NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang berputar

Suara denting lonceng pintu kafe berbunyi tring-tring saat Agnesa melangkah masuk. 

Bandung pagi ini masih menyisakan hawa dingin setelah hujan deras yang mengguyur sepanjang malam.

 Agnesa mengenakan sweter rajut berwarna krem, kontras dengan kemeja seragam yang ia kenakan kemarin. Ia mencari tempat duduk di sudut kafe yang tenang, jauh dari keramaian pelanggan lain.

​Nadiva sudah menunggu di sana, jarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan ritme cepat.

 Tak... tak... tak...

​"Kamu telat lima menit," ujar Nadiva tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

​Agnesa duduk di kursi kayu yang sedikit bergeser dengan suara decitan halus.

 Kriet. 

"Jalanan macet. Pohon tumbang di dekat tikungan SMA."

​Nadiva meletakkan ponselnya, menatap wajah Agnesa. "Kamu nggak apa-apa? Kelihatan kurang tidur."

​"Hanya banyak tugas organisasi," jawab Agnesa singkat. Ia memanggil pelayan dengan lambaian tangan kecil. 

Permisi.

Kafe itu tidak terlalu besar.

 Aroma biji kopi panggang mendominasi ruangan, bercampur dengan bau kertas buku tua dari rak-rak yang tersusun di sepanjang dinding. 

Di luar jendela, pejalan kaki lewat dengan langkah terburu-buru, sebagian menggunakan payung yang basah. 

Di dalam sini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Bunyi mesin espresso yang mendesis sss-kkrr-sss menjadi satu-satunya latar belakang suara yang mengisi kekosongan antara percakapan mereka.

​"Gisella bilang dia lihat Naren kemarin malam di dekat rumahmu," Nadiva berbisik, suaranya pelan namun jelas.

​Agnesa menyesap air mineral yang baru saja diantarkan pelayan. Ia meletakkan gelasnya dengan sangat hati-hati. 

Tak. 

"Itu tidak penting."

​"Nggak penting? Nes, dia itu pemimpin ZENTRIX. Kalau dia sampai main-main di depan rumahmu, itu sudah tanda bahaya."

​Agnesa menatap ke arah jendela, melihat seorang pria tua yang sedang membersihkan kaca jendela di seberang jalan. 

Srek... srek...

​"Aku sudah bilang padanya untuk menjauh," ujar Agnesa.

​"Dan dia mendengarkan?"

​Agnesa terdiam. Ia teringat secarik kertas bertuliskan Ubur-ubur yang ia simpan di laci mejanya. 

Apakah itu tanda menjauh? Atau justru sebaliknya?

Nadiva menyeruput kopi panasnya, ekspresinya berubah drastis dari serius menjadi sedikit cemas.

Agnesa justru memesan sepotong croissant cokelat dan mulai memotongnya menjadi bagian-bagian sangat kecil dengan pisau perak.

Tidak ada sisa remah yang jatuh.

Nadiva memerhatikan tangan Agnesa.

Agnesa meletakkan pisau dengan presisi milimeter di atas piring.

"Kamu terlalu memikirkannya," kata Agnesa dengan nada datar, suaranya tidak menunjukkan kecemasan apa pun, padahal jemarinya menekan pinggiran piring begitu keras hingga memutih.

​"Kamu tahu, Nes, kadang-kadang kamu terlihat seperti sedang menahan napas terlalu lama," Nadiva mencoba bercanda, namun tawanya terdengar hambar.

​"Aku hanya lelah, Nad."

​Agnesa menoleh ke arah pintu kafe saat lonceng kembali berbunyi. 

Tring-tring.

 Seorang remaja laki-laki masuk dengan jaket denim yang sedikit robek di bagian lengan. 

Pikirannya langsung tertuju pada Naren. 

Apakah dia akan muncul di sini? Apakah dia akan berani duduk di depannya dan menanyakan arti dari kata yang ia tulis?

Kenapa aku menunggu? Kenapa aku berharap pintu itu terbuka dan dia yang muncul? Ini gila. 

Aku benci dia. Dia pembuat masalah, dia perusak ketenangan, dia... dia yang membuat hidupku yang tadinya teratur ini jadi terasa berantakan hanya dengan kehadirannya. 

Tapi kalau dia tidak datang, kenapa aku merasa kecewa?

​"Nes? Kamu melamun?" Nadiva menyenggol lengan Agnesa dengan sikunya.

​Agnesa tersentak.

 "Tidak. Aku cuma... memikirkan tugas OSIS."

​"Bohong."

​"Aku tidak bohong."

​"Jari-jarimu gemetar, Agnesa," Nadiva menunjuk tangan Agnesa yang berada di atas meja.

​Agnesa segera menarik tangannya ke bawah meja, menggenggamnya kuat-kuat.

Agnesa mengambil sendok kecil dan mulai mengaduk gula dalam gelas es kopi miliknya meski kopi itu sudah dingin.

Bunyi denting sendok yang beradu dengan dinding gelas ting... ting... ting... memenuhi ruang di antara mereka.

Ia tidak berhenti.

Ia terus mengaduk, menciptakan pusaran kopi yang tidak perlu.

Nadiva memperhatikan gerakan berulang itu dengan dahi mengernyit.

Agnesa tidak sadar ia sedang melakukannya sampai Nadiva memegang tangannya.

Agnesa segera berhenti, membiarkan sendok itu jatuh ke dalam gelas dengan suara pluk.

​"Kamu takut sama dia?" tanya Nadiva, suaranya kini lebih lembut.

​"Aku tidak takut pada siapa pun," tegas Agnesa.

​"Lalu kenapa kamu bereaksi seperti itu setiap kali namanya disebut?"

​Agnesa tidak menjawab. Ia berdiri, mengambil tasnya.

 "Aku harus pulang. Ada yang harus aku kerjakan."

​"Nes, kita belum selesai bicara."

​"Aku sudah selesai," ujar Agnesa. 

Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan meletakkannya di meja. 

Srek.

 "Bayar saja pesananku dengan ini."

​Agnesa melangkah keluar dari kafe dengan langkah yang teratur, namun di luar, saat hawa dingin Bandung menyambutnya, ia merasa dadanya sesak.

 Ia berjalan menyusuri trotoar, menghindari kerumunan orang, dan memilih jalan yang lebih sepi.

​Suara klakson mobil tin-tin membuatnya sedikit tersentak.

 Ia terus berjalan, menunduk, matanya menatap sepatunya yang menginjak genangan air sisa hujan. 

Plek... plek...

​Setiap langkah terasa berat, bukan karena kelelahan fisik, tapi karena pikiran-pikiran yang terus berputar di kepalanya—pikiran yang tidak relevan dengan rapat OSIS, atau tugas sekolah, atau reputasi keluarga Anabella.

Agnesa berhenti di depan sebuah toko buku tua.

Ia melihat pajangan di depan toko, sebuah buku tentang biologi laut.

Di sampulnya, ada gambar ubur-ubur yang melayang di air gelap.

Agnesa terpaku di sana selama dua menit penuh, tidak bergerak, tidak berkedip.

Seorang pejalan kaki menabrak bahunya secara tidak sengaja, tapi Agnesa tidak meminta maaf, ia bahkan tidak menoleh.

Ia hanya menatap gambar itu, kemudian berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.

Jauh di dalam dirinya, ia tahu ia tidak akan bisa lagi melihat ubur-ubur dengan cara yang sama setelah ini.

​"Ini bodoh," bisiknya lagi, sebuah repetisi dari apa yang ia katakan kemarin malam.

​Ia terus berjalan, sampai akhirnya ia sampai di depan pagar rumahnya yang megah. 

Pak Jaka membukakan pintu pagar. 

Kriiit.

​"Non sudah pulang?" tanya Pak Jaka dengan ramah.

​"Ya, Pak. Terima kasih," jawab Agnesa singkat.

​Ia masuk ke halaman rumah, melewati taman yang dirawat dengan presisi sempurna. Namun, matanya tidak tertuju pada bunga-bunga itu. Matanya mencari sesuatu di sepanjang pagar. 

Tidak ada apa-apa. Hanya pagar besi yang kokoh dan dingin.

​Agnesa masuk ke rumah, menutup pintu kayu besar di belakangnya dengan suara jedag yang keras.

 Rumah itu sunyi, dingin, dan sangat teratur. Ia naik ke lantai dua, menuju kamarnya, dan menguncinya rapat-rapat.

​Di dalam kamar yang sunyi itu, ia mengambil buku catatan hitam dari laci meja rias, membukanya, dan melihat kembali kertas bertuliskan Ubur-ubur. 

Ia tidak menangis. Ia tidak marah. Ia hanya duduk di sana, membiarkan kesunyian memeluknya, sambil memikirkan mengapa hidupnya yang begitu rapi harus tiba-tiba terasa begitu berantakan oleh satu kata yang ditulis oleh seorang pemimpin gang yang ia benci.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Lo peduli sama dia,"

​"Gue nggak peduli sama reputasi sekolah,"

​Naren Benar-Benar Jatuh Cinta? Intip Kelanjutan Nekat Sang Ketua Gang di Bab 27: Di Balik Tembok Besi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!