NovelToon NovelToon
Suamiku (Bukan) Orang Gila

Suamiku (Bukan) Orang Gila

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEVENTEEN

Kelopak mata yang seberat timah itu perlahan terbuka. Hal pertama yang dirasakan oleh Dayaksa Herlos adalah denyutan hebat yang menghantam bagian belakang kepalanya. Rasa sakitnya begitu menusuk, seakan-akan ada pasak besi yang dihujamkan tepat di batas lehernya. Aksa meringis, mencoba menggerakkan bahunya, namun sekujur tubuhnya langsung memprotes dengan rasa linu yang luar biasa. Otot-ototnya kaku, dan setiap sendinya terasa ngilu sehabis dipaksa mengerahkan tenaga di luar batas kewajaran.

​"Apa yang terjadi...?" gumam Aksa dengan suara parau yang nyaris habis.

​Ia menolehkan kepalanya yang terasa berputar. Di situlah ia menyadarinya. Di atas ranjang luas yang remang-remang itu, Fradella tidur dengan posisi meringkuk miring, menjadikan lengan kiri Aksa sebagai alas kepalanya. Wajah gadis itu masih menyisakan rona pucat yang tipis, namun saat Aksa menempelkan punggung tangan kanannya yang bebas ke kening Della, suhunya sudah normal. Demamnya sudah turun.

​Aksa menatap wajah tidur Della dengan pandangan yang mendadak melembut. Kegelapan dan amarah yang tadi pagi menguasai matanya kini sirna, digantikan oleh binar protektif yang amat murni. Pelan-pelan, dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan guncangan, Aksa menggeser lengannya dari bawah kepala Della. Ia menggantinya dengan bantal empuk, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada istrinya.

​Dengan langkah kaki yang goyah dan terseok-seok, Aksa bangkit dari ranjang. Tubuhnya terasa limbung, namun rasa lapar yang teramat sangat tiba-tiba menghantam ulu hatinya, efek samping yang selalu terjadi setiap kali zat adrenalin dan energi tubuhnya terkuras habis setelah fase mengamuk. Ia berjalan keluar kamar, berpegangan pada dinding koridor, lalu perlahan menuruni anak tangga satu per satu.

​Di ujung tangga lantai bawah, Zacky yang sedang memeriksa beberapa berkas bersama kepala keamanan langsung mendongak. Matanya membelalak melihat sosok tinggi itu berjalan turun tanpa pengawalan.

​"Tuan Muda?!" pekik Zacky terkejut. Setengah berlari, sekretaris setia itu langsung menaiki anak tangga, berusaha mengulurkan tangan untuk memapah tubuh Dayaksa yang tampak tidak stabil.

​"Lepas, Zacky. Aku baik-baik saja," desis Aksa dingin. Ia menepis tangan Zacky dengan sisa tenaganya, meskipun napasnya mulai memburu karena menahan sakit di kepalanya.

​"Ta-tapi Tuan Muda... Anda baru saja menerima sedasi dosis kuat dari Dokter Leon beberapa jam yang lalu. Anda harusnya beristirahat," sahut Zacky dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan.

​"Diam," potong Aksa singkat, tatapannya menghujam tajam membuat Zacky seketika mengunci mulutnya.

​Setibanya di ruang makan utama yang untungnya sudah dibersihkan dari puing-puing kaca oleh para pelayan, Aksa langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kayu jati. Perutnya benar-benar keroncongan, berbunyi nyaring menuntut pengisian.

​"Mana makanannya? Cepat! Lambat sekali kalian bekerja!" teriak Aksa, suaranya menggema di langit-langit ruang makan, membuat seorang pelayan yang sedang menata serbet di sudut ruangan langsung berjengit ketakutan.

​"Aksa, jaga bicaramu!" sebuah suara berwibawa namun terdengar lelah memotong dari arah pintu samping. Jerry Herlos muncul dengan tongkat setianya, wajah tuanya tampak kuyu setelah melewati malam yang panjang. "Belum puas kamu menghancurkan sebagian isi rumah ini tadi pagi? Kenapa tidak sekalian saja kamu hancurkan seluruh mansion ini sampai rata dengan tanah, hah?!"

​Aksa tidak menoleh. Ia hanya mencengkeram garpu di atas meja dengan tangan kanannya yang dibalut perban tipis. "Diam, Kakek! Aku lapar. Aku tidak ingin berdebat dengan siapa pun saat ini!"

​"Kau ini benar-benar—" Jerry mengangkat tongkatnya, bersiap memarahi cucunya lebih lanjut, namun Zacky dengan cekatan segera melangkah maju dan menahan lengan pria tua itu.

​"Tuan Besar, tolong tenanglah. Ingat tekanan darah Anda," bisik Zacky dengan sangat hati-hati. Ia tahu benar, berdebat dengan Dayaksa dalam kondisi pasca-kambuh seperti ini hanya akan memicu ketegangan baru yang tidak ada ujungnya.

​Jerry mengembuskan napas berat, memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak. Beliau akhirnya memilih mengalah dan duduk di kursi ujung meja, menatap cucunya dengan pandangan yang beralih dari kemarahan menjadi rasa iba yang mendalam.

​Tak lama kemudian, beberapa pelayan datang dengan tergesa-gesa, membawa nampan-nampan besar berisi makanan. Wangi gurih langsung menguar di udara. Di atas meja hidangan kini tersaji ayam panggang utuh dengan kulit yang kecokelatan, tiga tangkap burger berukuran besar dengan lelehan keju, semangkuk besar bola-bola daging saus barbekyu, dan beberapa piring tumis sayuran segar. Semua makanan itu sebenarnya sudah disiapkan dalam kondisi setengah matang oleh kepala koki, khusus agar bisa dipanaskan dalam hitungan menit jika sewaktu-waktu Aksa membutuhkan asupan kalori dalam jumlah besar setelah energinya terkuras.

​Tanpa memedulikan tata krama, Aksa langsung menyambar piring daging di depannya. Ia makan dengan sangat lahap, seolah-olah seorang pria yang tidak menyentuh makanan selama tiga hari berturut-turut. Burger besar itu habis dalam beberapa suapan, disusul dengan bola-bola daging yang langsung berpindah ke mulutnya.

​Jerry yang duduk di ujung meja menatap cara makan Aksa yang brutal tanpa suara. Tangan tuanya perlahan mengusap dadanya sendiri. Ada rasa sesal, cemas, dan kepedihan yang mendalam di dalam hatinya. Apa cucuku bisa benar-benar sembuh dari gangguan mental dan jiwa ini? batin Jerry meratap. Ia merindukan sosok Aksa kecil yang ceria, lembut, dan selalu tertawa tanpa ada bayang-bayang kegilaan yang mengejarnya.

​Merasa tidak tahan melihat pemandangan memilukan itu, Jerry akhirnya bangkit berdiri dari kursinya. "Zacky, ikut aku ke ruang kerja. Biarkan anak ini menyelesaikan makannya."

​"Baik, Tuan Besar," jawab Zacky, melirik Aksa sekilas sebelum melangkah pergi mengekor di belakang Jerry, meninggalkan area meja makan yang kini hanya dipenuhi suara denting alat makan Aksa.

​"Bibi.... Bibi.... Bibi...!" teriak Aksa tiba-tiba dengan mulut yang masih penuh dengan kunyahan daging ayam panggang.

​Seorang pelayan paruh baya mendekat dengan tubuh yang gemetar, kedua tangannya saling meremas di depan celemeknya. "I-iya Tu-tuan Muda... Apa... apa ada lagi yang Tuan Muda inginkan?" Pelayan itu masih sangat trauma, bayangan sosok Aksa yang melemparkan piring dan menghancurkan dapur tadi subuh masih melekat jelas di benaknya.

​Aksa menelan makanannya perlahan, lalu menatap pelayan itu dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah serius namun tidak meledak-ledak. "Tolong buatkan bubur ayam untuk Della, istriku. Dia sedang sakit, tidak boleh makan makanan yang berat dulu. Harus dibuat dengan kaldu asli dan rasanya harus sangat enak. Dengar?"

​Pelayan itu tertegun sejenak, terkejut mendengar perhatian yang begitu detail dari majikannya yang terkenal kejam. "Baik, Tuan Muda. Saya... saya akan langsung buatkan di dapur bersih sekarang juga."

​Dengan sebuah kode lambaian tangan pendek, Aksa menyuruh pelayan itu pergi. Ia kemudian melanjutkan makannya hingga bersih, menghabiskan hampir seluruh hidangan yang tersaji di atas meja tanpa sisa, seolah sedang mengisi kembali bahan bakar untuk jiwanya yang sempat kosong.

​Setelah menyelesaikan makan besarnya, Aksa kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Rasa pening di kepalanya sudah sedikit berkurang berkat asupan makanan yang banyak. Saat ia membuka pintu kamar, ia menemukan Della sudah tidak lagi berada di bawah selimut. Istrinya itu berdiri di dekat lemari, baru saja mengikat tali jubah mandi satin berwarna putih gading miliknya. Rambutnya yang hitam tampak agak basah, menyebarkan aroma sampo bunga melati yang segar.

​"Della, kamu sudah bangun...?" ucap Aksa pelan.

​Tanpa menunggu jawaban, Aksa melangkah mendekat dari arah belakang. Ia melingkarkan lengan besarnya di sekeliling pinggang ramping Della, membenamkan wajahnya di antara pundak dan leher istrinya yang masih menyisakan kehangatan setelah mandi.

​"Kamu wangi sekali... Tapi kenapa nekat mandi? Kan kamu masih sakit, tubuhmu bisa kedinginan nanti," bisik Aksa, suaranya terdengar sangat kontras dengan suaranya saat membentak para pelayan di bawah tadi. Di kamar ini, di depan Della, dia melepaskan seluruh topeng monsternya.

​Della merasakan hembusan napas hangat Aksa di kulit lehernya. Ia tersenyum tipis, tidak menolak pelukan itu. "Aku sudah tidak apa-apa, Aksa. Tubuhku rasanya lengket semua karena keringat semalam. Kalau tidak mandi, kepalaku justru semakin pusing."

​Della perlahan membalikkan tubuh Aksa agar pria itu menghadap ke arahnya. Ia menuntun tangan Aksa dan membawa suaminya untuk duduk bersama di tepian ranjang yang empuk. Mata Della langsung tertuju pada telapak tangan dan lengan bawah Aksa yang kini dipenuhi balutan perban dan plester medis yang dipasang terburu-buru oleh para pengawal tadi subuh.

​"Sakit...?" tanya Della lembut, jemarinya yang halus menyentuh pinggiran perban di pergelangan tangan Aksa.

​"Huumm... sakit sekali," jawab Aksa tiba-tiba.

​Seketika itu juga, ekspresi wajah pria bertubuh kekar itu berubah total. Wajahnya menekuk dengan raut manja yang teramat kental, kedua matanya yang tadi malam berkilat seperti psikopat kini tampak berkaca-kaca menatap Della. Ia seolah bertransformasi menjadi seorang anak kecil yang sedang mengadu setelah terjatuh dari sepeda.

​Della menghela napas, setengah gemas setengah kasihan. Ia meraih kotak P3K yang masih tergeletak di meja nakas samping ranjang. Dengan hati-hati, ia membuka balutan perban lama Aksa, memperlihatkan beberapa goresan dalam yang mulai menutup namun masih berwarna merah segar. Della mengambil kapas, membasahinya dengan cairan Betadine, lalu mulai menepuk-nepuknya di atas luka Aksa secara perlahan.

​"Uuuhh... Sakit, Della... Perih..." rengek Aksa. Bibirnya mengerucut ke depan, dan setitik air mata benar-benar nyaris jatuh dari sudut matanya saat merasakan sengatan perih dari cairan antiseptik itu. "Pelan-pelan..."

​Della menghentikan gerakannya sejenak. Ia meletakkan kapas itu kembali ke dalam kotak, lalu menangkup kedua pipi Aksa dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa pria itu menatap tepat ke dalam matanya.

​Cup.

​Della memberikan ciuman singkat namun tegas pada bibir Aksa yang cemberut.

​"Maaf ya, Aksa. Tapi ini harus dibersihkan agar lukanya cepat kering dan tidak infeksi. Tahan sedikit, oke?" ucap Della dengan nada suara yang menenangkan, mirip seperti seorang ibu yang membujuk anaknya.

​Mendapat ciuman itu, Aksa seolah langsung melupakan rasa perih di tangannya. Ia langsung merangsek maju, melingkarkan kedua lengannya yang panjang di leher Della dan memeluk gadis itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada Della. Ia terus merengek manja, menikmati kenyamanan dari detak jantung istrinya yang teratur.

​Tok... Tok... Tok...

​Suara ketukan pintu yang teratur memecah keheningan kamar. Langkah kaki Zacky terdengar mendekat setelah pintu kamar terbuka sedikit. Sekretaris itu masuk dengan pandangan mata yang sengaja diarahkan ke lantai, membawa sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih ngebul dan beberapa wadah obat kecil.

​"Nyonya Muda, maaf mengganggu. Ini bubur ayam yang dipesan Tuan Muda, dan... ini ada obat baru untuk Tuan Muda dari Dokter Leon," ucap Zacky dengan nada profesional yang terlatih.

​Della melepaskan pelukan Aksa perlahan, lalu mengambil wadah obat tersebut dari nampan. Ia membaca label farmasi dan resep yang tertera di sana dengan sangat teliti, memastikan tidak ada lagi zat penukar yang berbahaya seperti yang ia temukan kemarin. Setelah memastikan semuanya aman, ia mengangguk. "Baiklah, obat ini aman untuk dikonsumsi. Terima kasih, Zacky."

​"Sama-sama, Nyonya Muda. Saya permisi dulu," jawab Zacky, lalu segera membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar, menutup pintu rapat-rapat. Ia tidak ingin menjadi saksi hidup lebih lama atas pergolakan emosi aneh majikannya.

​Aksa dengan sigap langsung mengambil alih mangkuk bubur ayam yang masih hangat dari atas nampan. Ia menyendok sedikit bubur, meniupnya dengan sabar agar tidak terlalu panas, lalu mengarahkannya ke depan mulut Della. "Ayo makan, Istriku. Kamu juga harus mengisinya agar bisa minum obat."

​Della tersenyum dan menerima suapan itu. Di dalam kamar yang tenang ini, mereka seolah menciptakan dunia kecil mereka sendiri, melupakan fakta bahwa di luar sana, pusaran konflik baru saja dimulai.

1
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
waduh jangan sampai Aksa gak fokus lagi karena hasil presentasi kedua belah pihak akan ditentukan saat ini antara presentasi Aksa dan Emily tolong jangan kambuh Sa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Zacky memang tangan kanan yg bisa dipercaya & diandalkan
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😭😭 di hati Della, Aksa menang Voting
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😒 monyeet satu ini benar2 tidak tahu malu, dr awal memang sdh tidak waras si Ardyan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
iya Zacky benar bisa jadi Aksa sedang banyak pikiran jadinya ke mode silent
ˢ⍣⃟ₛ 𝐓𝐞𝐬𝐚🤎GD ❥␠⃝ ͭ🍁
malu gak tuh luuu Adryan Juardi gak mungkin Della mau sama kau lagi huuuu bersama Aksa dia diratukan disayangi sedemikian rupa jadi ga butuh pria munafik kek luuu😏🤨
El Zèphyr
Aksa emang gila, tapi dia punya sisi pintar yang gak orang lain ounya
El Zèphyr
Oh astagaa manusia satu ini bucin sekaliehh
El Zèphyr
Aksa Masi bisa mikir kok kalo hal beginian
El Zèphyr
Tatapan yang mengerikan itu muncul guys
El Zèphyr
Aksaa kau jadi bucin + nurut gitu si sama Della.
Lucu deh kalian berdua
El Zèphyr
noh kan noh kannn liattt
El Zèphyr
ihhh bucin aku mau jugak 😽
El Zèphyr
Emang ya, penyesalan selalu datang di akhir
El Zèphyr
ngeri banget kebayang sama aku 😭😭😭
El Zèphyr
Della, sesekali coba bergantung sama orang lain deh.
El Zèphyr
ternyata Aksa cuma salah obat 😭😭😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
jangan tralu overthinking Della, Yakin deh Aksa cuma menginginkan kamu 😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
hihihi🤣 nuntut jatah, kasih Della, suamimu sudah tampil kerenn
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Aksa IQnya tinggi, tapi sayang EQnya aja yg jongkok 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!