NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Tanpa Jalan Pulang

Malam turun tanpa aba-aba.

Tidak ada bintang. Tidak ada bulan. Hanya awan gelap yang menutup langit seperti kain kafan, menekan udara hingga terasa berat di paru-paru. Lampu rumah kecil itu menyala redup, memantulkan bayangan dua tubuh yang duduk saling berhadapan—diam, tapi penuh gelora yang tak terucap.

Flash drive kecil itu tergeletak di atas meja kayu.

Carmela menatapnya seolah benda itu bernapas. Seolah di dalamnya ada jeritan, darah, nama-nama, dan kebenaran yang terlalu besar untuk disimpan oleh satu orang.

“Aturan pertama,” kata Matteo pelan, memecah keheningan. “Tidak ada yang emosional.”

Carmela mengangkat kepala. “Itu sulit, mengingat hidup kita dipertaruhkan.”

Matteo tersenyum singkat—senyum yang pahit. “Karena itu kita butuh kepala dingin.”

Ia menarik kursi lebih dekat, mencondongkan tubuh ke depan. “Kita punya tiga pilihan.”

Carmela mengangguk. “Aku mendengarkan.”

“Pertama,” kata Matteo, mengangkat satu jari. “Kita serahkan berkas itu ke Rafa. Kita hilang. Kamu aman.”

“Dan dunia kembali busuk,” sahut Carmela cepat.

Matteo mengangguk. “Ya.”

“Pilihan kedua?”

“Kita simpan berkas itu. Kita kabur malam ini. Pindah negara. Hidup dengan nama palsu.”

Carmela menatapnya lama. “Kedengarannya… menggoda.”

“Tapi,” lanjut Matteo, “orang-orang yang dibongkar di berkas itu tidak akan berhenti. Mereka sabar. Kaya. Punya waktu.”

“Dan pilihan ketiga?” tanya Carmela.

Matteo menatap flash drive itu. “Kita gunakan.”

Jantung Carmela berdegup keras. “Bagaimana?”

“Kita bocorkan sebagian,” katanya. “Cukup untuk menarik perhatian media dan aparat yang tidak sepenuhnya bisa dibeli. Tapi tidak semua—cukup untuk membuat mereka saling curiga.”

Carmela menarik napas. “Itu berarti perang.”

“Ya,” jawab Matteo. “Perang sunyi.”

Mereka terdiam.

Di luar, angin mengguncang pepohonan. Ranting-ranting bergesekan, seperti bisikan yang tak bisa dipahami.

“Aku takut,” kata Carmela akhirnya.

Matteo menatapnya. “Aku tahu.”

“Bukan hanya takut mati,” lanjut Carmela. “Aku takut kehilangan dirimu… dengan cara yang menyisakan penyesalan.”

Matteo mengulurkan tangan, menyentuh jemarinya. “Aku juga.”

Sentuhan itu sederhana. Tapi berat.

Mereka bergerak cepat setelah keputusan dibuat.

Laptop dinyalakan. Matteo menghubungkan flash drive. Layar memunculkan folder-folder dengan nama samar, tanggal, lokasi, dan simbol-simbol yang Carmela tidak pahami sepenuhnya. Tapi satu hal jelas: ini bukan sekadar catatan. Ini bukti sistematis.

“Ini jaringan,” kata Matteo. “Politik, bisnis, keamanan. Mereka saling menutup.”

Carmela menelan ludah. “Kamu hidup di tengah ini.”

“Dulu,” jawab Matteo. “Aku keluar karena aku tahu… suatu hari aku tidak bisa pura-pura lagi.”

Carmela menatapnya. “Dan kamu memilih menyimpannya.”

“Karena aku pikir aku bisa menguburnya,” katanya pelan. “Ternyata tidak.”

Mereka bekerja berjam-jam. Matteo memilih berkas. Carmela mengetik, menyunting, menyamarkan identitas tertentu—cukup untuk memancing, tidak cukup untuk membunuh mereka berdua malam itu juga.

“Kita butuh pengalihan,” kata Carmela.

Matteo menoleh. “Kamu punya ide?”

Carmela mengangguk. “Kita bocorkan ke tiga sumber berbeda. Media independen. Aktivis hukum. Dan satu akun anonim dengan pengikut besar.”

Matteo tersenyum kecil. “Kamu cepat belajar.”

“Aku tidak mau jadi beban,” jawab Carmela.

“Kamu bukan,” katanya lembut.

Tepat tengah malam, mereka menekan tombol kirim.

Tidak ada ledakan. Tidak ada suara dramatis. Hanya klik kecil—dan dunia berubah selamanya.

Ponsel Matteo bergetar sepuluh menit kemudian.

Satu pesan. Nomor tak dikenal.

Rafa:

Kamu memilih jalan yang sulit.

Matteo tidak membalas.

Lima menit berikutnya, lampu di luar mati.

Carmela menegang. “Itu bukan kebetulan.”

Matteo sudah berdiri, mengambil tas. “Kita pergi. Sekarang.”

“Ke mana?” tanya Carmela sambil mengenakan jaket.

“Tempat aman sementara,” jawab Matteo. “Tidak ideal. Tapi tersembunyi.”

Mereka keluar lewat pintu belakang. Hujan mulai turun, deras dan dingin. Jalan tanah berubah licin. Matteo menggenggam tangan Carmela, menuntunnya dalam gelap.

Di kejauhan, suara mesin terdengar.

“Kita tidak punya banyak waktu,” kata Matteo.

Mereka mencapai mobil lama yang disembunyikan di balik pepohonan. Matteo membuka pintu, mendorong Carmela masuk, lalu mengitari mobil.

Tepat saat ia hendak masuk, suara tembakan memecah malam.

Carmela menjerit. “Matteo!”

Peluru mengenai bodi mobil. Matteo terjatuh ke tanah, tapi segera bangkit, masuk ke kursi pengemudi, dan menyalakan mesin. Mobil melaju, menabrak semak, keluar ke jalan sempit.

“Kamu kena?” tanya Carmela panik.

“Tidak,” jawab Matteo, napasnya berat. “Terlalu dekat, tapi tidak.”

Carmela menggenggam lengannya. Tangannya gemetar. “Aku tidak mau ini.”

“Aku tahu,” kata Matteo. “Aku juga tidak.”

Lampu-lampu mobil lain muncul di belakang. Satu. Dua.

“Kita diikuti,” kata Carmela.

Matteo mengangguk, membelokkan mobil ke jalan bercabang yang sempit dan berlumpur. Mobil di belakang tertinggal, tapi satu tetap mengejar.

Matteo mengerem mendadak, mematikan lampu, lalu memutar setir ke jalan setapak hampir tak terlihat. Mobil meluncur ke dalam gelap.

Mereka berhenti di tengah hutan.

Keheningan kembali—kali ini lebih mencekam.

Mereka berlindung di sebuah bangunan tua bekas gudang. Atapnya bocor, tapi dindingnya tebal. Matteo menyalakan senter kecil.

Carmela duduk di lantai, tubuhnya gemetar hebat. Semua keberanian yang tadi menopangnya runtuh begitu saja.

Matteo berlutut di depannya. “Lihat aku.”

Carmela mengangkat wajahnya. Air mata mengalir tanpa izin.

“Aku minta maaf,” kata Matteo. “Aku menyeretmu ke neraka.”

Carmela menggeleng, terisak. “Aku memilih ini.”

“Tetap saja,” katanya. “Aku seharusnya—”

“Jangan,” potong Carmela. “Jangan ubah ini jadi penyesalan.”

Ia meraih wajah Matteo dengan kedua tangan. “Aku masih di sini.”

Matteo menutup mata, menempelkan dahinya ke dahi Carmela. Napas mereka bertemu, bergetar.

“Aku takut kehilanganmu,” bisik Carmela.

Matteo membuka mata. “Kalau sesuatu terjadi padaku—”

“Jangan,” kata Carmela tegas. “Jangan ucapkan itu.”

“Dengarkan aku,” katanya lembut tapi serius. “Kalau aku tidak selamat, kamu harus pergi. Kamu tahu ke mana. Kamu punya kontaknya.”

Air mata Carmela jatuh. “Aku tidak mau hidup tanpa kamu.”

Matteo tersenyum sedih. “Aku mau kamu hidup. Titik.”

Mereka saling berpelukan, erat, seolah dunia di luar gudang itu tidak ada. Seolah malam ini bisa ditahan.

Menjelang subuh, hujan reda.

Ponsel Carmela bergetar. Satu notifikasi masuk—berita singkat dari salah satu media independen.

“Dokumen Bocor Mengguncang Jaringan Elite: Investigasi Dibuka.”

Carmela menatap layar. Tangannya gemetar.

“Sudah mulai,” katanya.

Matteo membaca cepat. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan. Hanya kelelahan yang dalam.

“Sekarang tidak ada yang aman,” katanya. “Termasuk kita.”

Carmela berdiri. “Lalu apa langkah selanjutnya?”

Matteo menghela napas panjang. “Kita berpisah. Sementara.”

Kata itu menghantam lebih keras daripada tembakan malam tadi.

“Apa?” suara Carmela bergetar.

“Ini satu-satunya cara,” kata Matteo. “Mereka akan memburuku. Kalau kamu bersamaku, kamu sasaran.”

“Aku tidak setuju,” kata Carmela. “Kita tim.”

“Justru karena itu,” jawab Matteo. “Aku harus memastikan setidaknya satu dari kita aman.”

Carmela menatapnya dengan mata merah. “Ini kepercayaan, kan?”

“Ini cinta,” jawab Matteo pelan.

Ia menyerahkan sebuah kunci dan secarik kertas. “Ikuti rencana. Jangan improvisasi.”

Carmela menggenggam benda itu, tangannya dingin. “Dan kamu?”

“Aku akan menarik perhatian,” katanya. “Selama mungkin.”

Carmela memeluknya tiba-tiba, keras, seolah ingin menyatukan tubuh mereka. “Kembali padaku.”

Matteo membalas pelukan itu, menutup mata. “Aku akan mencoba.”

Mereka berpisah di ambang pintu gudang, tanpa ciuman, tanpa janji kosong—hanya tatapan yang penuh dengan hal-hal yang tak bisa diucapkan.

Carmela melangkah pergi, menahan tangis.

Matteo berdiri sendiri, menatap fajar yang pucat.

Di kejauhan, sirene samar terdengar.

Perang sudah dimulai.

Dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa kembali menjadi orang yang sama.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!