Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Biah menatap mereka satu persatu dengan tegas dan mata tajam, sangat berbeda dengan keseharian dirinya selama ini, itu sebabnya mereka bisa berbuat seenaknya pada anak-anak nya.
"Aku tidak akan mentoleransi semua sikap keterlaluan dari semua pihak yang terlibat dalam perundungan, saya akan pastikan orang-orang yang tidak menindak tegas akan diadili seadil-adilnya tanpa perbedaan, saya tidak akan membiarkan siapapun merusak citra sekolah ini sekalipun dia anak presiden ".
Mereka semua menatap Biah dengan tatapan segan bercampur kagum, hal yang dulu tidak dia dapatkan ketika dia hanya hidup sederhana.
"Dan satu lagi, untuk para investor yang terlibat perundungan kemaren silahkan angkat kaki dari sekolah saya, saya akan mencari investor baru yang berkompeten dan juga tahu menghargai ornag lain tanpa memandang status sosialnya, sekolah ini memberikan anak beasiswa sebagai prestasi bukan semata-mata karena dia tidak punya atau miskin".
Mereka langsung menatap Ibu Romi yang duduk dengan pucat dan tangan mengepal erat dan tidak bisa membantah. Mereka tahu yang dituju oleh pemilik sekolah mereka yang baru adalah ibunda Romi dan beberapa temannya.
"Kamu tidak bisa melakukan pada kami seenaknya seperti ini Biah, jangan keterlaluan". Ucapnya penuh penekanan.
"Oh yah? ". Ucapnya dengan sinis sambil melipat tangannya
" Bukankah kalian sendiri sudah melakukannya? , melakukan sesuatu menggunakan kekuasaan untuk membungkam orang-orang yang ditindas anak kalian dengan menggunakan jabatan kalian?, terus kenapa saya tidak boleh melakukannya? ".
Jawaban telak membuat Melisa diam seribu bahasa, perempuan didepannya ini sangat tenang sangat berbeda saat pertama kali mereka bertemu dan meledak-ledak, tapi hari ini dia sungguh berbeda. Anggun, tegas dan penuh prinsip sama seperti yang dia lihat di rumahnya
"Jangan bilang hanya kalian memang boleh melakukannya sedangkan orang lain tidak boleh, kalian memang hebat seperti apa sampai bisa berpikir kalian melakukan itu? ". Tanyanya dengan kalimat sarkas.
" Kalian marah dan tidak Terima saat orang lain membalas kalian dengan cara yang sama padahal kalian sendiri melakukan hal yang memalukan lebih parah, hebat sekali ".
Biah bertepuk tangan sambil menatap mereka semua dengan tatapan mengejek.
"Bahkan konglomerat negeri saja bersikap biasa saja saat mereka semua memliki segalanya bahkan 200 kali lebih dari kalian tapi mereka bisa hidup sederhana dan tidak menghina orang lain dan kalian bahkan kalian tidak lebih kaya dari saya saja tapi sombongnya melebihi orang yang memiliki segalanya, betul-betul kalian manusia tidak punya otak".
Mereka semua menunduk menahan amarah, mereka sungguh tidak menyangka jika orang yang selama ini mereka anggap lemah dan baik hati bisa bicara sekasar itu.
"Bu Biah kami". Ucap kepala sekolah dengan ketakutan.
"Ku beritahu kalian jika hari ini saya berdiri disini, itu karena perbuatan kalian yang telah berani menyentuh anak-anak ku hanya karena mereka telihat seperti orang biasa, dan perbuatan para aparatur sekolah yang diam saja saat para muridnya dirundung oleh anak dari orang berkuasa, saya disini membuktikan jika orang yang tampak biasa saja bisa membuat kalian kehilangan segalanya, mau coba? ". Tantangnya menatap mereka semua.
Mereka menunduk, yang dikatakannya memang benar, selama ini dia tampil sederhana seperti orang biasa pada umumnya, tapi tidak ada yang tahu jika dia adalah orang yang memiliki segalanya.
"Maafkan kami bu". Ucap kepala sekolah terbata-bata.
Dia tidak menyangka jika ibunda Umar adalah orang yang memiliki pengaruh, benar kata orang jangan melihat berdasarkan penampilan karena kadang penampilan itu bisa menipu.
"Bagus kalau kepala sekolah sudah sadar, saya memberitahu Anda bukan untuk menghakimi tapi memberitahu Anda tentang pentingnya integritas kita dalam bekerja apalagi Anda sebagai pemimpin yang harusnya adil, ingat pak setiap perbuatan kita akan kita pertanggungjawabkan terutama kalian para pengajar".
Kepala sekolah dan para guru semakin menunduk malu, Kata-kata itu begitu menampar diri mereka tanpa ampun dan orang yang melakukannya adalah orang yang mereka anggap remeh.
"Anda masih mau melihat kejutan dari saya kembali nyonya Melisa?, apa perlu saya buktikan kepada Anda jika hari ini dan detik ini saya bisa mengeluarkan Anda dari pekerjaan yang begitu Anda banggakan itu sekarang?, saya rasa tuan Ardiansyah adalah orang yang paling tidak mentolerir jika ada PNS yang berada dibawah naungannya merusak citranya".
Mata Melisa melebar, dia tidak menyangka jika Biah bisa mengetahui dimana dia bekerja dan juga ketuanya.
"Jangan". Teriaknya sambil menggeleng.
Dia sangat susah payah mendapatkan jabatan dan posisinya sekarang dia tidak akan membiarkan siapapun menghancurkannya.
"Jangan? ". Tawa mengejek dan menghina dari Biah kembali terdengar.
"Bukankah Anda begitu membanggakannya sampai seenaknya berbuat dan memukul anak saya?, sekarang Anda akan lihat bagaimana Anda bisa menyombongkan diri jika kubuat Anda kehilangan apa yang anda sombongkan itu? ". Ucapnya dengan dingin.
"Jangan Nurbiah tolong, aku susah payah mendapatkan nya sehingga bisa seperti sekarang, tolong jangan lakukan itu, aku sudah datang kerumahmu kemarin untuk meminta maaf". Cicitnya pelan.
Runtuh sudah harga dirinya kini, dia tidak mungkin bisa melawan perempuan dihadapannya ini, sekolah ini saja bisa dia beli dalam sehari bagaimana dengan jabatannya.
"Iya nyonya Nurbiah, kami mengakui kesalahan kami, tolong jangan lakukan itu". Ucap salah satu dari mereka lagi.
Mereka semua ketakutan melihat dan mendengar ancaman itu, mereka bisa melihat jika ibu Umar tidak pernah bercanda, kemaren dia dengan tegas mengatakan akan membuat mereka menyesal dan sekarang dia duduk disini sebagai pemilik baru sekolah mereka, bagaimana dengan jabatan mereka saat ini?
Biah berdiri dari tempat duduknya menatap mereka dengan tatapan merendahkan sekaligus menghina.
"Itulah akibatnya menghina orang, jadi jangan terlalu sombong dengan apa yang kalian punya, diatas langit masih ada langit, sebagai orangtua harusnya kita memberi contoh yang baik bagi anak kita bukan memberi contoh angkuh dan penuh kesombongan karena kita tidak tahu jika orang yang tampak biasa saja bisa saja melebihi diri kita".
Sebelum jauh Biah berbalik dan menatap mereka dengan dingin dan penuh intimidasi, aura pemimpin darinya langsung menguar begitu terasa di ruangan ini.
"Pastikan kalian melakukan pekerjaan kalian dengan benar, karena setelah ini aku sendiri yang akan mengawasi kalian semua yang ada disekolah ini secara langsung, dan saya akan mengganti kalian tanpa banyak kata jika kalian bertingkah".
Biah meninggalkan mereka yang menunduk lemah, seakan mereka mendapatkan penghakiman yang tidak bisa mereka atasi.
"Untung nyonya Biah tidak mengeluarkan kita dan mengadukan kita ke dinas, bisa mati kita". Ucap salah satu guru yang kini menarik nafas lega.
"Benar, jika kita tidak menindak ini kita semua akan kehilangan pekerjaan kita".