"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Mansion Valerio sore itu bermandikan cahaya jingga yang lembut. Udara musim semi yang segar masuk melalui celah jendela kamar utama yang terbuka lebar, membawa aroma rerumputan yang baru dipotong dan bunga-bintang yang mulai mekar di taman bawah.
Setelah hampir satu minggu bergelut dengan aroma disinfektan dan suara monitor jantung yang menjemukan, akhirnya Veronica bisa menghirup aroma rumah yang sebenarnya.
Veronica bersandar dengan nyaman di atas tumpukan bantal sutra. Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya bugar, rona di wajahnya sudah jauh lebih baik. Di belakangnya, Azeant Apolo-Valerio sedang duduk dengan pengabdian penuh.
"Sedikit ke kiri, Azeant... ya, di sana. Gatal sekali," gumam Veronica sambil memejamkan mata.
Azeant tersenyum tipis, jemarinya bergerak lembut menggaruk punggung istrinya yang terbalut kemeja satin tipis. Baru saja ia selesai mengelap tubuh Veronica dengan air hangat—sebuah ritual yang ia bersikeras lakukan sendiri tanpa bantuan pelayan atau perawat. Baginya, setiap jengkal kulit Veronica adalah tanggung jawab sucinya.
"Kulitmu sedikit kering, Vea. Mungkin efek obat-obatan itu. Nanti aku akan minta mommy membawakan minyak esensial terbaiknya," ucap Azeant dengan nada protektif.
"Aku sudah jauh lebih baik, Azeant. Kau terlalu berlebihan," jawab Veronica sambil berbalik perlahan, menatap suaminya yang kini meletakkan handuk kecil di meja nakas.
Azeant tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang dalam, seolah sedang memetakan setiap detail wajah itu untuk memastikan tidak ada lagi kesedihan yang tertinggal. Ia duduk di tepi ranjang, menarik selimut untuk menutupi kaki Veronica.
"Vea," panggilnya tiba-tiba dengan nada yang berubah menjadi sangat serius.
"Hmm?"
"Aku sudah memikirkan ini sejak kita di rumah sakit kemarin. Tentang Matthew," Azeant menghela napas panjang, matanya menerawang ke langit-langit kamar yang tinggi.
"Saat Matthew besar nanti, aku tidak akan membiarkannya memilih pasangan secara sembarangan. Aku ingin istrinya nanti berasal dari keluarga yang sudah kita kenal baik. Keluarga yang memiliki rekam jejak yang bersih, tanpa sejarah kegilaan atau ambisi busuk seperti... kau tahu, keluarga Garfield."
Veronica mengernyitkan dahi, hampir ingin tertawa namun ia melihat betapa kaku rahang suaminya saat ini. "Azeant, Matthew baru berumur dua tahun lebih. Dia bahkan belum bisa memakai sepatunya sendiri dengan benar, dan kau sudah merencanakan pernikahannya?"
"Ini soal preventif, Vea!" Azeant membela diri, suaranya sedikit meninggi namun tetap lembut. "Aku tidak ingin Matthew harus mengalami apa yang kita alami. Aku tidak ingin dia merasakan sesak napas karena takut kehilangan wanitanya yang diracuni oleh mertua iblis. Istri Matthew harus dari keluarga baik-baik, bangsawan sejati yang tahu cara memperlakukan manusia, bukan pemangsa berkedok dermawan."
Veronica menggelengkan kepalanya perlahan. "Itu tidak mungkin, Azeant. Cinta tidak bisa dijadwalkan atau dikurung dalam daftar kriteria keluarga. Kau tidak bisa mengatur hati anakmu."
"Bisa jika aku mengarahkannya sejak dini," bantah Azeant keras kepala. Ia bangkit dan berjalan mondar-mandir di depan ranjang dengan tangan di pinggang—pose khasnya saat sedang menyusun strategi bisnis besar.
"Bila perlu, aku lebih baik menjodohkan Matthew dengan salah satu anak dari sepupuku saja. Setidaknya kita tahu siapa orang tua mereka. Aku tidak akan terima putraku jatuh ke tangan keluarga jahat. Aku akan memeriksa silsilah setiap gadis yang berani mendekatinya hingga tujuh generasi ke belakang."
Veronica tertawa kecil, tawa yang kali ini terdengar sangat renyah. "Kau terdengar seperti raja dari abad pertengahan, Azeant. Dijodohkan dengan sepupunya? Kau ingin keluarga Valerio menjadi klan yang menutup diri?"
"Aku hanya ingin dia aman, Vea! Kau tidak tahu betapa hancurnya aku malam itu saat melihat bantalmu penuh darah. Aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan anakku merasakan kehancuran yang sama!"
Tepat saat Azeant sedang berapi-api menjelaskan rencananya untuk melakukan "seleksi ketat" bagi calon menantu masa depannya, pintu kamar yang tidak tertutup rapat didorong terbuka.
Dugh!
Matthew masuk dengan berlari, membawa robot mainan yang kehilangan satu lengannya. Ia berhenti tepat di tengah ruangan, menatap ayahnya yang sedang berdiri dengan wajah tegang, lalu menatap ibunya yang sedang tertawa.
"Daddi... kenapa teliak-teliak?" tanya Matthew dengan lidah cadelnya yang menggemaskan.
Azeant langsung luluh. Ia berlutut di depan putranya, mencoba menyejajarkan tinggi badannya. "Daddy sedang bicara serius tentang masa depanmu, Jagoan. Daddy ingin kau nanti menikah dengan putri yang baik, yang cantik, yang... pokoknya yang Daddy pilihkan."
Matthew memiringkan kepalanya, tampak berpikir keras dengan kening yang berkerut persis seperti Azeant saat sedang bingung. "Nikah itu apa, Dad?"
"Menikah itu... seperti Daddy dan Mommy. Hidup bersama selamanya," jelas Azeant singkat.
Matthew menatap ibunya yang sedang tersenyum di atas ranjang, lalu kembali menatap ayahnya. Dengan wajah yang sangat polos namun penuh keyakinan, balita itu menjawab:
"Ndak mau yang pilihin Daddy. Mattew mau nikah sama Mommy aja!"
Veronica meledak dalam tawa, ia memegang perutnya yang sedikit nyeri karena tertawa terlalu keras. "Kau dengar itu, Azeant? Pesaing terberatmu sudah muncul!"
Azeant terbelalak. "Hey, Matthew! Mommy itu istri Daddy. Kau harus cari yang lain!"
Matthew menggeleng kuat-kuat. "Ndak mau! Mattew cuma mau nikah sama olang yang cantik kaya Mommy. Kalau ndak kaya Mommy, Mattew ndak mau nikah. Mattew mau sama Mommy telus!"
Bocah itu kemudian berlari dan naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam pelukan Veronica dan menjulurkan lidahnya ke arah Azeant.
Azeant berdiri, mengacak rambutnya dengan frustrasi namun ada senyum geli yang tidak bisa ia sembunyikan. Kekhawatiran besarnya tentang silsilah keluarga, profil calon menantu, dan perlindungan masa depan seketika hancur berantakan hanya dengan satu kalimat polos dari putranya.
"Kau lihat, Azeant?" ucap Veronica di sela tawanya. "Kau sudah pusing memikirkan kriteria keluarga baik-baik, sementara anakmu hanya punya satu kriteria sederhana, dia harus secantik ibunya."
Azeant mendengus, ia ikut naik ke atas ranjang, mengapit Matthew di antara dirinya dan Veronica. Ia mencium puncak kepala putranya, lalu mencium kening istrinya.
"Baiklah, Jagoan. Jika kriteriamu harus secantik Mommy, sepertinya Daddy harus benar-benar bekerja keras mencarinya. Karena wanita secantik dan sehebat Mommy-mu ini... hanya diciptakan satu di dunia, dan Daddy sudah memilikinya," bisik Azeant.
Sore itu, kamar utama Mansion Valerio tidak lagi dipenuhi oleh perdebatan serius tentang takdir. Yang ada hanyalah tawa kecil seorang balita yang merasa menang, dan dua orang dewasa yang menyadari bahwa masa depan tidak perlu ditakuti secara berlebihan selama mereka memiliki satu sama lain.
Kekhawatiran Azeant yang konyol tentang perjodohan itu menguap, digantikan oleh kehangatan keluarga yang kini terasa begitu lengkap.
"Jadi, tidak ada perjodohan dengan sepupu?" goda Veronica sambil mengedipkan mata.
Azeant mendesah kalah. "Kita lihat saja nanti. Tapi jika dia membawa pulang gadis yang tidak becus membuatkanmu teh, atau membawakan mu racun... aku tetap akan mengusirnya."
"Azeant!"
Dan tawa kembali pecah, menutup hari pertama kembalinya sang nyonya ke rumah yang seharusnya menjadi tempatnya sejak lama.
jd teh celup ka dia disana.... 😂