NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 : Rumah kaya gedung pernikahan

Malam itu, suasana ruang tamu akhirnya kembali tenang setelah perdebatan panjang. Pak Arman, Ibu Farah, Kevin, dan Revan masih duduk bersama membahas berbagai kemungkinan.

"Kalau ditunda terus, saya takut anak itu masih akan mengganggu Queen," ujar Pak Arman dengan wajah serius.

Kevin mengangguk setuju. "Gue juga nggak percaya lagi sama Nathan."

Ibu Farah langsung menimpali. "Setelah kejadian malam ini, Mama makin yakin."

Revan terdiam cukup lama.

Ia tahu alasan mereka masuk akal. Namun tetap saja, ada satu orang yang belum dimintai pendapatnya... Queen.

"Bagaimana kalau kita tunggu dulu sampai Queen sadar?" usul Revan.

Ibu Farah langsung menggeleng. "Kalau Queen tahu sekarang, dia pasti langsung kabur."

Kevin hampir tertawa. "Aku seuju sama Mama."

Pak Arman menghela napas panjang. "Lagipula waktu kita tidak banyak."

Beberapa menit kemudian, setelah berbagai pertimbangan. Keputusan akhirnya diambil, pernikahan akan dipercepat... lusa. Hanya dua hari lagi dan untuk sementara waktu, Queen tidak boleh mengetahuinya terlebih dahulu.

Revan memejamkan mata sesaat. Entah kenapa keputusan itu membuat dadanya terasa berat. Namun pada akhirnya ia tidak membantah lagi.

Malam semakin larut, Revan sudah pamit pulang dan satu per satu mereka akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Tidak ada yang menyadari bahwa di lantai atas. Queen masih tertidur pulas tanpa tahu bahwa nasib hidupnya baru saja diputuskan.

Keesokan harinya...

Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Rumah keluarga Queen yang biasanya tenang mendadak berubah ramai. Puluhan pekerja lalu-lalang, tenda besar mulai dipasang di halaman.

Kursi-kursi berdatangan, rangkaian bunga putih dan emas mulai memenuhi sudut rumah. Bahkan beberapa vendor dekorasi terlihat sibuk mengukur area taman. Suasana rumah sudah seperti akan mengadakan pesta besar.

Di lantai atas...

Queen masih tidur, efek mabuk semalam membuat kepalanya terasa berat. Ia sama sekali tidak mendengar keramaian di luar.

Sampai tiba-tiba...

BRAK!

Pintu kamarnya terbuka mendadak.

"Queeeeennnn!!!"

Queen langsung terlonjak dari kasur. "Astaga!"

Ia hampir jatuh, di depan pintu berdiri Anggi dengan napas terengah-engah. "Bangun!"

Queen memegang dadanya. "Astaga, apaan sih Anggi!"

"Astaga Queen!"

"Ko lo yang bilang astaga!"

"Bangun!"

"Gue udah bangun!"

"Bangun yang bener!"

Queen semakin pusing. "Lo kenapa sih?!"

Anggi langsung menarik tangannya. "Ayo lihat keluar!"

"Nggak mau."

"Ayo!"

"Nggak mau! Gue masih ngantuk!"

Anggi akhirnya menyeret Queen sampai ke balkon kamar. Begitu tirai dibuka, Queen langsung membeku.

"Hah?"

Matanya berkedip beberapa kali.

Di bawah sana, puluhan orang sedang bekerja. Tenda besar berdiri di halaman. Bunga-bunga mulai dipasang, kursi berjajar rapi.

Bahkan panggung kecil sudah mulai dibangun. Queen menatap semuanya dengan wajah kosong. Lalu menoleh ke Anggi, kemudian menoleh lagi ke halaman. Lalu kembali ke Anggi.

"Ini seriusan, apa gue mimpi?"

"Nggak, lo nggak mimpi."

"Atau gue lagi berhalusinasi?"

"Nggak Queen, ini nyata."

Queen mengucek matanya, tetap sama. Keramaian itu nyata. "Rumah gue kenapa?"

Anggi menunjuk ke bawah dengan panik. "Iu yang mau gue tanyain!"

Queen membeku, beberapa detik. Lima detik, sepuluh detik. Lalu...

yyuiii

 k"Anggiiii!"

"Apa?!"

"Kenapa rumah gue kayak gedung pernikahan!"

Anggi langsung menunjuk dirinya sendiri. "Ya mana gue tahu."

Queen menelan ludah, perasaan tidak enak langsung muncul. Dan tepat saat itu, terdengar suara Ibu Farah dari bawah. "Queen! Kalau sudah bangun cepat mandi ya!"

Queen membeku. "Ada apa sih!"

"Setelah itu turun!"

"Untuk apa?"

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Lalu terdengar suara Ibu Farah yang terdengar terlalu ceria. "Kita mau bahas pernikahan kamu!"

Queen dan Anggi langsung saling menatap. Lalu...

"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" Teriakan Queen menggema ke seluruh rumah.

Para pekerja di bawah sampai ikut menoleh kaget. Sedangkan di ruang tamu, Kevin yang sedang minum kopi hanya menutup mata.

"Kebiasaan..." Ia menghela napas panjang. "Mulai deh."

Anggi masih berdiri dengan mata membulat sempurna setelah mendengar teriakan Ibu Farah dari bawah. "Tunggu... tunggu..." Anggi menunjuk Queen dengan jari gemetar. "Apa?"

Queen langsung punya firasat buruk.

"Lo mau nikah, Queen?!"

Refleks Queen langsung menutup mulut sahabatnya.

"Sssttt!"

"Mmmmhh!"

"Anggi, gue mohon!" Queen menatapnya panik.n"Jangan bilang siapa-siapa."

Anggi langsung melepaskan tangan Queen dari mulutnya. "Hah?"

"Terutama sama Nathan."

Anggi mengernyit. "Loh kenapa?"

Queen menghela napas panjang. "Gue nggak mau Nathan tahu kalau gue mau nikah."

Anggi langsung membeku. Beberapa detik, lalu matanya kembali membulat. "Tunggu."

"Hm?"

"Jadi maksud lo..."

Queen mulai merasa tidak nyaman. "Lo beneran mau nikah?"

Queen memejamkan mata. "Masalahnya bukan itu."

"Terus?" Anggi menunjuknya lagi. "Jadi lo mau nikah, tapi bukan sama Nathan?"

Queen mengangguk pelan.

Anggi langsung makin bingung. "Lah terus sama siapa?"

Queen terdiam beberapa saat. Jujur saja, sampai sekarang dirinya sendiri masih sulit mempercayainya. Namun karena Anggi tidak akan berhenti bertanya...

Akhirnya ia menjawab. "Gue dijodohin."

"Hah? Sama siapa?"

Queen menggaruk tengkuknya pelan. Kemudian menjawab dengan suara pelan. "Sama Pak Revan."

Anggi membeku.

Queen sampai mulai khawatir. "Nggi?"

Tidak ada jawaban.

"Anggi?"

Masih diam.

Lalu tiba-tiba... "Aaaaaaahhhhhhhhhh!!!" Anggi menjerit begitu keras sampai Queen ikut kaget.

"Astaga!"

"Gila!" Anggi langsung mengguncang kedua bahu Queen. "Gila... si Queen, ini gila..."

"Anggi!"

"Seriusan Queen lo gila."

"Anggi berhenti!"

"Lo mau nikah sama dosen keren itu?"

Queen hampir jatuh karena diguncang terus-menerus. "Anggi!"

"Demi apa Queen?!"

"Berhenti goyangin gue!"

Anggi akhirnya melepaskannya. Tapi hanya untuk melompat-lompat di tempat.

Queen memegang kepalanya yang masih pening. "Kenapa sih lo Nggi, ko lo malah heboh?"

"Heh, itu Pak Revan!"

"Iya terus?"

Anggi langsung memegang kedua pipi Queen. "Itu dosen paling ganteng di kampus!"

Queen memejamkan mata. "Astaga..."

"Itu dosen yang tiap lewat koridor bikin setengah mahasiswi nengok!"

"Gue lagi pusing loh Nggi."

"Itu dosen yang kalau ngajar semua mahasiswa langsung rajin masuk kelas!"

Queen menjatuhkan dirinya ke kasur. "Tau ah Nggi, gue pusing."

Namun Anggi justru ikut duduk di sampingnya dengan wajah berbinar. "Queen."

"Apa?"

"Lo sadar nggak sih?"

"Nggak."

"Lo beruntung banget."

Queen langsung melotot.n"Beruntung dari mana?"

Anggi menunjuk dirinya sendiri. "Coba lihat gue."

"Hm?"

"Kalau gue dijodohin sama Pak Revan, gue udah nyebar undangan dari kemarin."

Queen melempar bantal ke wajah sahabatnya.

BUGH!

"Aduh!"

"Lo nyebelin."

Anggi malah tertawa. "Hahahaha."

Sedangkan Queen kembali memeluk guling dengan kesal. "Lo nggak ngerti masalahnya."

"Ya udah coba jelasin."

Queen menghela napas panjang. "Gue masih skripsi. Gue masih bingung sama hidup gue."

"Iya terus."

"Terus tiba-tiba disuruh nikah."

Anggi mengangguk pelan. "Oke, kalau itu gue paham."

Queen akhirnya bersandar ke kepala tempat tidur. "Makanya jangan senang dulu."

Namun beberapa detik kemudian...

Anggi justru tersenyum jahil. "Eh tapi jujur ya."

"Apa lagi?"

"Kalau dibanding Nathan..."

Queen langsung menyipitkan mata. "Kenapa?"

Anggi terkekeh. "Pak Revan itu ada di level atas."

"Anggi!"

"Hahaha!"

Queen kembali memukul lengan sahabatnya. Sedangkan Anggi terus tertawa melihat ekspresi panik dan kesal Queen. Kini Queen benar-benar tidak tahu harus marah kepada siapa. Karena bahkan sahabatnya sendiri malah terlihat lebih bahagia dibanding calon pengantinnya.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!