Cinta Kirana, hidup dengan masa lalu yang tragis ditinggalkan orangtua. Menyisakan trauma sampai dengan ia dewasa. Siapa sangka, seorang datang mengganti luka dengan suka cita. Perbedaan usia, status sosial dan keterkaitan di masa lalu membuatnya Cinta terpuruk dan kembali terluka. Akankah Cinta bisa menerima kenyataan yang menghampiri?
===
“Namaku Cinta, banyak yang cinta udah pasti. Yakin masih mau sama aku?”
“I love you, Cinta. Sekarang, nanti dan selamanya.”
“Masa?”
“Mahameru pantang ingkar janji.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Dia ... Cinta Kirana
Bab 31
Sejak kemarin CInta pindah di samping kamar Umar dengan connecting door untuk memudahkan mengecek rekaman hasil syuting. Apalagi ada masalah dengan recorded, jadi Umar memeriksa hasil langsung dari kamera besar. Dua laptop dan kabel berseliweran di lantai. Pintu penghubung kamar terbuka lebar.
Beruntung kamar yang ditempati CInta, twin bed. Ditempati Cinta dan Asep, Eru di sofa. Lepas dari cafe ia bergabung mengecek hasil rekaman. Jam 1, Cinta menyerah karena kantuk, entah yang lain.
Jam 3 pagi, Umar mengecek keberadaan trio kwek-kwek. Pintu tetap terbuka, Abil sudah tep4r sejak tadi sofa.
“Hah, sambung nanti. Mata gue udah sepet.”
Suasana dua kamar yang terhubung itu mendadak senyap. Hanya deru nafas Eru, dengkuran Asep dan dengungan mesin pendingin. Tidur Cinta terlihat tidak nyaman. Nafasnya memburu. Keringat dingin membasahi dahinya saat bayangan mengerikan itu kembali hadir tanpa diundang.
Dalam tidur, ia seolah kembali berada di atas motor di tengah antara Ayah dan Bunda. Motor itu terpental karena hantaman keras dari kendaraan lain. decitan ban dan jeritan orang tuanya memekakan telinga.
Trauma hebat itu kembali menariknya ke titik terendah. Cinta mulai mengigau, terisak dalam keputusasaan yang begitu pekat.
“Bunda … sakit,” rintih Cinta disela isak tangis, di tengah tidurnya.
Asep perlahan mengerjap, begitu pun dengan Eru sudah beranjak duduk sambil mengucek mata. Melihat Cinta menangis, Asep dan Eru berpandangan dengan raut wajah terkejut.
“Bunda ….”
Tanpa membuang waktu, mereka langsung mendekat.
"Cinta! Cinta, bangun, Ta!” seru Eru panik, sambil menepuk-nepuk pelan pipi Cinta, berusaha menyadarkan kalau yang dialami hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk yang akan hilang saat ia sadar.
Asep yang sudah tahu kalau sahabatnya itu biasa mimpi buruk terlihat luar biasa cemas, tidak tahu kalau akan separah itu. Ia segera mengambil botol air mineral di meja sebelah tempat tidur.
"Ta, hei... lo aman di sini. Ada kita. Bangun, Ta," panggil Asep dengan suara yang diusahakan selembut mungkin agar tidak membuat Cinta makin histeris.
Tangan Eru berpindah menyentuh dan menepuk bahu. Mata Cinta terbuka lebar secara mendadak. Jantungnya masih berdegup kencang seperti genderang. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa ia tidak lagi berada di tengah insiden malam kelam berdarah itu, melainkan di kamar hotel dalam tatapan dua pasang mata yang dipenuhi rasa khawatir.
Eru membantu Cinta untuk duduk, mengusap air mata dan dan kepala gadis itu, tangannya tetap berjaga-jaga kalau Cinta butuh sandaran atau pelukan untuk meredakan ketakutannya.
Asep menyodorkan yang sudah dibuka. “Minum dulu, Ta. Pelan-pelan,” lirih Asep. Disambut tangan Cinta yang masih gemetar hebat.
Cinta meneguk air itu dengan rakus seolah ia begitu dahaga, mencoba mengusir rasa tercekat di tenggorokannya. Trauma itu memang belum hilang dan cukup mengganggu. Asep memberi ruang pada Eru dan Cinta, ia berpindah ke kamar sebelah.
“Sudah lebih baik?” tanya Eru dijawab dengan anggukan.
Nafas Cinta sudah tidak memburu dan tubuhnya tidak lagi gemetar. Ada rasa malu karena terlihat buruk di depan Eru. Ia pun menunduk.
“Sering begini?” tanya Eru lagi, lagi-lagi dijawab dengan anggukan. Ia dengar cerita Asep dan menyaksikan bagaimana Cinta mendadak kumat traumanya saat melihat kecelakaan motor, tapi yang ini lebih buruk. Ternyata trauma yang dirasakan Cinta cukup berat.
“Sudah pernah konsul dengan psikiater?” Cinta menggeleng. “Kalau meresahkan dan sangat mengganggu, baiknya kamu pertimbangkan untuk konsultasi.”
“Mau aku temani?” Cinta mengangkat wajahnya, tidak ada pandangan merendahkan atau menghina dari tatapan Eru. Masih sama seperti biasa, menghanyutkan.
“Untungnya aku kambuh Cuma nangis, kalau ngamuk dan teriak-teriak bisa dikira orang gil4.”
Eru tersenyum, tangannya kembali mengusap kepala Cinta. Di saat begini masih saja bisa bercanda.
“Seberat itu ya, rasa kehilangan kamu?”
“Hm. Aku ingat dengan jelas Ru, wajah Bunda sama Ayah. Darah yang mengalir dan rasa sakit di kakiku. Tangan Bunda terulur , tapi tidak berhasil menggapai. Ia terdiam untuk selamanya. Aku masih kecil, tapi aku yakin Ayah tidak salah, mobil itu yang salah. Siapapun dia, tidak akan aku maafkan. Kebahagiaanku sudah direnggut, aku besar tanpa Ayah dan Bunda.” Wajah Cinta perlahan berubah teg4ng dan rahang mengeras. Tanpa dia tahu kalau putra dari orang yang Cinta maksud ada di hadapan.
“Cinta, tenang dulu. Jangan terlalu emosi, tidak baik.” Eru meraih tangan Cinta dan menggenggamnya. “Inhale exhale.”
Eru terus mengajaknya berbincang ringan untuk mengalihkan perhatian Cinta. “Mau subuh Ta, tidur lagi yuk. Aku masih ngantuk.”
***
Perjalan kali ini cukup melelahkan. Selain lebih jauh dan lama diperjalanan. Sempat ada kendala dengan hasil rekaman saat syuting di lokasi kedua. Ditambah mimpi buruk Cinta membuat Eru dan Asep lebih perhatian dan peduli pada gadis itu. Tentu saja Eru lebih effort karena ada perasaan diantara mereka, sedangkan Asep lebih kepada sayang antara kakak dengan adiknya.
Tiba di Jakarta Jam 10 malam, seperti biasa langsung ke kosan Cinta. Eru mengeluarkan barang Cinta dari bagasi dan dibawakan sampai depan kosan.
“Istirahat ya, ketemu besok di kantor.” Eru menyentuh pipi Cinta dan mengusap bahu gadis itu.
“Hm. Moga nggak kesiangan.”
“Mau aku jemput?”
Cinta menggeleng. “Motor aku udah sehat, tuh!” tunjuknya ke salah satu motor antara motor yang berjejer di parkiran kosan.
“Woi, cepetan!” teriak Asep dari depan gerbang.
“Udah sana, satpam udah berisik,” sahut Cinta. Eru mengangguk lalu pamit.
Sampai di parkiran basement Yess TV, mobil dan supir sudah tiba untuk menjemput Eru.
“Saya langsung bang,” pamit Eru diokehi oleh Umar. Abil dan Asep membongkar peralatan dibantu petugas lain.
Eru menyandarkan kepala sambil memejamkan mata dalam mobil perjalanan pulang. Ponsel di saku jaketnya bergetar. Hampir saja direject kalau tidak ingat ia menunggu informasi dari orang itu.
“Iya,” ucap Eru menjawab panggilan.
“Bos, saya udah dapat info lengkap. Foto dan berkas pendukung lain sudah saya kirim. Keluarga yang menjadi korban kecelakaan malam itu memang ada yang selamat. Sepasang orang tua meninggal di tempat dan anaknya umur 6 tahunan ia masih hidup.”
Jantung Eru berdebat tidak biasa, ternyata ada korban lain sama seperti dirinya harus kehilangan.
“Pak Akbar yang mengurus semua. Biaya pemakaman termasuk biaya hidup bocah itu dan biaya pendidikan. Semua dia lakukan agar keluarga korban tidak menuntut dan mendiang Pak Artha tidak dinyatakan sebagai penyebab kecelakaan.”
Eru memijat dahi mendengar penjelasan itu. Bisa-bisanya Ayah Akbar setega itu. Dia pikir uang bisa membayar segalanya.
“Biaya pendidikan si bocah ditanggung Pak Akbar dan sekarang bocah itu bekerja di Yess TV.”
“Apa kamu yakin?"
“Yakin bos dan jangan kaget ya. Bos kenal dengan dia, namanya … Cinta Kirana.”
Deg
Tubuh Eru bagai terhantam sesuatu mendengar nama itu disebut. Ada berapa nama CInta di Yess TV yang dia kenal atau dia salah dengar. Berharap ada kesalahan. Pria di ujung sana masih mengoceh, tapi Eru menatap layar ponsel dan membuka file yang ada di chat pribadi.
Beberapa foto yang sudah kusam, mobil menabrak pohon dan bagian depan hancur. Motor sudah tidak jelas bentuknya serta dua jenazah di jalanan ditutupi kain. Foto lainnya bocah perempuan menangis.
Leher Eru rasanya tercekat saat membuka foto lainnya, identitas si bocah juga kartu keluarga. Tangannya gemetar saat jarinya mengklik foto berikutnya. Foto wisuda dan kartu mahasiswa. Wajah gadis yang terlihat cantik dengan balutan toga serta nama yang tertera di kartu mahasiswa itu … Cinta Kirana.
“Cin-ta,” ucap Eru lirih. Ponselnya terlepas dari tangan.
mana tadi cinta bilang gakan maafin yg udh nabraknya lagi wlw udh tewas, trauma yg berat berkepanjangan karena ga ditangani. Ru gimana sikap kamu ke Cinta jgn jauhi, dia harus sembuh, dan mengikhlaskan ortunya yg tewas biar mereka tenang
cinta terhalang kejadian antara orang tua.😭
semangat Eru,setidaknya kamu jangan cepat menyerah.
jadikan cambukan,Cinta yang jadi korban papi mu maka kewajiban mu melindungi nya..kalau perlu menikahi nya
egoisnya akbar hanya mementingkan ke baikan keluarganya sendiri. tanpa memikirkan orang lain.😤
siap2 reaksi cinta nrma ga ya kenyataan