Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Adegan: Rapat Darurat di apartemen – Malam Hari
Ruang tamu Apartemen diubah jadi ruang perang kecil.
Laptop terbuka di meja, peta gedung Wijaya Group terbentang, kopi udah 3 gelas habis.
Arka, Liana, dan Reza duduk melingkar. Wajah ketiganya tegang.
Reza adalah mantan IT security Wijaya Group yang keluar 6 bulan lalu. Dia yang direkomendasikan Rina karena kenal sistem keamanan gedungnya.
Arka:
“Oke, sebelum kita ngomong lebih jauh. Gue mau denger dulu dari kalian berdua. Kita lanjutin ke Wijaya Group, atau kita stop di sini dan serahin semua ke polisi?”
Liana:
“Kalau kita stop, kita cuma punya bukti yang sekarang. Dan itu belum cukup buat nyeret seluruh keluarga Wijaya. Surat itu bilang ‘yang paling banyak bukti ada di keluarga Wijaya’. Artinya masih ada sesuatu yang disembunyiin.”
Reza: . Semua data penting nggak pernah disimpen di server umum. Selalu di flashdisk pribadi, di ruang kerja direktur. Kalau surat itu bener, flashdisk itu masih ada.”
Arka:
“Tapi kalau surat itu jebakan? Sekali kita masuk, kita dianggap pencuri data. Hendra Apalagi Perusahaan Wijaya group sekarang Ada 2 orang yang sama-sama pegang kendali Yaitu, Ayah dan paman Hendra, bisa balik nyerang kita.”
Reza:
“Makanya kita nggak bisa masuk kayak maling biasa. Kita harus masuk kayak orang yang punya alasan sah.”
Liana:
“Maksudnya?”
Reza:
“Gedung Wijaya Group buka 24 jam karena ada tim maintenance malam. Gue masih punya akses card lama. Udah mati sih, tapi gue tahu celah sistemnya. Pintu belakang lantai 12, jalur AC. Dari situ kita bisa masuk ke ruang kerja Hendra tanpa lewat lobi.”
Arka:
“Gue nggak suka. Itu ilegal, Reza. Kalau ketahuan, kita semua masuk penjara.”
Reza menatap Arka lurus-lurus.
Reza:
“Dan kalau kita nggak ngelakuin ini, Liana dan ayahnya nggak bakal pernah dapat keadilan. Gue udah lihat sendiri gimana Hendra nutupin kasus orang kecil pake uang. Gue keluar karena nggak kuat lihat itu lagi.”
Liana terdiam. Ia pegang erat ujung bajunya.
Liana:
“Reza… kalau ketahuan, kamu juga kena.”
Reza tersenyum tipis.
Reza:
“nggak apa-apa kalau kita kerja dengan hati-hati, dan sesuai rencana"
Arka menghela napas panjang. Ia lihat Liana, lalu Reza.
Arka:
“Oke. Kalau kita jadi masuk, kita main bersih. Nggak ada ngambil selain flashdisk. Nggak ada sentuh dokumen lain. Gue yang masuk, kalian tunggu di luar.”
Liana langsung menggeleng.
Liana:
“Nggak. Gue yang harus masuk, Ka. Itu ayah gue. Kalau ketahuan, gue yang tanggung. Kalian berdua jangan ikut hancur.”
Arka:
“Nggak bisa. Terlalu bahaya buat kamu.”
Liana:
“Lebih bahaya kalau gue cuma duduk nunggu di sini. Gue udah capek jadi orang yang dilindungin terus.”
Reza mengangkat tangan, melerai.
Reza:
“Denger. Kita nggak bisa masuk berdua. CCTV lantai 12 aktif 24 jam, tapi ada blind spot 4 menit tiap jam 2 pagi pas sistem backup jalan. Itu satu-satunya waktu aman.”
Arka:
“4 menit? Itu terlalu mepet.”
Reza:
“Iya. Makanya cuma satu orang yang masuk. Yang lain jaga di luar, matiin alarm lantai 11 biar nggak langsung ke detect kalau ada yang salah.”
Liana:
“Jadi siapa yang masuk?”
Arka dan Reza saling pandang.
Arka:
“Gue.”
Liana:
“Gue.”
Reza:
“Dua-duanya nggak bisa. Kalau ketahuan, minimal satu orang harus bisa keluar buat kasih info.
Arka menatap Liana pelan.
Arka:
“Lia, gue tahu ini penting buat kamu.
Liana menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca.
Liana:
“Dan kalau kamu ketahuan, gue kehilangan kamu juga, Ka.”
Hening 5 detik.
Reza menghela napas.
Reza:
“Udah. Kita bikin gini. Kalian berdua yang masuk. Gue Chat sapunya teman ikut bantu jaga.
.
Liana:
“Kamu yakin?”
Liana mengangguk pelan.
Reza:
“Deal. Sekarang kita bahas jalur masuk, jalur keluar, dan kode darurat.”
Reza mengambil spidol dan mulai gambar skema di kertas.
Reza:
“Pintu belakang lantai 12. Dari sana langsung ke koridor servis. Ruang kerja Hendra di ujung. Lemari besi ada di balik lukisan kuda. Kode lama masih 2407. Ulang tahun istrinya. Kalau dia ganti, kita balik.”
Liana mencatat cepat di buku kecilnya.
Liana:
“Kalau alarm bunyi gimana?”
Reza:
“Arka, kamu punya 30 detik buat matiin panel di lantai 11. Gue udah kasih tau letaknya. Tekan tombol merah, tahan 5 detik. Alarm lantai 12 mati 2 menit.”
Arka mengangguk, wajahnya serius.
Arka:
“Gue catat. Tapi kalau gagal, kita semua cabut. Nggak ada pahlawan-pahlawanan.”
Liana menatap mereka berdua.
Liana:
“Gue nggak peduli soal pahlawan. Gue cuma mau Ayah gue bebas.”
Reza menutup skema itu.
Reza:
“Jam 1.55 pagi. Kita bergerak. Siapa pun yang ragu, mundur sekarang. Nggak ada yang maksa.”
Arka dan Liana saling pandang.
Arka:
“Kita lanjut.”
Liana mengangguk tegas.
Liana:
“Kita lanjut.”
Bersambung
🙏🙏
Arka hanya dikantor cabang kakak2. belum pegang kendali perusahan cabang sesungguhnya 🙏🙏