"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Siapa Pemilik Haknya?
Victor tidak bisa lagi menahan diri setelah sambungan telepon dengan sopirnya terputus. Dengan napas yang memburu dan kendali emosi yang nyaris di ambang batas, ia memacu mobilnya menuju apartemen pribadi milik keluarga De Alfa. Ia tahu persis di mana Jake biasanya menyimpan "harta karun" atau orang-orang yang ingin ia sembunyikan.
Sesampainya di sana, Victor mengetuk pintu apartemen dengan ketukan yang tegas dan menuntut. Ketika pintu terbuka, wajah santai Jake menyambutnya.
"Di mana dia?" tanya Victor tanpa basa-basi. Matanya menyisir ruangan di balik punggung Jake.
Jake bersandar di bingkai pintu, melipat tangan di dada dengan raut tenang. "Siapa? Achell? Dia ada di dalam. Kenapa kau tidak membawanya pulang ke mansionmu, tanyamu? Dia keponakan kandungku, Vic. Aku punya hak penuh untuk menjaganya di sini."
"Tidak bisa," sela Victor tajam. "Dia harus kembali ke mansionku sekarang juga. Semua barang-barangnya, pakaiannya, dan segala kebutuhannya ada di sana. Dia tidak bisa tinggal di tempat asing."
Jake terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat sabar namun menyimpan sindiran telak. "Hanya karena barang? Aku bisa menyuruh orang untuk memindahkan semuanya ke sini dalam satu jam, Victor. Atau..." Jake menggantung kalimatnya, menatap Victor dengan tatapan menyelidik yang tajam. "Mungkin ada alasan lain? Sesuatu di antara kalian yang tidak aku ketahui?"
Victor terdiam. Rahangnya mengeras. Ia benci bagaimana Jake bisa membaca situasi dengan begitu tenang sementara dirinya sendiri terasa seperti bom waktu yang siap meledak.
Jake menghela napas, aura lembutnya kembali menyelimuti percakapan mereka. "Sudahlah, kawan. Tidak perlu dibahas sekarang. Dia sedang tidur di dalam. Dia sangat kelelahan setelah perjalanan tadi, dan sepertinya... dia juga kelelahan secara emosional."
Mendengar kata 'kelelahan emosional', Victor merasa sebuah bogem mentah menghantam ulu hatinya. Ia tahu penyebabnya, namun gengsinya masih menolak untuk mengakui itu di depan Jake.
"Baiklah," ucap Victor akhirnya, mencoba memulihkan martabatnya. "Aku mengizinkannya menginap di sini. Hanya untuk satu hari. Besok pagi, aku sendiri yang akan menjemputnya untuk pulang ke mansion."
Jake mendengus pelan, sebuah senyum kecut muncul di bibirnya. "Cih... kau benar-benar menyebalkan, Vic. Kadang aku bingung, di sini sebenarnya siapa paman kandungnya? Aku atau kau, sialan? Kenapa kau yang memberiku izin untuk menampung keponakanku sendiri?"
Victor tidak menjawab umpatan Jake. Sebaliknya, sebuah senyum mengejek—senyum kemenangan yang tipis dan angkuh—muncul di sudut bibirnya. Ia merasa masih memegang kendali atas hidup Achell, meski hanya melalui kata-kata.
"Besok jam sembilan pagi," ucap Victor singkat.
Tanpa menunggu balasan Jake, Victor berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong apartemen dengan langkah mantap. Di balik pintu yang tertutup, Jake hanya bisa menggelengkan kepala.
"Kau pria tua yang malang, Victor," gumam Jake pelan. "Kau pikir kau menang, padahal kau baru saja mulai kehilangan segalanya."
Sementara itu, di dalam kamar yang gelap, Achell sebenarnya tidak sepenuhnya tidur. Ia mendengar perdebatan kedua pria itu dari balik pintu. Air matanya kembali menetes saat mendengar Victor tetap bersikap seolah-olah dia adalah pemilik hidupnya, tanpa ada satu pun kata maaf yang terucap.
Saat Victor datang menjemput besok pagi apakah, Achell akan menolak ikut pergi bersamanya?
Next bab jangan lupa bintang 5 nya yaa!