NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Burung Hitam

Suara tembakan kembali menggema di dalam gudang sesaat setelah suara Ezra menghilang dari pengeras suara, kali ini bukan lagi ancaman atau permainan psikologis. Peluru benar-benar mulai menghantam dinding besi dari berbagai arah, percikan api beterbangan saat timah panas menghantam kontainer dan tiang penyangga.

Dor Dor Dor

"Tiarap!" teriak Viktor sambil menarik Rania ke belakang tumpukan peti kayu.

Bintang langsung mengangkat pistolnya, sedangkan Rangga bergerak ke sisi kanan gudang untuk membalas tembakan. Dalam hitungan detik, tempat itu berubah menjadi medan perang.

"Jumlah mereka?" tanya Bintang sambil menembak ke arah pintu masuk.

"Lebih banyak dari yang kita butuhkan!" teriak Rangga sambil berlindung di balik kontainer.

Arga mengumpat pelan ketika peluru menghantam besi tepat di samping kepalanya.

"Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku."

"Karena ada yang membocorkan lokasi ini!" bentak Leonard sambil menunduk menghindari rentetan peluru.

Tidak ada yang sempat membahas tuduhan itu. Situasi terlalu kacau, ledakan keras tiba-tiba mengguncang sisi kiri gudang.

Boom

Sebagian dinding besi roboh, debu langsung memenuhi udara.

"Sial!" umpat Damar sambil batuk.

Dari celah dinding yang hancur itu, puluhan pria bersenjata mulai masuk. Mereka semua mengenakan pakaian hitam dan di lengan mereka terdapat lambang burung hitam.

"Kita harus keluar sekarang!" bentak Septian sambil melepaskan beberapa tembakan beruntun.

"Ada jalan belakang!" teriak Viktor.

Semua orang mulai bergerak, namun saat mereka berlari menuju lorong pelarian suara tembakan kembali terdengar.

Dor

Salah satu anak buah Viktor langsung terjatuh, tubuhnya menghantam lantai beton dengan keras.

"Doni!" teriak Rangga.

Pria itu berusaha bangun, tetapi darah sudah mengalir dari dadanya.

"Pergi..." gumamnya lemah.

Rangga membeku sesaat.

"Ayo!" bentak Bintang sambil menarik lengannya.

Rangga menggertakkan gigi sebelum akhirnya mengikuti yang lain. Mereka tidak punya waktu, lorong sempit di belakang gudang mengarah ke area dermaga yang sudah lama tidak digunakan. Hujan kembali turun ketika mereka keluar dari bangunan tua itu, angin laut menerpa wajah mereka dengan keras.

"Tunggu!" teriak Rania sambil menoleh ke belakang.

"Ada apa?" tanya Bintang.

"Raka!"

Semua orang langsung berhenti, Raka tidak ada. Jantung Rania langsung berdegup semakin cepat.

"Tadi dia di belakangku!" serunya panik.

Bintang menoleh ke arah gudang, wajahnya langsung mengeras karena melihat sesuatu. Raka sedang diseret oleh dua pria bersenjata menuju kendaraan hitam yang terparkir tidak jauh dari sana.

"Raka!" teriak Rania.

Pria itu menoleh, tatapan mereka bertemu sesaat.

"Lari!" bentak Raka.

Kemudian salah satu pria menghantam kepalanya, tubuh Raka langsung terkulai.

"Brengsek!" umpat Bintang.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kembali ke arah gudang.

"Bintang!" teriak Viktor.

Namun pria itu tidak berhenti, hujan semakin deras saat Bintang menerobos rentetan tembakan. Peluru menghantam tanah dan peti-peti kayu di sekitarnya, tetapi ia terus bergerak maju.

"Aku bantu!" Rangga berlari di belakangnya.

"Kau tetap di sini!" bentak Viktor.

"Tidak!" balas Rangga sambil mengangkat pistolnya.

Rania hanya bisa menatap dengan napas memburu. Mobil hitam itu mulai bergerak, mesinnya meraung keras.

"Sial!" Bintang mempercepat langkah.

Ia berhasil mendekati kendaraan tersebut namun sebelum sempat mencapainya, seseorang tiba-tiba muncul dari samping. Pria itu mengenakan mantel hitam, wajahnya tertutup sebagian tetapi gerakannya sangat cepat.

Bugh

Pukulan keras menghantam wajah Bintang, pria itu terlempar beberapa langkah ke belakang.

"Bintang!" teriak Rania.

Rangga langsung mengarahkan pistol.

Dor Dor Dor

Namun pria misterius itu menghindari semua tembakan seolah sudah memperkirakan arah peluru.

"Siapa dia?" gumam Rangga.

Pria itu tidak menjawab, ia hanya berdiri di tengah hujan sambil memperhatikan mereka lalu tersenyum. Senyum yang membuat bulu kuduk semua orang meremang.

Mobil yang membawa Raka akhirnya menghilang di tengah hujan dan Bintang berdiri perlahan sambil menghapus darah di sudut bibirnya, ia menatap pria misterius itu tanpa berkedip.

"Kau siapa?" tanyanya dingin.

"Kau akan tahu nanti." Pria itu memiringkan kepala sedikit.

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu." Pria itu melangkah mundur. "Aku hanya ingin melihatmu dari dekat."

Jantung Bintang berdegup semakin keras, ada sesuatu yang aneh. Suara pria itu... terasa familiar, seolah pernah ia dengar sebelumnya.

"Sudah waktunya pergi," ujar pria itu sambil menoleh ke arah laut.

"Aku belum selesai!" bentak Bintang.

"Tapi aku sudah." Pria itu tersenyum sekali lagi.

Kemudian melompat ke dermaga bawah. Saat Bintang dan Rangga berlari mengejarnya, yang tersisa hanya suara mesin speedboat yang melaju menjauh di tengah hujan.

Suasana berubah suram, Raka berhasil dibawa pergi. Beberapa anak buah Viktor terluka dan mereka bahkan tidak tahu ke mana harus mencari. Rania berdiri mematung sambil menatap laut yang gelap, air hujan bercampur dengan air mata yang berusaha ia tahan.

"Kita akan menemukannya," ujar Bintang sambil berdiri di sampingnya.

"Kau yakin?" tanya Rania dengan suara pelan.

"Aku tidak tahu."

Rania menoleh kearah. Untuk pertama kalinya, Bintang terlihat benar-benar marah.

"Tapi siapa pun yang membawa Raka..." Bintang mengepalkan tangannya. "Akan menyesal telah melakukannya."

Belum sempat ada yang menjawab, ponsel Viktor kembali berdering. Semua orang langsung menoleh, Viktor melihat layar itu dan wajahnya langsung berubah pucat.

"Ada apa?" tanya Damar.

Viktor mengangkat layar ponselnya perlahan, di sana hanya ada satu foto. Foto Raka yang sedang terikat di sebuah kursi dan di belakangnya berdiri pria misterius yang baru saja melarikan diri, di bawah foto itu terdapat satu pesan singkat:

"Kalau ingin melihatnya hidup, datang sendirian, Bintang."

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!