Kinan Malika, Gadis berusia 23 tahun yang menempuh pendidikan hukum selama 4 tahun, dan setelah lulus dia melamar pekerjaan sebagai notaris dan ingin menjadi pengacara.
Sayangnya, tidak ada yang percaya dengan kemampuannya. Hingga dia di terima di sebuah perusahaan besar untuk menjadi asisten pribadi seorang bos yang tidak pernah terpikir olehnya.
Baskara Rama Jaya, seorang laki-laki berusia 30 tahun. Bos perusahaan besar yang terkenal dingin dan tidak memiliki belas kasih terhadap karyawannya.
Memiliki trauma masa lalu dan mengindap insomnia akut, menyebabkan dirinya susah tidur ketika malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Yang Aneh
Kinan benar-benar tidak percaya. Bagaimana bisa laki-laki ini sudah terlihat baik-baik saja di saat tadi malam seperti orang mati.
Tapi kini, dia bahkan terlihat seperti tidak ada kejadian tadi malam. Di tambah kejadian saat Kinan membuka baju Baskara.
Mengingat itu membuat Kinan langsung menggelengkan kepalanya membuat Baskara menatap tajam pada gadis itu. "Apa yang kamu pikirkan dengan otak mungilmu itu?" tanya Baskara menyelidik.
"Gak apa-apa kok, Bos. Saya cuma heran aja, orang yang tadi malam gak sadar udah kayak, maaf nih ya bos, mau mati." ucap Kinan membuat Baskara melotot.
"Tiba-tiba aja sekali bangun sehat lagi. Padahal tadi malam juga gak bisa apa-apa. Lemes, di tanya rumahnya di mana gak jawab, saya tanya bos sadar gak, jawabnya cuma saya mau tidur. Mana gitu ngigau nyuruh saya meeting jam 8 padahal itu udah jam 3 pagi. Hadeh, eh btw bos belum bilang makasih loh sama saya. Gini-gini saya yang ngerawat bos tadi malam." lanjut Kinan membuat Baskara semakin menatap tidak percaya pada gadis ini.
Luar biasa sekali Kinan ini. Bahkan dia sudah mulai berani padanya. Ini baru satu bulan loh, ingat satu bulan.
"Tapi kamu juga diuntungkan disini." jawab Baskara.
"Hah, untung gimana maksudnya, Bos? Saya rugi dong. Ini ya Bos, saya gendong bos dari mobil, terus mapah bos naik tangga, beli obat panas untuk bos. Apalagi coba?" tanya Kinan menjelaskan semuanya.
"Kamu mengambil keuntungan dari saya di saat saya tidak sadar. Pegang-pegang saya, peluk saya, bahkan berani membuka baju saya. Sudah jelas kamu mencari kesempatan dalam kesempitan. Iya bukan?" tudingnya pada Kinan membuat membuat gadis itu gelagapan.
"Yaudah sih kalau gak mau bilang makasih juga gak apa-apa kok. Saya mah ikhlas, ikhlas pakai banget." jawab Kinan menyalah.
Dia tidak ingin Baskara curiga padanya. Walau bagaimana dia memang seperti merasa beruntung sedikit melihat tubuh panas dingin Baskara malam tadi.
"Itu sudah kewajiban kamu sebagai asisten saya."
"Apa itu juga berlaku sama dengan saya? bagaimana jika suatu saat saya yang ada di posisi itu? Apa bos tetap menolong saya?" tanya Kinan penasaran.
"Saya bahkan akan panggil ambulance jika perlu." jawab Baskara dengan tegas.
"Dikiranya saya kritis apa?" gumam Kinan cemberut.
"Kenapa? Bahkan kamu mengatakan saya seperti orang mati tadi malam. Lalu kenapa saya tidak boleh memanggil ambulance untuk kamu? sekalian mana tau-" Baskara sengaja menggantung ucapannya membuat Kinan langsung menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Matanya, oh tidak. Baskara tidak ingin melihat mata itu, sungguh Semakin di tatap, Baskara seperti semakin di tarik masuk ke dalamnya.
"Mundur!" Baskara mendorong bahu Kinan yang mendekat ke padanya.
Hening, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Baik Baskara maupun Kinan, karena keduanya sama-sama sibuk.
"Cepat, kita harus sampai di Bali pukul 1 siang dan jika kau berhasil dengan meeting kali ini, maka-"
"Saya akan menaikan gaji serta bonus kamu. Jadi bertahanlah dengan semua ini." potong Kinan cepat, karena dia tau apa yang ingin Baskara katakan padanya.
Kinan sudah hafal betul dengan kata-kata Baskara. Karena sebulan ini dia benar-benar bekerja keras dengan laki-laki itu.
"Bagus jika kamu sudah tau!" jawab Baskara.
"Bos, makan dulu kenapa sih, saya lapar." ucapnya sedih karena memang belum makan sejak tadi. Hanya minum air saja.
Baskara melirik ke arah gadis itu. Dia merasa kasihan, karena bagaimanapun dia hanya gadis kecil yang tangguh. Satu-satunya yang bertahan dengannya selama sebulan ini.
"Makan di dalam pesawat nanti." kata Baskara karena sekarang mereka harus masuk ke pesawat lebih dulu.
***