NovelToon NovelToon
I Hired A Billionaire

I Hired A Billionaire

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Patahhati
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Alceena Brox Riccardo (26 tahun), seorang diva papan atas Hollywood, mendapati dunianya runtuh saat kekasihnya mengirimkan undangan pernikahan tanpa kata putus.

Terluka dan menolak terlihat malang oleh paparazzi, ego Alceena memberontak.

Di sebuah bar eksklusif di Los Angeles, dia meluapkan amarahnya dan secara impulsif mengajak seorang pria asing yang dikiranya gigolo untuk menjadi pria simpanannya.

Pria itu adalah Xander Hayes-Stone (25 tahun), seorang pemuda kaya asal Chicago yang juga sedang melarikan diri dari pengkhianatan cinta.

Malam di penthouse mewah Alceena menjadi awal dari ikatan kontrak yang rumit di antara mereka.

Berawal dari pelampiasan dendam dan ego badai dua manusia yang patah hati, hubungan tanpa status ini perlahan menyeret mereka ke dalam pusaran, rahasia masa lalu, dan takdir baru yang tak terduga di bawah gemerlapnya kota Los Angeles.

~~~~~~

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#10

Air mata yang sempat membasahi pipi dua anak manusia itu kini telah mengering, tersapu oleh angin malam yang berembus tenang di luar jendela penthouse.

Panggung sandiwara perpisahan di sudut pantry tadi sore rupanya tidak hanya meninggalkan keheningan, melainkan sebuah ruang kosong yang baru di dalam dada mereka—ruang yang tidak lagi sesak oleh racun masa lalu, melainkan mulai terisi oleh udara keikhlasan yang segar.

Waktu bergerak lambat merayap menuju pukul tujuh malam.

Perut Alceena berbunyi pelan, memecah keheningan yang sempat membekukan atmosfer dapur bersih tersebut.

"Kau dengar itu?" tanya Alceena, matanya berkedip jenaka sambil menunjuk ke arah perutnya sendiri.

"Itu adalah suara protes dari lambung seorang diva. Dan sebagai pria yang katanya mau kuhidupi seminggu ke depan, kau punya kewajiban moral untuk memastikan majikanmu tidak mati kelaparan."

Untuk pertama kalinya sejak dua minggu menginjakkan kaki di Los Angeles, sepasang sudut bibir Xander Hayes-Stone terangkat.

Bukan lagi sebuah senyuman miring yang sinis atau penuh ejekan, melainkan sebuah senyuman tulus yang sangat tampan.

Garis-garis tegas di wajah maskulinnya mendadak melembut, memancarkan pesona ketenangan yang membuat Alceena sempat tertegun selama beberapa detik.

Omelan dan kelakuan spontan gadis di depannya ini perlahan-lahan mulai menjadi obat penawar alami yang efektif bagi jiwanya.

"Baiklah, Nona Riccardo," sahut Xander, suaranya yang berat kini terdengar jauh lebih ringan dan bersahabat.

"Menu apa yang ingin kau makan malam ini? Aku tidak menjamin rasanya setara dengan restoran bintang lima, tapi setidaknya aku bisa memastikan makanan ini layak masuk ke dalam perut seorang diva gila sepertimu."

"Hei! Siapa yang kau sebut gila?" protes Alceena dengan nada cerewetnya yang khas, tangannya langsung bertolak pinggang.

"Aku ini ekspresif, tahu! Orang-orang dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi seperti aku memang butuh meluapkan perasaan. Daripada dipendam lalu muntah di wastafel seperti seseorang?"

Xander tertawa kecil, sebuah tawa pendek yang lolos begitu saja dari tenggorokannya. Mendengar lelucon dan sindiran santai Alceena tentang kejadian memalukannya tadi sore, Xander tidak merasa tersinggung.

Dia justru merasa dihargai sebagai manusia biasa yang punya kelemahan, bukan sebagai sosok Stone yang sempurna dan tanpa cela seperti tuntutan keluarganya di Chicago.

Mereka pun memulai sesi masak makan malam bersama. Alceena kembali membuka kulkas besarnya, mengeluarkan beberapa potong daging steak Wagyu premium, kentang, buncis, dan sebotol saus rahasia.

Dapur modern yang biasanya sepi dan dingin itu mendadak berubah menjadi panggung baru yang hangat.

Xander mengambil alih tugas memotong daging dan sayuran. Dengan tangannya yang kekar dan jemarinya yang kokoh, dia memegang pisau dapur dengan sangat cekatan.

Sementara itu, Alceena bertugas mencuci sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu di sampingnya.

"Kau tahu, Xander," ucap Alceena sambil membilas buncis di bawah aliran air keran.

"Banyak orang di duniaku berpikir bahwa menjadi dewasa itu artinya kita harus bisa menyembunyikan semua rasa sakit di balik senyuman palsu. Kita dipaksa memakai topeng setiap hari agar terlihat kuat, sukses, dan tanpa celah."

Xander mengangguk pelan, pisau dapurnya memotong kentang dengan ritme yang teratur. "Di duniaku juga begitu. Silsilah keluarga, nama baik, dan gengsi sering kali diletakkan di atas kebahagiaan sejati. Kita diajarkan untuk mempertahankan sesuatu hanya karena takut dibilang gagal oleh orang lain."

"Tapi itu salah besar, bukan?" Alceena menoleh, menatap profil samping wajah Xander yang tampak fokus.

"Malam ini aku belajar satu hal darimu, dan mungkin dari diriku sendiri. Menjadi dewasa yang sesungguhnya itu bukan tentang seberapa kuat kita menahan beban, tapi tentang seberapa berani kita mengakui bahwa kita sedang hancur. Berani menangis, berani muntah karena stres, dan berani berkata, 'Aku tidak sanggup lagi menggenggam ini'."

Xander menghentikan gerakan pisaunya sejenak. Dia menatap potongan kentang di atas talenan, lalu merenungkan kata-kata Alceena.

Kehidupan sering kali menuntut manusia untuk menjadi pahlawan bagi ekspektasi orang lain.

Kita dipaksa bertahan dalam hubungan yang beracun, pekerjaan yang membunuh jiwa, atau ambisi terlarang yang merusak kedamaian, hanya karena kita takut menghadapi kata 'selesai'.

Padahal, menerima kekalahan dan memilih untuk mundur adalah salah satu bentuk keberanian tertinggi.

Itu adalah tanda bahwa kita mulai menyayangi diri sendiri, tanda bahwa kita sadar bahwa kapasitas hati kita terbatas dan kita berhak untuk bahagia tanpa perlu menyiksa diri demi ego yang semu.

"Kau benar," jawab Xander lembut, dia kembali melanjutkan kegiatannya. Senyuman tipis masih bertahan di sudut bibirnya.

"Melepaskan sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk kita adalah bentuk kedewasaan spiritual. Itu artinya kita menundukkan ego kita di bawah ketetapan yang lebih besar. Kita belajar percaya bahwa skenario Tuhan tidak pernah salah, meskipun pada awalnya kita harus melewati babak yang penuh dengan air mata."

Alceena tersenyum, merasa ada frekuensi jiwa yang sama yang sedang bergetar di antara mereka.

Dia mengambil wajan, meletakkannya di atas kompor induksi, lalu memasukkan sebongkah mentega.

Suara desisan mentega yang meleleh perlahan berbaur dengan aroma wangi yang mulai menguar, menciptakan atmosfer domestik yang menenangkan.

"Tuhan itu adil, Xander," lanjut Alceena sambil memasukkan potongan daging ke dalam wajan.

"Dia mematahkan hati kita agar kita berhenti menyembah harapan yang salah. Kadang, kita begitu keras kepala meminta sesuatu yang jelas-jelas akan menghancurkan kita di masa depan. Rasa sakit yang kita rasakan saat ini sebenarnya adalah pelindung, sebuah cara ekstrem dari langit untuk membelokkan arah hidup kita menuju orang dan takdir yang jauh lebih tepat."

Xander memasukkan potongan kentang dan buncis ke dalam panci pengukus di sebelah wajan Alceena.

Posisi mereka yang berdekatan membuat lengan mereka sesekali bersentuhan, menyalurkan kehangatan fisik yang kini terasa tulus, bukan lagi didorong oleh ketegangan seksual yang liar seperti semalam.

Xander menatap Alceena, wajah gadis itu tampak bersinar di bawah temaram lampu dapur, ditambah dengan ekspresi cerewetnya yang kini berubah menjadi untaian nasehat bijak.

"Lalu bagaimana denganmu, Alceena? Kau terus menasehatiku sejak tadi, tapi bagaimana dengan hatimu sendiri? Kau bilang mantan kekasihmu mengirimkan undangan pernikahan. Apa kau sudah benar-benar merelakannya?"

Alceena terdiam sejenak, membalik potongan daging Wagyu di dalam wajan dengan capitan besi. Dia mengembuskan napas perlahan, menatap asap tipis yang membubung dari masakan mereka.

"Secara manusiawi, aku bohong kalau kubilang aku tidak sakit hati," aku Alceena jujur.

"Harga diriku terluka parah. Tapi, aku menolak untuk menjadi korban yang malang. Aku menyadari satu hal: Aldridge memilih jalang pribadinya bukan karena aku kurang cantik atau kurang sukses. Dia memilih wanita itu karena kapasitas dirinya memang hanya sampai di sana. Manusia akan selalu tertarik pada hal-hal yang setara dengan level jiwanya. Jika dia memilih pergi, artinya Tuhan sedang membersihkan hidupku dari benalu yang menyamar sebagai jodoh."

Xander tersenyum lagi, kali ini senyumannya melebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi.

Lelucon Alceena yang menyebut saingannya dengan istilah blak-blakan namun realistis itu benar-benar menghibur hatinya.

"Kau memiliki cara pandang yang sangat unik untuk seorang diva," puji Xander tulus.

"Tentu saja! Makanya aku sukses," sahut Alceena bangga, menaikkan dagunya dengan percaya diri.

"Dengar ya, Xander. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan meratapi orang yang tidak menghargai keberadaan kita. Ketika seseorang melangkah keluar dari hidupmu, tutup pintunya, kunci, dan kalau perlu ganti kode aksesnya! Jangan biarkan mereka memiliki kesempatan untuk kembali dan mengacaukan rumah yang sedang kau bangun ulang dengan susah payah."

Nasehat berharga itu meresap dalam ke sanubari Xander. Dia menyadari bahwa kedewasaan bukan berarti kita tidak boleh merasakan sakit, melainkan bagaimana kita merespons rasa sakit itu dengan bijaksana.

Menangislah jika ingin menangis, muntahlah jika racun di dalam dada sudah terlalu pekat, namun setelah itu, basuh wajahmu, tegakkan kembali bahumu, dan melangkahlah maju. Jangan biarkan masa lalu menjadi jangkar yang menenggelamkan kapal masa depanmu.

Masakan mereka akhirnya matang.

Xander membantu menata makanan di atas piring, sementara Alceena menyiapkan air putih hangat untuk mereka berdua—sepakat untuk menjauhi alkohol untuk malam ini demi kesehatan lambung Xander.

Mereka duduk berhadapan kembali di meja makan yang sama dengan tadi pagi.

Namun kali ini, tidak ada lagi ketegangan, tidak ada lagi kartu hitam yang dilempar sebagai bentuk penghinaan, dan tidak ada lagi air mata keputusasaan.

Yang ada hanyalah dua orang dewasa yang duduk bersama, menikmati hasil kerja keras mereka di dapur kecil, ditemani oleh senyuman Xander yang terus mengembang setiap kali Alceena meluncurkan lelucon-lelucon untuk yang menghidupkan suasana.

Di bawah temaram lampu penthouse Los Angeles, proses penyembuhan yang hakiki dari sebuah penerimaan takdir perlahan-lahan mulai bekerja di dalam jiwa mereka yang baru.

...****************...

Happy reading 🫶🏻

1
winpar
cerita ini seru bgt kk 🥰
Ros 🌷🦋: Huhuhu Ma'aciww banget ka🫶🥰
total 1 replies
ida wati
Xander said : hei hei hei kutil dino......akulah yg sudah unboxing Alceena jd singkirkan gossip murahanmu itu 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkkw🤣🤭
total 3 replies
ida wati
dah lah cari aman aja daripada daripada yekaannn 😄😄😄😄😄
Ros 🌷🦋: iya dong🤭
total 1 replies
ida wati
HA HA HA HA HA #ketawajahat
ida wati
mana ada adegan pemersatu bangsa cuma 10 menit 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: hahaha lawak 🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
si modus 🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan author 🤣
total 1 replies
ida wati
Xander ini manusia atau semacam tembok berlin? 😄🤣
Ros 🌷🦋: Haha Ngakak saya🤣
total 1 replies
ida wati
kalo pilem ultramen pasti ada sinar laser dari mata nya 🤣🤣🤣
♔, Seleneᥫ᭡𐂅◇☆, ꧁
Luar biasa
ida wati
wkwkwkwk akoh kira udh 20an 🤣 ternyatahh mabelastaon 🤣
Ros 🌷🦋: Haha berondong 🤣
total 1 replies
ida wati
kurang 2 kata mutlak nya thor 🤣
Ros 🌷🦋: typo kak🤭🤣
total 1 replies
ida wati
waduh basah kuyup 🤣 lanjutkan 🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita xander sama alceena seruu😍
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh cerita xander😍
Ros 🌷🦋: Happy reading kak 🫶
total 1 replies
ida wati
ENG ING ENG.......DUARRRR 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkkwkw🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Thor,, cerita Mrs. Only his mana,, kok gk ketemu??
Ros 🌷🦋: Sudah saya hapus Kak😭 nanti habis Tamat Cerita Ini baru tak buat ulang kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Lhaaa,, yg jebol gawang aja xander,, punya ank dr mna? Pede banget anda tuan angrybet,, bakal di ketawain keras ama bang xander🤣🤣
Ros 🌷🦋: Angry bird 😭😭
total 1 replies
durrotul aimmsh
wah...bakal ada pertarungan sengit ini
Ros 🌷🦋: heheh Ma'aciww komentarnya kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
haduhhh Alceena sm Xander yg terancam akoh yg deg2an 🤣🤣🤣 gamau liat ahh 🫣🫣🫣
Ros 🌷🦋: wkkwwk siapkan Cemilan 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!