NovelToon NovelToon
Di Balik Kilau Mutiara

Di Balik Kilau Mutiara

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana di kantor pusat pagi itu terasa sedikit berbeda, ada satu sosok yang biasanya selalu hadir lebih awal, duduk tegak di balik mejanya dengan wajah tenang namun penuh kewibawaan, namun hari itu kursi itu kosong melompong. Sherina baru saja tiba dari lobi, berjalan menuju ruang kerja proyek, saat salah satu staf menghampirinya dengan pesan dari bagian administrasi.

"Nona Sherina, tadi pagi Pak Arsya mengirim pesan, untuk izin tidak masuk kerja," lapor staf itu dengan nada sedikit cemas. "Beliau bilang sedang merasa kurang sehat, demam tinggi dan pusing hebat, jadi meminta izin libur sehari, atau mungkin sampai kondisi beliau membaik. Beliau berpesan agar pekerjaan yang mendesak disampaikan ke tim lain dulu."

Jantung Sherina seketika berdebar kencang, rasa khawatir langsung menjalar cepat ke seluruh tubuhnya. Wajah Arsya yang pucat dan lelah kemarin sore saat rapat selesai kembali terbayang jelas di benaknya. Ia ingat bagaimana pemuda itu tampak menahan rasa sakit, bagaimana keringat dingin membasahi pelipisnya, namun tetap berusaha bersikap dingin dan tegar di hadapan semua orang.

Dia sakit? batin Sherina bergumam cemas.

Dia demam tinggi? Tapi dia tinggal sendiri. Tidak ada keluarga, tidak ada kerabat dekat, tidak ada siapa-siapa di sana. Siapa yang akan merawatnya? Siapa yang akan memberinya obat? Siapa yang akan memastikan dia makan dan istirahat dengan baik?

Pikiran-pikiran itu berputar liar dan membuatnya tak tenang. Ia sangat tahu betul kehidupan Arsya. Pemuda itu hidup sebatang kara, menutup diri dari dunia luar, tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, jauh dari keramaian dan jauh dari bantuan siapa pun. Dulu katanya pernah ada orang yang membantunya membersihkan rumah seminggu sekali, namun belakangan ini Arsya menghentikan jasa itu, ingin benar-benar hidup sendiri dan mandiri. Jika dia sakit, dia benar-benar sendirian di sana, berjuang melawan rasa sakitnya sendiri tanpa ada yang peduli atau menolong.

Rasa khawatir itu semakin memuncak, mengalahkan segala rasa sedih dan bingung yang selama ini dirasakannya akibat sikap dingin Arsya. Meskipun pemuda itu menjauhinya, meskipun dia bersikap kaku dan menusuk hati, meskipun dia menganggap dirinya tidak pantas... bagi Sherina, Arsya tetaplah orang yang paling berharga, orang yang ia cintai, dan orang yang paling ia butuhkan keberadaannya. Ia tidak bisa membiarkan Arsya sakit sendirian, terbaring lemah tanpa ada yang mengurus.

Tanpa pikir panjang lagi, Sherina bergegas menuju ruang administrasi. Ia meminta izin cuti dua hari dengan alasan ada keperluan mendadak keluarga, tanpa memberikan petunjuk sedikit pun ke mana ia akan pergi atau apa yang akan ia lakukan. Setelah surat izin ditandatangani, ia segera mencari data alamat tempat tinggal Arsya yang tersimpan dalam arsip data karyawan perusahaan. Berbekal satu lembar kertas kecil bertuliskan alamat lengkap itu, Sherina segera meninggalkan kantor, bergegas menuju tempat tinggal satu-satunya orang yang mengisi hatinya itu.

Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, menembus jalanan kota yang padat hingga sampai ke kawasan perumahan tenang yang asri namun agak jauh dari pusat kota. Rumah Arsya ternyata sebuah bangunan berlantai satu dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau, tampak sederhana, bersih, namun terasa sepi dan sunyi.

Sherina berdiri di depan pagar besi yang tertutup itu sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kencang karena rasa gugup dan haru. Ia ragu sejenak, takut jika kedatangannya ini dianggap mengganggu atau tidak sopan, namun rasa khawatir kembali mendesaknya untuk melangkah maju. Ia membuka pagar pelan-pelan, berjalan menuju pintu depan, lalu mengetuknya beberapa kali.

Lama tak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyambutnya.

"Pak Arsya..." panggil Sherina pelan di balik pintu. "Ini saya, Sherina."

Karena khawatir, Sherina mencoba memutar gagang pintu. Ternyata tidak terkunci. Ia masuk perlahan ke dalam rumah itu, dan suasana sepi serta udara yang agak pengap langsung menyapanya. Ruang tamu yang luas tertata rapi namun terasa dingin dan kosong, tidak ada hiasan berlebihan, tidak ada foto keluarga, tidak ada apa pun yang menunjukkan kehangatan sebuah rumah. Semuanya serba fungsional, kaku, dan sepi. Sama persis seperti pemiliknya.

Dari arah ruang tidur terdengar suara batuk yang tertahan, suara yang lemah dan berat. Sherina segera berjalan cepat menuju sumber suara, mendorong pintu kamar tidur yang sedikit terbuka itu.

Di sana, di atas tempat tidur yang sederhana, terbaring Arsya. Tubuhnya tertutup selimut tebal hingga dada, wajahnya pucat sekali, matanya terpejam rapat, dan keringat dingin mengucur deras di dahi serta lehernya. Ia menggigil pelan sesekali, sementara napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.

Melihat pemuda yang biasanya begitu tegar, kuat, dan berwibawa kini terbaring lemah tak berdaya begitu, hati Sherina terasa dicabik-cabik oleh rasa sedih dan kasihan yang mendalam. Ia mendekat perlahan, duduk di tepi tempat tidur, lalu mengulurkan tangan menyentuh dahi Arsya. Panas. Sangat panas.

Gerakan itu membuat Arsya tersentak sedikit, matanya terbuka perlahan dengan susah payah. Pandangannya masih kabur karena demam tinggi, namun perlahan fokus menatap wajah gadis yang ada di dekatnya. Keterkejutan terlihat jelas di manik matanya yang sayu.

"Sherina...?" suaranya parau dan lemah, nyaris tak terdengar. "Kau... kenapa ada di sini? Bagaimana kau bisa tahu...?"

"Sudahlah, jangan banyak bicara dulu, Pak," potong Sherina lembut namun tegas, tangannya beralih menyeka keringat di pelipis Arsya dengan sapu tangan yang ia bawa. "Istirahat saja. Biarkan saya yang mengurus semuanya mulai sekarang. Bapak sakit, dan Bapak sendirian di sini. Mana mungkin saya diam saja di kantor kalau tahu keadaan Bapak begini."

Arsya ingin menolak, ingin bersikap dingin seperti biasa, ingin mengusirnya pergi dan berkata bahwa dirinya tidak butuh bantuan siapa pun, apalagi darinya. Namun, rasa sakit yang hebat dan kelemahan yang melumpuhkan seluruh tubuhnya membuatnya tak mampu berbuat apa-apa selain kembali memejamkan mata, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehadiran gadis itu.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, jauh di balik tembok tinggi yang ia bangun, ada rasa lega dan rasa syukur yang luar biasa menyapa. Kehadiran Sherina, aroma tubuhnya yang lembut, dan sentuhannya yang hangat... seketika membuat rasa sakitnya sedikit berkurang, membuat rasa sepinya hilang, dan membuatnya merasa aman sepenuhnya.

Sejak detik itu, Sherina mengambil alih sepenuhnya segala urusan di rumah itu. Ia bergerak dengan sigap, teliti, dan penuh kasih sayang yang tulus. Ia mulai dengan mencari obat-obatan yang tersedia di kotak obat, lalu membuatkan air hangat dan membantu Arsya duduk perlahan untuk meminum obatnya. Ia mengompres dahi dan leher Arsya dengan kain yang dibasahi air hangat, dan mengulanginya lagi setiap kali sudah terasa panas, melakukan itu berulang kali dengan sabar dan teliti demi menurunkan suhu tubuh pemuda itu.

Setelah memastikan Arsya kembali terlelap dengan lebih tenang, Sherina tidak berdiam diri. Ia berkeliling memeriksa seluruh isi rumah itu. Ia melihat banyak hal yang butuh perhatian, hal-hal kecil yang karena Arsya hidup sendiri dan sibuk bekerja, sering kali terabaikan atau dilakukan seadanya saja.

Sherina bergerak ke dapur. Lemari makan terlihat agak kosong, hanya ada sedikit beras, gula, dan bumbu dasar saja. Ia segera menyusun rencana, lalu keluar sebentar untuk berbelanja bahan makanan segar ke warung terdekat. Kembali ke rumah, ia segera menyingsingkan lengan bajunya, mulai memasak makanan ringan namun bergizi yang cocok untuk orang sakit: bubur ayam hangat dengan kuah bening, potongan jahe untuk menghangatkan tubuh, dan sedikit sayuran yang direbus lunak. Ia memasak dengan penuh ketelitian, memastikan rasa dan kualitasnya pas, persis seperti ia sedang menyiapkan makanan untuk orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Sambil menunggu makanan matang, matanya tertuju pada sudut ruang tengah. Di sana, di dekat kamar mandi, terdapat keranjang pakaian kotor yang tertutup sebagian, namun cukup terlihat isinya yang sudah menumpuk cukup banyak. Kemeja kerja, celana panjang, dan pakaian dalam Arsya yang belum sempat dicuci karena kesibukan dan kelelahan pemiliknya. Tanpa rasa sungkan atau jijik sedikit pun, Sherina mengangkat keranjang itu, membawanya ke tempat cucian. Ia mulai mencuci satu per satu pakaian itu dengan tangan, menggosoknya hingga bersih, membilasnya berkali-kali hingga busa hilang, lalu menjemurnya satu per satu di halaman belakang agar terkena sinar matahari pagi. Ia melakukan itu semua dengan hati-hati, bahkan untuk kemeja-kemeja kerja yang bahannya halus dan mahal pun ia tangani dengan sangat lembut agar tidak rusak atau kusut.

Setelah selesai mencuci dan mengerjakan makanan, Sherina kembali membereskan seluruh isi rumah. Ia menyapu lantai, mengepelnya hingga mengkilap, menata kembali barang-barang yang berserakan, menumpuk koran atau berkas-berkas yang ada di meja, dan mengubah suasana rumah yang tadinya dingin, sepi, dan berantakan menjadi rapi, bersih, serta terasa hangat dan nyaman. Aroma masakan yang sedap kini memenuhi seluruh ruangan, menggantikan udara pengap yang ada sebelumnya.

Arsya, di sela-sela sadar dan tidurnya yang didera demam, melihat semua itu. Ia melihat betapa teliti dan rajinnya Sherina mengurusnya, betapa tulusnya perhatian gadis itu, betapa sabarnya ia menunggu dan melayani. Ia melihat pakaian-pakaiannya yang sudah bersih dan tergantung rapi di luar jendela, ia melihat rumahnya yang kini berubah wujud menjadi tempat yang nyaman dan beraroma sedap, dan ia merasakan sentuhan-sentuhan lembut yang penuh kasih sayang itu.

Di dalam hati Arsya, rasa sakit fisiknya kalah jauh oleh rasa haru dan rasa malu yang luar biasa. Ia yang selama ini merasa tidak pantas, merasa cacat, kini melihat wanita sebaik, sehalus, dan seindah Sherina rela meninggalkan pekerjaannya, rela datang diam-diam ke rumahnya, rela bekerja keras memasak, mencuci, dan membereskan segala sesuatu hanya demi dirinya.

Ia sadar, semua tindakan itu bukan sekedar rasa kasihan atau kewajiban rekan kerja. Semua itu adalah bukti cinta yang nyata, bukti bahwa bagi Sherina, dirinya adalah segalanya, bukti bahwa kekurangan apa pun tidak pernah menjadi masalah, bukti bahwa gadis itu mencintainya seutuhnya, dengan segala kelebihan, kekurangan, masa lalu, dan penyakitnya sekalipun.

Dan di saat itulah, di tengah rasa lemas dan demamnya yang tinggi, Arsya menyadari satu hal dengan sangat jelas dan tegas. Ia bodoh sekali pernah berpikir untuk melepaskan wanita ini. Ia bodoh sekali pernah merasa tidak pantas. Karena ternyata, di dunia ini, tidak ada wanita lain yang sebaik, setulus, dan seberharga Sherina baginya. Dan gadis inilah satu-satunya orang yang mampu membawa kehangatan ke dalam hidupnya yang dingin dan sepi ini, gadis inilah satu-satunya orang yang membuat rumah ini terasa seperti rumah yang sesungguhnya.

Di luar sana, Darren mungkin memiliki segalanya, kesempurnaan fisik, kekayaan, karir cemerlang. Namun di sini, di ruangan kecil dan sederhana ini, di saat ia paling lemah dan butuh pertolongan... dialah yang mendapatkan kasih sayang dan perhatian tulus dari hati Sherina. Dan itulah kemenangan terbesar yang jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini.

1
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
suka yang tegas dan berani seperti ini
Elisabeth Ratna Susanti
teduh banget pastinya kalau kita menatap wajahnya 🥰
Elisabeth Ratna Susanti
top banget👍
Elisabeth Ratna Susanti
aku suka bau tanah yang basah terkena hujan.....rasanya membawa damai 🥰 aku suka hujan🥰
Rocean: baunya enak memang kak. candu dan damai 😍
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
semakin seru👍
Siti Sarfiah
semangat bekerja , siapa tau di Divisi pembangun produk ada cowok yg naksir sherina🤭
Siti Sarfiah
bangkitlah dengan usahamu sendiri , tunjukkan pada nilai yg engkau capai semangat terus
Siti Sarfiah
wujudkan tekadmu , suatu saat akan terwujud apa yg engkau cita"kan , semangat💪
Siti Sarfiah
tunggu daren menyelesaikan pendidikannya d luar negri nanti kembali untuk sherina juga
Siti Sarfiah
sukses selalu , terus berjuang dan lanjut lagi ceritanya
Siti Sarfiah
tetap rendah hati dan semangat
Siti Sarfiah
masya Allah anak sultan yg rendah hati👍
namice
aku mampir kak
namice: 👍👍, semangat kak💪💪💪
total 2 replies
Elisabeth Ratna Susanti
keren banget pemilihan diksinya 🥰👍
Elisabeth Ratna Susanti
like plus subscribe plus iklan 👍
Rocean: mantappp🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!