"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Sementara itu, di sudut kantin yang paling lembap dan jarang terjamah oleh sinar matahari siang, atmosfer terasa berkali-kali lipat lebih dingin.
Di balik bayang-bayang pilar beton besar dekat gudang penyimpanan mangkok, Lala sedang melayang horizontal dengan kaki transparan yang ditekuk ke atas.
Wajahnya kusut masai, bibirnya maju beberapa senti, dan sepasang matanya terus-menerus menatap ke arah meja Arash dengan pandangan menahan kesal yang teramat sangat.
Dua minggu ini adalah masa-masa terkelam dalam sejarah kehidupan pasca-kematian Lala.
Gara-gara insiden semburan bubur ayam tempo hari, Arash benar-benar melaksanakan ancamannya. Lala dijatuhi hukuman "skorsing ghaib".
Dia dilarang keras mendekat dalam radius lima meter di sekitar Arash, tidak boleh memanggil namanya di depan umum, dan yang paling parah, tidak boleh ada interaksi atau tebar pesona sama sekali.
Jika Lala melanggar, Arash mengancam akan membacakan ayat kursi dengan niat membakar eksistensi ghaib Lala sampai hangus.
"Sumpah, dia jahat banget! Lebih jahat dari hantu manapun yang pernah aku kenal! Masa hantu secantik, seimut, dan selucu aku diginiin? Tega banget!" sungut Lala kesal, menepuk-nepuk angin di sekitarnya dengan dongkol.
"Kamu cemburu, ya?"
Sebuah suara bariton yang terdengar agak bindeng dan berat tiba-tiba mengalun tepat di sebelah telinga kiri Lala.
"Iyalah! Mas ganteng itu punya aku! Mau dia masih hidup, mau dia lagi makan soto, dia itu masa depan aku!" sahut Lala spontan tanpa menoleh, masih fokus memelototi Vella yang tadi berani-beraninya membuat pipi Arash disoraki teman-temanya.
Namun, sedetik kemudian, Lala tersadar sesuatu. Suara bindeng tadi bukan berasal dari geng kuntilanaknya.
Sosok di sebelahnya meringis ghaib, mengeluarkan suara 'hehehe' yang terdengar sangat kering.
"Kalian itu sudah mangu La. Kalau mangu nya Cuma beda agama, masih bisa di usahakan. Lah, mangu mu beda alam, kalian beda segalanya. Bahkan dia masih bernafas, kamu enggak!’’
Lala langsung mendengus sombong, menepuk dada transparannya dengan percaya diri.
"Aku akan sabar menunggu! Gak apa-apa sekarang mangu, aku bakal setia nungguin Mas Ganteng menua, terus mati, biar frekuensi kita sama dan gak mangu lagi! Kita nanti bisa pacaran sambil melayang di atas awan!"
Sosok di sebelahnya terkekeh geli, membuat dahan pohon fikus di dekat sudut kantin bergoyang pelan akibat resonansi energinya.
"Kelamaan, Lala. Menunggu manusia mati itu bisa puluhan tahun. Mending sama aku aja yang udah jelas-jelas satu frekuensi, sama-sama gak napak tanah."
Lala akhirnya menolehkan kepalanya perlahan, lalu sedetik kemudian wajahnya langsung mendatar, memancarkan tatapan yang teramat sinis dan penuh penghakiman.
"Kamu... mending ngaca deh. Kamu gak ada apa-apanya sama Mas Ganteng aku. Jauh banget, ibarat langit sama kerak bumi!"
"Lho, Lala, gini-gini dulunya pas masih jadi manusia, aku juga cowok ganteng! Banyak yang antre mau jadi pacarku, tahu!" bela sosok itu tidak mau kalah.
Lala kembali menatap sosok itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, atau lebih tepatnya, ujung simpul kain kafan bawah.
Sosok itu adalah seorang pocong.
Kain kafannya sudah sangat lusuh, berwarna kecokelatan penuh noda tanah kuburan dan bercak-bercak kehitaman.
Wajahnya setengah hancur, terkelupas memperlihatkan jaringan otot ghaib yang memar membusuk dan terus mengeluarkan darah segar yang menetes lambat.
Di bagian perutnya, robekan kain kafannya bahkan masih suka merembeskan cairan merah pekat yang sangat mengerikan.
Secara visual, pocong ini adalah definisi nyata dari teror malam jumat.
Sebenarnya, dalam lubuk hati ghaibnya, Lala agak ngeri melihat wujud sekutunya ini.
Tapi, selama dua minggu menjalani masa skorsing dan kesepian karena diabaikan Arash, pocong inilah yang terus-menerus membuntuti Lala, nangkring di langit-langit kantin, dan menemani Lala saat merana.
"Seganteng apapun kamu dulu, tapi yang kulihat sekarang... kamu sangat-sangat jauh dari kata good looking, tahu gak!" ketus Lala, sengaja menekankan kata good looking sambil menutup hidung ghaibnya, meskipun sebenarnya ruh tidak bisa mencium bau fisik.
"Wajah hancur begitu, kafan belum dironce, ih... bikin estetika hantu modern kayak aku jadi turun!"
‘’Jangan pocong shaming dong La,’’ Pocong itu mendengus pasrah, membuat ikatan tali di atas kepalanya bergoyang-goyang lucu.
"Nanti, kalau aku sudah ketemu salon ghoib di pasar setan lereng gunung, aku bakal dandan. Aku bakal berubah kembali ke setelan awal pas aku masih jadi model majalah lokal."
"Ya udah, kalau emang niat, sana cari salonnya sekarang! Kenapa kamu masih berkeliaran di sini, gelantungan di pojokan kantin sekolah? Bikin sepet mata aja!" usir Lala jengkel, melipat kedua tangannya di dada.
"Aku..." Pocong itu menjeda kalimatnya, wajahnya yang menyeramkan mendadak berubah agak melas.
"Haissshh! Lama-lama aku merinding sendiri temenan sama hantu kayak kamu. Udahlah, aku mau pulang aja ke atas lemari Mas Ganteng! Daripada di sini hati aku makin panas melihat Mas Arash digodain cewek-cewek OSIS!" seru Lala frustrasi.
"Lala, tunggu dulu! La! Jangan pergi dulu, aku belum selesai cerita!" panggil pocong itu sembari mencoba melompat mengejar.
Tapi Lala sudah terlanjur membalikkan badannya.
Dalam satu kibasan gaun hijaunya, hantu cegil itu terbang melesat menembus atap kantin, menghilang di balik gundukan awan siang, meninggalkan area sekolah demi menyelamatkan kesehatan mental ghaibnya yang cemburu.
Sementara itu, pocong itu menghentikan lompatannya.
Dia berdiri mematung di sudut kantin yang gelap, menatap langit-langit tempat Lala menghilang dengan pandangan sedih.
Tubuhnya bergetar pelan, dan setiap kali dia mencoba melompat melewati pagar pembatas belakang sekolah, sebuah dinding energi tak kasat mata selalu mementalkannya kembali ke dalam area gudang kantin.
Dia tidak bisa pergi ke mana-mana.
Pocong itu seolah terjebak, terikat oleh suatu kutukan atau penyesalan masa lalu yang membuatnya menjadi penghuni abadi yang tak bisa meninggalkan area sekolah tersebut.
‘Aku juga ingin bebas seperti mu, La.’’
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅