DADANG SANG PENAKLUK adalah cerita tentang Dadang Hermawan, jawara silat dari Lembang yang tewas secara misterius lalu terbangun di tubuh pewaris konglomerat Jakarta. Di tengah dunia bisnis, keluarga berbahaya, dan organisasi rahasia yang mengincar tubuhnya, ia harus bertahan sambil mengungkap kebenaran di balik “Proyek Wadah Sempurna” yang menghubungkan hidup dan kematiannya. Setiap kemenangan membawa luka baru, setiap jawaban membuka misteri yang lebih gelap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: UTANG LAMA, RAMBO SI MAMAN GARUT**
**
Malam itu, di bawah lampu jalan yang kedap-kedip kayak mau mati listrik, David berdiri di tengah lingkaran sepuluh orang berjaket Black Dragon, dan begitu matanya benar-benar fokus ke wajah penuh bekas luka yang berdiri paling depan, dia langsung berteriak, suaranya pecah antara kaget dan geli sendiri.
"HAHAHAH ANJENG! SI MAMAN DARI GARUT!"
Rambo, yang sudah siap pasang kuda-kuda, mendadak terdiam, alisnya berkerut dalam. Bagaimana bisa anak konglomerat culun yang katanya cuma duduk di belakang meja kantor ini, tahu nama aslinya, nama yang cuma dipakai orang-orang lama di dunia persilatan, bukan nama jalanan Rambo yang dia pakai buat gertak orang.
"Lo... lo tau nama gue dari mana, bocah?"
David tidak menjawab, cuma menyeringai, dan sepersekian detik kemudian, dua orang dari kanan kirinya sudah melayangkan pukulan bersamaan, mencoba memanfaatkan momen dia masih sibuk bicara.
Tapi badan David sudah bergerak duluan, melompat ke udara sambil berteriak lantang,
"SALAM OLAHRAGA URAAAAA!"
Dia mendarat dengan posisi rendah, kuda-kuda Cimande yang sempurna, lutut ditekuk, tangan terbuka di depan dada, dan dari posisi itu dia menyapu kaki orang yang paling dekat dengannya.
"BRUGH."
Orang itu jatuh telentang, dan sebelum dia sempat bangun, David sudah menekan titik di pergelangan kakinya.
"KREK."
"AAAAAKH!" jeritan pertama pecah malam itu.
Dua orang lain mencoba menyerang dari belakang, David memutar badan, tangannya menangkis satu pukulan sambil mengunci sikut lawan, lalu kakinya menendang lurus ke perut orang satunya.
"DUGH!"
Orang itu terhuyung, muntah seketika, dan David tidak berhenti, badannya terus bergerak, lincah, seperti air yang mengalir di antara batu-batu sungai, setiap gerakan punya tujuan, setiap tangkisan menyimpan kuncian.
Seorang lagi mencoba menusuk dengan pisau lipat, David menggeser tubuh tipis, menangkap pergelangan tangan yang memegang pisau itu, memutarnya hingga,
"KRAK."
"ASTAGA, TANGAN GUE!"
Pisau itu jatuh ke aspal, berdenting, dan pemiliknya langsung mundur sambil mengerang, memeluk tangannya yang sudah tidak bisa digerakkan dengan benar.
Satu per satu, anggota Black Dragon yang berjumlah sembilan orang itu jatuh berguguran, ada yang terkapar karena tendangan yang menghantam ulu hati, ada yang menjerit karena sendi bahunya terkunci sampai meledak suaranya, dan ada yang cuma pingsan duluan karena terlalu takut melihat kawan-kawannya tumbang satu demi satu dalam waktu yang bahkan tidak sampai semenit.
Rambo berdiri mematung di tempatnya, belum maju sama sekali, matanya menyaksikan semua itu dengan rasa tidak percaya yang makin membesar di dadanya.
Gerakan itu.
Cara kuda-kuda itu turun.
Cara tangan itu mengunci, bukan asal tangkis, tapi presisi, tepat di titik-titik yang Rambo sendiri tahu, karena itu adalah ilmu yang cuma diajarkan di padepokan tertentu, padepokan yang dulu pernah membuat dia tersungkur di tanah becek arena tarung antar padepokan.
"Ini... ini gerakan Kang Dadang," gumamnya, suaranya bergetar, "Lo... lo muridnya Dadang ya?"
David tidak menjawab langsung, cuma tersenyum, senyum yang menyimpan terlalu banyak hal untuk dijelaskan malam itu.
Rambo, dengan amarah yang dipaksa naik untuk menutupi rasa ragu yang menggerogoti hatinya, akhirnya maju, melayangkan pukulan lurus yang dulu pernah dia gunakan untuk merobohkan banyak lawan.
David menggeser badan, persis seperti yang dia lakukan dulu di arena tarung, dan tangannya menyapu kaki tumpu Rambo.
"BRAK."
Kuda-kuda Rambo yang selama ini dianggap tak tertembus, patah seketika, badannya jatuh berlutut, kaget bukan kepalang.
"Gimana caranya lo tau kuda-kuda gue bisa dijatuhin dari situ?! Itu titik yang cuma gue sendiri yang tau kelemahannya!"
David menatapnya tenang, dalam hati teringat jelas, ini sama persis seperti pukulan terakhir yang dia gunakan saat menutup pertarungan melawan Rambo di arena tanah Lembang dulu, titik rusuk yang sama, kelemahan yang sama, cuma sekarang dipakai untuk menjatuhkan kuda-kuda, bukan mematahkan tulang rusuk.
Rambo bangkit lagi, kali ini lebih nekat, menyerang dengan kombinasi pukulan beruntun, tapi David, dengan ketenangan yang membuat Rambo semakin merinding, menangkap satu lengannya, memutar badan, mengunci sendi bahu sampai posisi yang membuat Rambo tidak bisa bergerak sama sekali tanpa merasakan nyeri luar biasa.
"AAAAAA! AMPUN, TUAN! AMPUN!"
Badan besar itu jatuh berlutut, keringat dan air mata campur aduk di wajahnya yang penuh bekas luka pertarungan lama, suaranya pecah, jauh dari kesan menyeramkan yang dia bawa selama ini.
"Jangan habisi saya, Tuan. Saya, saya cuma disuruh. Tolong, ini sakit, tolong hentikan, saya akan bilang siapa yang nyuruh saya."
"Siapa yang nyuruh kamu?" David bertanya, suaranya datar, tapi cukup tegas untuk membuat Rambo semakin gentar.
"Tuan Reza. Kakak Tuan David sendiri. Tolong ampuni saya, Tuan, saya akan jadi bawahan Tuan, saya sumpah."
David melepaskan kuncian itu perlahan, membiarkan Rambo terkapar di aspal, terengah-engah, badannya gemetar bukan karena kelelahan fisik semata, tapi karena dia baru saja menyadari, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar kekuatan fisik yang bersembunyi di balik tubuh kurus David Wijayakusuma.
Rambo, dengan napas masih tersengal, mengangkat kepalanya, menatap David dengan tatapan campur antara takut dan kagum yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan terhadap Dadang sekalipun.
"Saya bersumpah, Tuan. Mulai hari ini, saya jadi pengabdi Tuan. Kapan pun Tuan butuh, saya akan datang."
David hanya mengangguk pelan, tidak mengatakan apa-apa lagi soal siapa dirinya sebenarnya, soal kenangan delapan bulan lalu di arena tanah becek Lembang, soal nama Dadang yang sekarang hanya tinggal jadi nisan kayu sederhana di pemakaman kecil pinggir kota. Dia tahu, walau dikatakan sejujur-jujurnya sekalipun, Rambo tidak akan pernah percaya.
Malam itu, di antara tubuh-tubuh yang masih mengerang di aspal dingin, sebuah ikatan baru terbentuk, ikatan yang lahir dari kekalahan dan ketundukan, dan tanpa siapa pun menyadarinya, termasuk Rambo sendiri, inilah awal dari kesetiaan yang nantinya akan menjadi salah satu kekuatan paling berharga yang dimiliki Dadang dalam tubuh barunya.
*(bersambung)*