"Saya nikahkan engkau dengan Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin satu set perhiasan emas dan uang seratus juta rupiah di bayar tunai"
"Saya terima nikah Rasti Nugroho binti Adi Nugroho dengan mas kawin tersebut tunai" sahut Xena.
"Sah"
" Sah"
Air mata Rasti mengalir deras. Dengan cepat ia mengusapnya agar tak terlihat oleh ibu dan adiknya. Sementara itu Budi ayah Xena tersenyum senang. Namun berbeda dengan Mira istrinya ,raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan melihat pernikahan putranya. Namun ia sebisa mungkin menutupinya.
"Selamat ya Nak, kini kau sudah menjadi seorang istri." ucap Siti, ibu Rasti sambil memeluk putrinya.
Rasti hanya bisa mengangguk pelan. Sungguh ini suatu mimpi buruk baginya. Ia tak pernah mengira akan menikah dengan pria yang sama sekali belum mengenalnya bahkan untuk melihat juga belum pernah.
"Siti, terima kasih atas semuanya. Akhirnya hutangku pada sahabatku lunas. Kini aku akan menjaga Rasti seperti putriku sendiri." Ujar Budi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketidaksukaan Mira
Deru mobil berhenti di teras rumah, Mira dan Budi langsung turun begitu pintu mobil terbuka.
"Silahkan Tuan, Nyonya," ucap Aiman, supir pribadi Budi.
"Pak, besok antar istri dan menantu saya berbelanja. Jangan lupa bersihkan mobilnya sebelum berangkat," titah Budi.
"Baik, Tuan,"
Mira mendengus mendengar perkataan suaminya, " Apalagi ini,,, kau memintaku membawanya berbelanja? Apa aku tidak salah dengar?,"
"Mira... jangan seperti itu, kau harus menerima menantumu. Aku tidak akan mentolerir apapun jika kau berusaha menyakitinya," ucap Budi pelan, namun seperti sebuah peringatan kecil.
"Hem... kau ini! Kau kan tau selera menantuku seperti apa. Kau malah memilih gadis itu," ucap Mira kesal.
Budi hanya menggeleng pelan sambil melempar senyum tipis yang tulus.
"Kau akan menyukainya jika kau menerimanya, Mira. Gadis itu lebih baik dari perkiraan mu," ujar Budi dengan tatapan teguh.
"Sudah sudah... Ayo masuk!" ajak Budi.
Mira mendengus pelan, namun tetap mengikuti langkah Budi masuk ke dalam rumah. Sepanjang langkah, wajahnya masih menyiratkan ketidaksenangan.
"Baik apanya?... aku tak melihat sesuatu yang istimewa dari gadis itu," ucapnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri.
Budi hanya tersenyum tipis, dia sudah mengenal istrinya terlalu lama untuk tahu, Mira bukan wanita yang benar-benar jahat, melainkan hanya terlalu menjaga standar.
"Tidak semua yang baik harus terlihat mencolok, Mira," ucap Budi pelan sambil melepas jasnya.
"Kadang yang terlihat sederhana itu justru yang paling tulus," tambahnya.
Mira berhenti sejenak menatap suaminya dengan alis terangkat,
"Kau membelanya sekali," sindirnya.
"Aku hanya melihat apa yang tidak kau lihat," jawab Budi santai.
Mira langsung memalingkan wajah, jelas ia tak ingin memperpanjang .
"We will see," ucap Mira dingin.
Namun tanpa mereka sadari, sejak tadi Rasti mendengar percakapan mereka. Ia sadar bukan hanya Xena, tapi Mira juga tak menginginkan kehadirannya.
Perlahan ia menarik nafas dalam, ia sudah menduga ini akan terjadi. Dan ia sudah siap. Rasti mencoba melangkah turun, mencoba menyapa ayah dan ibu mertuanya itu. Begitu sampai Rasti langsung menunduk menyapa mereka
"Pa... Ma...," ucapnya pelan.
Budi yang pertama kali menyadari kehadirannya.
"Rasti," panggilnya lembut.
Mira menoleh, tatapannya langsung berubah datar.
"Sudah sampai rupanya," ucap Mira singkat.
"Iya, Ma," sahut Rasti pelan.
Budi tersenyum hangat," Kau sudah makan?,"
"Belum, Pa,"
"Bagus, kalau begitu kita makan bersama," ujar Budi.
Mira langsung menyela, "Aku tidak lapar,"
"Temani saja," ujar Budi sambil meliriknya tajam.
Mira menghela nafas,lalu berjalan lebih dulu ke ruang makan. Budi hanya bisa tersenyum menatap tingkah istrinya.
"Ayo, Rasti," ajak Budi, yang langsung disambut Rasti dengan anggukan.
Sampai di meja makan, Rasti tidak langsung duduk. Ia mengambil sendok nasi dan meletakkan nasi ke atas piring Budi.
"Sudah cukup," kata Budi.
Mira semakin tidak menyukai sikap Rasti itu, " Hem... sudah pandai bersandiwara rupanya,"
Budi tak menyela begitu pula dengan Rasti. Ia pun menawarkan lauk yang berupa ayam goreng yang berada di depan Mira.
"Papa mau ayam goreng... Rasti bisa ambilkan," ucap Rasti lembut.
"Tidak usah, Papa bisa meminta mama mu yang mengambilkannya," balas Budi sambil menatap Mira.
"Mau yang mana?," ucap Mira sedikit judes.
"Yang mana saja," balas Budi singkat.
Rasti pun langsung duduk di kursinya. Setelah semua makanan tersusun di piringnya, Rasti langsung memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya.
"Bagaimana makan di sini? Pasti jauh beda dengan di rumah mu itu, kan?" ucap Mira jutek.
UHUK UHUK UHUK
Rasti langsung tersedak mendengar pertanyaan yang seperti mengejeknya itu. Dengan cepat Budi menuangkan air putih yang kebetulan berada di dekatnya.
"Ma... Kita lagi makan. Tolong jangan membuat keributan," ujar Budi pelan, namun nada bicara tegas.
"Kau tidak apa-apa, Nak? Jangan dengar mama mu. Ayo makan saja," ucap Budi lagi mencoba menenangkan.
Rasti hanya mengangguk kecil, namun dalam hati kecilnya ia berkata sampai kapan hinaan ini harus ditanggungnya. Baru saja lepas dari Xena, kini dia harus berhadapan dengan Mira.
Mira terus saja menatapnya dengan tatapan tidak suka. Tapi, ia tak ingin juga jika suaminya terus terusan berpihak padanya.
"Oh ya, Pa. Besok mama tak bisa antar Rasti belanja. Mama kan ada arisan dengan teman-teman mama. Bagaimana kalau Bu Siti saja yang mengantarnya?," ucap Mira membujuk.
"Nanti saja kita bicarakan itu, kau lihat papa lagi makan," sahut Budi.
Mira melengos, membuang wajahnya ke samping. Ia merasa dipermalukan. Apalagi di depan Rasti. Suasana meja makan kembali hening. Hanya suara sendok dan piring yang terdengar.
Rasti menunduk, makan perlahan.Ia berusaha mengunyah dengan tenang. Meski tenggorokan nya masih terasa perih. Budi lantas meliriknya.
"Kau tidak perlu terburu-buru, Nak. Makanlah perlahan-lahan," ucap Budi lembut.
"Iya, Pa," sahut Rasti sambil mengangguk kecil.
Namun sebelum suasana sempat membaik, suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tamu.
TAP TAP TAP TAP
Ketiganya menoleh hampir bersamaan. Siapa lagi kalau bukan Xena. Ia berjalan dengan ekspresi datar seperti biasanya.Kemeja kerjanya sudah tampak kusut, namun masih kelihatan rapi di badannya.Tatapannya sekilas menyapu meja makan lalu berhenti tepat kepada Rasti.Hanya sebentar.
Ia berjalan,mendekati kursi yang berada di samping Rasti.
"Kau sudah pulang," ucap Mira.
"Hmm," sahutnya singkat.
Budi langsung menyela, seolah ingin mengalihkan suasana.
"Xena, kalau kau tak sibuk. Kau bisa mengantar istrimu berbelanja sekarang," ucap Budi seketika.
Xena berhenti menuangkan air, " Kenapa harus aku?,"
"Karena mama mu tak bisa mengantarnya besok, jadi kau bisa mengantarnya sekarang," ucap Budi cepat.
Xena mengangkat alisnya, "Sejak kapan mama mementingkan jadwalnya daripada urusan keluarga?,"
Mira terdiam sejenak, lalu menatap putranya dengan tajam. Xena langsung menaruh gelasnya.
"Aku sibuk,"
"Tidak sesibuk itu sampai kau tak bisa meluangkan waktu untuk istrimu," balas Budi cepat.
Hening, Rasti yang sejak tadi diam pun mulai angkat bicara. Ia bahkan tidak tau menahu soal belanja yang ayah mertuanya katakan.
"Pa, Ma... Rasti tidak tahu maksud Papa dan Mama. Tapi soal belanja, Rasti tak berpikir untuk membeli sesuatu," ucapnya lirih.
Budi menoleh pelan ke arah Rasti, tatapannya lembut namun tetap tegas.
"Ini bukan soal kau butuh atau tidak, Nak," ucap Budi tenang. " Kau sekarang bagian dari rumah ini. Sudah sewajarnya kau punya apa yang menjadi hak mu," sambung Budi.
Hak. Kata itu terasa asing. Bahkan terdengar terlalu jauh untuk dirinya.
"Rasti sudah punya cukup, Pa. Jadi tidak perlu repot," ucapnya pelan.
"Bukan repot. Ini kewajiban kami," balas Budi lembut.
Mira mendengus, jelas tidak suka arah pembicaraan ini.
"Kalau memang tidak mau, ya sudah. Tidak perlu lagi dipaksa," ucap Mira dingin, seolah ingin menyudahi pembicaraan ini.
" Aku yang akan antar," ucap Xena tiba-tiba terdengar.