NovelToon NovelToon
Impoten Sang Singa Madrid

Impoten Sang Singa Madrid

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Action
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takhta yang mati rasa

Leonardo De Luca tidak pernah percaya pada takdir, ia hanya percaya pada kontrol. Di usianya yang ke-32, ia telah mengonsolidasikan kekuasaan klan De Luca di seluruh Madrid. Dari penyelundupan logistik di pelabuhan hingga pencucian uang melalui real estat mewah, semua berada di bawah jemarinya. Namun, ada satu kontrol yang hilang dari hidupnya: kontrol atas tubuhnya sendiri.

Malam itu, di penthouse pribadinya yang menghadap gemerlap lampu kota Madrid, Leonardo berdiri telanjang di depan kaca besar. Tubuhnya atletis, hasil dari latihan fisik militer yang disiplin setiap pagi. Perutnya rata dengan otot yang keras, bahunya lebar, dan wajahnya memiliki garis rahang yang sanggup membuat fotografer mode mana pun memohon untuk mengambil gambarnya. Namun, bagi Leonardo, tubuh ini hanyalah mesin yang rusak.

Satu dekade lalu, sebuah serangan bom mobil oleh kartel saingan tidak hanya membunuh ayahnya, tetapi juga mengirim serpihan logam ke area panggulnya. Secara medis, sarafnya telah pulih setelah operasi bertahun-tahun. Dokter spesialis terbaik di Swiss menyatakan bahwa secara fisiologis, tidak ada yang salah. Namun, secara psikologis, Leonardo mati. Kejantanan yang seharusnya menjadi simbol kekuatannya tidak pernah lagi bereaksi terhadap rangsangan apa pun.

"Masuk," suara Leonardo berat dan tanpa emosi.

Pintu kamar terbuka. Seorang wanita muda bernama Sofia, seorang model papan atas yang baru dikencaninya selama tiga minggu, melangkah masuk. Sofia adalah wanita ke-12 dalam daftar "eksperimen" Leonardo tahun ini. Leonardo tidak mencari cinta; ia mencari reaksi biologis. Ia memacari wanita-wanita tercantik di dunia hanya untuk satu tujuan: menguji apakah ada satu di antara mereka yang bisa menghancurkan kutukan mati rasa di selangkangannya.

"Leo..." Sofia berbisik, mendekat dengan pakaian dalam sutra yang sangat minim. Ia adalah wanita yang diinginkan jutaan pria, namun bagi Leonardo, dia tidak lebih dari sekadar objek uji coba.

"Lakukan tugasmu," perintah Leonardo dingin. Ia duduk di kursi kulitnya, membiarkan wanita itu mencoba segala cara.

Satu jam berlalu. Sofia menggunakan seluruh keahliannya. Ia mencium, menyentuh, dan mencoba membangkitkan gairah pria di depannya dengan penuh keputusasaan. Leonardo hanya diam, menatap lurus ke arah jendela, memegang segelas wiski tanpa es. Ia merasakan sentuhan tangan Sofia, ia merasakan kehangatan kulit wanita itu, tapi tidak ada sinyal yang terkirim ke otaknya. Tidak ada gairah. Tidak ada ereksi. Kosong.

"Aku tidak bisa, Leo... Kau seperti patung es," isak Sofia akhirnya. Ia merasa terhina. Sebagai wanita yang terbiasa dipuja, diabaikan secara seksual oleh pria yang ia kencani adalah pukulan telak bagi harga dirinya.

Leonardo menghela napas panjang, lalu meletakkan gelas wiskinya. "Kau gagal, Sofia. Marco akan mengantarmu pulang. Cek senilai lima puluh ribu Euro akan dikirim ke rekeningmu besok pagi sebagai biaya putus hubungan."

"Kau membeliku?" tanya Sofia tajam.

"Aku membayar waktumu. Sekarang keluar," balas Leonardo tanpa menoleh.

Begitu Sofia pergi, Leonardo membanting gelasnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Amarahnya meledak dalam kesunyian. Ia adalah raja Madrid, pria yang ditakuti oleh menteri dan penjahat kelas kakap, namun ia merasa seperti pecundang setiap kali berada di atas ranjang. Ketidakmampuannya ini adalah rahasia negara yang ia jaga ketat. Jika musuh-musuhnya tahu bahwa sang Singa De Luca impoten, mereka akan menganggapnya lemah.

Keesokan paginya, Leonardo berada di kantor pusat De Luca Corp. Laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan 15%, namun suasana hatinya tetap buruk. Pintu kantornya terbuka tanpa ketukan, menunjukkan hanya satu orang yang berani melakukannya: Donna Isabella, ibunya.

"Kau memulangkan gadis Brasil itu lagi?" tanya Isabella langsung, duduk di depan meja kerja Leonardo.

"Dia orang Italia, Bunda. Dan ya, dia tidak berguna," jawab Leonardo pendek sambil menandatangani berkas.

"Berapa banyak lagi wanita yang harus kau 'uji coba', Leo? Kau memperlakukan mereka seperti mobil yang sedang kau tes mesinnya," Isabella menghela napas. "Masalahmu bukan di selangkanganmu, tapi di kepalamu. Kau terlalu terobsesi pada kekuasaan sampai kau lupa bagaimana menjadi manusia."

"Aku tidak butuh ceramah psikologi, Bunda."

"Aku tidak memberi ceramah. Aku memberi perintah. Hari ini adalah peringatan sepuluh tahun kematian ayahmu. Kau tahu tradisinya. Kau harus pergi ke kapel keluarga dan membawa bunga mawar merah segar. Dan jangan suruh pengawalmu. Kau yang harus memilihnya sendiri sebagai bentuk penghormatan."

Leonardo memijat pelipisnya. Tradisi ini adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia bantah. "Baiklah. Aku akan pergi siang ini."

"Bagus. Ada toko bunga baru di jalan belakang distrik tua. Pemiliknya orang asing, seorang gadis Inggris. Dia punya mawar terbaik yang pernah kulihat. Pergilah ke sana, pilih sendiri, dan berhentilah bersikap seperti mesin pembunuh selama satu jam saja."

Leonardo hanya mengangguk kaku. Ia tidak peduli siapa penjual bunganya. Baginya, mawar hanyalah tanaman mati yang akan membusuk dalam beberapa hari.

Tepat pukul dua siang, Leonardo mengendarai Range Rover hitamnya sendiri, tanpa iring-iringan pengawal yang mencolok, meski tim keamanannya tetap memantau dari jarak dua blok. Ia berhenti di depan toko kecil bernama "The English Rose". Toko itu terlihat kontras dengan bangunan tua di sekitarnya; catnya putih bersih dengan banyak kaca besar yang memperlihatkan tanaman hijau di dalamnya.

Leonardo melangkah masuk. Lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Aroma tanah basah dan wangi bunga yang sangat kuat menyambutnya. Ia melihat seorang wanita sedang membelakanginya, sibuk memotong duri mawar di meja kerja kayu yang kasar.

Wanita itu mengenakan kaos putih polos yang agak ketat dan celana jins yang terkena noda air. Rambutnya pirang gelap, diikat asal-asalan dengan pensil yang terselip di sanggulnya.

"Satu menit! Aku sedang menyelesaikan pesanan buket pengantin," suara wanita itu terdengar jernih dengan aksen Inggris yang kental dan lugas.

Leonardo berdiri diam. Ia memperhatikan cara wanita itu bekerja. Gerakannya efisien, tidak ada gerakan yang sia-sia. Tiba-tiba, wanita itu berbalik untuk mengambil pita di dekat posisi Leonardo berdiri.

Wanita itu berhenti mendadak saat melihat pria setinggi 190 cm dengan setelan jas mahal berdiri di tokonya. Namanya Olivia. Wajahnya tidak menggunakan riasan tebal, hanya sedikit pelembab bibir. Matanya biru tajam, menatap Leonardo dengan rasa ingin tahu tanpa rasa takut yang biasanya ia temui pada orang lain.

"Ada yang bisa kubantu, Tuan?" tanya Olivia.

Pada saat itu, sesuatu yang sangat aneh terjadi pada Leonardo. Saat matanya bertemu dengan mata biru Olivia, ia merasakan sensasi panas yang tiba-tiba menusuk tulang belakangnya. Itu bukan sekadar rasa kagum. Itu adalah sengatan listrik yang sangat nyata.

Jantungnya berdebar kencang, memompa darah dengan kecepatan yang tidak normal. Dan yang paling mengejutkan—sesuatu yang membuatnya hampir tidak percaya—ia merasakan denyutan panas di area yang selama sepuluh tahun ini mati total.

Miliknya bereaksi. Hanya dengan satu tatapan. Tanpa sentuhan. Tanpa rayuan.

Leonardo terpaku. Ia mencengkeram pinggiran meja kayu dengan sangat keras hingga buku jarinya memutih. Matanya melebar, menatap Olivia seolah wanita itu baru saja menyetrumnya dengan ribuan volt listrik. Gairah itu datang dengan sangat liar, sangat primitif, dan sangat menyakitkan karena sudah terlalu lama tertidur.

"Tuan? Anda sakit? Wajah Anda sangat tegang," Olivia bertanya, mulai merasa tidak nyaman karena pria asing ini menatapnya seperti predator yang baru saja menemukan mangsa setelah kelaparan bertahun-tahun.

Leonardo menelan ludah dengan susah payah. Suaranya keluar jauh lebih serak dan rendah dari biasanya. "Mawar merah. Aku butuh semua mawar merah yang kau punya."

"Semua? Ada sekitar lima puluh lusin di gudang pendingin," Olivia mengerutkan kening. "Itu akan sangat mahal."

"Aku tidak peduli soal harga," Leonardo melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia bisa mencium aroma mawar dan sabun mandi dari kulit Olivia. "Aku ingin semuanya. Dan aku ingin kau yang mengantarkannya ke alamatku sekarang juga."

Olivia mundur satu langkah, merasa terintimidasi oleh energi dominan pria ini. "Aku tidak melayani pengantaran besar hari ini, aku sendirian di toko—"

"Aku tidak sedang meminta, Nona..." Leonardo melirik papan nama kecil di atas meja. "...Olivia. Aku sedang memberimu instruksi. Kau akan ikut denganku sekarang."

Leonardo menyadari satu hal: wanita Inggris di depannya ini adalah kunci. Dialah satu-satunya yang berhasil membangkitkan "singa" yang telah mati di dalam dirinya. Dan bagi seorang Leonardo De Luca, jika ia menemukan sesuatu yang ia inginkan—atau sesuatu yang ia butuhkan untuk merasa utuh—ia tidak akan pernah melepaskannya.

Olivia baru saja akan protes saat Leonardo mengeluarkan dompetnya dan meletakkan segepok uang tunai di atas meja. "Itu uang mukanya. Sisanya akan dibayar saat kau sampai di rumahku. Ikut aku, atau aku akan membeli toko ini sekarang juga dan meratakannya dengan tanah hanya agar kau tidak punya alasan untuk tinggal."

Olivia terdiam, menatap uang itu, lalu menatap pria gila di depannya. Ia menyadari satu hal: hidupnya di Madrid yang tenang baru saja berakhir.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Ani Jumadi
terlalu berlebihan sih bisa ga jangan terlalu mengekang
chiara azmi fauziah
aku kasih gift ya thor😍
Isti Mariella Ahmad: makasih😍
total 1 replies
chiara azmi fauziah
mantap thor ceritanya mau dong di cintai ugal-ugalan 🤣🤣🤣
falea sezi
lanjut q ksih bunga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!