NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Akal-akalan Aditya

Dua hari berlalu, Laras mangkir dari kerjaannya dan terus mengurung diri di kamar. Sari dan Harto bahkan sampai heran sendiri dengan perubahan sikap anaknya itu. Beberapa kali Sari sempat bertanya, suaranya yang lembut dan syarat akan keibuan, pun tidak berhasil membuat Laras buka mulut. Hanya gelengan dan baik-baik saja, Laras dengan lemas berkata untuk tidak usah khawatir.

"Aku sedang capek Mak, please."

Berbeda dengan Rara yang hatinya terus bertanya-tanya. Gadis kecil itu tidak ada niatan untuk memberi tahu orang tuanya terkait apa yang sudah dirinya alami. Permintaan Laras untuk menjemputnya di hotel, yang setelah di jemput ternyata dirinya tidak menemukan Laras. Padahal Rara sudah panik dan langsung meninggalkan kegiatan ekstrakulikulernya. Sesuatu yang buruk mungkin sudah terjadi dan Rara perlu memastikan hal itu. Sebagai adik yang baik, Rara akan memberikan kenyamanan untuk kakaknya. Mungkin dengan membuat hati orang tuanya lebih tenang akan membuat Laras lebih tenang juga. Rara tahu jika kakanya itu pasti butuh waktu.

"Kak Laras palingan sedang haid," ujar Rara supaya orang tuanya tidak begitu khawatir.

Sari tersenyum, walau tidak yakin dengan praduga Rara, ibu dua anak itu tetap mengangguk setuju. "Ya udah, nanti kamu bawakan kakakmu makan ya. Kalau memang sedang haid juga tidak boleh sampai tidak makan seperti itu. Nanti bisa tambah lemas kakakmu," tutur Sari sembari menyiapkan makanan kesukaan Laras.

Rara mengangguk patuh.

Harto diam saja, hatinya masih belum puas mendengar percakapan istri dan anak bungsunya. Pria itu yakin ada yang sedang disembunyikan Laras. Tapi dirinya gengsi untuk bertanya. Kesibukannya selama ini sedikit menumbuhkan sekat antara dirinya dan kedua anaknya. Harto hanya bisa dekat dengan kedua anaknya untuk kondisi yang stabil namun tidak bisa melakukan pendekatan dari hati ke hati.

Sepeninggal Rara, Harto mulai berbicara. "Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang mengguncang Laras. Anak itu lebih acuh dari biasanya."

Sari mengangguk setuju, namun tidak berkata lebih. Sari masih butuh waktu untuk menyimpulkan. Lagi pula saat ini dirinya masih ditahap mengamati. Biarlah anaknya itu mengatur masalahnya sendiri. Sebagai orang tua, Sari dengan bijak membiarkan anaknya tubuh dewasa dengan semestinya, yang terpenting masih dalam pantauan orang tua.

"Apa Ibu tidak tahu?"

"Terakhir pulang, Laras bahkan tidak membawa motor dan barang-barangnya. Anak itu meminta uang untuk membayar ojek, padahal selama ini Laras tidak pernah naik ojek." Sari mengatakan yang sebenarnya, tidak ada yang ditutupi.

"Kok bisa, Bu?" Alis Harto menukik. "Masa di begal?" Harto tidak yakin dengan asumsinya sendiri.

"Hussss! Rara yang mengambil motor dan barang-barangnya Laras di butik Rani." Sari merutuki pemikiran negatif suaminya.

Obrolan mereka terhenti saat terdengar bel berbunyi. Harto dan Sari saling menatap untuk beberapa saat.

"Tumben? Ibu buka dulu ya..."

Harto mengangguk, walau begitu dirinya tetap mengekori langkah istrinya. Saat pintu terbuka, begitu terkejutnya mereka karena mendapati Aditya dengan senyum mengembang. Harto membatin apa yang membuat idola anaknya itu datang berkunjung. Apalagi dibelakangnya berdiri sepasang yang nampaknya suami-istri dengan pakaian sederhana tapi pasti harganya tidak sesederhana itu.

"Selamat malam om, Tante." Sapa Aditya. Di belakangnya, orang tua Aditya mengangguk tanpa hormat. Senyum tipis terlihat kurang ikhlas seperti menahan sesuatu. Berbeda dengan Aditya yang wajahnya terlalu santai, bahkan senyum manis masih terukir di sana.

Sari mengangguk kaku. "Malam.... Ada keperluan apa ya?" wanita itu bahkan sampai lupa menyuruh tamunya duduk karena sangking terkejutnya. Terlalu aneh juga, melihat kedatangan tiga orang itu. Padahal mereka sama sekali tidak ada hubungan apapun, kenal pun tidak.

"Saya mau minta pertanggungjawaban Laras." Tanpa basa basi Aditya mengutarakan maksud tujuannya datang. Tentu saja pemilik rumah terkejut bukan main.

"Hah?!"

Keterkejutan keduanya bertambah saat Aditya menunjukkan luka di kepala bagian belakang yang katanya akibat dari perbuatan Laras, anaknya yang malas dan tidak memiliki semangat hidup tidak mungkin melakukan tindak kriminal seperti itu. Harto dengan tegas membantah, tapi Aditya tetap teguh akan pendiriannya.

Tidak hanya Harto dan Sari yang terkejut, orang tua Aditya punya terkejut saat mendengar seorang gadis yang ternyata telah melukai anaknya. Awalnya Aditya hanya meminta orang tuanya untuk mendampingi, siapa tau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan selama proses meminta tanggungjawab itu.

Ibu Aditya membelalak, rasanya hampir tidak mungkin seorang gadis melukai putra tercintanya. Batinnya bertanya gadis seperti apa yang begitu berani dan tidak tertarik dengan putranya? Bahkan sampai muncul tindak kriminal seperti itu? Apa mungkin karena ulah Aditya yang nakal? Wanita cantik itu mulai penasaran dengan sosok Laras yang dimaksud anaknya.

"Putri kami tidak mungkin melakukan hal seperti itu." Harto membantah.

"Dia tidak pernah neko-neko." Sari menimpali. "Pasti ada sebabnya."

"Laras memukul saya saat kami sedang tidur bersama, om." Tanpa malu Aditya menjelaskan semuanya. Cowok itu juga menunjukkan foto ketika dirinya sedang memeluk Laras di ranjang hotel.

"Kurang ajar!" emosi Harto meningkat drastis saat melihat foto itu. Tangannya melanyang siap memukul wajah Aditya yang menampakkan ekspresi tanpa dosa.

"Adit, jangan buat kami malu." Melani, mami Aditya menarik mundur putra nakalnya itu. Bahkan Aditama — papih Aditya, tanpa sadar memukul kepala Aditya.

"Arghh, kepalaku." Aditya memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.

"Pih, kepala anakmu bocor!" Melani memperingati suaminya agar berhati-hati. Memukul boleh, tapi jangan bagian kepala.

"Panggil Laras kemari!" seru Harto.

"Pak sebaiknya jangan di sini, kita masuk ke dalam yaa.... Mari Nak Aditya, pak ibu. Ayo masuk dulu." Sari melirik lingkungan sekitarnya, sepi bukan berati tidak ada yang melihat.

"Yah, tolong kendalikan emosi ayah yaa," bisik Sari, memohon agar suaminya bisa lebih tenang dalam menghadapi masalah.

Sepeninggal Sari, Harto menatap pemuda itu dengan tajam. "Pasti kamu yang memaksa anak saya, wajar saja kepalamu bocor, anak saya hanya ingin melindungi dirinya."

Tuduhan Harto tepat sasaran, Aditya menggeleng. "Kami berselisih paham, om. Laras cemburu karena saya digilai begitu banyak gadis diluar sana."

Harto berdecak. "Tidak mungkin."

"Pak, kami minta maaf atas kelakuan anak kami." Aditama mengambil sikap rendah hati. Pria itu menahan malu atas kelakuan putranya. Tapi dasar Aditya yang tidak mengerti keadaan, cowok tengil itu malah menambah suasana makin panas.

Aditya dengan berani menatap netra Harto, sama sekali tidak ada takut-takutnya. "Saya tetap meminta pertanggungjawaban Laras."

"Jangan membuat mamih malu, Adittt," desis mami Melani.

"Saya ingin Laras menikahi saya!" cowok itu kembali berterus terang. Semua yang sudah terjadi harus di selesaikan sampai akhir, Aditya tidak akan melakukan berbagai cara agar tujuannya terpenuhi. Pantang mundur sebelum berhasil.

"Apa?! Bagaimana mungkin anak saya menikahi laki-laki seperti kamu! Saya tidak sudi." Harto tidak menduga akan menjadi seperti ini, masalah besar datang tanpa diduga. Laras, anaknya yang paling tidak tertarik pada kehidupan malah terjerat dalam kasus paling memalukan. Tapi Harto tidak percaya begitu saja pada Aditya itu, dirinya tahu anaknya seperti apa.

"Kami harus menikah, karena di perut Laras ada anak kami.yang sedang tumbuh."

"Apaaa?! kurang ajar." Harto bangkit dari tempatnya, hendak memukul Aditya. Untung saja Sari sudah datang bersama Laras dan Rara. Wanita itu segera menahan suaminya.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!