Zoya menikah bukan atas dasar cinta. Ia menerima perjodohan yang dilangsungkan orang tuanya.
Namun pria yang akan menjadi suaminya selingkuh tepat di hari pernikahannya yang telah sah secara agama dan hukum, ia melihat seorang wanita cantik dan seksi sedang bercumbu mesra dengan suaminya di gedung pernikahannya, tepat bawah pohon Sakura, Jepang
Meski belum ada ikatan cinta namun hatinya terasa perih merasa pernikahannya dikhianati.
Akankah Zoya dapat merebut hati suaminya, atau mereka harus bercerai saat itu juga ataukan mereka akan berbagi suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Kebaikan Edgar
Keluarga Edgar sangat baik, rupanya mereka tahu keadaan Ayah dari adikku yang saat itu menelepon ke Mansion, karena aku tidak langsung mengangkat ponselku saat dia telepon.
Satu kalimat yang terucap dari bibir Edgar, dia mendoakan kesembuhan Ayahku. Sepertinya tulus karena aku melihat senyum di wajahnya. Tidak seperti biasanya yang terlihat diam, kaku dan dingin.
Edgar menghampiriku dan berbisik, "Ku tunggu di luar,"
Aku pun pamit pada semuanya dan menyusul dirinya. Dia berdiri sedikit jauh dari lorong kamar. Setibanya aku di dekatnya, dia mencengkeram lenganku dan menyudutkan ke tembok.
Rahangnya berkedut, memperlihatkan ketegasan dan penekanan bahwa dia telah geram dengan apa yang aku lakukan.
"Aku paling tidak suka melihatmu membangkang, mengacuhkan diriku apalagi pergi dengan pria asing," begitulah perkataan yang ingin ia utarakan
"Kau tidak bersedia mengantarku kan? Apa aku salah jika aku turun dan meminta bantuan pada yang lain. Kau pikir siapa dirimu? Apa di pikiranmu hanya kau seorang yang bisa membantuku?" ucapku memberikan penjelasan
"Statusmu adalah istriku, jadi kau adalah milikku. Jika kulihat kau pergi dengan pria lain tanpa izin ku, aku akan memperlakukanmu dengan lebih kasar," ucap Edgar dan aku membalikkan perkataannya
"Untuk apa bersikap sebagai istri jika kau saja tidak pernah memperlakukan ku seperti istrimu. Aku tidak ingin berdebat. Jika bukan karena penyakit Ayah, mungkin aku akan meninggalkan mu sekarang," aku melepaskan cengkraman tangannya dan mendorongnya
Kemudian pergi dengan langkah pelan karena bagian bawah kita masih sakit.
Usai pembicaraan ku dengan Edgar, kedua orang tua Edgar pamit pergi. Mereka tidak ingin mengganggu jam istirahat ayahku. Mereka juga mengajakku untuk pulang bersama. Karena sejujurnya keluarga besar Edgar yang tidak bisa hadir kemarin, malam ini akan hadir ke mansion. Sehingga Edgar sebagai tuan rumah akan menjamu mereka dengan pesta.
Aku pamit pada Ayah dan adikku, dan menyuruhnya untuk terus mengabari keadaan Ayah hingga membaik.
Aku menarik napas panjang. Suatu hal yang tidak ku inginkan. Karena aku tidak berbahagia di dalamnya. Memanipulasi hati, seakan-akan ikut berbahagia. Aku butuh wajah yang baru yang menyimpan luka dan hanya memperlihatkan senyum kebahagiaan.
Bunga sakura yang tumbuh di halaman rumah sakit berjatuhan menghiasi jalanan, sangat cantik. Aku menyukai bunga sakura untuk itulah alasanku bekerja di Jepang.
Tapi, setiap aku memandangi bunga sakura yang terjatuh dari pohon. Bayangan yang menyakitkan itu selalu muncul. Edgar berciuman dengan wanita lain di hari pernikahan ku.
Menyakitkan, ketulusanku dengan menerimanya dibalas dengan dengan pengkhianatan. Sebenarnya, Edgar lah yang mengkhianati Julia.
Orang tua Edgar menaiki mobil yang berbeda, dan mereka telah pergi duluan. Sebelum aku menaiki mobil Edgar, aku melihat Julia masuk ke dalam rumah sakit. Namun tidak jelas apakah benar Julia atau hanya perasaanku karena aku tadi sedang membayangkan dirinya. Aku naik dengan malas dan dengan wajah jutek
Sepanjang perjalanan, kami diam. Seperti biasa tidak ada lagi didalam mobil. Aku juga tidak ingin membuka suara karena sudah pasti dia akan menyuruhku diam.
Tapi tiba-tiba, aku dikejutkan dengan suaranya yang memanggilku sangat lembut.
"Zoya,"
Aku menoleh dan dia pun menoleh satu detik setelah aku menoleh, karena dia sedang menyetir. Aku diam tidak menjawab
"Kau terlihat cantik dengan dress itu," pujinya membuat wajahku memerah seketika.
Tuluskah pujiannya ini? Atau hanya untuk mencairkan suasana hatiku?
"Thanks," jawabku sedikit malu, mungkin saat ini pipiku sedang memerah.
Aku sendiri tidak tahu kenapa pujiannya membuat aku sedikit senang. Apa aku sudah mulai mencintainya. Tapi kenapa aku mencintai pria yang kejam sepertinya.
Aku menoleh ke luar jendela menutupi rasa senang walau hanya 2 persen. Edgar kembali menyetir dan tidak bicara lagi setelah itu.
Jarak rumah sakit dan Mansion tidak terlalu jauh. Beberapa menit kami telah tiba disana. Ku lihat mobilku telah terparkir dihalaman mansion. Syukurlah dengan begitu aku tidak akan merepotkan dirinya lagi.
Aku turun dari mobilnya setelah ia menepikan mobilnya. Lalu ku dekati mobilku yang selalu ku rindukan.
Tapi apakah ini benar mobilku? Kenapa tidak ada goresan di samping mobilku.
"Taeda sudah membawa mobilmu ke bengkel. Semuanya telah di servis dan beberapa di ganti. Ini kunci mu," ucap Edgar melempar kunci mobilku begitu saja.
Taeda adalah asisten laki-lakinya di mansion ini. Orang kepercayaannya asal Jepang dan paling sering direpotkan oleh Edgar.
"Terimakasih," ucapku sekali lagi.
Pasti ada sesuatu dari sikap baiknya ini. Tak ingin ambil pusing, aku segera masuk menyusul yang lain. Perutku sudah sangat sakit menahan lapar, anggap saja sedang puasa.
Sudah pukul sepuluh pagi, dan aku belum juga sarapan. Berharap di meja makan ada sesuatu yang bisa dimakan.
Kedua orang tua Edgar ada di ruang tengah, ketika aku ingin duduk menemani mereka. Edgar memanggilku dari arah ruang makan.
"Kau makanlah dulu Zoya, kami sudah sarapan tadi," ucap Mamanya Edgar
"Kalau begitu Zoya pamit makan dulu ya tante," ucapku dan membuatnya mengerutkan kening
"Panggil aku Mama, no tante okay sayang," ucap Mamanya Edgar
"Baiklah Mama," sahutku mengulang dengan sedikit canggung
Aku pun langsung menuju ruang makan, disana sudah tersedia beberapa makanan. Yang paling membuatku speechless adalah Edgar mengambilkan makanan dan menaruhnya di piringku.
"Duduklah dan makan sarapan mu," sahut Edgar setelah itu ia makan dengan mulut yang besar.
"Hmm Thank you," Ucapku lagi
Hari ini dia berlaku baik, menolongku saat aku ingin tenggelam, memberiku dress bermerek mahal, mendoakan kesehatan Ayahku, memuji penampilanku, dan membawa mobilku ke Mansionnya sekaligus memperbaikinya. Dan terakhir menyiapkan makanan untukku. Ada yang salah dengan otaknya.
Baru dua suapan besar setelah itu ia pergi meninggalkan meja makan dan berkata padaku
"Waktumu 20 menit, ku tunggu di kantor. Kalau terlambat, lihat saja akibatnya,"
Aku terbatuk mendengarnya, ku pikir aku tak perlu datang ke kantornya karena aku tak memiliki pekerjaan apapun. Dan terlebih, aku sedang sakit karena ulahnya. Hemm suami yang antik.
banyak typo di novel ini. dan aku merasa novel ini ditamatkan dengan sangat terburu buru.
terima kasih banyak, kk author.