Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Di Ujung Kegelapan, Sesuatu Menanti
Hari kesepuluh sejak Lin Chen memasuki Pegunungan Cang Lei.
Kini ia telah mencapai wilayah yang bisa disebut sebagai jantung pegunungan itu.
Pepohonan di tempat ini jauh lebih tua dibandingkan wilayah yang pernah ia lewati sebelumnya. Batang-batang raksasa menjulang tinggi ke langit, begitu besar hingga sepuluh orang dewasa mungkin tidak akan mampu memeluknya secara bersamaan. Akar-akarnya menonjol dari dalam tanah seperti tulang belulang makhluk kuno yang tertidur sejak zaman kuno.
Cahaya matahari pun hampir tidak mampu menembus rapatnya dedaunan.
Jika di lereng bawah sinarnya masih jatuh seperti garis-garis emas yang hangat, maka di sini cahaya hanya tersisa sebagai semburat hijau redup yang menyelinap di antara celah-celah daun.
Tempat itu terasa gelap.
Namun bukan gelap yang menakutkan.
Melainkan gelap yang tua.
Gelap yang telah ada jauh sebelum manusia mengenal tempat tersebut.
Bahkan suara hutan pun berbeda.
Di bagian luar pegunungan, kehidupan terasa ramai. Burung-burung bernyanyi, serangga bersahutan, dan angin memainkan dedaunan seperti alunan musik alam.
Namun di sini, kesunyian mendominasi.
Seolah seluruh kawasan sedang menahan sesuatu yang tidak terlihat.
Lin Chen berjalan dengan lebih waspada daripada biasanya.
Sepuluh hari bertahan hidup di Pegunungan Cang Lei telah mengajarinya banyak hal.
Ia pernah menghadapi binatang buas yang mengancam nyawanya, jika ia tidak menemukan celah sempit di antara bebatuan yang terlalu kecil untuk dilewati makhluk tersebut.
Selain itu, ia juga beberapa hari sebelumnya telah berhasil menemukan setengah dari tanaman obat yang tercantum dalam daftar tugasnya.
Namun jauh di dalam hati, Lin Chen tahu bahwa daftar itu bukan lagi tujuan utamanya.
Perhatiannya kini tertuju pada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang sejak beberapa hari terakhir terus memanggilnya.
Arus energi alam.
Semakin jauh ia melangkah ke utara, semakin kuat aliran itu terasa.
Jika sebelumnya hanya seperti aliran kecil yang samar, kini rasanya seperti sungai besar yang mengalir tanpa henti.
Lin Chen terus mengikutinya.
Sambil berjalan, ia menggunakan metode meditasi yang baru digunakan beberapa hari lalu.
Energi alam yang memenuhi udara perlahan meresap ke dalam tubuhnya.
Perkembangannya memang lambat.
Namun hasilnya nyata.
Dalam sepuluh hari terakhir, ia berhasil mencapai Tingkat Kedua Kebangkitan Roh.
Bagi orang lain, peningkatan itu mungkin tidak berarti apa-apa.
Tetapi bagi Lin Chen, itu adalah kemajuan terbesar yang pernah ia rasakan selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Ia mendengar sesuatu.
Suara itu begitu aneh hingga membuat seluruh tubuhnya menegang.
Bukan suara binatang.
Bukan pula suara angin.
Bukan gemericik air ataupun suara ranting yang patah.
Suara itu lebih menyerupai alunan musik yang sangat samar.
Terlalu tinggi untuk didengar dengan jelas, namun cukup kuat untuk dirasakan.
Getarannya merambat hingga ke tulang-tulangnya.
Seperti nyanyian kuno yang berasal dari masa yang telah lama dilupakan.
Lin Chen berdiri diam.
Seluruh indranya menjadi tajam.
Insting yang selama ini membantunya bertahan hidup mulai bereaksi.
Namun anehnya, ia tidak merasakan bahaya.
Yang ia rasakan justru sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.
Seolah ada sesuatu yang sangat penting menunggunya di depan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Dengan langkah hati-hati, ia berjalan mengikuti sumber suara itu.
Ia melewati dua pohon raksasa yang akar-akarnya saling bertaut di atas tanah seperti tangan yang saling menggenggam.
Kemudian ia berhenti.
Di hadapannya terbentang sebuah area terbuka kecil yang tersembunyi di antara akar-akar pohon tua.
Tanah di tempat itu memancarkan cahaya keemasan yang sangat redup.
Begitu samar hingga hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.
Dan tepat di tengahnya terdapat sesuatu.
Sesuatu yang kecil.
Sangat kecil.
Hanya sebesar kepalan tangan.
Lin Chen perlahan mendekat.
Makhluk itu tampak seperti seekor burung muda.
Bulu-bulunya berwarna merah membara, meskipun sebagian sudah rontok dan tampak kusam. Sayapnya terkulai lemah di sisi tubuhnya.
Sekilas, ia terlihat seperti burung biasa yang terluka.
Namun hanya sekilas.
Karena aura yang memancar dari tubuh kecil itu benar-benar berbeda.
Bahkan dengan meridian yang rusak dan kemampuan spiritual yang terbatas, Lin Chen masih dapat merasakannya.
Aura kuno.
Dalam.
Dan luar biasa kuat.
Seolah makhluk kecil itu menyimpan kekuatan yang tidak seharusnya ada di dunia ini.
Lin Chen perlahan berlutut.
Tatapannya tidak pernah lepas dari sosok di hadapannya.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya, perasaan yang menyerupai takdirnya.
Seakan seluruh perjalanan yang membawanya keluar dari Klan Lin, seluruh penderitaan yang ia alami selama bertahun-tahun, dan seluruh langkah yang ia tempuh di Pegunungan Cang Lei telah mengarah pada satu titik ini.
Makhluk itu masih hidup.
Ia dapat melihat dadanya naik turun dengan sangat lemah.
Hampir tidak terlihat. Namun tetap bernapas.
Lin Chen menelan ludahnya.
"Kau sebenarnya siapa?"
Bisikannya nyaris tidak terdengar.
Tentu saja tidak ada jawaban.
Makhluk itu terlalu lemah bahkan untuk membuka matanya.
Namun Lin Chen tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Perlahan, tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya.
Gerakannya sangat hati-hati.
Seolah takut sentuhan sedikit saja dapat menghancurkan makhluk rapuh di hadapannya ini.
Jari-jarinya semakin mendekat.
Hanya beberapa sentimeter lagi.
Hampir menyentuh bulu merah yang masih memancarkan kehangatan samar.
Dan pada saat itu, Seluruh Pegunungan Cang Lei seolah menahan napas.