NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:84k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Mobil Haikal melaju menuju puskesmas dengan Annisa yang masih tak sadarkan diri di kursi belakang. Napas wanita itu terdengar berat dan sesekali disertai bunyi sesak halus yang membuat Haikal mulai gelisah sendiri.

Namun, sebelum sampai tujuan, ponselnya tiba-tiba berdering. Satrio muncul di layar Haikal langsung menegakkan tubuhnya. Cepat-cepat ia mengangkat telepon itu dengan nada sopan.

“Halo, Pak Satrio.”

[Pak Haikal,] suara asisten itu terdengar formal seperti biasa. [Saya dengar istri Anda sakit,]

Haikal langsung melirik Annisa dari kaca spion. Wanita itu masih pucat dan tidak sadarkan diri. Namun, entah kenapa, Haikal merasa malu jika atasannya tahu dirinya membawa istrinya ke puskesmas.

“Ah … istri saya baik-baik saja kok, Pak,” jawabnya sambil tertawa kecil dibuat-buat. “Mungkin cuma kelelahan.”

[Begitu?]

“Iya.” Haikal kembali berkata santai. “Akhir-akhir ini dia memang gampang capek.”

Satrio terdiam sesaat sebelum kembali bicara,

[Tuan Darto berniat mengirim bingkisan buah segar untuk istri Anda.]

Haikal langsung tersenyum senang. Dirinya merasa benar-benar diperhatikan oleh pemilik perusahaan. Sambil menyetir, Haikal kembali melirik Annisa yang masih terkulai lemah.

“Wah, nggak usah repot-repot sebenarnya, Pak…"

[Kalau begitu bingkisannya dikirim ke rumah sakit saja.] Satrio melanjutkan, [Istri Anda dirawat di rumah sakit swasta mana?]

Pertanyaan itu membuat Haikal langsung menegang. Matanya bergerak cepat ke papan penunjuk jalan menuju puskesmas di depan sana. Beberapa detik pria itu terdiam sebelum akhirnya tersenyum kecil.

“Ah … nggak perlu dikirim ke rumah sakit, Pak.”

[Lalu?]

“Kirim ke rumah saja.” Nada suaranya dibuat santai. “Istri saya cuma diperiksa sebentar.”

[Baik, Pak Haikal.]

Telepon pun berakhir.

Haikal menghela napas lega sambil kembali menyetir.

Di dalam mobil, suasana perlahan mulai tenang setelah telepon dari Satrio berakhir. Haikal bahkan terlihat jauh lebih santai sekarang.

“Bu,” katanya sambil tersenyum kecil, “perusahaan mau kirim bingkisan lagi karena tahu Annisa sakit.”

Mata Lasmi langsung berbinar senang. “Serius?”

Haikal mengangguk bangga. “Tadi asistennya Pak Darto langsung telepon.”

Lasmi langsung terkekeh puas. “Nah tuh!” katanya senang. “Musibah bawa berkah namanya!”

Haikal ikut tersenyum tipis. Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok masuk ke halaman puskesmas. Beberapa menit setelah pendaftaran, seorang dokter umum mulai memeriksa kondisi Annisa yang masih belum sadar penuh. Dokter itu memeriksa napas Annisa cukup lama sebelum mengernyit serius.

“Pasien punya riwayat asma?”

Haikal mengangguk. “Iya, Dok.”

Dokter langsung berdiri dan mulai menulis sesuatu. “Kondisinya harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap.” Nada suaranya berubah serius. “Silakan ambil surat rujukan sekarang.”

Sebelum Haikal menjawab,

“Nggak usah!” Lasmi langsung memotong cepat.

Dokter menoleh bingung. Wanita tua itu mendecak sambil melipat tangan di dada.

“Cuma pingsan begitu saja dirujuk segala.”

“Bu, pasien sesak dan kondisinya lemah sekali,” jelas dokter sabar.

“Tinggal dikasih obat juga sembuh.”

Dokter tampak mulai tidak nyaman. “Tapi saya khawatir kondisi paru-parunya—”

Lasmi kembali memotong. “Dok, saya lebih tahu menantu saya.”

Dokter terdiam sesaat, Lasmi lalu menatap Annisa sinis.

“Dia itu cuma pura-pura pingsan biar nggak kerja di rumah.”

Haikal yang berdiri di samping hanya diam tanpa membela. Dokter terlihat tidak percaya.

“Bu, pasien tidak mungkin—”

Namu, tiba-tiba Lasmi mencubit tangan Annisa keras.

“Bangun!”

Tak ada respons, Lasmi kembali mencubit lebih kuat.

“Eh! Jangan pura-pura!”

Annisa tetap tak bergerak tetapi saat cubitan ketiga mendarat lebih kasar, kelopak mata Annisa bergerak pelan seolah merespons rasa sakit itu.

“Nah kan!” seru Lasmi puas. “Saya bilang juga apa!”

Dokter langsung menahan tangan wanita tua itu. “Bu, jangan begitu!”

Lasmi malah menarik tangannya kesal.

“Dokter ini terlalu lebay.”

Sementara di ranjang pemeriksaan, air mata tipis perlahan keluar dari sudut mata Annisa meski dirinya bahkan belum benar-benar sadar.

Lasmi langsung mendecak kesal setelah dokter melarang tindakannya.

“Sudahlah, Dok. Langsung periksa saja.”

Dokter itu menghela napas pelan sebelum kembali memeriksa kondisi Annisa dengan lebih teliti.

Beberapa menit kemudian dokter melepas stetoskopnya dan menatap Haikal serius.

“Pasien terlalu lelah dan stres,” jelasnya. “Ditambah punya riwayat asma, jadi kondisinya drop.”

Haikal mulai terlihat sedikit khawatir.

“Bahaya nggak, Dok?”

“Untuk sementara masih bisa ditangani,” jawab dokter. “Tapi pasien harus istirahat total dan jangan mengalami tekanan emosional dulu.”

Kalimat terakhir itu membuat Annisa yang setengah sadar perlahan menunduk lemah.

Lasmi malah terlihat tidak sabar.

“Jadi nggak perlu dirawat kan?”

Dokter tampak ragu sesaat sebelum akhirnya menulis resep.

“Saya kasih beberapa obat dulu.” Dokter menyerahkan kertas resep pada Haikal. “Tolong ditebus di apotek.”

Haikal langsung menerima resep itu dan berjalan ke bagian farmasi. Tak lama kemudian pria itu kembali sambil mengerutkan kening melihat total harga obat.

“Lumayan juga…” gumamnya pelan.

Lasmi langsung merebut kertas pembayaran dari tangan anaknya. Begitu melihat nominalnya, matanya langsung membesar.

“Hah?!” Wajah wanita tua itu langsung berubah tidak suka.

“Obat begini mahal sekali?”

“Bu…” Haikal mencoba bicara pelan.

Lasmi langsung mendecak keras.

“Sudah! Bawa dia pulang saja!”

Dokter yang mendengar itu langsung mengernyit.

“Tapi obat pasien harus ditebus.”

“Nanti saja!” potong Lasmi cepat. “Di rumah juga paling sembuh sendiri.”

“Bu, kondisi pasien—”

“Dokter sekarang sedikit-sedikit obat mahal!” gerutu Lasmi kesal.

Haikal terlihat ragu tetapi Pria itu tetap memilih mengikuti perkataan ibunya.

“Baik, Bu…”

Mobil melaju meninggalkan puskesmas dalam suasana sunyi. Annisa yang masih lemah bersandar di kursi belakang sambil memejamkan mata. Napasnya masih terasa berat, sementara tubuhnya dingin dan lemas.

Namun, di kursi depan, Lasmi terus mengomel tanpa henti.

“Makanya Ibu bilang dari dulu,” gerutunya kesal. “Ceraikan saja Annisa.”

Haikal menggenggam setir sambil diam mendengarkan.

“Lima tahun menikah tapi nggak kasih cucu.” Lasmi kembali berkata sinis. “Ibu ini mau gendong cucu sebelum tua!”

Kalimat demi kalimat terus memenuhi mobil.

“Sekarang lihat Dokter Emeli.” Nada suara Lasmi mulai berbinar penuh harapan. “Cantik, pintar, kerjaannya bagus.”

Haikal tetap diam.

“Kalau punya menantu dokter begitu, hidup kita juga ikut naik.”

Pria itu melirik kaca spion sebentar ke arah Annisa yang masih tertidur lemah di belakang. Entah kenapa ada sedikit rasa bersalah muncul di dadanya. Namun, ucapan ibunya terus masuk ke pikirannya.

“Dan Ibu nggak buta.” Lasmi menyeringai kecil. “Dokter Emeli jelas suka sama kamu.”

Haikal langsung menatap jalan lagi. “Bu…”

“Perempuan itu perhatian sama kamu.” Lasmi terus bicara meyakinkan. “Cara dia lihat kamu juga beda.”

Haikal terdiam dan diamnya kali ini bukan karena tidak setuju. Karena jauh di dalam hatinya, dirinya juga mulai merasa Emeli memang memiliki perasaan padanya.

Apalagi dibanding Annisa yang sekarang dianggap penuh masalah, Emeli terasa jauh lebih membanggakan di mata Haikal.

“Kamu pikir perempuan secantik dan sesukses itu bakal perhatian kalau nggak suka?” lanjut Lasmi.

Perlahan, sudut bibir Haikal mulai terangkat tipis. Egonya sebagai pria mulai tersentuh.

“Lagipula,” Lasmi kembali menatap anaknya penuh arti, “hidup kamu sekarang sudah sukses. Wajar kalau dapat perempuan yang lebih baik.”

Di kursi belakang, jari Annisa perlahan bergerak lemah. Meski matanya tertutup, beberapa ucapan mereka masih samar terdengar di telinganya.Pelan-pelan menghancurkan hatinya lebih dalam lagi.

Sementara itu, di tempat lain. Di dalam pesawat pribadi yang mulai bersiap mendarat, suasana kabin terasa tenang. Lampu kota mulai terlihat dari balik jendela saat malam perlahan turun.

Emran Richard duduk tenang sambil membaca beberapa laporan bisnis di tangannya. Sementara di sampingnya, Han terlihat membuka tablet dengan wajah serius.

“Tuan…” panggil Han pelan.

Emran mengangkat pandangannya. “Ada apa?”

Han tampak ragu sesaat sebelum akhirnya berkata, “Saya baru dapat informasi soal hubungan Nona Annisa dan Tuan Darto.”

Sorot mata Emran langsung berubah fokus. Han menarik napas pelan lalu melanjutkan

“Selama ini ternyata mereka tidak pernah benar-benar saling kontak.”

Emran mengernyit. “Apa maksudmu?”

Han menatap tabletnya sebentar.

“Lima tahun lalu, sebelum Nona Annisa pergi menikah dengan pria yang bernama Haikal itu … Tuan Darto sempat marah besar.”

Hening sesaat memenuhi kabin. Han lalu melanjutkan dengan hati-hati,

“Beliau pernah berkata … kalau Nona Annisa memilih Haikal, maka beliau bukan ayahnya lagi.”

Rahang Emran langsung mengeras. Tangannya perlahan mengepal di atas kursi. Sebagai seseorang yang sangat dihormati oleh Darto, Emran tahu betapa besar rasa sayang pria itu pada Annisa. Bahkan, dulu Darto sering memperlakukannya seperti anak sendiri karena percaya Emran akan menjaga putrinya dengan baik.

Namun, ternyata ucapan penuh emosi itu justru membuat hubungan ayah dan anak tersebut benar-benar retak sampai sekarang.

“Dan Nona Annisa percaya ucapan itu?” tanya Emran pelan.

Han mengangguk. “Sepertinya begitu, Tuan.”

Emran memejamkan mata sejenak. Entah kenapa dadanya terasa sesak membayangkan Annisa hidup sendirian tanpa keluarga selama ini. Padahal dirinya tahu jelas Darto tidak pernah benar-benar berhenti mencintai putrinya. Emran menatap keluar jendela pesawat cukup lama.

Lampu kota yang mulai terlihat dari kejauhan membuat pikirannya melayang pada satu sosok yang belum pernah benar-benar hilang dari hatinya.

“Aku akan membawa Annisa bertemu Tuan Darto di malam ulang tahunnya nanti,” ucap Emran Richard pelan.

Han yang berdiri di sampingnya sedikit terdiam.

“Tuan yakin?”

Emran mengangguk tipis. “Tuan Darto pasti menginginkan itu.”

Bagaimanapun juga, Darto sangat mencintai putrinya. Selama ini mereka hanya sama-sama keras kepala. Namun, Han justru terlihat ragu.

“Sepertinya Anda salah, Tuan.”

Emran menoleh. “Maksudmu?”

Han lalu membuka data di tabletnya. “Pak Satrio sudah mengirim undangan resmi untuk Haikal menghadiri ulang tahun Tuan Darto.”

Alis Emran langsung bertaut. “Pria itu diundang?”

Han mengangguk. “Dan kemungkinan besar Nona Annisa akan datang bersama suaminya.”

Hening sesaat memenuhi kabin pesawat. Emran perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil berpikir.

Selama lima tahun terakhir, Darto tidak pernah mengundang Haikal ke acara keluarga ataupun acara perusahaan penting. Namun, sekarang tiba-tiba pria itu mendapat undangan resmi.

Artinya hanya ada satu kemungkinan.

“Mungkin…” gumam Emran pelan, “Tuan Darto sudah mulai menerima Haikal sebagai menantu.”

Pikirannya langsung menjadi rumit. Kalau benar begitu berarti hubungan mereka mungkin sudah membaik diam-diam. Dan itu juga berarti Annisa mungkin masih hidup bahagia bersama pria pilihannya. Namun, entah kenapa, hati Emran tetap terasa tidak tenang. Karena sejak tadi, firasat buruk terus mengganggu pikirannya tanpa alasan yang jelas.

1
Ass Yfa
puas bngt....hhh aku...liat mereka hancur tak bersisa...yg paling berat sanksi sosial...bisa2 jadi gila
Ass Yfa
modar ra kowe...😒
Ass Yfa
heh..Haikal bidoh apa oon ..nempermalukan diri sendiri
Ratih Tupperware Denpasar
haikal ini juga aneh wkt ibunya menghina anisa dia malqh mendukung ibunya bahkan menerima dr gadungan itu.. skr baru nyalahin ibunya. kalo kamu cinta beneran sama anisa harusnya bela thu istrimu bukan malak mengikuti permainan ibumi dan menalak anisa....dasar kamunya aja yg plinplan
Sri Widiyarti
puas banget bacanya....
Sri Widiyarti
makasih banyak kak up-nya 🥰
Les Tary
lasmi gaya gayaan...kyk dia sendiri kaya sampai merendahkan annisa
iqha_24
penyesalan datang belakangan yaa kan Haikal wkwkwk
爾妮
lanjutkan tor🤣🤣
dyah EkaPratiwi
rasakan Haikal nyesel kan
Dew666
💄💄💄
mariammarife
yo ngga bisa lngsng nikah hrs menunggu masa Iddah nya Annisa beres dulu pak Darto
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kalo sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga
Mutaharotin Rotin
rasain kalian bertiga kena karma nya 😂😂
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut thor 🥰🥰🥰
mariammarife
mas Emran jgn terburu² ngajak Annisa nikah harus nya nunggu masa Iddah nya selesai
Les Tary
emeli minta tolong annisa bilang jgn hancurkan hidupku...ga salah ngomong itu org
Teh Euis Tea
rasain kalian jd gembel, puaslah
Oma Gavin
akhirnya mereka bertiga jadi gembel kere gelandangan
Abisatya
lanjut kk🙏💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!