Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal lagi
***
"Kamu kenapa? Muka kamu kok merah gitu? kamu sakit Bella?" Tanya Tania sengaja menyindir Bella.
"Aku senang deh, akhirnya aku bisa bebas dari pekerjaan rumah yang setiap hari begitu membosankan. Makasih banyak ya Bell... Ternyata nggak sia-sia ada kamu disini. Sering-sering dong masak banyak kayak gini, bahkan kalau bisa tiap hari juga nggak papa....Ya kan Bu?" Tania melirik kearah ibu mertuanya yang juga menatap nya tajam.
Tania tidak peduli..
"Loh, ini kamu juga masak tempe orek sama tumis jamur tiram Bella?" Tanya Tania, kening nya tampak berkerut, membuat Bella sedikit menyipitkan matanya.
"Apa maksud nya?" Batin Bella
"Ini kan makanan kesukaan Mas Raka...Tapi____"Tania sengaja menjeda ucapannya, ingin melihat reaksi mantan kekasih suaminya itu.
Bella tampak tersenyum tipis mendengar Tania menyebut masakan yang ia masak adalah makanan kesukaan Raka.
"Bu, ibu nggak bilang sama Bella kalau Mas Raka nggak suka sama tumis jamur tiram, apalagi tempe orek nya kayak nya terlalu pedas, cabe nya banyak. Mas Raka kan nggak suka pedas Bu." Tania menoleh melihat kearah ibu mertuanya seolah meminta penjelasan.
Dinda meneguk ludah nya dengan kasar, apalagi Bella ikut menatap nya dengan mata yang sudah memerah.
Entah itu marah, ataukah kecewa.
"Aduh, aku lupa lagi....." Batin nya merasa bersalah, apalagi melihat raut wajah Bella yang seketika jadi pias.
"Bu-bukan nya dulu Mas Raka suka sama makanan ini Tan, bahkan dulu___
Tania mendesis." Itu dulu Bella, sekarang sudah nggak lagi." Sela Tania begitu puas melihat wajah Bella yang sudah memerah seperti ingin menangis.
Rasanya Tania ingin tertawa melihat nya.
"Tapi kamu tenang aja, meskipun Mas Raka nggak suka, masakan kamu nggak akan mubazir kok, aku akan bantu habiskan. Yakin deh, perjuangan kamu nggak akan sia-sia kok." Tania mulai menyendok sedikit nasi memasukkan nya kedalam piring.
Brak
"Kurang aj4r kamu Mbak...."Bella sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi.
dengan kasar ia mendorong kursi dan hendak menyerang Tania dengan berusaha meraih rambut panjang tania.
Membuat Dinda terlonjak kaget, sedangkan Tania terlihat begitu tenang dan santai.
Sebelum sempat tangan Bella menyentuh rambut Tania.
Tania sudah berhasil memegang kuat lengan Bella hingga lengan wanita itu memerah.
"Jangan pernah berani menyentuh saya..."Lirih Tania kembali menatap tajam manik mata Bella yang terlihat sedikit terkejut apalagi Tania begitu kuat mencengkram lengan nya.
"Tania..... Apa-apaan kamu haah..." Bentak Dinda menggelegar, membuat dua wanita itu menoleh kearah nya.
Tania melepas tangan Bella, dan wanita itu mengaduh sakit, bersamaan dengan itu Raka, Sindi dan yang lain ikut menyusul ke meja makan.
"Tante....Sakit." Rintih Bella sembari menangis sengaja mencari simpati semua orang.
Inilah kesempatan nya.
"Mas, Mbak Tania kasar sekali, liat tangan aku sampe memerah karena dia." Ngadu Bella pada Raka, Tania hampir mual mendengar nya.
Raka menatap Tania sekilas, lalu menatap Bella lagi.
"Kita lihat saja Mas, apa kamu akan membela mantan pacar kamu ketimbang istri kamu sendiri?" Batin Tania
"Mas..." Rengek Bella lagi,
"Kamu lihat sendiri kan. Istri kamu itu memang sudah sangat keterlaluan, bahkan kemarin saja dia sudah berani membentak ibu. Dan sekarang dia malah mau memukul Bella. Besok-besok apalagi yang akan dia lakukan,?" Ujar Dinda sengaja memancing emosi Raka.
"Apa? Kapan aku bentak ibu?" Tania sedikit kaget mendengar penuturan ibu mertuanya yang malah memfitnah dirinya.
"Mas, tadi itu Bella mau Jambak rambut aku, jadi wajar kan kalau aku menghindar dan ya itu resiko dia kalau lengan nya sakit. Salah sendiri ngapain mau nyerang orang sembarangan." Ucap Tania apa adanya berharap suaminya percaya.
"Mbak Tania, kamu jahat banget sih. Jelas-jelas kita lihat sendiri tadi Mbak Tania yang menyerang Mbak Bella, dan sekarang malah menyalahkan Mbak Bella." Timpal Sindi ikut ikutan memperkeruh suasana.
"Padahal niat Mbak baik mau masak buat kalian. Tapi, Mbak Tania nggak terima, dan marah sama aku. Malah memfitnah aku mau mukul dia." Bohong Bella lagi.
"Apa? Marah? Fitnah? Mau fitnah aku rupanya kalian." Batin Tania menggelengkan kepalanya tidak habis pikir sama kelakuan mereka.
Mau playing victim rupanya.
Tania melipat tangan nya didada, ingin melihat seberapa keras usaha mereka untuk membuat nama nya menjadi buruk Dimata suaminya sendiri.
"Benaran Mbak? Kayak nya nggak mungkin Mbak Tania seperti itu." Ucap Farah tiba-tiba membela Tania.
Bahkan Tania dibuat kaget melihat perubahan sifat Farah yang tiba-tiba malah mau membela dirinya.
penjilat semua nya....
Sejak kapan wanita itu mau berdiri sisinya, bukan nya dulu ia sama saja terus menindas dirinya.
Bahkan lebih parah.
"Ibu nggak mau tau ya, kamu harus ajarin istri kamu agar tidak selalu kurang ajar sama ibu apalagi sama Bella. Bella itu tamu dirumah kita, seharus nya Tania bisa bersikap baik. Bukan malah marah-marah nggak jelas dan melukai Bella." Omel Dinda terus saja menyalahkan Tania, bahkan mulai memutar balikkan fakta menyerang nya.
Tania hampir saja tertawa dengan keras mendengar ucapan mertuanya.
"Kalau sudah berhari-hari bukan lagi tamu nama nya Bu....Tapi, numpang namanya." Ujar Tania dengan tawa mengejek.
"Kamu...." Bella menunjuk Tania tidak terima.
"Mas, kamu lihat sendiri kan. Mbak Tania itu mulut nya jahat sekali, padahal aku tadi hanya___
"Bella, cukup..." Sela Raka
"Jangan pernah menjelek kan istri aku, apalagi didepan aku....Aku yang lebih tau bagaimana sifat istri ku. Jadi cukup, aku nggak mau mendengar apapun lagi." Ucap Raka dengan tegas, matanya menatap tajam Bella.
Bella hampir menangis mendengar perkataan Raka yang justru malah membela istrinya.
Sedangkan Tania tersenyum puas mendengar ucapan suaminya dan bersyukur suaminya tidak mudah terhasut.
"Raka, kamu apa apaan hah....Tania itu sudah salah malah kamu bela terus, makanya sekarang dia mulai besar kepala dan sudah berani melawan ibu." Bentak Dinda menatap kesal putranya.
"Cukup Bu....Aku tau ibu nggak pernah suka sama istri aku, tapi aku mohon Bu, jangan terus menyalah Tania....Dia itu istri aku, kalau ibu terus saja bersikap seperti ini, jangan salah kan aku kalau aku akan membawa Tania keluar dari rumah ini." Ancam Raka terdengar tegas.
Tania terkejut dan tidak menyangka suaminya akan berkata seperti itu sama ibu nya.
Begitupun dengan Dinda," Jangan ngaco kamu Raka,"
"Udah Bu, kalau Mas Raka mau minggat. Ya minggat aja, nggak usah larang-larang segala, aku juga udah muak tiap hari harus melihat kalian terus berantem tidak jelas, bikin sakit kepala aja. Makanya aku jarang dirumah, males, kalian terlalu berisik." Ujar Alvin tiba-tiba, Alvin yang biasanya hanya diam saja kali ini berbicara mengeluarkan unek-unek nya.
"Mas, kamu ngomong apa sih?" Sindi menatap tajam Alvin yang memang suka bicara asal-asalan.
"Diberi jalan keluar malah nggak terima kalian....Udah ah, aku sama Farah mau keluar, mau makan diluar, Malas berdebat sama kalian." Alvin menarik tangan istrinya dan pergi begitu saja.
"Ini semua gara-gara kamu Mbak....Puas kamu sekarang?" Tuduh Sindi tiba-tiba.
"Kok jadi aku?" Tania tidak terima.
"Sudah dek, nggak usah di ladenin lagi. Mending sekarang kamu ke kamar, Mas mau langsung berangkat kerja."
"Tapi Mas, kamu kan belum sarapan."
"Mas sarapan dipabrik aja nanti, kamu kekamar sekarang ya." Ujar Raka, ia takut ibunya akan kembali menyerang Tania setelah ia pergi.
Tania mengangguk, dan mengerti maksud suaminya.
"Tante....hiks..." Tania kembali merengek manja setelah Raka pergi.
"Udah, kamu sabar dulu ya." Dinda mencoba menenangkan Bella yang terus menangis di pelukan nya.
"Awas kamu Tania, akan ku balas kamu.....Kamu sudah salah memilih lawan," Batin Bella dengan tangan terkepal.
"Akan aku buat Mas Raka bertekuk lutut dibawah kaki ku, lihat saja nanti...." Batin nya menyunggingkan senyum licik.