"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Bisik-Bisik di Balik Dinding Beludru
Suara riuh rendah di dalam ballroom mendadak berubah menjadi dengung lebah yang menyakitkan di telinga Alin. Lampu gantung kristal yang megah di langit-langit gedung seolah memancarkan panas yang membakar kulit kepalanya yang tertutup sanggul dan ronce melati. Alin masih berdiri di posisinya, tidak bergeser satu sentimeter pun sejak buket bunganya jatuh merosot ke lantai pelaminan. Matanya yang mulai memanas menyaksikan bagaimana Elang—pria yang baru beberapa jam lalu menjabat tangannya dalam ikatan suci—menuntun Cindy dan mendekap Ega dalam gendongannya, melangkah tergesa meninggalkan area pelaminan menuju pintu keluar darurat di sisi panggung.
Elang tidak menoleh. Sama sekali tidak memikirkan bagaimana cara Alin menuruni undakan pelaminan sendirian dengan kain jarik yang melilit ketat kakinya.
"Alin ... Nduk," sebuah suara parau namun berwibawa memecah kekakuan tubuh Alin.
Nenek Aisyah melangkah mendekat dibantu oleh dua orang sepupu Elang yang memegangi lengannya. Wanita sepuh berusia tujuh puluh lima tahun itu tampak anggun dengan kebaya beludru hitam khas Yogyakarta, senada dengan statusnya sebagai sesepuh keluarga. Namun, gurat keriput di wajah Nenek Aisyah kini tampak menegang hebat. Sepasang matanya yang biasanya memancarkan keteduhan, kini berkilat penuh amarah yang tertahan. Napasnya naik turun dengan cepat, membuat kalung mutiara di lehernya ikut bergerak tidak beraturan.
"Ikut Nenek ke ruang transit. Sekarang," perintah Nenek Aisyah. Suaranya rendah, tetapi penuh penekanan yang tidak membantah.
Alin hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia mengangkat sedikit ujung kain jariknya agar tidak tersandung, lalu melangkah mengekor di belakang Nenek Aisyah. Di sepanjang koridor karpet merah menuju ruang transit belakang panggung, Alin bisa merasakan ratusan pasang mata tamu undangan menusuk punggungnya. Bisik-bisik miring dari para kolega bisnis Elang dan kerabat besar mulai bersahut-sahutan, merobek harga dirinya yang tersisa sebagai pengantin wanita.
Begitu pintu ganda ruang transit yang dilapisi beludru tebal itu ditutup rapat oleh petugas keamanan, sunyi yang mencekam langsung menyergap. Ruangan ber-AC itu terasa sangat dingin, tetapi hawa ketegangan di dalamnya begitu pekat hingga membuat dada Alin terasa sesak.
Di sudut ruangan, di atas sofa kulit berwarna cokelat gelap, Cindy duduk sambil memeluk Ega yang masih sesenggukan. Sementara Elang berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta, dengan kedua tangan yang bertumpu pada pinggang. Gurat bahunya tampak naik turun, menandakan emosinya yang belum stabil.
Braakk!
Nenek Aisyah memukulkan tongkat kayu ukirnya ke atas lantai marmer dengan keras, membuat semua orang di dalam ruangan itu tersentak, termasuk Ega yang langsung menyembunyikan wajah kecilnya di ceruk leher Cindy.
"Elang! Apa-apaan ini?!" suara Nenek Aisyah meninggi, tidak lagi menyembunyikan murkanya. Dia melangkah maju, mengabaikan kehadiran Cindy dan langsung mengonfrontasi cucu kesayangannya. "Di mana otakmu, hah? Kamu meninggalkan istrimu di atas pelaminan demi wanita yang sudah mencampakkanmu seperti sampah lima tahun lalu?!"
Elang membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak kusut. Dia melirik Alin sekilas—sebuah tatapan yang terasa hambar dan penuh rasa bersalah yang terpaksa—sebelum akhirnya kembali menatap sang nenek. "Nenek, Cindy membawa Ega. Ega anakku, Nek. Dia darah dagingku. Aku tidak bisa tinggal diam melihat anakku sendiri terlantar di luar sana."
"Darah daging?" Nenek Aisyah terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin di telinga Alin. "Wanita ini menghilang tanpa kabar setelah meminta uang kompensasi dari keluarga kita dulu, dan sekarang dia datang di hari pernikahanmu membawa anak yang dia klaim sebagai anakmu? Kamu seorang CEO, Elang! Di mana logika bisnismu yang selalu kamu banggakan itu? Bagaimana kamu bisa langsung percaya pada ucapan wanita penipu ini?!"
Mendengar kata 'penipu', Cindy langsung bangkit dari sofa. Dia meletakkan Ega dengan perlahan, lalu bersujud di lantai tepat di bawah kaki Nenek Aisyah. Air matanya kembali luruh, membasahi lantai marmer ruangan.
"Saya mohon, Ibu ... demi Allah, Ega adalah anak Mas Elang," isak Cindy dengan suara yang sengaja dibuat serak dan memelas. "Saya tidak pernah meminta uang sepeser pun dulu. Saya pergi karena saya merasa tidak pantas untuk Mas Elang yang begitu terpandang. Tapi sekarang ... sekarang Ega sering sakit-sakitan, Bu. Saya sudah tidak punya biaya untuk berobat. Saya rela dihina, saya rela dicaci, tapi tolong ... jangan telantarkan Ega. Dia tidak berdosa."
Alin yang berdiri di dekat pintu hanya bisa meremas jemarinya sendiri. Dia melihat bagaimana Mas Elang langsung melangkah maju, berlutut di samping Cindy dan mencoba memapah wanita itu untuk kembali berdiri. Sentuhan tangan Elang pada bahu Cindy tampak begitu lembut, begitu protektif—sesuatu yang sama sekali tidak pernah Alin rasakan sejak mereka pertama kali dijodohkan. Hati Alin serasa diiris sembilu melihat pemandangan itu. Di hari pernikahannya sendiri, suaminya justru sibuk mendekap wanita lain di depan matanya.
"Nenek, lihat Ega," suara Elang melunak, seolah memohon pengertian. "Wajahnya, Nek ... wajahnya tidak bisa berbohong. Dia sangat mirip denganku waktu kecil. Nenek pasti ingat."
Nenek Aisyah menatap Ega yang duduk ketakutan di sofa. Gurat kemiripan itu memang tidak bisa dipungkiri, dan hal itu sempat membuat sang nenek terdiam selama beberapa detik dengan napas yang tertahan. Namun, harga diri dan kepatuhannya pada prinsip membuat Nenek Aisyah kembali mengeraskan hatinya. Dia menoleh ke arah Alin yang sejak tadi hanya diam membisu seperti bayangan.
"Lalu bagaimana dengan Alin?!" tunjuk Nenek Aisyah pada Alin. "Dia adalah istri sahmu sekarang, Elang! Dia yang direstui oleh keluarga besar, dia yang menjaga nama baikmu di depan semua kolega hari ini. Kamu sudah mempermalukan dia dan keluarganya di depan ratusan tamu!"
Elang mengalihkan pandangannya pada Alin. Untuk pertama kalinya malam itu, mata mereka bertemu dalam jarak yang cukup dekat. Namun, tidak ada binar cinta atau penyesalan yang mendalam di mata pria berusia tiga puluh tahun itu. Yang ada hanyalah tatapan lelah dan rasa bersalah karena telah merusak acara yang sudah dipersiapkan dengan matang.
"Alin ... Mas minta maaf," ucap Elang lirih, suaranya terdengar sangat datar di telinga Alin. "Mas tahu ini tidak adil untukmu. Tapi situasi ini darurat. Ega sedang demam, badannya sangat panas sejak tadi. Mas tidak mungkin melanjutkan resepsi dan membiarkan mereka pergi begitu saja."
Alin menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang sudah menggenung di pelupuk matanya agar tidak merusak pulasan riasan pengantinnya yang mahal. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Cindy, wanita yang kini menatapnya dari balik punggung Elang dengan sebuah tatapan samar yang sulit diartikan.
"Lalu, apa rencana Mas Elang sekarang?" Alin akhirnya bersuara. Suaranya bergetar kecil, tetapi dia berusaha keras untuk tetap terdengar tegar. "Tamu-tamu di luar masih menunggu. Pihak katering, dekorasi, dan keluarga saya ... mereka butuh kejelasan."
Sebelum Elang sempat menjawab, Nenek Aisyah sudah memotong dengan tegas. "Resepsi malam ini selesai. Kita katakan pada media dan tamu bahwa Elang mendadak mengalami gangguan kesehatan. Dan untuk wanita ini–" Nenek Aisyah menatap Cindy dengan pandangan menghina. "kamu tidak boleh menginjakkan kaki di rumah utama."
"Nek, tidak bisa begitu," sanggah Elang dengan cepat, nadanya mulai kembali meninggi untuk membela mantan kekasihnya. "Cindy tidak punya tempat tinggal lagi di Jakarta. Kontrakan lamanya sudah habis. Aku tidak mungkin membiarkan anak kandung aku tidur di jalanan dalam kondisi sakit."
"Lalu kamu mau membawanya ke rumahmu? Rumah yang seharusnya menjadi tempat malam pertamamu dengan Alin?!" bentak Nenek Aisyah, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak-ledak.
"Hanya sementara, Nek. Sampai Ega sembuh dan aku mendapatkan tempat tinggal yang layak untuk mereka," tegas Elang, keputusan seorang CEO yang tidak ingin didebat lagi. Dia menatap Alin kembali, seolah meminta persetujuan yang sebenarnya tidak bisa ditolak oleh Alin. "Alin, Mas mohon ... mengertilah untuk kali ini saja. Ini demi kemanusiaan. Demi anak kecil yang tidak tahu apa-apa."
Kata 'mencintai' memang belum ada di antara mereka, tetapi Alin tidak pernah menyangka bahwa ketidakcintaan itu akan berwujud seringkih dan senestapa ini. Alin memalingkan wajahnya, tidak sanggup lagi menatap sepasang mata Elang yang begitu gigih memperjuangkan kenyamanan wanita dari masa lalunya.
Di sudut ruangan, bibir Cindy perlahan membentuk sebuah lengkungan tipis yang sangat samar, hampir tak terlihat oleh siapa pun kecuali Alin yang kebetulan menangkap arah pandangnya. Sebuah kemenangan kecil di babak pertama telah berhasil diraih oleh sang mantan kekasih, tepat di atas puing-puing hancurnya malam pertama sang pengantin baru.
Kain jarik sidomukti yang dipakai Alin kini terasa kian berat mengikat langkahnya, seolah meramalkan bahwa hari-hari ke depan dalam rumah tangga mereka akan dipenuhi oleh duri kesalahpahaman yang sengaja ditanam oleh masa lalu yang belum selesai.
Bersambung ...