Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Semua anak itu membulatkan matanya menatap sang ibu dnegan tatapan tidka percaya, bagaimana mungkin bunda mereka masuk kedatangan harimau seorang diri seperti itu.
"Aku tidak akan membiarkan bunda kesana, aku tidak akan biarkan kakek menyakiti bunda". Umar menggelengkan kepalanya tanda tidka setuju.
Sedangkan Ukasyah yang berada disampingnya mengepalkan tangannya, matanya memerah mengingat bagaimana kakeknya itu bertindak keterlaluan pada ibunya dulu dan dia tidak akan membiarkan bundanya mengalami hal yang sama.
"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakiti bunda, lebih baik bunda tidak usah kesana, aku tidak suka". Ucapnya dnegan anda datar dan dingin.
Matanya berkilat murka, menatap sang bunda dengan tajam sama persis dengan tatapan sang adik.
"Benar bunda, kami tidak akan membiarkan bunda kesana, kami tidak mau bunda kenapa-napa". Asma menggelengkan kepalanya karena tidak setuju begitu juga dengan anaknya yang lain.
Biah menghela nafas kemudian menatap semua anaknya dengan sendu sekaligus tatapan bersalah.
"Nak, bunda bukan ingin kesana karena keinginan bunda sendiri tapi bunda ingin melindungi kalian dengan batasan yang ada, bunda tidak mau kakek kalian bertindak nekat dengan mengambil Ukasyah dan Umar dengan paksa, kalian pasti tahu bagaimana kakek kalian jika menginginkan sesuatu".
Biah menarik nafasnya dalam-dalam, matanya mulai mengembun sambil menatap ketujuh anaknya dengan rasa sayang teramat besar.
"Bunda harus menghadapi kakek kalian sebelum dia bertindak, bunda akan kembali kemana tempat bunda harus berada, bunda akan memperjuangkan hak kalian untuk tetap bersama bunda, bunda akan pastikan itu".
Mereka langsung berhamburan memeluk sang bunda dnegan penuh rasa sayang sambil menangis.
"Tapi kami khawatir keselamatan bunda". Tangis Umar dan kelima adiknya itu pecah seketika.
Biah tersenyum lembut dan mengelus kepala mereka satu persatu dengan sayang.
"Kalian tenang saja nak, bunda akan membawa orang untuk menjaga bunda dan kalian akan bunda amankan ketempat yang tidak akan mereka tahu agar ketika bunda pergi mereka tidak mengambil kalian karena bunda tidak ada".
Mereka akhirnya mengangguk mengiyakan perkataan sang ibu walau terasa berat tapi mereka percaya kepada kemampuan sang ibu.
"Bunda hati-hati, kami do'akan bunda bisa mengatasinya". Ammar memeluk bundanya dengan penuh penghormatan.
"Iya nak, sekarang kalian tidur, besok kalian akan bunda asingkan dulu, bunda akan minta izin pada sekolah kalian besok".
Mereka mengangguk kemudian berjalan ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat sedangkan sikecil Aminah dia bawah ke kamarnya.
"Kalian tidak akan bisa mengambil anak-anakku, kalau kalian berani akan kubuat kalian semua menyesal terutama kamu ayah".
Keesokan harinya, rapat bulanan sekolah pun akhirnya terlaksana, para donatur dan semua yang bersinggungan oleh sekolah akhirnya datang.
Biah tampil anggun dengan jilbab bermerek dan membuat semua mata tertuju padanya, dia memang jarang berdandan karena dia berpikir suaminya meninggal jadi dia hanya berhias seadanya dan sekarang waktunya menunjukkan siapa dirinya.
Dia melangkah dengan penuh percaya diri, Aura dominan dan penuh wibawa kini dia bawah seperti ketika dia masih memimpin firma hukum yang dia miliki, sekarang dia akan kembali memperlihatkan dirinya.
Tidak ada yang tahu siapa dirinya kecuali orang-orang yang pernah bekerjasama dengan dirinya sebelum menikah dan memegang semua yang dia miliki dan sekarang dia kembali pada dirinya yang dulu.
Semua orang berkumpul langsung menoleh mendengar suara sepatu hak tinggi dan perempuan berjilbab sedikit besar tetapi modis dan elegan.
Mata mereka semua melebar melihat siapa yang datang, mereka tidak pernah melihat wanita yang 3 tahun ini tampil sederhana disekolah kini tampil elegan dan begitu memukau.
"Nyonya Hasan, silahkan duduk". Ucap pemilik sekolah.
Sedangkan Melisa mengepalkan tangannya menatap iri kearah Biah yang sangat cantik hari ini, dia baru saja sadar jika perempuan ini sangat cantik
" Terima kasih pak Mulyono". Jawabnya dengan anggun dan sopan.
"Sebelum saya memulai rapat ini, ada yang hendak saya katakan kepada kalian dan jangan memotong perkataan saya". Tegasnya kepada mereka semua.
Mereka hanya mengangguk dan merasa waspada karena kejadian dua hari lalu sangat heboh disekolah.
"Disamping saya, ini adalah Nyonya Siti Nurbiah Hasan, donatur utama sekolah dan sebentar lagi menjadi pemilik sekolah karena dia sudah membeli sekolah ini dari para pemegang saham, dia sudah memiliki 30 persen saham sebelumnya dan mendapatkan saham 45 persen dari beberapa donatur yang bersedia melepaskan sahamnya termasuk saya sendiri".
Mereka semua mematung terkecuali para pemegang saham yang sudah melepaskan sahamnya dan tahu akan diumumkan hari ini.
Mata Melisa membelalak tidak percaya, bagaimana bisa perempuan miskin yang dia anggap tidak punya apapun kini bisa menjadikan sekolah Swasta terbesar dan terkenal di negara ini menjadi miliknya seperti ini.
"Ini tidak mungkin kan pak, bagaimana bisa seperti itu? , bukankah dia orang miskin". Selanya dengan cepat dan tidak percaya.
Mendengar ucapan Melisa yang terusan meremehkan ornag lain, mereka semua menahan nafas sedangkan pemilik sekolah mendengus kesal mendengar ucapan itu, Biah hanya duduk tenang sambil melipat tangannya dengan anggun seolah tidak peduli dengan perkataan Melisa barusan
"Anda salah orang nyonya, ibu Nurbiah Hasan ini bukan orang biasa, beliau memiliki banyak usaha pertanian, peternakan dan juga Firma hukum terkenal di negara ini, beliau adalah pengacara sekaligus pengusaha, tapi kesehariannya memang sangat sederhana".
Pukulan telak menghantam Ego dan harga diri seorang Melisa, dia menggeleng keras menyangkal kenyataan dihadapannya itu, lututnya melemas mendengar apa yang dikatakan oleh pemilik sekolah.
Matanya bertatapan dengan mata Biah yang tersungging sinis dan penuh kemenangan, dia menahan nafasnya melihat itu. Dia tidak menyangka semuanya bisa seperti ini.
Sedangkan kepala sekolah menunduk dalam, dia mengutuk dirinya karena berani melakukan tindakan tidak adil pada Umar bersaudara kemaren dan tamatlah kini kariernya, dia yakin ibunda Umar sengaja melakukan semua ini untuk memberikan bukti pada mereka siapa dia sebenarnya.
Benar kata orang, jangan mengusik orang tenang dan biasa saja, dia bisa menjadi senjata mematikan yang tidak akan bisa kita duga jika dia marah.
"Dan masalah perundungan yang terjadi di sekolah ini Sayan serahkan kepada ibu Nur biah sebagai pemilik baru sekolah setelah ini saya dan pemilik saham yang telah terjual mengundurkan diri". Pak Mulyono kini meninggalkan tempat itu.
Didalam ruangan langsung terasa hening dan mencekam terutama para donatur yang anaknya kemaren terlibat dalam perundungan itu.
"Bagaimana kepala sekolah, anda sudah melakukan semua yang saya katakan dengan benar kemaren? ". Tanyanya dengan tajam dan dingin.
"Sudah Nyonya". Jawabnya dengan terbata-bata.
"Bagus kalau seperti itu, pastikan saja tidak ada lagi hal seperti ini disekolah saya, karena jika ada lagi, bahkan jika dia anak presiden sekalipun akan saya keluarkan".