Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menenangkannya
Plak!
Telapak tangan Nowela mendarat di pipi Sintia. Tanpa peringatan, tanpa sepatah kata pun.
Sintia terhuyung setengah langkah, memegangi pipinya yang memanas karna tamparan.
Suasana di sekitar kos mendadak hening. Ada yang membelalak kaget, ada yang hanya melongo tak percaya melihat kejadian yang baru terjadi.
Sementara itu, Nowela masih berdiri di tempatnya, menatap Sintia dengan rahang mengeras dan sorot mata yang penuh kemarahan.
"Iya, Mak..... Ini udah sampai kok." ucap Asido yang sedang bertelepon dengan ibunya. Sepanjang perjalanan, ibunya aktif menanyakan keberadaan Asido sudah dimana. Ibunya harus memastikan kalau anaknya sampai dengan keadaan baik-baik saja.
"Omak mu ini memang gitu. Dari tadi repot nanya kau aja, Mang. Yah....Bapak mana tau ya kan....kamu udah dimana." celetuk bapaknya.
Asido tertawa sambil tetap berjalan membawa kopernya.
"Aku udah sampai ya, Mak....." Ucapnya.
Tiba-tiba tawa itu langsung hilang, ia berhenti melangkah begitu melihat kerumunan kecil di depannya.
"Mang??" panggil ibunya.
Asido terdiam melihat raut wajah Nowela yang tegang dan sorot matanya yang penuh emosi.
"Kenapa?" tanya bapak Asido pada istrinya.
"Ini, Asido tidak menjawab. Tiba-tiba diam." jelasnya.
Asido masih mendengar orangtuanya, "Mak.... Udah dulu ya, nanti kita lanjut lagi."
Tanpa menunggu jawaban Asido langsung mematikan telponnya.
"Kenapa sih??" tanya ibu Asido heran, "Mematikan telepon gitu aja......"
"Udah lah...... Mungkin cape atau hp nya lowbat......Yang penting kan udah sampai katanya tadi....." balas suaminya menenangkan.
Asido bisa menilai bahwa perempuan itu sedang tidak baik-baik saja. Rasa terkejut bercampur khawatir menyergapnya.
"Nowela......." panggilnya pelan.
Ia melangkah lebih cepat mendekat, khawatir sesuatu yang lebih buruk akan terjadi jika kemarahan Nowela terus memuncak.
"Eh..... Udah datang itu." bisik seorang dari mereka.
"Biasa, pahlawannya....." sahut yang lain.
Asido menarik tangan Nowela. Melihat itu, Sintia heran. Sebelumnya ia belum pernah melihat Asido. Karna ia baru datang ke kos itu.
"Siapa dia.....?" tanyanya dalam hati. Matanya mengamati Asido mulai dari bawah sampai ke atas.
"Nowel.....?" panggil Asido.
Nowela masih tetap menatap tajam Sintia dengan tangannya yang dikepalnya kuat. Asido sadar jika Nowela sedang tak baik-baik saja.
Asido melihat ke sekelilingnya, melihat orang-orang yang memperhatikan ke arah mereka.
"Bubar....!!!"teriaknya.
Orang-orang itu akhirnya bubar. Ada yang masuk ke kamarnya, ada yang lanjut pergi keluar.
Sementara Sintia dan temannya tadi masih tetap berdiri di dekat mereka. Asido dan Sintia kini saling menatap.
"Sintia......" ucap Sintia mendekat dan mengulurkan tangannya.
Asido membuang mukanya, dan kembali menatap Nowela.
"Aku antar ke kamar mu ya....." ucapnya lembut.
Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Nowela dengan hati-hati dan membantunya berjalan menjauh. Langkah mereka pelan menyusuri lorong kos yang mulai sepi.
Nowela tak menolak. Kepalanya tertunduk, sementara emosinya masih bergejolak. Ia membiarkan seseorang menuntunnya tanpa protes.
Asido meliriknya sesekali. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
"Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Asido kembali memastikan.
Namun, Nowela tetap diam. Ia hanya menggenggam lengan Asido lebih erat.
Asido membuka pintu kamar kos Nowela perlahan. Ia tidak perlu bertanya atau mencari-cari lagi. Ia sudah tau persis kamar mana yang ditempati perempuan itu.
Pintu berderit pelan saat didorong. Asido mempersilahkan Nowela masuk lebih dulu, lalu mengikutinya dadi belakang.
"Duduk dulu," ucapnya lembut sambil membantu Nowela duduk di tepi ranjang.
Nowela menuruti tanpa banyak bicara. Wajahnya masih muram, sementara matanya tampak lelah setelah luapan emosi yang baru saja terjadi.
Asido berdiri beberapa saat di dekat pintu, memperhatikannya dengan cemas. Ada banyak pertanyaan yang mau ia tanyakan. Tapi melihat kondisinya, Asido sadar itu bukan waktunya.
"Yang terpenting, sekarang ia sudah aman." ucapnya dalam hati.
Pelan-pelan Asido meraih gagang pintu.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ucapnya pelan.
Ia sudah setengah menarik pintu tapi ada suara Nowela yang terdengar dari belakang.
"Mau kemana?"
Asido terpaku, ia menoleh cepat dan melihat Nowela sedang menatapnya.
Untuk sesaat, Asido terdiam. Pertanyaan itu sederhana , tapi ada sesuatu dalam nada suara Nowela yang membuatnya enggan melangkah pergi.
"Ke kos," jawabnya pelan.
Nowela tidak mengatakan apa-apa lagi. Namun ia juga tidak mengalihkan pandangan.
"Aku baru sampai juga dari kampung....." lanjut Asido.
Tapi melihat tatapan Nowela, akhirnya ia berjalan mendekat dan duduk di kursi yang ada di sudut kamar.
"Aku disini......kalau itu memang yang kamu mau." katanya sambil tersenyum tipis.
Kamar itu kembali hening. Pintu kamarnya dibiarkan setengah terbuka.
Asido menghela napas kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi. Kosnya memang tidak jauh dari bangunan tempat Nowela tinggal.
Untuk saat ini, ia memilih tetap berada di sana, menemani Nowela dalam diam.
Asido memejamkan matanya. Bukan untuk tidur, hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya setelah perjalanan panjang dari kampung.
Di sisi lain kamar, Nowela akhirnya membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kelopak matanya terasa berat. Tak lama, napasnya akhirnya lebih teratur. Ia tertidur.
"Akhirnya......" ucap Asido lega, membuka mata dan mendapati Nowela telah terlelap.
"Sudah jam segini......." gumam Asido melihat jam tangannya.
Ia berdiri dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkannya. Ia mengambil selimut yang terlipat di ujung ranjang, lalu menyelimutinya hingga sebatas bahu.
"Tidur yang nyenyak ya...." ucapnya pelan.
Asido mengambil kopernya dan ingin melangkah. Tiba-tiba....
"Sebentar....." ucapnya sendiri.
Asido membuka koper itu dan mengeluarkan beberapa wadah makanan yang sudah disiapkan ibunya dari kampung. Ia meletakkan di atas mejanya.
"Oh......" serunya saat melihat buku di meja itu. Ia mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu.
'Makan kalau sudah bangun ya.... Jangan lupa sarapan.'
Kertas itu diselipkan di bawah wadah makanan yang sudah diletakkannya.
Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi ke arah Nowela yang masih tertidur pulas. Asido benar-benar merasa lega. Ia bisa melangkah pasti meninggalkan Nowela.
Sesampai di kontrakannya, Asido langsung disambut suasana yang kurang ia sukai. Meski sudah cukup larut, beberapa penghuni kontrakannya masih berkumpul di teras. Tawa dan suara obrolan mereka terdengar hingga ke jalan depan.
"Udah pulang kau, Lae?" sapa salah seorang temannya begitu melihat Asido.
Asido mengangguk singkat.
"Sudah"
"Gimana kampung? Aman?"
"Aman lah pasti......" sahut yang lain.
"Tapi ada cewe nggak di kampungmu yang bisa didekatin......" lanjutnya.
Teman temannya yang lain langsung memukul temannya itu, "gila...... Cewe aja di otakmu ya....."
Semua temannya tertawa terbahak-bahak , kembali melanjutkan obrolan dengan candaan candaan mereka.
Asido melangkah melewati mereka menuju kamarnya. Sebenarnya ia tidak terlalu menyukai suasana seperti itu. Terlalu ramai. Terlalu berisik. Tapi ia tidak pernah mengatakannya.