Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka 9 meridian utama meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 31 — Tulang yang Keras
Qin Mu mengulurkan tangannya untuk menerima botol porselen merah darah tersebut...
Namun, saat jemarinya menyentuh permukaan porselen yang hangat, ia merasakan sebuah tarikan yang kuat. Botol itu tidak bergerak seinci pun dari genggaman Chao Futian.
Qin Mu menariknya lagi... Gagal. Ia mengerahkan sedikit tenaga spiritualnya. Masih gagal.
Ia mendongak dan melihat pemandangan yang sangat kontras dengan wibawa seorang Tetua Kehormatan.
Chao Futian sedang memegangi botol itu dengan kedua tangan, matanya berkaca-kaca, dan bibirnya gemetar seolah-olah ia sedang menyerahkan anak kandungnya ke medan perang.
"Paman Futian..." panggil Qin Mu datar.
"Mengapa botol ini tidak mau lepas dari tanganmu?"
Chao Futian tidak menjawab. Ia malah menarik botol itu kembali ke pelukannya, mengelusnya dengan kasih sayang yang berlebihan.
"Paman," Qin Mu bertanya lagi dengan nada menyindir.
"Sebenarnya Anda ingin memberikan pil di dalam porselen merah ini atau tidak? Setelah semua kata-kata bijak dan mengharukan tadi, Anda terlihat seperti pencuri yang menyesal."
Bletak!
"Aduh!"
Dalam sekejap mata, tangan Chao Futian yang bebas mendarat tepat di kepala Qin Mu. Gerakannya begitu cepat. Sebuah benjolan sebesar kentang tumbuh seketika di atas kepala pemuda itu.
"Anak nakal! Kau tidak tahu betapa berdarah-darahnya aku mengumpulkan bahan-bahannya!" semprot Chao Futian sambil mengejek ekspresi kesakitan Qin Mu.
"Kau pikir Tanduk Rusa Api dan Inti Mawar Hitam itu tumbuh di halaman belakang rumahmu? Aku hampir kehilangan janggutku karena dikejar Beruang Kristal hanya untuk ini!"
Sambil sesenggukan dramatis, Chao Futian akhirnya perlahan melonggarkan genggamannya. Ia menatap botol porselen itu untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal, pil merah kecilku... Pergilah dan hancurkanlah meridian utama bocah bau ini dengan gagah berani. Jangan buat usahaku sia-sia," bisiknya lirih sebelum benar-benar melepaskan botol itu ke tangan Qin Mu.
Saat botol itu berpindah tangan, sebuah secarik kertas perkamen tua yang terselip di balik lengan jubah Chao Futian ikut terjatuh dan mendarat di telapak tangan Qin Mu.
Qin Mu mengerutkan kening, memungut kertas itu, dan membukanya. Matanya membelalak lebar saat melihat deretan nama tanaman herbal, dosis pemurnian, hingga teknik pengendalian api yang tertulis dengan sangat detail di sana.
"Paman, apa ini?" tanya Qin Mu dengan suara tertahan.
"Itu? Itu adalah resep pil," jawab Chao Futian santai sembari menyeka air mata buayanya.
Qin Mu tersentak. Ia hampir menjatuhkan kertas itu seolah-olah benda itu adalah bara api yang panas.
Di dunia kultivasi, keahlian seorang Alkemis adalah nyawa mereka. Para kultivator Alkimia sangat menyombongkan keahlian mereka; memberikan sebuah resep pil secara cuma-cuma adalah hal yang sangat tabu.
Resep pil adalah harta karun yang hanya diwariskan dari guru ke murid sah atau disimpan rapat-rapat dalam suatu organisasi.
"Paman Futian, mengapa Anda memberikan hal ini kepadaku?" tanya Qin Mu serius.
"Aku bukan muridmu, dan kita tidak memiliki ikatan janji alkimia. Ini terlalu berharga!"
Chao Futian mendengus, kembali ke sikap acuhnya yang biasa.
"Jangan terlalu percaya diri, bocah. Aku memberikan itu karena kau memiliki ingatan yang bagus. Kau bisa menjelaskan ulang bahasa isyarat ku, itu artinya otakmu masih waras meski fisikmu sering dihina," ujar Chao Futian sambil melambaikan tangan.
'Bahasa isyarat?'
"Lagipula, itu bukan resep tingkat tinggi yang bisa mengguncang dunia. Itu hanyalah Resep Pil Pembersih Sumsum, sebuah pil Tingkat Kuning Menengah. Anggap saja itu sebagai modalmu agar kau tidak hanya tahu cara mengayunkan batangan besi hitam meteor itu, tapi juga tahu apa yang kau masukkan ke dalam mulutmu."
Chao Futian merapikan jubah abu-abunya yang sedikit berantakan. Ia melirik jendela yang masih terbuka, lalu menatap Qin Mu untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Oh, satu hal lagi, Mu er," ucap Chao Futian dengan nada yang tiba-tiba melunak, namun matanya berkilat penuh selidik.
"Tubuhmu itu... jauh lebih kuat dari yang terlihat. Jaga baik-baik aset itu. Jangan sembarangan membiarkan kultivator tingkat tinggi menyentuh nadimu jika kau tidak mempercayai mereka sepenuhnya."
Qin Mu mengedipkan mata, merasa bingung dengan peringatan yang tiba-tiba itu.
"Tubuh kuat? Bukankah itu karena aku rajin menempa fisik Paman?"
Chao Futian hanya memberikan senyum misterius yang sulit diartikan.
"Mungkin saja... Sudahlah, aku pergi dulu. Ingat, Pil Penghancur Meridian Sejati itu harus diminum saat bulan mencapai puncaknya!"
Tanpa menunggu balasan, tubuh sang Alkemis bergerak ringan, melompat keluar jendela dan menghilang dengan kecepatan yang tak terduga bagi pria seusianya.
"Paman Futian benar-benar orang yang eksentrik," gumam Qin Mu sambil menggelengkan kepala. Ia menutup jendela kamarnya, lalu menghela napas panjang.
Sementara itu, jauh di luar kompleks kediaman terpencil milik Qin Mu, Chao Futian berjalan dengan langkah cepat. Setelah merasa cukup jauh, ia berhenti.
Napasnya sedikit memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena gejolak rasa ingin tahu yang ia tahan sejak tadi. Ia menarik tangannya yang melingkar cincin ruang.
Dari dalamnya, ia menarik sebatang Jarum Emas. Itu adalah jarum emas yang sama yang digunakan untuk membuka meridian utama Qin Mu 6 bulan yang lalu.
Mata Chao Futian membelalak. Jarum yang seharusnya lurus sempurna dan terbuat dari logam spiritual itu kini tampak bengkok di bagian ujungnya, seolah-olah baru saja mencoba menembus dinding baja yang sangat tebal.
"Gila... Walaupun aku hanya menyalurkan sedikit energi spiritual pada ranah Lautan Qi. Jarum Emas ku di buat bengkok." bisik Chao Futian, tangannya sedikit gemetar.
Ia teringat saat ia menyentuh nadi Qin Mu di lapangan kemarin dan tadi pagi. Ia sempat mencoba mengalirkan sedikit energi spiritual untuk memeriksa sekali lagi apakah intuisi nya benar secara diam-diam. Namun, jarum emasnya miliknya malah dibuat bengkok.
"Tulang yang sangat keras... Itu bukan sekadar tulang manusia biasa. Bagaimana mungkin seorang remaja di ranah Spiritual Mendalam memiliki kepadatan tulang yang menolak pemeriksaan seorang alkemis?"
Chao Futian bergidik ngeri. Rasa ingin tahunya sebagai seorang ahli pengobatan juga melonjak hebat; ia sangat ingin membedah atau setidaknya memeriksa lebih lanjut struktur tubuh Qin Mu. Namun, bayangan wajah serius Qin Feiyan mendadak muncul di benaknya.
"Saudara Futian, jika suatu saat kau melihat sesuatu yang aneh pada putra ku... berjanjilah padaku untuk tetap diam dan hanya melindunginya. Jangan menyelidikinya lebih jauh, demi keselamatannya."
Janji itu diucapkan Qin Feiyan bertahun-tahun lalu dengan nada yang sangat berat.
'Saudara Feiyan. Apakah kau peramal masa depan? Kau sungguh mengatakannya padaku jauh-jauh hari.'
Chao Futian menghela napas, menyimpan kembali jarum bengkok itu dengan perasaan campur aduk.
"Baiklah, aku akan memegang janjiku. Aku sangat menantikan akan menjadi monster seperti apa kau di masa depan, bocah bau."