Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Apartemen pribadi Kensington yang terletak di lantai teratas sebuah gedung high-rise di pusat kota adalah representasi sempurna dari jiwanya: maskulin, minimalis, dan sangat privat.
Pencahayaan temaram menyinari perabotan berwarna gelap, sementara jendela besar dari lantai hingga langit-langit menampilkan kerlap-kerlip lampu Los Angeles yang tidak pernah tidur.
Sore itu, Kensington mengajak Vera masuk ke dalam ruang pribadinya. Bukan untuk urusan akademis, melainkan karena perdebatan konyol di koridor kampus tentang apakah seorang berandal seperti Kensington tahu cara bertahan hidup tanpa pelayan.
"Kau punya dapur yang sangat luas untuk seseorang yang aku duga hanya makan makanan instan atau delivery," ucap Vera sambil meletakkan tasnya di atas meja marmer dapur. Ia memindai peralatan masak yang tersusun rapi, tampak terlalu profesional untuk seorang mahasiswa abadi.
Kensington melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos hitam yang melekat di tubuhnya. Ia menggulung lengan bajunya hingga memperlihatkan tato yang seolah menari di bawah cahaya lampu.
"Aku tinggal sendiri selama ini, Vera. Jangan remehkan kemampuanku. Aku bisa masak sendiri."
Vera menaikkan sebelah alisnya, senyum skeptis terukir di wajah cantiknya. "Oh ya? Kau bisa masak? Masak apa? Bisakah kau masakkan sesuatu untukku sekarang? Aku ingin bukti, bukan sekadar teori hukum."
Kensington terkekeh. "Tantangan diterima. Duduklah di kursi bar itu dan perhatikan."
Kensington mulai bergerak di dapur dengan ketangkasan yang mengejutkan. Ia mengambil sepotong wagyu steak dari lemari es, meracik bumbu dengan gerakan tangan yang presisi, dan memanaskan wajan besi.
Suara desisan daging yang bertemu panas memenuhi ruangan, membawa aroma gurih yang menggoda.
Vera, yang awalnya hanya ingin mengejek, perlahan merasa terpaku. Melihat Kensington yang biasanya urakan kini begitu fokus mengolah makanan menciptakan pemandangan yang aneh namun menghanyutkan.
Iseng, Vera berdiri dan mendekat ke arah Kensington.
"Apa kau butuh asisten, Chef?" canda Vera. Ia mulai bermain-main, mencoba menggelitik pinggang Kensington atau sekadar menyenggol lengannya agar pria itu tidak terlalu fokus.
"Vera, berhenti. Aku sedang memegang pisau tajam," ucap Kensington sambil mencoba menahan tawa. Namun, Vera tidak berhenti. Ia justru ikut memegang spatula, berpura-pura membantu membalikkan daging.
Dalam gerakan yang tidak direncanakan, posisi mereka menjadi sangat dekat.
Kensington berdiri di belakang Vera, tangannya melingkar di samping tubuh wanita itu untuk meraih bumbu, sementara Vera sedikit bersandar pada dada Kensington.
Mereka tampak seperti pengantin baru yang sedang mencoba resep pertama di rumah baru mereka.
Ada tawa kecil, ada percakapan ringan tentang tingkat kematangan daging, dan ada frekuensi romansa yang timbul secara organik tanpa mereka sadari.
Tepat saat Kensington hampir menyajikan hidangan itu ke piring, suara bel apartemen berbunyi nyaring.
Ding-dong!
Kensington mengernyit. "Siapa yang datang tanpa janji?"
Ia berjalan membuka pintu, diikuti Vera yang masih membawa serbet di tangannya. Begitu pintu terbuka, sosok Marco dan Vivian berdiri di sana dengan wajah ceria.
"Surprise! Kami membawakan... Wait," kalimat Marco terhenti.
Matanya membelalak melihat Kensington tidak sendiri, dan lebih mengejutkan lagi, ada Catalonia Vera West—si anak dekan yang kaku—berdiri di dapur Kensington dengan wajah yang tampak santai.
Vivian, yang merupakan mantan teman sekamar Audrey dan saksi bisu masa lalu kelam Kensington, juga terpaku. Ia menatap ke arah dapur yang mengepulkan aroma lezat, lalu menatap jaket Kensington yang tersampir di kursi dan Vera yang tampak sangat "Tuan rumah".
"Apa kami mengganggu sesi... kelas memasak?" tanya Vivian dengan nada menggoda yang kental.
Vera, dengan profesionalisme yang luar biasa, tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun.
Ia tersenyum ramah dan menyapa mereka dengan komunikasi yang sangat luwes.
"Halo Marco, halo Gadis Cantik. Masuklah. Kensington baru saja membuktikan bahwa dia tidak akan mati kelaparan jika ditinggal pelayan."
"Kalian... terlihat seperti pengantin baru," celetuk Marco sambil masuk dan langsung menuju dapur. "Ken, sejak kapan kau jadi sejinak ini?"
Kensington mendengus, namun ia tidak membantah. Ia mengambil piring tambahan dengan santai. "Duduklah. Makanannya hampir siap."
Sepanjang malam itu, suasana terasa sangat hangat. Vivian dan Marco bercerita tentang rencana liburan mereka, sementara Vera menanggapi setiap obrolan dengan cerdas dan santai. Tidak ada kecanggungan, tidak ada batasan antara si berandal dan si pintar.
Vivian memperhatikan dari sudut matanya bagaimana Kensington secara tidak sadar menarik kursi untuk Vera, atau bagaimana Vera secara alami mengambilkan minum untuk Kensington tanpa perlu diminta. Mereka benar-benar selaras.
"Kalian tahu," ucap Vivian sambil menyesap wine-nya, "melihat kalian berdua malam ini membuatku berpikir bahwa frekuensi memang benar adanya. Kalian tidak butuh kata-kata romantis untuk terlihat... serasi."
Kensington dan Vera saling berpandangan sejenak.
Mereka tidak sadar dengan apa yang dilihat orang lain. Bagi mereka, ini hanyalah kenyamanan antara dua orang yang sepemikiran.
Namun, di mata Vivian dan Marco, malam itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertemanan kampus.
Di dapur yang penuh aroma bumbu itu, noda masa lalu Kensington seolah tertutup oleh kehadiran Vera yang memberinya alasan untuk kembali hidup.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭