Pada jaman kuno, pertempuran besar terjadi antara Dewa dan Iblis, yang menyebabkan dunia hancur.
Satu juta tahun setelah pertempuran itu terjadi. Dewa dan Iblis menghilang, seolah-olah menjadi dongeng untuk anak kecil yang diceritakan oleh orang tuanya.
Manusia-manusia semakin kuat, tumbuhan memiliki kesadarannya sendiri, bahkan suku binatang buas mulai bangkit berkuasa.
Mengisahkan tentang kisah seorang Tuan Muda keluarga Zhou yang terlahir dari orang tua nya yang merupakan dua keberadaan terkuat di Wilayah Timur. Namun, dia terlahir dengan kondisi Akar Spiritual yang cacat, membuatnya di anggap sebagai Aib keluarga, bahkan tunangannya pun memilih untuk membatalkan pernikahan mereka.
Di tengah-tengah rasa putus asa, dia bertemu dengan secercah kesadaran Dewa, yang memberinya kesempatan untuk bangkit, tetapi menanggung misi untuk menyalakan sembilan Api Jiwa sang dewa yang ikut terkubur di Reruntuhan Dewa.
Namun, di mana Reruntuhan Para Dewa dan Iblis itu berada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RPD: Chapter 6
Saat itu, di waktu yang sama, di Kediaman Keluarga Zhou.
Tidak hanya Zhou Tianxuan, Li Liu, Zhou Xuan, dan lima tetua, bahkan Zhou Xiaowang, juga hadir di tempat itu, termasuk dua ribu keluarga Zhou yang hadir di tempat itu, dengan tujuan yang sama, yaitu melihat seorang Tuan Muda yang akan segera di buang dari keluarganya sendiri.
Di depan kediaman keluarga Zhou, Zhou Xiaowang berdiri dengan kedua tangannya yang menyilang di dada. Ekpresi wajahnya nampak begitu berpuas diri, melihat Zhou Xuan yang akan segera dikeluarkan dari keluarga. Jelas itu sangat membuatnya merasa senang, kesempatannya untuk menjadi pewaris takhta kepala keluarga di generasi berikutnya, sudah pasti akan jatuh kepadanya.
Di tengah lahan yang luas, halaman keluarga Zhou. Zhou Xuan berdiri di dampingi oleh ibunda tercinta.
Li Liu tidak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya terhadap tangan Zhou Xuan, seolah-olah dia tidak ingin membiarkan Zhou Xuan melangkah ke dalam lingkaran itu. Lingkaran teleportasi yang telah di aktifkan di tengah-tengah halaman Kediaman Keluarga Zhou.
Formasi itu membentuk garis-garis yang membentuk pola bintang dipermukaan lantai tembok batu bata, garis-garis itu berwarna hijau dan terus berdenyut seperti nadi.
Lalu, salah satu Tetua pun berbicara kepada Zhou Tianxuan: "Kepala Keluarga Zhou, formasi telah siap untuk digunakan, siap mengirim Tuan Muda Zhou Xuan kapan saja." katanya, berbicara sembari membungkukkan tubuhnya, sebagai tanda hormatnya kepada Zhou Tianxuan.
Zhou Tianxuan menggelengkan kepalanya sembari menghembuskan nafas panjangnya. Walaupun tidak rela, dia tetap harus melakukan itu!
Bagaimana mungkin? Jika dia melanggar aturan yang ditetapkan secara turun temurun, kini, dilanggar oleh dirinya sendiri yang merupakan pemimpin tertinggi keluarga Zhou. Jika memang Zhou Tianxuan harus melakukan itu, apakah aturan keluarga Zhou akan tetap ada di masa mendatang? Lalu bagaimana tanggapan para anggota keluarga yang lainnya?
Zhou Tianxuan tentu tidak akan mengambil langkah itu. Sebagai seorang pemimpin, dia tidak hanya menanggung keluarganya sendiri, melainkan seluruh anggota keluarga Zhou. Dan saat itu, Zhou Tianxuan pun memerintahkan Zhou Xuan untuk segera memasuki lingkaran formasi teleportasi.
"Xuan... masuklah." katanya, dengan nada yang rendah, penuh kesan ketidak relaan.
Zhou Xuan pun menundukkan kepalanya, merasa berat. Dan genggaman tangan ibunda tercintanya pun dilepaskan.
"Tumbuh dewasa dengan baik, anakku." kata Li Liu, dengan nada yang berat, menahan tangisnya.
Walaupun ia tahu bahwa dirinya akan berpisah dengan kedua orang tuanya, tetapi dia tetap mencoba untuk tetap tenang.
Sejauh itu, yang paling melelahkan adalah melawan isi pikiran dan perasaan yang tidak searah. Zhou Xuan telah membunuh banyak versinya sendiri untuk menjadi setenang itu. Walaupun akhir-akhir ini ia merasa begitu cepat merasa lelah, padahal tidak ada yang benar-benar berubah. Hari tetap berjalan, dia selalu berlatih lebih pagi dari siapapun, tetapi kali ini, pikiran terasa lebih berat dari biasanya, dan ketika semakin dijalani, bukanlah waktu yang habis, melainkan sesuatu di dalam yang pelan-pelan semakin menipis.
'Aku tidak selalu tahu apa yang akan terjadi ke depannya? Masih banyak hal yang terasa tidak pasti. Kadang, aku juga ragu dengan langkah yang aku ambil, tetapi untuk sekarang aku memilih untuk tetap berjalan. Pelan-pelan tanpa banyak bertanya, tidak semua hal harus langsung mempunyai semua jawaban, biarkan waktu yang akan menunjukkan sisanya.' gumam Zhou Xuan, di dalam hatinya, sembari berjalan memasuki lingkaran formasi.
Zhou Xuan pun berdiri di tengah-tengah lingkaran berpola bintang itu. Dia menatap wajah ibunya yang kini tengah menangis, menatap semua wajah anggota keluarga Zhou. Ada yang ikut bersedih, ada yang biasa-biasa saja, ada juga bahkan nampak merasa senang. Tapi, hanya satu yang ia yakini saat ini: "Aku akan kembali, dan membuktikan bahwa aku bukanlah sampah!"
Tidak ada aba-aba sedikitpun. Hanya di saat Zhou Tianxuan memutar tubuhnya, membelakangi Zhou Xuan, dan ke lima tetua pun segera menggambar segel tangan khusus yang kemudian pola formasi teleportasi pun menyala, mengeluarkan cahaya yang begitu cemerlang.
Tubuh Zhou Xuan pun perlahan terangkat ke langit, seolah-olah dia terbang ke langit. Namun, dalam sekejam mata, dia telah berada di tempat yang asing, tempat yang sama sekali tidak ia kenali.
Zhou Xuan mengerjapkan mata, tubuhnya masih terasa berputar hebat akibat pergeseran ruang yang mendadak. Udara di sekitarnya terasa berat, lengket, dan berbau amis darah lama yang bercampur tanah basah. Begitu penglihatannya pulih, napasnya langsung tertahan di tenggorokan.
Langit di atas kepalanya bukanlah langit yang biasa ia lihat. Merah darah pekat, seolah seluruh cakrawala sedang mengucurkan darah. Awan-awan hitam bergulung lambat seperti luka yang menganga, sementara seberkas cahaya kuning keemasan yang samar di ufuk justru membuat warna merah itu terlihat semakin mengerikan, seperti matahari yang sekarat dan tak pernah benar-benar terbenam.
Di bawah kakinya, tanah itu berlumpur hitam pekat. Setiap kali ia melangkah, lumpur itu mengisap sepatunya dengan bunyi lengket yang menjijikkan, seolah tanah ini hidup dan lapar. Di mana-mana, pedang-pedang kuno menancap miring dan tegak seperti hutan makam. Ada yang bilahnya patah, ada yang masih utuh dengan permukaan berkarat namun mengeluarkan aura tajam yang menusuk kulit. Beberapa pedang bahkan bergetar pelan meski tak ada angin, seolah masih menyimpan dendam pemiliknya yang telah lama mati.
Tengkorak-tengkorak berserakan di sepanjang jalan setapak yang tak jelas. Beberapa tengkorak masih utuh dengan rongga mata yang kosong, yang lain hanya tinggal pecahan tulang yang tertanam dalam lumpur. Yang paling membuat bulu kuduk Zhou Xuan berdiri adalah beberapa tengkorak yang masih menyisakan sisa-sisa mahkota dao retak dan tulang rusuk yang masih mengenakan kain sutra robek, bukti bahwa orang-orang yang mati di sini dulunya bukanlah kultivator biasa.
Di kejauhan, reruntuhan sebuah kota istana kuno menjulang samar di balik kabut merah tipis. Menara-menara tinggi telah runtuh, pilar-pilar raksasa miring dan retak, sementara dinding batu hitamnya ditumbuhi akar-akar aneh berwarna gelap yang berdenyut pelan seolah masih hidup. Angin dingin berhembus, membawa serta bisikan samar yang tak jelas asalnya, mungkin hanya ilusi, mungkin bukan.
Tidak ada tanda kehidupan, tidak ada suara burung atau binatang, bahkan serangga pun seolah enggan mendekat. Hanya ada kesunyian yang mencekam, aroma darah kuno yang tak pernah kering, dan aura kematian yang begitu tebal hingga Zhou Xuan merasakan qi di tubuhnya bergetar tidak nyaman, seolah tempat ini sedang mengamatinya dengan rakus.
Ia berdiri sendirian di tengah lautan pedang dan tulang, di bawah langit merah yang tak pernah cerah. Dan ia sama sekali tidak tahu di mana dirinya berada.
"Tempat apa ini? Kenapa ayahanda mengirim aku ke tempat seperti ini?" gumam Zhou Xuan, pada dirinya sendiri.
Pandangannya terus berkeliling, mengamati wilayah disekitarnya. Namun, suara raungan tiba-tiba terdengar seperti raungan binatang buas yang sedang mengamuk.
Roar...!!
Seluruh bulu tengkuknya berdiri, bahkan membuat seluruh tubuh Zhou Xuan bergetar hebat, bahkan untuk melangkah maju pun ia tak mampu.
Hingga suatu asap hitam yang begitu pekat tiba-tiba menggulung-gulung di langit, yang kemudian membentuk wajah raksasa dengan kedua mata yang merah seperti darah.
Bahkan, sosok itu berbicara, "Akhirnya... kau datang juga!"
buat kalian yang mau sawer author bisa via Gopay: 081774888228
Dana juga bisa: 081774888229
dana sama gopay cuma beda belakang nya aja
Bisa juga lewat BCA: 3520695370
semuanya a.n APRILAH
Terimakasih sudah setia membaca karyaku 🙏🙏