Dicap sebagai janda rendahan, dipermainkan oleh pria tak bertanggung jawab, dan dicemooh oleh keluarga sendiri karena kemiskinannya, Arumi memiliki segalanya untuk hancur. Namun, Arumi memilih untuk bangkit dari abu.
Ia mematikan hatinya, menolak bantuan siapa pun, dan bekerja dalam diam hingga namanya disegani.
Saat ia kembali, ia tidak datang untuk memohon. Ia datang untuk menagih setiap air mata yang pernah ia jatuhkan.
Karena pembalasan yang paling manis adalah kesuksesan yang membuat musuhmu tidak mampu lagi menatap matamu.
Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Arumi.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Matahari sore menyengat, menyinari ruko A.R Design yang kini tampak kontras dengan bangunan di sekitarnya. Arumi baru saja selesai melakukan final check pada sebuah gaun sutra pesanan khusus ketika bayangan dua orang manusia menutupi pintu ruko.
Arumi tidak perlu mendongak. Wangi parfum murahan yang menyengat bercampur bau keringat asam sudah cukup menjadi pertanda buruk.
Itu Mbak Sari, kakak iparnya yang dulu paling getol membuang pakaian Arumi ke tempat sampah saat ia diusir dari rumah, dan Mas Danu, kakak kandungnya yang selalu memalingkan wajah setiap kali Arumi memohon perlindungan.
"Wah, wah... Adikku tersayang sudah jadi juragan ruko, ya?" suara Sari melengking, memecah ketenangan ruko.
Ia melangkah masuk tanpa diundang, matanya yang liar langsung menyapu mesin-mesin jahit baru, tumpukan kain sutra yang harganya jutaan rupiah, hingga lemari penyimpanan yang penuh dengan aksesori logam mulia.
"Pantas saja tidak pernah kelihatan. Ternyata sedang sibuk main rahasia-rahasiaan jadi bos," sambung Danu, pria berwajah kuyu yang menatap Arumi dengan tatapan meremehkan sekaligus lapar.
Arumi berdiri perlahan. Ia tidak lagi menunduk seperti dulu. Ia mengenakan atasan kemeja katun yang ia jahit sendiri dengan potongan yang sangat elegan. Wajahnya yang dulunya kusam kini terlihat segar, dengan tatapan yang tenang namun dingin.
"Apa yang kalian cari di sini?" tanya Arumi datar.
Sari tertawa, lalu duduk di kursi pelanggan dengan angkuh. "Apa lagi? Tentu saja kunjungan keluarga. Kamu ini keterlaluan, Rum. Sudah sukses, ruko sudah punya, jahitan pasti laku keras, tapi sama kakak sendiri pelitnya minta ampun. Kami ini keluargamu, tahu!"
"Keluarga?" Arumi mengulang kata itu dengan nada getir. "Saat aku diusir di bawah hujan, saat Kirana sakit dan kalian menutup pintu rapat-rapat, di mana kalian?"
Danu mendengus, ia menyalakan rokok di dalam ruangan tertutup tanpa memedulikan kain sutra yang bisa saja terbakar. "Itu dulu! Sekarang beda cerita. Kami dengar kamu dapat proyek besar dari istri gubernur. Kamu tahu sendiri, hidup sekarang susah. Kami datang karena sebagai kakak, kami berhak mendapatkan jatah dari hasil kerja kerasmu. Itu namanya bakti keluarga."
Sari berdiri, jarinya menyentuh gulungan kain Eco-Silk yang mahal. "Kami tidak minta banyak. Cukup sepuluh juta, dan sisanya nanti tiap bulan kamu setor saja ke rumah. Kamu kan sekarang sudah punya uang dari proyek-proyek misterius itu."
Arumi memperhatikan tangan Sari yang kotor menyentuh kain sutranya. Ia tidak memarahi, tidak berteriak, dan tidak menangis. Ia hanya berjalan perlahan menuju meja kasir, mengambil sebuah catatan keuangan, lalu menaruhnya di depan mereka.
"Sepuluh juta? Kalian datang jauh-jauh untuk meminta sepuluh juta?" tanya Arumi dengan senyum tipis yang sangat mengerikan.
"Iya! Itu kecil bagi orang seperti aku dan kamu sekarang!" sahut Danu tak sabar.
Arumi membalik lembaran catatan itu. "Ini rincian biaya yang aku keluarkan untuk hidup di jalanan selama enam bulan setelah kalian mengusirku. Biaya makan Kirana, biaya rumah sakit saat dia demam tinggi, biaya sewa tempat kumuh yang pernah kalian bilang sudah layak buatku."
Arumi menatap mata Danu tajam. "Jika kalian mau bicara tentang jatah keluarga, mari kita hitung berapa hutang atas pengabaian itu. Nilainya tidak cukup dibayar dengan sepuluh juta. Nyawa anakku hampir melayang karena kelakuan kalian. Jadi, sekarang, katakan padaku... bagian mana yang membuatku harus memberi kalian uang?"
Sari dan Danu terperangah. Mereka terbiasa menghadapi Arumi yang penurut, yang akan menangis jika dibentak. Mereka tidak siap menghadapi wanita yang berbicara dengan logika sedingin es.
Danu bangkit, wajahnya memerah karena amarah. "Dasar wanita tidak tahu diri! Kamu pikir kamu siapa sekarang? Kamu cuma janda yang hidup miskin! Jangan sombong, kami bisa saja melaporkanmu ke polisi atau memberitahu Reza bahwa kamu masih ada di sini dan mulai mencari uang!"
Arumi tertawa kecil, sebuah tawa yang membuat Sari merinding. "Lakukan. Silakan pergi ke Reza. Katakan padanya aku di sini. Kalian pikir dengan memanggil Reza, kalian akan dapat uang darinya? Yang ada, Reza akan menginjak kalian lebih dulu karena kalian dianggap sampah yang tidak berguna. Aku sudah bukan Arumi yang bisa kalian tindas lagi."
Arumi memanggil dua pria kuli panggul pasar yang selama ini ia pekerjakan sebagai pengamanan ruko. "Mas, tolong antarkan tamu ini keluar. Mereka lupa jalan menuju pintu."
Sari melotot, namun nyalinya ciut melihat tubuh besar kedua kuli itu. "Kamu akan menyesal, Arumi! Jangan harap kami akan menganggapmu saudara lagi!"
"Syukurlah," jawab Arumi dengan tenang. "Karena sejak hari kalian menutup pintu untuk kami, kalian memang sudah tidak punya saudara lagi di sini."
Setelah Sari dan Danu diseret keluar dengan gerutuan yang tak putus-putus, Arumi kembali ke meja jahitnya. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena sisa amarah yang ia tekan dalam-dalam.
Kirana keluar dari ruang belakang, memegang segelas air untuk ibunya. "Ibu, apa mereka akan kembali?"
"Mungkin," jawab Arumi. "Tapi mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kita lagi. Karena kita sudah tidak lagi berada di level yang sama dengan mereka, Kirana."
Arumi menatap sekeliling rukonya. Ia tidak lagi melihat kemiskinan yang menyiksa. Ia melihat hasil kerja kerasnya sendiri. Ia melihat sepuluh mesin jahit yang bersinar, tumpukan kain yang dibeli dari hasil keringatnya, dan yang paling penting, ia melihat kebebasan.
Malam itu, Arumi tidak menjahit untuk pelanggan. Ia mengambil kain sutra sisa yang paling indah, lalu menjahitkan gaun baru untuk Kirana. Bukan gaun untuk pesta orang lain, tapi gaun untuk putrinya sendiri.
"Ibu, kenapa dijahitkan gaun baru?" tanya Kirana.
"Karena mulai besok, kita akan mulai tampil di depan umum bukan sebagai penjahit rahasia, tapi sebagai pemilik brand A.R Design," Arumi berbisik. "Dunia sudah melihat karya kita. Sekarang, saatnya mereka melihat siapa pembuatnya."
Di luar ruko, di tengah keramaian pasar, orang-orang mulai berbisik-bisik melihat transformasi tempat itu. Ruko yang dulunya kumuh kini tampak seperti butik papan atas. Arumi tidak lagi bersembunyi.
Ia telah bangkit dari kemiskinan dengan cara yang paling elegan, dengan membuktikan bahwa kemampuannya jauh melampaui siapapun yang dulu meremehkannya.
Arumi berdiri di depan cermin besar di rukonya. Ia mengenakan gaun buatannya sendiri yang sangat megah. Ia tidak lagi terlihat seperti janda miskin dari pinggiran kota. Ia terlihat seperti seorang ratu yang baru saja merebut kembali kerajaannya.
"Reza, Dinda," gumamnya pada bayangannya sendiri, "Persiapkan dirimu. Besok, aku akan melangkah ke kantormu bukan untuk memohon pekerjaan, tapi untuk membeli seluruh perusahaanmu."
...----------------...
To Be Continue ....
semoga kuat dan sabar Arumi