Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sinar Baru di Ruang Pameran
Pagi yang cerah di awal pekan membawa atmosfer yang sepenuhnya baru di kediaman Arka dan Naura. Sinar matahari yang menembus celah gorden tidak lagi mendapati kecanggungan yang menggantung di udara.
Di atas ranjang king size itu, Naura terbangun dengan posisi kepala yang bersandar nyaman di dada bidang Arka, sementara lengan kekar suaminya melingkar protektif di sekeliling pinggangnya.
Batasan fisik yang selama berminggu-minggu menjadi pembatas tak kasat mata kini telah lebur sepenuhnya, menyisakan kehangatan yang mengalir konstan di antara dua insan yang telah saling menumpahkan isi hati.
Arka membuka matanya perlahan ketika merasakan pergerakan kecil dari istrinya. Seulas senyum tulus yang sangat jarang diperlihatkan kepada dunia luar langsung terukir di wajah tampannya. Ia mengecup ubun-ubun Naura dengan lembut sebelum mempererat dekapannya sejenak.
"Selamat pagi, Istriku," bisik Arka, suara bangun tidurnya terdengar serak namun begitu seksi di rungu Naura.
Wajah Naura seketika merona merah muda. Ia mendongak, menatap mata elang Arka yang kini dipenuhi binar kasih sayang yang meluap-luap. "Selamat pagi, Kak Arka. Kakak tidak kesiangan? Hari ini ada jadwal ke kantor pusat, kan?"
Arka terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada bidang yang menjadi sandaran Naura. "Bahkan jika aku melewatkan satu hari kerja demi bersamamu, perusahaan tidak akan bangkrut, Naura. Tapi, hari ini memang ada hal penting yang harus kita lakukan bersama. Jadi, mari kita bersiap."
Hal penting yang dimaksud Arka ternyata bukan sekadar urusan kantor biasa. Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang dipenuhi canda tawa kecil, Arka meminta Naura untuk mengenakan pakaian terbaiknya. Pukul sepuluh pagi, mobil sedan mewah mereka membelah jalanan protokol Jakarta menuju sebuah kawasan komersial elit di pusat kota.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan berarsitektur modern dengan dinding kaca besar. Di papan nama bagian depan, tertulis dengan huruf gotik yang elegan: "Pratama Creative Space". Tempat itu merupakan pusat galeri dan ruang pameran seni yang berada di bawah naungan anak perusahaan retail fashion milik Pratama Group.
Arka turun dari mobil dan dengan sigap membukakan pintu untuk Naura, menggandeng jemari lentik istrinya dengan erat saat mereka melangkah masuk melewati pintu kaca ganda. Di dalam ruangan berlantai marmer putih itu, Evan sudah berdiri menunggu bersama beberapa orang tim kreatif yang memegang papan jalan dan perangkat tablet.
"Selamat pagi, Pak Arka, Mbak Naura!" sapa Evan dengan energinya yang selalu meluap-luap. "Selamat datang di calon medan pertempuran kita dua bulan lagi."
Naura menatap sekeliling ruangan yang luas dan megah itu dengan pandangan takjub. Pencahayaan lampu sorot yang estetis, partisi-partisi pameran yang minimalis, serta ruang tengah yang sangat luas yang dirancang khusus untuk peragaan busana (runway) skala kecil.
"Kak Arka ... tempat apa ini?" tanya Naura lirih, menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bertanya-tangan.
Arka menghentikan langkahnya, berbalik menghadap Naura dan menatapnya dengan keseriusan yang sarat akan dukungan mutlak. "Ini adalah tempat di mana koleksi pakaian pertamamu akan diluncurkan ke publik, Naura. Dua bulan dari sekarang, tujuh sampel yang kemarin dievaluasi bersama Evan akan diproduksi dalam jumlah terbatas dan dipamerkan di sini dalam sebuah acara eksklusif Private Preview."
Naura membekap mulutnya sendiri, sepasang matanya melebar sempurna karena rasa tidak percaya yang teramat sangat. "Tapi Kak ... apakah ini tidak terlalu megah? Aku ... aku bahkan belum memiliki nama merek sendiri. Aku takut aku akan mengecewakan nama besar Pratama Group."
Sebelum rasa minder Naura kembali mengambil alih, Arka menangkup kedua bahu istrinya lembut namun tegas. "Naura, dengarkan aku. Bakatmu tidak pernah mengecewakan. Evan dan timnya sudah melakukan riset pasar kecil-kecilan menggunakan sampel fotomu kemarin ke beberapa kurator fashion internal, dan tanggapannya sangat luar biasa. Mereka menyukai kesederhanaan desainmu yang memiliki karakter kuat. Kamu tidak perlu mencemaskan nama besar keluargaku; panggung ini ada karena karya jahitmu memang layak mendapatkannya."
Evan ikut melangkah mendekat, mengangguk setuju dengan ucapan bosnya. "Betul sekali, Mbak Naura. Tim kami bahkan sudah menyiapkan beberapa usulan nama merek dagang berdasarkan diskusi kita minggu lalu. Bagaimana kalau kita menggunakan nama NAURA saja sebagai identitas utama? Sederhana, anggun, dan sangat mencerminkan personaliti Mbak Naura sendiri."
Mendengar penjelasan yang begitu terstruktur dari Arka dan Evan, benteng keraguan di hati Naura runtuh seketika, digantikan oleh letupan semangat baru yang membara di dalam dadanya. Ia menatap ke arah ruang tengah galeri, membayangkan bagaimana gaun-gaun rancangannya nanti akan tergantung anggun di bawah lampu sorot tersebut.
"Baiklah, Kak. Aku akan berusaha sekuat tenaga. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang sudah Kak Arka berikan," ujar Naura dengan nada suara yang kini dipenuhi keyakinan yang mantap.
Selama beberapa jam berikutnya, Naura tenggelam dalam diskusi teknis bersama Evan dan tim tata ruang galeri. Mereka membahas mengenai posisi manekin, pemilihan latar belakang musik untuk acara preview, hingga daftar tamu undangan terbatas yang terdiri dari para pengamat fashion, jurnalis gaya hidup, dan beberapa klien VIP Pratama Group.
Arka memilih untuk tidak terlalu banyak mengintervensi proses kreatif tersebut. Pria tegap itu berdiri agak jauh di dekat pilar kaca, melipat kedua tangannya di depan dada seraya memperhatikan bagaimana Naura dengan lincah menjelaskan konsep pencahayaan yang ia inginkan agar selaras dengan warna-warna bumi (earth tone) dari koleksi pakaiannya.
Ada rasa bangga yang luar biasa yang membuncah di dalam dada Arka melihat wanitanya kini tampak begitu berdaya dan memancarkan aura bintang yang alami.
Pukul dua siang, pertemuan itu akhirnya selesai. Setelah berpamitan dengan Evan dan timnya, Arka membawa Naura menuju sebuah restoran bernuansa taman yang terletak tidak jauh dari galeri untuk menikmati makan siang yang terlambat.
Suasana restoran begitu tenang dengan gemercik air mancur buatan di sudut ruangan. Setelah memesan makanan, Naura menatap Arka yang duduk di hadapannya dengan tatapan yang dipenuhi rasa kagum dan cinta yang mendalam.
"Terima kasih banyak ya, Kak Arka," ucap Naura tulus, jemarinya bergerak di atas meja untuk menyentuh punggung tangan suaminya. "Semua yang Kakak lakukan untukku hari ini ... rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan. Kadang aku takut kalau aku tiba-tiba terbangun dan semua ini hanya mimpi."
Arka membalikkan telapak tangannya, mengunci jemari lentik Naura di dalam genggamannya yang besar dan hangat. "Ini bukan mimpi, Naura. Ini adalah realitas yang pantas kamu dapatkan setelah semua badai yang kamu lalui di masa lalu.
Dan aku akan memastikan bahwa hari-hari ke depan akan jauh lebih indah dari hari ini."
Pertukaran senyum manis di antara mereka mendadak terhenti ketika sebuah langkah kaki yang anggun dan teratur mendekati meja mereka. Dari arah pintu masuk restoran, muncul sosok Sofia Pratama,ibu kandung Arka. Wanita paruh baya itu mengenakan setelan blazer sutra berwarna biru tua dengan kacamata hitam yang bertengger mewah di wajahnya yang terawat.
Naura secara refleks menegang di kursinya, sisa ketakutan dari intimidasi makan malam keluarga dua minggu lalu sempat berkelebat di kepalanya. Arka dengan sigap mengeratkan genggaman tangannya di jemari Naura, memberikan sinyal ketenangan yang instan.
"Ibu?" Arka menyapa ibunya dengan nada suara yang datar namun tetap sopan saat Sofia berdiri di samping meja mereka.
Sofia melepaskan kacamata hitamnya, menatap Arka dan Naura bergantian. Berbeda dari biasanya yang selalu memancarkan aura dingin dan penilaian yang ketat, kali ini gurat wajah Sofia tampak jauh lebih melunak, terutama setelah konfrontasi keras dengan suaminya, Pak Baskoro, di ruang kerja malam itu.
"Arka, Naura," sapa Sofia, suaranya terdengar lebih tenang dan tidak lagi sarat akan nada sinis protokoler. Ia beralih menatap Naura yang sedang menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat. "Boleh Ibu ikut bergabung makan siang sebentar? Ada hal yang ingin Ibu sampaikan."
Arka melirik ke arah Naura, dan setelah melihat anggukan kecil yang penuh penerimaan dari istrinya, Arka menarik sebuah kursi kosong di sampingnya. "Silakan, Ibu."
Setelah pelayan mencatatkan pesanan minuman untuk Sofia, wanita paruh baya itu melipat tangannya di atas meja. Ia menatap Naura lurus-lurus, membuat suasana di sekitar meja sempat kembali sunyi selama beberapa saat.
"Naura," panggil Sofia lembut. "Ibu baru saja kembali dari kantor pusat Pratama Group dan tidak sengaja mendengar laporan dari Evan mengenai rencana peluncuran merek busanamu di Pratama Creative Space dua bulan lagi."
Naura menahan napasnya sejenak, bersiap jika ibu mertuanya itu kembali melontarkan kalimat keberatan atau menganggap proyek ini sebagai pemborosan uang perusahaan.
Namun, kalimat yang keluar dari bibir Sofia berikutnya justru membuat Naura dan bahkan Arka sempat tertegun.
"Ibu sudah melihat beberapa salinan sketsa yang dibawa oleh tim Evan pagi tadi," lanjut Sofia, seulas senyuman tipis yang tulus sebuah ekspresi yang sangat langka dari sang nyonya besar akhirnya muncul di wajahnya. "Dan harus Ibu akui, desainmu sangat luar biasa, Naura. Kamu memiliki cita rasa kelas atas yang alami dalam hal memadukan kesederhanaan dan keanggunan. Ibu sangat terkesan."
Sofia mengulurkan tangan kanannya yang dihiasi cincin mutiara, menyentuh pergelangan tangan Naura dengan kelembutan seorang ibu yang belum pernah Naura rasakan sebelumnya dari wanita itu. "Maafkan atas sikap Ibu dan beberapa anggota keluarga yang lain saat makan malam waktu itu. Ibu terlalu buta oleh standar sosial konvensional hingga sempat meragukan kualitas dirimu. Tapi melihat bagaimana kamu bisa bersikap dewasa menghadapi Clarissa kemarin, dan bagaimana kamu memperjuangkan mimpimu hari ini ... Ibu sadar bahwa Arka tidak salah memilih istri. Kamu adalah menantu yang tepat untuk keluarga Pratama."
Air mata haru seketika menggenang di pelupuk mata indah Naura. Pengakuan dan permintaan maaf yang tulus dari Sofia terasa seperti kepingan puzzle terakhir yang melengkapi kebahagiaannya. Segala rasa minder, ketakutan, dan penolakan dari lingkungan sekitar kini telah sepenuhnya sirna.
"Terima kasih banyak, Ibu," jawab Naura dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan haru. "Pujian dan restu dari Ibu ... adalah hal yang paling berharga bagiku untuk memulai langkah ini."
Arka yang menyaksikan momen rekonsiliasi itu merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dadanya. Ia menatap ibunya dengan tatapan penuh rasa terima kasih, lalu beralih menatap Naura dengan binar cinta yang semakin tak tergoyahkan.
Di bawah saksikan pendar matahari siang yang hangat, fondasi kehidupan baru mereka kini telah terbangun dengan sangat kokoh, bersih dari bayang-bayang masa lalu, dan siap menyongsong masa depan yang cerah.