Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekanan Itu Kembali
“Ya Tuhan… benar-benar melelahkan, tapi sangat asyik,” gumam Arelia yang baru saja duduk di kursi dekat meja kasir.
“Benar, Mbak. Ini pertama kalinya toko bunga saya seramai ini. Bahkan sampai jam tiga begini baru sempat duduk,” jawab Dhea sambil tertawa kecil.
Arelia tersenyum tipis sambil mengatur napasnya. Tangannya masih memegang botol air mineral yang tadi diberikan Dhea.
Entah kenapa, berada di toko bunga kecil itu terasa jauh lebih menyenangkan dibanding berada di tempat-tempat mewah yang biasa ia datangi.
“Berarti saya membawa keberuntungan?” goda Arelia kecil.
Dhea langsung mengangguk cepat.
“Iya dong, Mbak. Kayaknya orang-orang pada datang karena lihat Mbaknya cantik banget.”
Arelia terkekeh pelan mendengarnya.
“Kamu ini…”
Namun belum sempat melanjutkan ucapannya, suara ponsel miliknya tiba-tiba berbunyi.
Senyuman di wajah Arelia perlahan memudar saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.
Tangannya langsung menegang kecil. Dhea yang menyadari perubahan ekspresi itu tampak bingung.
“Mbak… ada apa?”
Arelia tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada layar ponselnya yang terus berdering.
Sampai akhirnya, dengan perlahan ia mengangkat panggilan itu.
“Halo.”
Suasana mendadak berubah hening. Dhea tidak bisa mendengar suara dari seberang sana, tetapi wajah Arelia perlahan terlihat pucat.
“Kamu masih belum sadar juga, Aren?”
Napas Arelia langsung tertahan. Tangannya mencengkeram ponsel itu erat.
“Sampai kapan kamu mau mempermalukan keluarga kita seperti ini?”
Seketika saja, semua rasa tenang yang tadi ia rasakan perlahan menghilang.
“Dan sekarang… kamu berada di toko bunga, ya?”
Tatapan Arelia langsung berubah tajam.
“Berhenti memata-matai aku, Ma,” ucapnya dengan suara tertahan.
“Mama tidak akan berhenti, Aren. Sebelum kamu sadar.”
Rahang Arelia langsung menegang. Tangannya mencengkeram ponsel itu semakin erat hingga jemarinya sedikit gemetar.
Dhea yang berada tidak jauh darinya mulai terlihat khawatir.
“Mbak…?”
Namun Arelia sama sekali tidak menoleh.
“Sampai kapan kamu mau hidup seperti orang aneh begini?”
Kalimat itu kembali menusuk seperti biasanya. Dan entah kenapa, meski sudah sering mendengarnya, rasa sakitnya tidak pernah berkurang sedikit pun.
“Aku tidak mengganggu siapa-siapa,” jawab Arelia lirih dengan napas yang mulai tidak teratur.
“Tapi kamu mempermalukan keluarga kita!”
Deg.
Dada Arelia langsung terasa sesak. Tatapannya perlahan menunduk, sementara tangan satunya mulai memegangi dadanya sendiri.
Dhea yang melihat perubahan itu langsung berdiri panik.
“Mbak Arelia?”
Namun suara dari seberang sana masih terus terdengar.
“Kamu itu laki-laki, Aren! Bukan perempuan!”
Seketika napas Arelia terasa semakin berat.
Semua tatapan jijik, hinaan, dan tekanan yang selama ini ia pendam kembali memenuhi kepalanya sekaligus. Dan untuk pertama kalinya, Dhea melihat Arelia tampak sehancur itu.
“Aku bilang berhenti memata-matai aku, Ma!”
Arelia langsung bangkit dari duduknya dengan napas yang tidak beraturan.
Hal itu membuat Dhea tersentak kaget.
“Mbak?” panggil Dhea panik.
Namun Arelia tidak menoleh sama sekali.Dengan langkah cepat, ia langsung pergi meninggalkan toko bunga itu.
“Mbak! Mbak Arelia!” teriak Dhea sambil buru-buru mengejarnya.
Dhea berhasil keluar dari toko tepat saat Arelia hendak membuka pintu mobilnya.
“Mbak, tunggu!” ucap Dhea sambil menahan napas karena berlari kecil.
Arelia terdiam beberapa detik tanpa menoleh. Tangannya masih memegang ponsel dengan sangat erat.
“Mbak… ada apa?” tanya Dhea pelan.
Namun Arelia justru memejamkan matanya kuat-kuat. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Karena saat itu juga, kepalanya terasa penuh. Ucapan-ucapan menyakitkan dari ibunya terus terngiang tanpa henti.
“Aku tidak apa-apa,” jawabnya lirih.
“Tapi wajah Mbak pucat banget…”
Dhea semakin khawatir saat melihat tangan Arelia sedikit gemetar. Tanpa sadar, gadis itu perlahan mendekat.
“Mbak jangan bohong. Mbak kelihatan sakit.”
Kalimat sederhana itu justru membuat pertahanan Arelia hampir runtuh.
Sudah terlalu lama tidak ada seseorang yang benar-benar peduli pada keadaannya. Dan sekarang, Dhea mengatakan itu dengan tatapan setulus itu.
Panggilan itu memang sudah berakhir.
Namun rasa sakit di dada Arelia masih belum menghilang sedikit pun.
Ia mencoba mengatur napasnya pelan, berusaha terlihat baik-baik saja di depan Dhea. Meski sebenarnya, dirinya terasa benar-benar kacau.
“Saya tidak apa-apa. Maaf membuatmu khawatir. Kalau begitu, saya pulang dulu,” ucap Arelia pelan kepada Dhea.
“Mbak… kalau ada apa-apa, cerita saja sama saya,” balas Dhea dengan tatapan penuh khawatir.
Arelia langsung terdiam.
Kalimat sederhana itu membuat dadanya kembali terasa sesak. Karena biasanya, tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Semua orang hanya menuntutnya berubah. Tidak ada yang benar-benar peduli bagaimana dirinya bertahan selama ini.
“Saya tidak ingin merepotkan kamu,” ucap Arelia lirih.
Dhea langsung menggeleng cepat.
“Bukan merepotkan, Mbak. Kadang manusia juga capek kalau menyimpan semuanya sendirian.”
Ucapan itu membuat Arelia menundukkan wajahnya pelan. Tangannya mengepal kecil.
Entah kenapa, semakin Dhea bersikap baik padanya, semakin besar rasa takut yang muncul di dalam dirinya.
Takut jika suatu hari gadis itu mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dan setelah itu, perhatian hangat ini akan hilang seperti yang lainnya.
“Terima kasih, Dhea. Kalau begitu saya pamit, ya,” ucap
Arelia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Mbak nggak perlu berterima kasih. Kalau ada apa-apa, datang saja temui saya. Lalu, Mbak hati-hati ya di jalan. Nyetirnya jangan kencang-kencang.”
Cerewetnya Dhea membuat Arelia tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah menerima tekanan seperti itu, ada seseorang yang masih berbicara padanya dengan penuh perhatian.
“Iya, Bu Dhea,” jawab Arelia sengaja menggoda.
Dhea langsung mengerucutkan bibirnya kecil.
“Saya serius, Mbak.”
“Iya, saya juga serius.”
Arelia terkekeh pelan sebelum akhirnya membuka pintu mobilnya. Namun sebelum masuk, ia kembali menoleh ke arah Dhea yang masih berdiri dengan wajah khawatir.
“Dhea.”
“Iya?”
“Terima kasih… sudah khawatir sama saya.”
Ucapan itu membuat Dhea tersenyum hangat.
“Kan kita teman, Mbak.”
Deg.
Jawaban sederhana itu kembali membuat hati Arelia terasa aneh.
Hangat.
Tetapi juga menyesakkan di waktu yang bersamaan. Karena semakin dekat dirinya dengan Dhea, semakin takut ia kehilangan gadis itu nanti.
“Benar… kita teman, ya,” ucap Arelia dengan senyum kecilnya.
Dhea langsung menganggukkan kepalanya cepat.
“Iya. Walaupun Mbak lebih tua dari saya, tapi saya senang punya teman seperti Mbak.”
Senyuman di wajah Arelia perlahan berubah lembut. Entah kenapa, kalimat sederhana itu terdengar begitu tulus di telinganya.
Bukan karena penampilannya. Bukan karena hartanya. Hanya karena dirinya adalah “teman”.
“Memangnya saya terlihat setua itu?” goda Arelia pelan.
Dhea langsung panik kecil.
“E-eh bukan begitu maksud saya, Mbak!”
Melihat kepanikan itu, Arelia akhirnya tertawa kecil.
Dan lagi-lagi, Dhea berhasil membuat suasana hatinya sedikit lebih baik hanya dengan kepolosannya.
“Sudah, saya bercanda,” ucap Arelia sambil menggeleng pelan.
Dhea menghela napas lega.
“Untung saja…”
Arelia memperhatikan wajah Dhea beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya. Namun sebelum benar-benar menutup pintu, ia kembali berkata pelan,
“Dhea.”
“Iya, Mbak?”
“Jangan berubah, ya.”
Ucapan itu membuat Dhea terlihat bingung.
“Hah?”
Arelia hanya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Karena di dunia yang selama ini terus menolaknya, Dhea adalah satu-satunya hal yang terasa tulus.