"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 (Badai baru di Cakrawala)
Langkah kaki Mike yang mantap bergaung di atas lantai marmer *rooftop* saat ia berjalan mendekati tempat Alisha dan Anita duduk. Di belakangnya, Alvin mengekor dengan senyuman santai yang menjadi ciri khasnya. Begitu jarak mereka mengikis, mata elang Mike langsung mengunci wajah Alisha, menyadari jejak kemerahan di sudut mata istrinya.
"Ada apa?" tanya Mike langsung, suaranya bariton dan sarat akan nada protektif yang tak bisa disembunyikan. Ia melirik Anita dengan tatapan menyelidik. "Anita, apa yang kamu katakan padanya?"
Anita hanya mengembuskan napas panjang sembari memutar bola matanya dengan elegan, sementara Alvin terkekeh di sampingnya. "Tenang, Tuan CEO. Aku tidak sedang membongkar rahasia negaramu. Aku hanya memberikan beberapa wejangan pernikahan yang sehat kepada Nyonya Raharja yang baru."
Alisha bangkit dari kursinya, buru-buru menyentuh lengan Mike untuk menenangkan pria itu. Sentuhan kecil itu terbukti ampuh; ketegangan di bahu tegap Mike seketika melunak begitu merasakan jemari Alisha di lengannya.
"Kak Anita tidak mengatakan hal yang buruk, Mike. Kami hanya... berbincang santai," ucap Alisha, senyuman tulus terukir di bibirnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi gurat keterpaksaan atau ketakutan dalam senyuman itu.
Mike menatap Alisha lekat-lekat, mencari tahu apakah istrinya sedang berbohong. Namun, melihat binar mata Alisha yang kini tampak jauh lebih hangat dan menerima kehadirannya, Mike merasakan sebongkah beban yang selama sebulan ini mengganjal di dadanya perlahan luruh. Ia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Alisha yang melingkar di lengannya, lalu mengecup puncak kepala gadis itu di depan Alvin dan Anita tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Terima kasih, Anita," ucap Mike tulus, sebuah pengakuan langka yang membuat Anita menaikkan sebelah alisnya dengan bangga.
"Bayar saja tagihan jasaku tepat waktu, Mike. Itu sudah lebih dari cukup," canda Anita sembari merapikan tas tangannya. "Alvin, ayo pergi. Kita biarkan pasangan pengantin baru ini menikmati sisa hari mereka."
Setelah Alvin dan Anita berpamitan, keheningan yang nyaman kembali menyelimuti *rooftop* yang berangin. Mike menuntun Alisha untuk berdiri di tepi pagar pembatas, menatap hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang membentang di bawah mereka.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan tadi?" tanya Mike lagi, suaranya melembut, ditiup angin siang yang sejuk.
Alisha menumpukan kedua tangannya di pagar, menoleh memandangi profil samping wajah suaminya. "Kak Anita menceritakan tentang... seorang pria bodoh yang setiap malam minggu memarkir mobilnya di dekat kampusku selama empat tahun, hanya untuk menontonku dari kejauhan."
Mike seketika membeku. Gurat merah samar mendadak muncul di sekitar leher dan telinganya—sebuah pemandangan langka yang membuat Alisha ingin tertawa geli. Seorang CEO Raharja Group yang ditakuti di dunia bisnis, ternyata bisa merasa salah tingkah hanya karena rahasia masa lalunya terbongkar.
"Anita benar-benar bermulut besar," gumam Mike, mengalihkan pandangannya ke depan, berpura-pura sibuk menatap jalanan di bawah.
Alisha menggeser tubuhnya lebih dekat, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Mike. "Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku, Mike? Kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian dalam sunyi?"
Mike menghela napas pendek, lalu merengkuh pinggang Alisha, membawa tubuh ramping istrinya masuk ke dalam dekapan hangatnya. "Karena aku tidak ingin membebani pikiranmu dengan duniaku yang rumit, Alisha. Bagiku, melihatmu tumbuh dengan bahagia, menyelesaikan kuliahmu tanpa gangguan, adalah satu-satunya pelipur lara di tengah penatnya hidupku. Aku rela dicap mandul, aku rela dibenci olehmu di awal pernikahan kita, asalkan pada akhirnya... kamu berada di sini. Aman di dalam jangkauanku."
Alisha mendongak, menatap mata elang Mike yang kini memancarkan pengabdian yang teramat dalam. Rasa kagum dan cinta yang perlahan tumbuh di hatinya kini telah menumbangkan sisa-sisa kemarahannya. "Mulai hari ini, jangan pernah menghadapi badai itu sendirian lagi, Mike. Aku adalah istrimu. Sesuai janjiku pada Kakek, aku akan berdiri di sampingmu, apa pun yang terjadi."
Mike menatap bibir ranum Alisha yang mengucapkan janji suci itu. Tanpa membuang waktu lagi, ia merunduk, membungkam bibir Alisha dalam sebuah ciuman yang mendalam, lembut, namun sarat akan rasa kepemilikan yang mutlak. Ciuman di bawah langit Jakarta itu menjadi segel baru bagi pernikahan mereka—sebuah pernikahan yang tidak lagi didasari oleh manipulasi atau rasa bersalah, melainkan oleh penerimaan dan cinta yang tulus.
Namun, dunia korporat tidak pernah membiarkan kedamaian bertahan lama. Dua minggu setelah kemenangan Mike di rapat pleno, sebuah serangan baru yang jauh lebih kotor mulai dilancarkan oleh kubu Paman Hardi.
Sore itu di kediaman utama Menteng, Kakek Surya tiba-tiba mengalami sesak napas hebat setelah menerima sebuah amplop cokelat tanpa nama yang dikirimkan ke kamarnya. Beruntung, tim medis pribadi keluarga bertindak cepat sehingga kondisi pria tua itu berhasil distabilkan.
Mike dan Alisha yang menerima kabar tersebut langsung bergegas menuju Menteng. Ketika mereka memasuki kamar besar Kakek Surya, atmosfer ruangan terasa begitu berat dan tegang. Kakek Surya bersandar di ranjangnya dengan wajah yang pucat pasi, sementara di tangannya, ia mencengkeram beberapa lembar kertas foto dengan sangat erat hingga jemarinya memutih.
"Kakek, apa yang terjadi?" tanya Mike, suaranya terdengar cemas saat melangkah mendekati ranjang, diikuti oleh Alisha yang memegang tas medis cadangan.
Surya tidak langsung menjawab. Pria tua itu menatap Mike dengan pandangan yang campur aduk antara kekecewaan yang mendalam dan rasa sakit hati. Dengan tangan yang gemetar, Surya melemparkan kertas-kertas foto itu ke atas selimut di depan Mike.
"Jelaskan pada Kakek... apa maksud dari semua ini, Mike!" suara Surya terdengar parau dan bergetar hebat.
Mike mengambil foto-foto tersebut, dan sedetik kemudian, rahangnya mengeras sempurna. Alisha yang mengintip dari balik bahu Mike seketika membeku dengan wajah pucat pasi.
Foto-foto itu adalah dokumen medis asli milik Mike dari sebuah rumah sakit internasional di Singapura. Dokumen yang menyatakan dengan sangat jelas bahwa seluruh sistem reproduksi Mike Raharja berada dalam kondisi **seratus persen subur dan normal**. Tidak ada kemandulan, tidak ada cacat biologis seperti yang selama ini digembar-gemborkan.
Di lembar berikutnya, ada salinan dokumen kontrak pernikahan antara Mike dan Anita yang ditandatangani empat tahun lalu, lengkap dengan pasal yang menyatakan bahwa pernikahan mereka akan berakhir dalam waktu empat tahun tanpa adanya hubungan suami-istri secara biologis.
"Kakek... Kakek mengira kamu adalah korban yang malang, Mike..." air mata haru yang biasanya menetes kini berubah menjadi air mata kekecewaan di pipi keriput Surya Raharja. Pria tua itu menoleh menatap Alisha dengan tatapan terluka. "Dan kamu, Alisha... apakah kamu juga menipu Kakek? Apakah pernikahan kalian ini hanya sandiwara baru untuk mengamankan posisi saham Mike di perusahaan?"
"Kakek, tidak! Ini tidak seperti yang Kakek pikirkan!" Alisha melangkah maju, air matanya seketika tumpah. Ia tidak tahan melihat pria tua yang begitu menyayanginya itu tampak begitu hancur karena merasa dibohongi.
Sebelum Alisha sempat menjelaskan lebih jauh, Mike langsung menarik tubuh Alisha ke belakang punggungnya, melindunginya dari tatapan penuh selidik sang kakek. Mike berdiri tegak, wajahnya kembali dingin dan tak tersentuh, bertransformasi kembali menjadi sang penguasa tirani yang siap menghadapi konsekuensi dari perbuatannya.
"Alisha tidak tahu apa-apa tentang dokumen kontrak itu, Kek. Dia tidak menipumu," ucap Mike, suaranya terdengar datar namun sarat akan penekanan yang mutlak. "Akulah yang merencanakan semuanya. Akulah yang memalsukan dokumen kemandulan itu, dan akulah yang membayar Anita untuk menjadi tamengku selama empat tahun."
"Kenapa, Mike?! Kenapa kamu tega menipu Kakekmu sendiri yang sudah sekarat ini?!" seru Surya dengan suara meninggi, dadanya kembali naik-turun menahan emosi.
"Karena jika aku tidak melakukannya, Kakek akan terus memaksaku menikahi putri-putri konglomerat rekan bisnis Kakek!" balas Mike, suaranya meninggi satu oktav, melepaskan seluruh emosi yang selama bertahun-tahun ia pendam dalam diam. "Kakek akan menggunakan kekuasaan Kakek untuk menyingkirkan Alisha dan ibunya dari hidupku, seperti yang dulu paman-paman lakukan pada Ayah! Aku butuh waktu untuk menghancurkan kekuatan Paman Hardi di dewan direksi, dan aku butuh alasan yang membuat semua wanita menjauh dariku agar kursi di sampingku tetap kosong sampai Alisha dewasa!"
Ruangan itu seketika hening. Kakek Surya tertegun, menatap cucu tunggalnya dengan pandangan tak percaya. Di dalam kemarahannya, pria tua itu melupakan satu hal: Mike adalah tiruan sempurna dari dirinya di masa muda—seorang pria Raharja yang akan melakukan kelicikan apa pun demi melindungi wanita yang dicintainya.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras. Kevin melangkah masuk dengan tergesa-gesa tanpa memedulikan ketegangan di dalam ruangan. Wajahnya tampak sangat panik.
"Mike, kita dalam masalah besar," bisik Kevin, suaranya cukup keras untuk didengar oleh semua orang. "Seseorang telah membocorkan dokumen medis aslimu dan kontrak pernikahanmu dengan Anita ke media massa. Berita tentang *'Skandal Kebohongan Besar CEO Raharja Group'* baru saja naik menjadi topik utama di seluruh stasiun televisi dan media digital. Saham perusahaan... langsung terjun bebas sepuluh persen dalam waktu tiga puluh menit."
Alisha menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya lemas mendengar kabar tersebut. Badai yang selama ini mereka takuti akhirnya pecah dengan kekuatan penuh, menghantam langsung ke jantung dinasti Raharja. Di tengah kekacauan itu, Mike hanya mengetatkan rahangnya, menggenggam tangan Alisha dengan sangat erat seolah ingin menegaskan bahwa apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah membiarkan dunia merebut ratunya kembali.