" Boleh kah aku bertanya satu pertanyaan?" Nymera Elvaretta Lennox "
" Katakan?" prince Rafael Benitez"wajahnya dingin, tatapan matanya tajam.
" Tolong katakan apa kurang nya aku kak? sampai kakak tak bisa melihatku sebagai seorang wanita" tatapan matanya sendu.
" karena kau hanyalah gadis manja" .
Perlahan,gadis bernama Nymera Elvaretta Lennox itu melangkah mundur, matanya menatap sendu pria di depan nya,pria yang sejak kecil ia kagumi dan ia tau telah di jodohkan dengan nya.
Dengan bibir tersenyum, bukan senyuman indah dan manis, melainkan senyuman menyakitkan, bahkan bibirnya terlihat sedikit bergetar saat dengan lirih ia berkata " Terimakasih telah menyadarkan ku, selamat tinggal, semoga kakak terus bahagia" masih sekuat tenaga ia mengucapkan kalimat perpisahan.
setelah sedikit membungkukkan tubuhnya, sebagai cara menunjukkan penghormatan kepada keluarga kerajaan,gadis cantik yang akrab disapa Mera itu berbalik dan melangkah meninggalkan pria yang masih menatapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisha Langsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
" Lama benget di toilet nya? Semedi kamu?" tanya Cecilia yang masih duduk di salah satu kursi yang terdapat di persimpangan koridor,ia masih menunggu Meera,di tangan nya memegang kantong plastik berisi susu kotak dan roti pesanan sahabatnya itu.
Meera tersenyum, menujukkan barisan gigih putih nya" tiba-tiba kebelet tadi,terus juga lumayan antri" jawab Meera berbohong,ia lama karena berusaha menutupi sembab wajahnya efek menangis.
Cecilia menatap nya sesaat, sahabatnya itu tak memberikan jawaban apapun,kecuali merespon nya dengan memutar bola matanya jengah, Cecilia tau sahabat nya itu baru saja menangis dan ia tak akan bertanya mengapa atau apa, karena jelas ia sudah tau penyebabnya, untuk urusan hati ia tak mampu banyak membantu,hatinya bahkan lebih sering disakiti oleh begitu banyak pria, padahal ia cukup cantik juga, walaupun tak se cantik sahabat nya ,Meera.
Keduanya berjalan menuju kelas,pagi ini mereka sudah mendapatkan laporan dari ketua kelas, guru yang mengajar di kelas mereka absen di karenakan sesuatu hal, mereka hanya di berikan tugas dengan syarat dilarang berisik.
Hari itu,Meera tak banyak di luar,ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kelas,itu termasuk kebiasaan nya akhir-akhir ini, semuanya di sebabkan oleh seringnya beredar berita tentang nya, Rafael dan Camelia.
Sekuat apapun Meera berusaha untuk tidak peduli, pada akhirnya ia tetap merasa terbebani, jelas,ia hanyalah manusia biasa, terlebih usia nya yang masih terlalu muda, menghadapi semuanya membuat ia terus bertanya dalam hati,apa yang harus ia lakukan? Atau ia harus bagaimana?.
Jam pulang sekolah tiba, Cecilia melihat wajah Meera yang tampak berbeda,wajah sahabat nya itu terlihat memerah dan bibirnya sedikit memucat, bahkan tatapan matanya terlihat begitu sayu.
" Are you okay Babe? " tanya Cecilia.
Meera tersenyum dan mengangguk tipis" i'm okey, emang aku kenapa?" Meera menjawab santai, seolah ia sama seperti teman-teman seusianya yang lain,tak memiliki masalah serius seperti nya.
" muka kamu kelihatan pucat" jujur Cecilia.
" I'm fine, mungkin karena aku ga pake lip serum aja pagi tadi , makanya keliatan pucat bibir aku" .
Cecilia mengangguk sambil menggandeng lengan Meera " yuk,go home, kangen banget aku sama bantal" ucap Cecilia bercanda.
" Bantal Mulu yang kamu ingat,dasar" heran Meera, sahabatnya itu seakan tak pernah memiliki masalah, padahal ia juga tau tentang percintaan sahabat nya yang selalu gagal.
" Terus aku harus ingat siapa babe? Erick yang playboy?,Miko yang terlalu obsesi?, atau Ansel yang mokondo itu?" Cecilia menyebutkan beberapa mantan pacar nya.
Meera menggeleng seraya tersenyum tipis, sahabatnya bisa dengan mudah melupakan pria yang pernah dekat dengan nya,pria yang katanya ia cintai,tapi mengapa ia tak bisa melupakan perasaan nya pada Rafael? Bahkan mencobanya saja ia merasa sakit, apakah ia mencintai atau mungkin itu obsesi?.
Keduanya berjalan menyusuri koridor sekolah menuju lobby, terlihat beberapa mobil mulai berbaris mengantri menjemput putra-putri mereka,atau mungkin supir yang menjemput anak majikan nya, seperti Meera yang juga selalu sang supir yang mengantar jemput nya.
" itu mobil kamu udah nunggu " tunjuk Cecilia ke arah mobil berwarna putih mengkilap, terlihat paling mewah di antara yang lain.
Meera mengagguk " aku duluan ya, kamu ga mau bareng?" sebelum menuju mobilnya, terlebih dahulu Meera memberikan penawaran pada sang sahabat.
" aku kan bawa mobil sendiri" jawab Cecilia seraya menggeleng, sahabatnya itu sesekali sudah mendapatkan izin mengemudi sendiri.
" Ok...aku....." belum sempat Meera selesai mengucapkan kata-kata nya, tiba-tiba saja tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh jika seorang siswa laki-laki yang berdiri tak jauh dari nya menangkap tubuh rampingnya.
" MEERA...." Cecilia berteriak histeris memanggil nama Meera,membuat orang-orang sekitar ikut terkejut dan mulai bergerak mendekati nya.
" Om Harto...." lagi Cecilia berteriak memanggil supir Meera yang terlihat belum mengetahui tentang kejadian tersebut, sedangkan Meera sudah berada dalam dekapan seorang siswa laki-laki yang Cecilia tau adalah kakak kelas mereka.
" Bawa dengan mobil ku saja, mobilnya masih terlalu jauh di belakang" ucap murid itu cepat seraya melangkah cepat memasuki sebuah mobil berwarna hitam dan langsung di ikuti Cecilia.
" Kamu duduk di belakang,aku di depan" perintah murid itu,supirnya begitu sigap membuka pintu mobil untuk mereka, lagi-lagi Cecilia mengagguk patuh.
" Sini kak" ucap Cecilia setelah ia duduk dan meminta agar Meera di baringkan dan kepalanya berada di atas pangkuan nya.
" Ke rumah sakit terdekat pak" perintah pelajar itu pada sopir nya.
" Baik tuan muda" .
Mobil melaju lumayan kencang meninggalkan area sekolah mereka, sedangkan supir Meera yang baru tau tentang kejadian itu terus mengikuti mobil mereka dari belakang,tak lupa Cecilia juga memberikan kabar pada sopirnya.
" Meera... please buka mata kamu,aku takut banget,sumpah" di belakang, Cecilia terus mengoceh,ia sampai menitikkan air matanya merasa khawatir dan takut melihat keadaan sang sahabat.
Pria yang bahkan Cecilia belum tau namanya itu,terus menatap ke belakang, tak dapat di sembunyikan ia juga terlihat khawatir.
Hingga akhirnya mobil memasuki gerbang sebuah rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu unit gawat darurat" pak tolong bantu" pelajar itu dengan sigap memanggil sekuriti yang terlihat di depan pintu IGD.
" Dokter tolong teman saya" Cecilia langsung berteriak histeris saat ia keluar dari mobil,Meera sudah berada di atas ranjang pasien.
Beberapa perawat dan dokter terlihat mulai bergerak cepat melakukan tugas mereka, Cecilia terus berada di sisi Meera,ia terus memperhatikan semuanya, berharap sang sahabat segera membuka mata.
Tak jauh dari Cecilia berdiri, seniornya juga melakukan hal yang sama, memperhatikan dengan seksama,seakan mereka sudah sangat dekat.
" kamu teman terdekatnya? Apakah kamu memiliki kontak keluarga nya?" tanya pria itu.
Cecilia mengagguk " saya sahabatnya,ada nomor Tante,dan nomor telepon rumah nya juga ada,tapi tadi supirnya juga sudah tau,pasti sudah memberikan kabar" jawab Cecilia.
" Apakah sebelumnya dia pernah seperti ini? atau mungkin juga sering?" tanya sang senior lagi.
" kalau sakit memang Meera lumayan sering,tapi belum pernah pingsan seperti ini" jawab Cecilia jujur.
" Eh..kak terimakasih banyak ya atas bantuannya,aku baru ingat,kakak ketua OSIS ya?" Cecilia tak mungkin salah,ia tak akan salah mengingat seperti apa wajah tampan ketua OSIS di sekolah nya.
Sang senior tersenyum seraya mengangguk tipis" ga perlu sungkan,masih di lingkungan sekolah juga kan,masih bisa di katakan bahwa itu masih tanggung jawab ku,bahkan jika itu di luar sekolah ga mungkin juga aku diam saat tepat di samping ku ada kejadian seperti ini " jawab pria itu santai.
Cecilia mengangguk mengiyakan,ia tersenyum seraya mengulurkan tangannya " aku Cecilia dan sahabat ku itu Nymera" ucap Cecilia ramah namun sopan.
" Aku Gio, Giovano,aku tau nama sahabat kamu itu, siapa yang tidak tau dia,siswi paling populer bahkan sejak awal masuk His, walaupun aku baru melihatnya beberapa tahun" jawab pemuda itu ringan.
" Ya begitulah, tapi tidak semua berita tentang nya itu benar " jawab Cecilia pelan.
Pemuda itu mengagguk" aku tau, walaupun aku tidak terlalu mengenal nya" jawab Gio santai.
eeh katanya tidak cintaa
tpi koq cemburuuu🤣🤣🤭🤭🤭
dia hanya rubah yang licik
apakah kamu penggemar rahasia
sebab Iya ingin anaknya masuk dalam kawasan keluarga istana
bukan sekedar pelayan, yang di anggap rendahan🤭😔
kira kira siapa si dia
bikin penasaran aja
ngelunjak ya
minta di geprek kau
dan ternyata Dai si penghianat kerajaan
ada disampingmu Rafael
ular kadut
apakah dia termasuk anak bangsawan
sampai dgn percaya dirinya
selalu mengincar pangeran
ternyata ada pria lain yang Akan melindungi meera
dan Rafael seolah menerima perjodohan itu
hanya karena ingin menutupi bhubungannya dgn camel🤭🤭
ish is tak patut
tak patut
Baru juga lihat Meera ketawa ketiwi sama kaka2 OSIS, udah kebakaran jenggot aja. Gimana kl Gio atau cwo lain bisa deketin Meera ?
ah elah EL EL...gemes pengen cubit ginjalmu EL 😂😂