Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu di Balik Selimut Sutra
Cahaya fajar yang menerobos masuk melalui celah gorden tipis di apartemen mewah itu menyapu wajah Arselan dengan lembut. Namun, bukan cahaya matahari yang membangunkan sang CEO pagi ini, melainkan sentuhan jemari halus yang menari-nari di atas keningnya, turun ke hidung mancungnya, lalu berhenti di bibirnya yang tegas.
Gisella berbaring miring, menatap wajah kekasihnya yang tampak jauh lebih tenang saat tertidur. Tanpa topeng kaku khas bos besar, Arsel terlihat begitu menawan. Gisel tidak bisa menahan diri untuk tidak meraba rahang tegas itu, merasakan sedikit tekstur kasar dari rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di dagu Arsel.
"Tampan sekali..." bisik Gisel pelan, hampir menyerupai desah napas.
Gerekan jemari Gisel rupanya mengusik tidur lelap Arsel. Kelopak mata pria itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan, menampakkan manik mata tajam yang kini tampak sayu dan penuh kasih. Begitu melihat wajah Gisel di depannya, sebuah senyum tipis terukir di bibir Arsel.
"Ketangkap basah, hm?" suara Arsel terdengar serak, khas suara pria yang baru bangun tidur, yang bagi Gisel terdengar sepuluh kali lipat lebih seksi.
Gisel terkekeh, ingin menarik tangannya, namun Arsel lebih cepat. Ia menangkap tangan Gisel, mengecup telapak tangannya, lalu tiba-tiba menarik tubuh Gisel hingga semakin merapat ke pelukannya. Arsel membenamkan wajahnya di ceruk leher Gisel, menggusel manja seolah mencari kehangatan yang paling nyaman.
"Mas... geli!" Gisel mencoba mendorong bahu bidang Arsel, namun tenaganya sama sekali tidak berarti.
"Sebentar saja, Gisel. Biarkan aku seperti ini," gumam Arsel. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gisel yang baginya adalah wewangian paling memabukkan di dunia.
Keheningan pagi yang romantis itu tiba-tiba berubah menjadi tegang saat Arsel mendongak sedikit, menatap mata Gisel dengan tatapan gelap yang sarat akan damba. Tangannya yang besar mulai merayap di balik selimut, mengelus pinggang ramping Gisel dengan gerakan melingkar yang menggoda.
"Satu kali lagi, Sayang..." bisik Arsel tepat di depan bibir Gisel.
Mata Gisel membelalak. "Mas Arsel! Ini sudah pagi, dan kita... kita baru saja selesai beberapa jam yang lalu. Apa kamu tidak bosan? Apa tidak capek?"
Arsel terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat posesif. Ia kembali menciumi leher jenjang Gisel, memberikan kecupan-kecupan kecil yang kini berubah menjadi hisapan yang menuntut.
"Bosan? Tidak akan pernah," ucap Arsel di sela-sela kegiatannya. "Tubuhmu adalah candu bagiku, Gisel. Aku merasa tidak akan pernah cukup meski sudah memilikimu berkali-kali. Kamu benar-benar membuatku gila."
"Mas... ah, nanti membekas!" Gisel merintih pelan saat merasakan sensasi panas di lehernya. Arsel sengaja meninggalkan jejak kemerahan sebuah tanda kepemilikan yang nyata di kulit mulus itu.
Arsel tidak membiarkan Gisel memprotes lebih jauh. Ia membungkam bibir ceriwis itu dengan ciuman yang dalam dan penuh gairah, melumatnya dengan ritme yang membuat napas Gisel kembali tersengal. Segala rasa lelah dari malam tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang gairah baru yang jauh lebih kuat.
Di bawah selimut sutra yang berantakan, Arsel kembali mendominasi. Sentuhannya yang memuja membuat Gisel kehilangan seluruh kekuatan untuk menolak. Setiap inci kulit mereka yang bersentuhan seolah memercikkan api yang membakar akal sehat.
"Hanya aku, Gisel. Katakan kalau kamu hanya milikku," bisik Arsel dengan napas memburu di telinga Gisel.
"Iya, Mas... aku hanya milikmu," jawab Gisel dengan suara yang nyaris hilang di antara desahan.
Pagi itu, di dalam kamar yang menjadi saksi bisu bersatunya dua hati, mereka kembali hanyut dalam lautan kenikmatan. Ronde ketiga itu bukan lagi soal nafsu belaka, melainkan tentang Arsel yang ingin membuktikan bahwa cintanya sedalam dan sekuat keinginannya untuk selalu memiliki Gisel di setiap embusan napasnya.
Matahari sudah semakin tinggi di luar sana, namun bagi Arsel dan Gisel, dunia seolah berhenti berputar di balik pintu kamar apartemen itu. Mereka tenggelam dalam kebersamaan yang murni, tanpa bayang-bayang obat, tanpa tekanan kontrak hanya dua manusia yang saling mencintai segenap jiwa dan raga.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏