NovelToon NovelToon
Gara-gara One Night Stand

Gara-gara One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: dina Auliya

Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.


Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.


Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Yang Ratak

Pagi ini Nayra bangun dengan perasaan yang tidak enak. Bukan hanya karena tubuhnya yang masih lemas. Tapi karena pikirannya… tidak berhenti semalaman. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.

“Na…” Suara Sinta terdengar pelan.

“Iya?”

“Kamu semalaman nggak tidur, ya?”

Nayra tersenyum tipis. “Kebangun terus.”

Sinta langsung datang menghampiri. “Masih kepikiran dia?”

Nayra tidak langsung menjawab. Beberapa detik. Lalu mengangguk. “Iya…”

Sinta menghela napas panjang. “Na, Kamu harus berhenti mikirin itu dulu.”

“Aku udah coba…” “Tapi?” Nayra menunduk. “Aku nggak bisa.”

Sinta menatapnya. “Kenapa?”

Nayra menggenggam tangannya sendiri. “Karena perasaan itu makin kuat.”

Sinta diam.

“Aku takut, Sin…”

“Takut kalau dia orang yang sama?”

Nayra mengangguk pelan.

“Dan kalau benar…” ia tidak melanjutkan.

Karena jawabannya terlalu jelas.

Di kampus— Suasana terasa sedikit berbeda. Bukan karena lingkungan berubah. Tapi karena ada sesuatu yang mulai bergeser. Tatapan. Bisikan. Hal-hal kecil yang biasanya tidak terasa. Kini mulai terasa.

Nayra berjalan di koridor. Beberapa orang meliriknya. Tidak lama. Tapi cukup membuatnya sadar.

“Kamu ngerasa nggak?” bisiknya pada Sinta.

Sinta melirik sekitar. “Ngerasa apa?”

“Orang-orang…”

Sinta memperhatikan. Lalu menggeleng. “Biasa aja, Na.”

Nayra menelan ludah. “Mungkin Aku yang terlalu sensitif…” Namun perasaan itu tidak hilang.

Saat mereka masuk kelas— Beberapa teman terlihat berbisik. Saat Nayra lewat— Suara itu berhenti. Hal kecil. Tapi cukup.

“Na…” Sinta berbisik.

“Iya?”

“Jangan dipikirin.”

Nayra mengangguk. Tapi hatinya tidak setenang itu.

Jam istirahat— Nayra duduk di bangku luar kelas.

Sinta pergi sebentar ke kantin.

Ia sendirian. Tangannya memegang botol air. Namun tidak diminum. Pikirannya kosong.

Lalu—Suara langkah mendekat.

“Na.”

Nayra menoleh.

Rina. Wajahnya terlihat serius.

“Rin…”

Rina duduk di sampingnya. Beberapa detik hening. “Aku mau tanya sesuatu,” ucap Rina.

Nada suaranya tidak seperti biasa.Lebih pelan. Tapi… tajam.

“Apa?” tanya Nayra.

Rina menatapnya langsung. “Kamu jujur ya.”

Deg.

Nayra langsung tegang. “Iya…”

Rina menarik napas. “Kamu… lagi hamil?”

Dunia seperti berhenti. Suara di sekitar menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung Nayra. Cepat. Keras.

“Rin…” Suaranya hampir tidak keluar.

“Jawab, Na,” desak Rina. Tatapannya tidak main-main.

Nayra menunduk. Tangannya gemetar. Ia ingin menyangkal. Ingin tertawa seperti kemarin. Tapi— Kali ini berbeda. Tatapan Rina terlalu yakin.

“Aku lihat kamu muntah kemarin di toilet,” lanjut Rina pelan.

Nayra membeku.

“Dan… Aku dengar dari penjaga klinik kampus…” Kalimat itu menggantung.

Cukup untuk membuat Nayra mengerti. Rahasia itu. Mulai retak. Beberapa detik hening. Sangat lama. Nayra menarik napas pelan. Lalu mengangkat wajahnya.

Matanya berkaca-kaca. “Iya…” Jawaban itu keluar pelan.Hampir seperti bisikan. Tapi cukup jelas.

Rina terdiam. Wajahnya berubah. Terkejut. “Serius…?”

Nayra mengangguk. Air mata mulai jatuh.

“Udah berapa lama?” tanya Rina. “Beberapa minggu…”

Rina menutup mulutnya. “Na…”

Nayra menunduk lagi. “Aku nggak mau orang lain tahu…” Suaranya gemetar.

Rina menatapnya lama. Campuran antara kaget, bingung, dan tidak percaya.

“Siapa… bapaknya?” tanya Rina pelan.

Nayra langsung menggeleng. “Aku nggak tahu.”

Rina mengernyit. “Maksudnya?”

Nayra menutup mata. “Dia orang asing…” Jawaban itu membuat Rina semakin terdiam.

“Na… ini bukan hal kecil.”

Nayra mengangguk. “Aku tahu…”

“Kamu sadar konsekuensinya?”

Nayra tersenyum pahit. “Setiap hari.”

Sinta kembali dari kantin. Ia berhenti saat melihat mereka berdua. Suasana terasa berbeda. Tegang.

“Aku ganggu?” tanya Sinta.

Rina menoleh. Lalu berdiri pelan. “Enggak… Aku cuma ngobrol sama Nayra.” Nada suaranya berubah. Berbeda.

Sinta langsung menyadari. “Ada apa?”

Rina menatap Nayra sebentar. Lalu berkata pelan, “Tanya aja sama dia.” Dan ia pergi.

Meninggalkan mereka berdua.

Sinta langsung duduk di samping Nayra. “Na…”

Nayra tidak menatapnya. “Dia tahu…” ucap Nayra pelan.

Sinta membeku. “Apanya?”

Nayra mengangkat wajahnya. Air matanya sudah jatuh. “Semuanya…”

Sinta langsung terdiam.

"Aku nggak bisa bohong lagi…” Suaranya bergetar.

Sinta menggenggam tangannya. “Dia bakal cerita ke orang lain?”

Nayra menggeleng pelan. “Aku nggak tahu…”

Itu yang paling menakutkan. Ketidakpastian.

Di sisi lain kota— Arsen duduk di ruangannya.

Raka berdiri di depan dengan wajah serius.

“Pak… kita sudah konfirmasi.”

Arsen langsung menoleh.

“Dia benar mahasiswi di kampus itu.”

Arsen mengangguk pelan.“Dan…”

Raka berhenti sejenak. “Dia sering ke klinik… dengan kondisi yang sama.”

Arsen menatapnya tajam. “Maksud mu?”

Raka menarik napas. “Dia… kemungkinan besar sedang hamil.”

Ruangan itu mendadak hening. Arsen tidak bergerak. Matanya membeku. “Ulangi.”

Raka menatapnya. “Dia… hamil, Pak.”

Beberapa detik berlalu. Sunyi. Lalu— Arsen berdiri perlahan. Tangannya mengepal. Pikirannya langsung terhubung. Hotel. Malam itu. Gadis itu. Dan sekarang— Kehamilan.

“Itu dia…” gumamnya pelan. Matanya berubah.

Lebih tajam. Lebih dalam.

Sementara itu— Di bangku luar kelas— Nayra duduk dengan wajah pucat. Tangannya menggenggam tangan Sinta. “Aku takut, Sin…”

Sinta menatapnya. “Sekarang semuanya mulai terbongkar…”

Nayra menutup mata. Air mata jatuh lagi. Dan untuk pertama kalinya— Rahasia itu tidak lagi sepenuhnya miliknya.

To be continued 🙂🙂🙂

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!