"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Ya udah, oke gampang itu mah! Serahkan sama ahlinya konspirasi jalanan!" seru Mike dengan volume suara yang tertahan. Dia melirik ke arah Alvaro dan Reno.
"Ren, Var, kalian berdua ikut gue ke arah dapur kotor.’’
Alvaro mengangguk setuju, senyum tipis mulai terukir di wajah tampannya, “Oke!’’
Ketiga sahabat Arash itu pun segera berbalik badan, melangkah dengan gaya sesantai mungkin memutari lorong untuk masuk kembali ke area belakang rumah utama dari arah yang berbeda.
Tante Dewi yang menyaksikan bagaimana solidnya pertemanan anak-anak SMA di depannya ini hanya bisa melongo kagum.
"Teman-temanmu... ternyata bisa diandalkan juga ya di situasi darurat begini."
"Tentu saja, Kak. Mereka emang gesrek, tapi kalau urusan nekat, nomor satu," kekeh Arash pelan, mencoba mencairkan ketegangan yang menyelimuti atmosfer di sekitar mereka.
Arash kemudian menoleh ke arah kanan, menatap Lala yang sudah bersiap di udara dengan pose melayang horizontal seperti pahlawan super.
Dalam satu hentakan angin dingin, tubuh transparan Lala melesat ke atas, memanjat dinding luar rumah kolonial tersebut menuju area lantai dua.
Tak lama kemudian, dari arah dapur kotor belakang rumah, terdengar suara dentuman besi yang sangat keras, disusul oleh teriakan histeris ibu-ibu pelayat dan suara Mike yang berteriak meminta maaf dengan heboh karena tidak sengaja menjatuhkan kuali besar.
Pengalihan perhatian telah dimulai.
Arash dan Tante Dewi akhirnya berhasil menembus kamar lantai dua tersebut.
Di dalam ruangan yang pengap dan dipenuhi sisa-sisa energi hitam yang pekat, keduanya dengan cepat membongkar ubin yang longgar di kolong tempat tidur dan menemukan sebuah kotak silver berukiran rajah arab gundul yang terkubur di dalam tanah.
Sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh roh Fira, mereka tidak membuang waktu lagi.
Di sudut balkon jemuran yang sepi dan tersembunyi dari pandangan luar, Arash segera meletakkan kotak silver misterius itu ke atas sebuah wadah seng tua yang mereka temukan di sana.
Sebelum memantik api, Arash mengambil napas dalam-dalam, menenangkan gejolak batinnya.
Dia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mulai merapalkan beberapa ayat suci Al-Qur'an—Ayat Kursi, Surah Al-Falaq, dan An-Nas—dengan lantunan yang bergetar penuh penekanan spiritual.
Di dimensi ghaib, setiap bait ayat yang keluar dari bibir Arash menjelma menjadi pendaran cahaya keemasan yang langsung melilit permukaan kotak silver tersebut, mengikis paksa aura hitam yang melindunginya.
Begitu ayat terakhir selesai dirapalkan, Tante Dewi dengan tangan gemetaran segera menyalakan korek api gas, membakar tumpukan kertas koran kering yang sudah diletakkan di sekeliling kotak tersebut.
Api langsung berkobar dengan cepat, menjilati permukaan kotak silver yang berisi rambut dan kain kafan pengikat tali pocong almarhum Kak Bagus.
Wusshhh!
Tepat saat lidah api mulai melelehkan ukiran rajah di permukaan kotak, atmosfer di sekeliling balkon mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Udara berputar hebat bak badai kecil, membawa aroma busuk bangkai yang teramat menyengat.
Dari dalam kobaran api, Arash bisa mendengar sebuah suara raungan menggelegar yang sangat dahsyat.
Suara itu melengking tinggi, dipenuhi rasa sakit, amarah, dan dendam yang luar biasa dari mahluk pesugihan yang ikatan perjanjiannya sedang dihancurkan secara paksa.
Raungan ghaib itu begitu memekakkan telinga, bergaung langsung di dalam kepala Arash hingga cowok indigo itu refleks memejamkan mata rapat-rapat dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Tubuhnya gemetaran hebat menahan tekanan gelombang energi negatif yang meledak-ledak.
Namun, pemandangan itu berbanding terbalik dengan apa yang dilihat oleh manusia normal.
Bagi Tante Dewi, suasana di balkon itu tampak tenang-tenang saja. Dia tidak mendengar raungan ghaib ataupun merasakan badai energi hitam.
Di matanya, yang ada hanyalah kobaran api biasa yang sedang melalap sebuah kotak perak kecil di atas wadah seng.
Arash terus bertahan sekuat tenaga di tengah gempuran sisa-sisa kutukan hitam yang mencoba menyerang balik benteng spiritualnya.
Wajah cowok sholeh itu kian memucat pasrah, pelipisnya dibanjiri keringat dingin yang mengucur deras.
Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, dan sepasang matanya mendadak memerah karena tekanan ghaib yang terlalu besar menghantam dada bidangnya.
*Uhukkk! Hukkk! Uhukkk!*
Napas Arash mendadak terputus. Dia terbatuk-batuk hebat hingga tubuhnya membungkuk ke depan.
Byurrr!
Detik berikutnya, cairan kental berwarna merah pekat menyembur keluar dari mulutnya, mengotori lantai semen balkon.
Arash muntah darah akibat benturan energi ghaib tingkat tinggi yang terlalu membebani fisiknya sebagai manusia hidup.
Dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah ada sebuah batu raksasa yang tidak kasat mata sedang diletakkan di atas tulang rusuknya, merenggut seluruh pasokan oksigen di parunya.
Pandangan mata Arash perlahan mulai mengabur, dipenuhi oleh bintik-bintik hitam yang berputar liar.
*Brukkk!*
Tubuh bongsor Arash limbung ke depan, ambruk tak berdaya dan jatuh pingsan di atas lantai semen balkon yang dingin, tepat di samping genangan darahnya sendiri.
"Arash!" pekik Tante Dewi panik setengah mati.
Dia langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, memangku kepala Arash yang sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang seputih kertas.
"Mas ganteng! bangun ih! Jangan bikin Lala takut!" seru Lala ikut histeris dari udara.
Hantu cewek itu melayang naik-turun dengan raut wajah yang sepenuhnya dilanda kepanikan, mencoba menyentuh pipi Arash namun jemari transparannya selalu menembus raga cowok itu.
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅