual pantai yang kini disinari oleh cahaya bulan yang pucat.

Nicholas menuntunnya masuk, lalu menangkup wajah Elena dengan kedua tangannya yang besar.

"Jangan menatap layar jika kau tidak kuat, Elena. Cukup pejamkan matamu dan hitung sampai seratus. Aku akan kembali sebelum hitunganmu selesai."

"Nicholas... berjanji padaku kau akan kembali," bisik Elena, suaranya parau menahan tangis.

Nicholas tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menunduk, mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang terasa kasar, terburu-buru, namun sarat akan keputusasaan dan cinta yang masif. Pria itu melepaskan tautan mereka, mundur satu langkah, lalu menarik pintu baja tebal itu hingga tertutup dengan suara dentuman berat.

*Klek.*

Sistem pengunci otomatis bekerja dari luar. Elena kini sepenuhnya terisolasi dari dunia atas.

Elena terduduk lemas di lantai semen, air matanya mengalir deras. Namun, dia menolak untuk memejamkan mata seperti perintah Nicholas. Matanya terpaku pada monitor kecil di sudut ruangan. Dia harus melihat. Dia harus tahu takdir apa yang sedang menjemput suaminya.

Di atas layar monitor, suasana pantai yang semula sunyi mendadak terusik oleh deru mesin kapal yang menderu keras. Dua kapal cepat berukuran besar merapat secara paksa di dangkalan pasir putih. Dari balik lambung kapal, puluhan pria bersenjata lengkap dengan pakaian taktis gelap melompat turun, dipimpin oleh seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang wajahnya dipenuhi oleh ambisi gila.

Marcus Moreno.

"Barrett! Keluar kau, bajingan!" teriak Moreno dari atas pasir, suaranya samar-samar tertangkap oleh mikrofon luar ruangan.

"Aku tahu kau ada di dalam bersama pelacur barumu! Hari ini adalah hari terakhir kekaisaran Barrett memimpin pantai timur!"

Keheningan malam menjawab teriakan Moreno selama beberapa detik yang menyiksa. Orang-orang Moreno mulai bergerak membentuk formasi melingkar, mengepung pondok batu dengan senapan serbu yang siap memuntahkan peluru.

*Duar!*

Tanpa ada peringatan, sebuah ledakan besar mengguncang kapal cepat pertama milik Moreno. Nicholas telah memasang ranjau darat taktis di sepanjang garis pantai sebelum musuh tiba. Serpihan besi dan api berkobar hebat, melahap tubuh beberapa anak buah Moreno dalam sekejap. Suasana pantai seketika berubah menjadi neraka fajar yang mengerikan.

"Sialan! Dia sudah bersiap! Tembak! Ratakan pondok itu!" perintah Moreno histeris, melangkah mundur ke balik perlindungan kapal kedua.

Rentetan tembakan senapan otomatis langsung memborbardir dinding batu pondok. Suara desingan peluru yang menghantam batu pualam terdengar mengerikan bahkan sampai ke ruang bawah tanah tempat Elena bersembunyi.

Di tengah hujan peluru itu, siluet Nicholas Barrett muncul dari balik kegelapan lantai dua pondok. Pria itu bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, mirip dengan dewa kematian yang sedang memanen nyawa.

Dengan senapan panjang di tangannya, Nicholas memuntahkan peluru dengan akurasi yang luar biasa. Setiap kali tangannya bergerak, satu per satu anak buah Moreno bertumbangan di atas pasir putih, darah segar mereka merembes, menodai kesucian pantai pulau pribadi itu.

Nicholas tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Meskipun dia dikepung oleh puluhan orang, aura dominasi dan kematangan militernya membuatnya terlihat seratus kali lebih berbahaya daripada seluruh pasukan Moreno digabungkan. Pria itu memanfaatkan setiap sudut arsitektur benteng batunya untuk berlindung, lalu muncul kembali di titik yang tak terduga untuk menghabisi musuhnya.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Nicholas terpaksa mundur ke lantai bawah saat beberapa anak buah Moreno berhasil menjebol pintu kayu beranda menggunakan bahan peledak kecil. Pertempuran jarak dekat pun tak terhindarkan di dalam ruang tengah pondok.

Melalui kamera pengawas dalam ruangan, Elena menyaksikan Nicholas menanggalkan senapan yang kehabisan peluru, lalu menarik pistol semi otomatis dari sakunya. Gerakannya sangat taktis. Pria itu menghindar dari sayatan pisau seorang penyerang, memutar tubuhnya, lalu melepaskan tembakan tepat di dada musuhnya dari jarak dekat.

*Brakk!*

Seorang anak buah Moreno bertubuh raksasa berhasil menerjang Nicholas dari belakang, membuat mereka berdua terjatuh di atas sofa kulit tempat Elena melukis tadi siang. Pria raksasa itu mencoba mencekik leher Nicholas dengan sebilah pisau komando yang berkilat tajam.

"Nicholas!" Elena memekik histeris di depan monitor, tangannya memukul-mukul layar kaca dengan keputusasaan yang mendalam.

Di dalam layar, rahang Nicholas mengencang, urat-urat di lehernya menonjol tajam menahan tekanan pisau yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari urat nadinya. Dengan sentakan kekuatan yang luar biasa, Nicholas memukulkan pergelangan tangan kirinya yang bebas ke arah pelipis pria raksasa itu, membuatnya limbung sejenak. Nicholas memanfaatkan celah itu untuk menarik pisau kecil dari balik sepatunya, lalu menghujamkannya tepat di leher penyerangnya.

Pria raksasa itu tumbang, bersimbah darah di atas karpet rajut krem. Nicholas bangkit dengan napas yang terengah-engah. Tubuh atasnya yang telanjang kini dipenuhi oleh cipratan darah musuh, dan perban di bahu kanannya kembali memerah oleh darahnya sendiri yang merembes akibat luka yang terbuka kembali.

Pria itu memungut kembali pistolnya, menatap ke arah koridor utama dengan tatapan mata abu-abu yang kini telah bertransformasi sepenuhnya menjadi kegelapan yang murni.

Sisa anak buah Moreno di luar mulai ragu untuk melangkah masuk setelah melihat hampir tiga perempat dari pasukan mereka dibantai habis oleh satu orang pria di dalam pondok tersebut. Ketakutan legendaris tentang nama Nicholas Barrett kini terbukti secara nyata di depan mata mereka.

"Mundur! Mundur ke kapal!" teriak Marcus Moreno dari kejauhan, menyadari bahwa taruhan terakhirnya malam ini telah gagal total.

Pria tambun itu berlari terengah-engah menuju kapal cepatnya yang masih utuh, mencoba menyelamatkan nyawanya sendiri seperti seorang pengecut.

Namun, Nicholas Barrett bukan pria yang membiarkan mangsanya pergi dalam keadaan hidup setelah berani menyentuh batas wilayah pribadinya.

Nicholas melangkah keluar dari pondok, berdiri di atas beranda dengan senapan sniper yang kini tersampir di bahunya. Pria itu berlutut dengan satu kaki di atas lantai kayu, membidik ke arah lambung kapal cepat Moreno yang mulai bergerak menjauhi dermaga.

*Duar!*

Nicholas melepaskan satu tembakan presisi tinggi tepat ke arah tangki bahan bakar kapal tersebut.

Ledakan kedua yang jauh lebih dahsyat daripada yang pertama seketika memecah malam. Kapal cepat Moreno hancur berkeping-keping di tengah samudra, menciptakan bola api raksasa yang menerangi seluruh langit pulau pribadi. Marcus Moreno dan seluruh keserakahannya lenyap tanpa sisa di dalam dinginnya dasar laut.

Keheningan kembali menguasai pulau itu, menyisakan suara deburan ombak yang kini membawa sisa-sisa abu pembakaran ke tepi pantai. Nicholas menurunkan senapannya, menjatuhkan benda berat itu ke atas lantai beranda kayu, lalu menyandarkan tubuh besarnya di pilar rumah dengan napas yang memburu. Pria itu memejamkan matanya, membiarkan angin malam laut menghapus sisa-sisa panas mesiu di kulitnya.

Di ruang bawah tanah, Elena melihat pertempuran telah berakhir. Detik itu juga, terdengar suara mekanis

*klik*

dari pintu baja raksasa yang terbuka perlahan. Nicholas telah merilis kuncinya dari atas.

Elena tidak menunggu sedetik pun. Dia mendorong pintu itu, berlari menaiki tangga ruang bawah tanah menembus ruang tengah pondok yang kini berantakan dan dipenuhi oleh jasad-jasad tak bernyawa. Elena mengabaikan bau amis darah yang menyengat indra penciumannya; satu-satunya hal yang ada di kepalanya hanyalah pria yang berdiri di beranda luar.

Elena menerjang keluar pintu beranda, dan tanpa ragu, dia melemparkan seluruh tubuhnya ke dalam pelukan Nicholas.

"Nicholas!" tangis Elena pecah, dia memeluk leher suaminya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu yang masih terasa panas oleh sisa adrenalin perang.

Nicholas tertegun sejenak, namun kemudian kedua lengan kekarnya yang dipenuhi noda darah dan peluh langsung melingkar posesif di pinggang Elena, mengangkat tubuh kecil istrinya tinggi-tinggi dan mendekapnya seolah dia tidak akan pernah melepaskan gadis itu lagi seumur hidupnya.

"Aku di sini, Elena. Aku kembali," bisik Nicholas dengan suara yang sangat rendah, serak, dan sarat akan emosi cinta yang begitu masif di pucuk kepala Elena.

Pria itu memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma manis tubuh istrinya satu-satunya aroma kehidupan yang berhasil menyelamatkannya dari kegelapan malam ini. Di atas pasir pantai yang kini berlumuran darah musuh, sang pengantin pengganti dan sang bos mafia telah membuktikan bahwa tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang sanggup memisahkan ikatan takdir mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!