Jalur mature book, yang masih piyik jangan masuk 📌🙏🏻
Kenzo yang di khianati kekasih di masa lalu membuat dia tak mau dekat dengan wanita manapun. mantan kekasihnya adalah ibu tirinya saat ini.
Bagi Kenzo cinta adalah omong kosong, cinta cuma bisa di buktikan di atas ranjang, setelah itu tak ada ikatan apapun.
Kenzo Eko Armanta saat ini adalah sosok dingin, arogan, cuek, semaunya dan kejam.
Tiba-tiba saat seorang gadis bernama Vinda yang menjadi sekretaris baru masuk ke lingkungan hidupnya, gadis itu bisa memporak-porandakan kebekuan Hati Kenzo, saat itu lah dia baru sadar jika cinta itu masih ada.
Kenzo bisa kembali bersikap manusiawi dan mempercayai cinta lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. kriteria sekretaris idaman
"Aish Kenzo jangan bengong, ayo ikuti dia cepet!" Kenzo menghentakkan kakinya saat sadar dari lamunannya. Dia berlari cepat menuju mobil AUDI R8 Sport putihnya dan membawa mobilnya melesat cepat mengikuti taksi yang ditumpangi Vinda.
Akhirnya dia berhasil mengikuti mobil itu sampai ke sebuah daerah pinggiran kota ini.
"Eum... jadi tempat tinggalnya di daerah sini?"
Bukan bermaksud apa-apa, dia cukup terkejut. Gadis secantik dan se*si itu ternyata tinggal di lingkungan yang terlihat kumuh dan minim fasilitas. Ya begitulah adanya.
Taksi itu berhenti di depan sebuah bangunan cukup sederhana, catnya sudah kusam dan terlihat seperti kos-kosan murah.
Kenzo meminggirkan mobil mewahnya lalu mengamati gerak-gerik gadis itu yang keluar dari taksi dan merapatkan jaketnya. Dia pun turun dari mobil, mengendap-endap mengikuti Vinda dari jarak aman.
Saat ini Kenzo benar-benar terlihat seperti penguntit. Dia memperhatikan bangunan tua tempat Vinda masuk. Sepertinya tempat itu memang tak layak huni. Namun tiba-tiba pria itu menyeringai senang saat menyadari bahwa gadis bernama Vinda itu ternyata hidup dalam kesulitan ekonomi.
Vinda menaiki tangga kosan yang berderit. Maklum, untuk sampai ke lantai tiga dia harus berjalan kaki, kakinya pasti sudah terasa pegal. Tapi karena sudah terbiasa, Vinda biasa saja dan tak merasa berat lagi.
Baru sampai di lantai dua, sebuah suara keras memanggil namanya.
"MBAK VINDA!!"
"Eoh?? Buk Leha?" Vinda menunduk gugup, jari lentiknya saling memilin. Benar saja, wanita itu langsung bertolak tangan di pinggang dengan wajah galak.
"Mana tunggakan uang kos empat bulan yang kamu janjikan hari ini?!" Vinda merogoh tas kecilnya. Sebenarnya dia tak punya uang sebanyak itu. Dia pun menyodorkan sejumlah uang yang ada padanya.
"Berapa ini?! Kok sedikit sekali?! Bukankah hutangmu itu satu setengah juta, Ini kok cuma tujuh ratus ribu?!"
Astaga... Vinda bingung harus menjawab apa. Tadi sore dia sudah rela menggadaikan anting emas peninggalan ibunya, tapi jumlahnya masih saja kurang.
"Baru ada segitu Bu... maaf ya..."
"Cih! Kalau terus-terusan begini lebih baik aku sewakan kamar itu pada orang lain, Kalian siap-siap saja pergi dari sini!"
Vinda menunduk sedih. Pergi? Kemana dia harus pergi? Ayahnya sedang sakit-sakitan dan butuh tempat tinggal.
"Ah begini Bu... saya janji sisanya delapan ratus ribu akan saya lunas minggu depan."
"Eum baiklah saya tunggu. Tapi kalau kamu masih ingkar janji lagi, aku akan tegas mengusir kalian! Argh menyebalkan, mau nya tinggal gratis saja!"
Sambil mendumel, wanita itu berjalan pergi. Vinda hanya bisa menghela napas panjang.
"Ah aku sekarang pengangguran sejak tadi siang... Dari mana dapat pinjaman delapan ratus ribu buat bayar sisa hutang ku?"
Vinda berjalan lemas menaiki tangga menuju lantai tiga. Dia butuh istirahat setelah seharian emosi, mulai dari dipecat kerja sampai bertemu pria sinting di cafe tadi.
"Ayah... apa sudah tidur?" Vinda tersenyum tipis saat membuka pintu. Dia melihat sang ayah telah lelap di atas kasur gulung di lantai.
"Ayah... jangan tidur sini, pindahlah ke kamar"
Ayahnya bergumam pelan dan mulai membuka matanya.
"Kamu sudah pulang nak?" Pak Agus menguap dan duduk di tempat tidur lipatnya.
"Maaf aku pulang telat. Ayah sudah makan belum?"
"Eum sudah kok tadi. Shela ke sini membawakan lauk, itu di meja masih ada sisa nya" Vinda mengangguk-angguk, mengambil air minum dari kulkas kecil mereka.
"Ayah tidur di kamar saja ya, ayo aku bantuin pindah" Vinda merapikan ranjang kecil di kamar mereka dan menyalakan kipas angin mini di atas meja.
"Tapi Vin... kamu kan yang selalu tidur di lantai setiap hari. Di situ kan dingin..."
"Nggak apa-apa Yah. Sekarang Ayah istirahat di ranjang saja ya" Vinda menutup gorden jendela, lalu bersiap mandi sambil mengulang rambut panjangnya.
"Argh bagaimana pun caranya aku harus dapat kerja lagi besok. Kami tak boleh sampai jadi gelandangan. Ya Tuhan tolong bantu aku..." Vinda berdoa dalam hati, bertekad besok pagi akan mengantarkan surat lamaran ke mana saja, semoga ada cafe atau restoran yang membutuhkan tenaganya.
"Selamat malam Bu...." Bu Leha yang baru saja akan masuk ke rumahnya di lantai bawah terkejut. Ada pria asing sangat tampan berdiri di depannya. Dari penampilannya saja sudah jelas dia orang kaya dan memakai barang bermerek.
"Ya ada apa? Tuan ini siapa ya?" Kenzo membungkuk tersenyum sopan, padahal sebenarnya malas sekali bersikap manis begini, apalagi pada orang yang terlihat miskin.
"Nama saya Kenzo. Tadi saya mengantar kekasih saya ke sini. Ibu pasti kenal sama Vinda kan? Maaf jika boleh tahu, berapa sih tunggakan sewa kosan pacar saya itu?"
Ternyata tadi Kenzo bersembunyi di dekat tangga dan mendengar seluruh percakapan mereka.
"Egh... sekitar 800 ribu lagi kenapa?"
"Ah hanya sebanyak itu ya..." Kenzo tersenyum remeh, merogoh saku jasnya dan menyodorkan segepok uang berwarna merah. Mata Bu Leha langsung melotot tak percaya.
"Ini lima juta. Anggap saja uang sewa Vinda untuk beberapa bulan ke depan sudah lunas. Bagaimana?"
"HAH?! Itu sewa kosan selama sepuluh bulan lho Pak...." Wanita tua itu langsung melongo kaget dan buru-buru membuka lebar pintu rumahnya.
"Silahkan masuk dulu Pak Kenzo! Kita bicara di dalam saja!" Tak butuh waktu lama, Bu Leha memberikan tanda terima lunas dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
"Ini tanda terimanya Pak, lunas sewanya untuk sepuluh bulan ke depan! Terima kasih banyak ya hehehe!"
"Baiklah. Jangan usir pacar saya lagi ya. Selamat malam Bu."
"Anda tenang saja hehehe! Saya jamin Vinda dan ayahnya betah tinggal di sini kok! Selamat malam Pak!" Kenzo tersenyum puas lalu berbalik keluar menuju mobilnya. Isi kepalanya sudah penuh dengan rencana jahilnya untuk besok pagi.
****
KEESOKAN PAGINYA.
Saat Vinda baru saja turun ke lantai bawah, dia berpapasan dengan Bu Leha. Gadis itu heran, wajah wanita tua itu terlihat sangat ramah dan senyum-senyum sendiri padahal biasanya galak. "Pagi Bu..."
"Pagi Mbak Vinda, Hehehe soal tunggakan kosan jangan dipikirkan lagi ya!"
Vinda makin bingung. Sejak dia tinggal di sini bersama ayahnya dari zaman sekolah, tak pernah sekali pun uang sewa digratiskan. Ini sangat aneh.
"Kenapa ya Bu~?"
"Tadi malam pacarmu yang kaya raya itu sudah melunasinya! Malah untuk sepuluh bulan ke depan sudah dia bayar lunas lho!"
"HAH APA?!!"
"Ya ampun kamu beruntung ya, pacarmu itu sayang dan perhatian banget sama kamu hehehe, dia kaya pula!" Vinda makin melongo mendengarnya. Tunggu... Pacar??
Sejak kapan?! Seingatnya setelah putus dengan Benny tiga tahun lalu, dia jomblo terus kok, Kapan memang dia punya pacar lagi?!
"Pacar?? Ibu apa tidak salah denger?"
"Salah apanya?! Namanya Pak Kenzo! Dia keren banget, tampan, terus langsung keluarin uang lima juta gitu aja! Dia kan pacarmu kan?"
"Apa? Ken.....zo~?"
"Iya benar itu namanya! Salam ya buat pacarmu Mbak!" Mata Vinda melotot lebar, wajahnya pucat pasi saking kagetnya.
"Pria sinting itu?!!"