NovelToon NovelToon
Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Penulis Erotis Tawanan Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Mafia
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: nenah adja

Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.

Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.

"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketahuan

Jantung Ella rasanya mau copot saat dia mendengar pintu terbuka lalu tertutup. Suara langkah sepatu seperti terdengar berdengung di telinganya saking berdebarnya jantungnya.

"Sial, sekarang bagaimana?" Ketukan sepatu berhenti. Saat Ella melihat dari kolong sofa dia melihat sepatu berhenti tepat di depannya.

Ella memiringkan wajahnya, namun celah sofa yang kecil membuat dia hanya bisa melihat ujung sepatunya saja.

Sepatu itu berhenti beberapa saat hingga kembali bergerak ke arah kamar mandi.

Beberapa saat Ella menunggu dengan suara gemericik air dari kamar mandi, hingga sebuah kaki dengan sandal rumahan keluar.

Ella merasa saat inilah waktunya dia keluar dia berniat menemui Dominic dan meminta pria itu agar segera melepaskannya sebab jika dia terus disana dia akan berakhir mati, namun saat dia akan keluar suara pintu terbuka diikuti ketukan sepatu wanita.

Ella memutar tubuhnya, melongokkan wajahnya di ujung sofa dan melihat seorang wanita bergaun merah dan seksi melangkah mengikuti seorang pria yang Ella tahu sebagai kepala pelayan.

"Wanita anda, Tuan," ucap si kepala pelayan.

"Hm." terdengar gumaman dari si tuan yang masih tak bisa terlihat wajahnya oleh Ella.

"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Kepala pelayan undur diri menyisakan wanita seksi itu yang menampilkan senyum menggoda. Dadanya membusung membuat benda itu terlihat hampir tumpah dari gaun tanpa lengannya. Langkahnya mendekati tuan rumah, namun Ella jadi tak bisa melihat adegan setelahnya sebab tubuh mereka terhalang badan sofa.

Ella berdecak saat dia merasa dia terjebak dan tidak di waktu yang tepat. Saat ini adalah waktunya si tuan rumah bermain dengan wanita untuk membuktikan kejantanannya.

"Tuan, Anda suka gaya seperti apa?" Suara wanita itu mendayu membuat Ella ingin muntah.

"Tunjukkan saja padaku."

Wanita itu terkekeh. "Jadi, anda lebih suka langsung pada intinya?"

"Anda benar, saat dilakukan tanpa pemanasan itu akan terasa menjepit karena masih kering. Tapi bagaimana lagi, aku tetap basah saat hanya melihatmu." godanya.

Ella semakin mual mendengar suara yang bercampur desahan itu. Dia bahkan harus menutup mulutnya agar tidak benar-benar muntah.

"Bagaimana menurut tuan payu daraku."

Ella yakin wanita itu sekarang tengah memamerkan buah pepayanya.

"Ah!"

Ella menutup telinganya saat wanita itu mendesah. Matanya mengintip namun tetap saja tubuh keduanya terhalang badan sofa panjang yang dia jadikan tempat sembunyi.

"Ayolah, tuan... ah!" desahan itu terjadi beberapa menit hingga suara tembakan terdengar nyaring membuat Ella memekik tertahan dengan menutup telinganya.

"Membosankan!"

Ella mengintip dari celah bawah dan menutup mulutnya saat melihat wanita yang setengah te lan jang itu mati dengan mata melotot dan kepala bolong.

Ella ingin menangis saat lagi- lagi dia melihat pembunuhan di depannya, tubuhnya bergetar hebat dengan tangan yang terus menutup mulutnya erat.

"Keluar atau aku seret kau dari sana!" Suara berat terdengar membuat Ella semakin bergetar.

"Kamu tidak berpikir kalau aku tidak tahu keberadaanmu, kan?" Ella mendongak, saat merasa si tuan rumah bicara padanya.

"Aku hitung sampai tiga, jika kau tidak keluar, aku akan pastikan peluru ini tetap menembusmu." Benar pria itu bicara padanya.

Ella menelan ludahnya kasar, tubuhnya semakin kaku seolah tak bisa bergerak.

"Satu..."

"Dua..."

"Ti—" Ella memunculkan kepalanya di balik sofa dan melotot saat melihat ujung pistol yang benar-benar mengarah padanya. Namun kalah dari itu Ella justru terkejut saat pria yang selama ini tersembunyi wajahnya justru pria yang beberapa hari ini dia temui.

"Dom?"

Dominic menyeringai, mata tajamnya penuh ejekan, "Jadi, sudah berani menyelinap? Apa yang kau inginkan?"

Ella menaikan tangannya ke udara pertanda menyerah. "A—ku tidak akan melakukannya kalau kau mau bertemu." Ella masih merasa terkejut. Bagaimana bisa pria tampan yang beberapa waktu lalu dia kagumi adalah pria jahat yang menculiknya dan mengancamnya.

Mata tajam Dominic masih menatapnya dengan menodongkan pistol di tangannya.

Ella menelan ludahnya kasar, matanya berkaca- kaca hendak menangis.

"Kamu tahu orang yang menyelinap kesini tidak pernah bisa keluar dengan selamat."

"Ta— pi aku." Suara Ella tercekat antara takut dan sedih. Kenapa nasibnya seburuk ini?

Beberapa pengawal masuk dan menyeret wanita yang sudah tewas itu tanpa perasaan. Ujung mata Ella menatap dengan rasa kasihan sekaligus ngeri. Bagaimana jika dia dalam posisi itu? Apa mereka akan menyeretnya juga seperti anjing?

Tentu saja.

Ella kembali menatap Dominic yang masih duduk dengan tenang. "Aku tidak akan melakukan ini kalau kau tidak terus menolak naskahku." Ella memberanikan diri bicara.

"Itu karena semua sampah yang tidak berguna."

"Lalu kenapa kau masih menahanku? Lepaskan aku. Aku janji tidak akan mengatakan apapun pada siapapun!" Zena menaikan dua jari tangannya menandakan jika dia benar-benar bersumpah.

"Manusia tidak akan diam selamanya kecuali mati." Dominic menarik pelatuk bersiap untuk menembak.

"Lalu apa maumu? Bukankah aku juga tidak berguna!" Zena menatap kesal sekaligus takut.

"Tetap menulis!"

"Tidak waras. Kau janji akan memberi uang banyak tapi sampai sekarang kau tidak juga menerima naskahku, lalu kapan aku akan mendapat uang yang kau janjikan?" Ella mendengus. "Atau kau hanya berbohong dan ingin terus mendapatkan bacaan gratis, begitu?"

"Kau meragukan aku?"

"Bagaimana lagi, kau yang tidak mampu tapi justru menyalahkan aku, bilang setiap bab yang kubuat tidak berguna."

"Apa kau bilang?!" Dominic bangun dan menempelkan moncong pistol tepat di kepalanya hingga dia bisa merasakan dingin besi tersebut di dahinya.

Ella membelalakan matanya lalu menyingkirkan pelan pistol tersebut, namun Dominic dengan cepat menekannya kembali ke dahinya.

"Be— begini tuan, setidaknya ... kau harus beritahu di bagian mana yang tidak berguna. Kau tidak bisa terus menyalahkan aku karena masalahmu itu." Ella menatap bagian bawah Dominic yang masih terbungkus handuk kimono sebab pria itu memang baru selesai mandi.

"Ceklek!"

"Baiklah, baiklah!" Ella memejamkan mata dengan menutup telinganya, teriakannya terdengar nyaring sebab takut peluru itu benar menembus kepalanya.

"Begini saja ... " Mata Ella kembali terbuka menatap wajah datar Dominic. "Ka— karena masalahmu memang 'ketidak mampuan', yang kadang juga menegang karena membaca novelku. Aku beri jalan keluar."

Dominic menaikan alisnya, saat Ella berjalan mundur dia justru mendekat.

"Ka—lau ... kalau ini juga tidak bisa, aku ... mungkin akan benar-benar mati di tanganmu."

"Kau yakin?"

"Memangnya aku akan selamat?" Entah itu sekarang atau nanti dia tetap akan mati. Tapi setidaknya dia bisa menunggu beberapa jam untuk menghirup udara kehidupan.

Ella menghela nafasnya lelah, mungkin dia harus menerima takdirnya, nasibnya memang harus begini. Tapi satu hal yang akan terjadi. Jika dia benar- benar mati hari ini, maka dia bersumpah akan menggentayangi Dominic membuat pria itu ketakutan sampai dia mati bunuh diri karen frustasi.

Benar! Itu adalah rencana yang bagus.

"Baiklah, katakan!"

"Hah, apa?" Ella mengerjapkan matanya saat pistol di turunkan sesaat, dan kembali mengarah padanya diiringi decakan kasar Dominic.

"Ck, kubilang katakan!"

"Akh! Iya, iya aku katakan!" Ella kembali menyingkirkan pistol Dominic dan kali ini benda itu benar-benar menjauh dari kepalanya.

"Jadi, tuan. Aku pikir daripada kau hanya membaca novelku saja..." Ella melirik pistol yang masih menggantung di sisi tubuh Dominic, takut tiba-tiba benda itu kembali ke kepalanya.

"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"

1
Saadah Rangkuti
memang LICIKKK..kau Dominik
Ne Ajja
lagi praktek itu, La...
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
Ne Ajja
hemmm....
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
S
lama banget thor up nya, udang greget deh gue nungguin 🥴
Agus Tina
ceritanya bqgus, kain dr yg lain ... ayo pembaca kemana aja kalian. rekomend ini loh
Ne Ajja
ati2 Dom...
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
Saadah Rangkuti
akal bulus si tuan Dom imah,, biar ella kembali 😃
Ne Ajja
masuk perangkap, Dom nih
nenah adja: siap2 jadi tawanan gak tuh🤣
total 1 replies
Saadah Rangkuti
jangaaaaannn...🤣🤣🤣
Agus Tina
Yaa kalau pindah sedih deh ... tapi tetep semangat ya thor. Ceritamu bagus2 kok ...
nenah adja: tengkyu kk,😍
total 1 replies
Niar Humairah
info ya thorr kalo pindah ke ffff
nenah adja: kalau cerita ini sudah terhapus berarti sudah pindah🤣
total 1 replies
Aryati Ningsih
disini aja thor
Ne Ajja
nama pena nya apa Ka?
nenah adja: 🤣🤣🤣 bisa jadi
total 3 replies
Indah Lestari
yaaah...sedih deh,,,
bakal kangen dunks kak ....
Riri DH
jangan di drop dong Thor..
Niar Humairah
kereeen
Ne Ajja
berani juga, Dom...
Saadah Rangkuti
ternyata itu nyata ya say,,sampai basah lagi 😁😁
Ne Ajja
ayo Ella, kerja yg rajin ya...

aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..
nenah adja: aamiin🤲 tengkyu ya🤧😍
total 1 replies
Niar Humairah
hahaaa🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!