Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Suara Misterius di Malam Hari
Bab 26
Suara Misterius di Malam Hari
“Umi, Umi lama nggak pernah teliak-teliak kalau malam lo. Umi kok suka teliak-teliak kalau malam?” Pertanyaan itu, sontak membuatku terdiam. Anak kecil yang kukira tak akan pernah peduli dengan urusan orang dewasa, ternyata kritis dengan permasalahanku dan Mas Afwan malam itu.
Aku mencoba mengalihkan pertanyaan itu dengan menyuapinya sepotong kecil roti. Ia melahapnya. Namun, raut penuh tanya itu masih jelas di wajahnya. Seolah ia belum puas dengan reaksiku.
“Hamzah mau Umi ajak main di luar nggak? Kita main air di taman, yuk! Sama mandi berendam bareng robot,” ajakku padanya seraya menyudahi sarapan pagi sederhana kami.
“Ayo, Umi! Hamjah ikut,” jawabnya semangat seraya berdiri dari duduknya.
Kami bermain bersama. Di taman kecil yang baru belakangan ini dibuat oleh Mas Afwan. Hamzah terlihat bahagia saat air keluar melalui selang. Aku mencoba menekan ujung selang itu dengan jempolku. Seketika air yang semula mengalir lurus, kini pecah menjadi butiran-butiran halus.
Hamzah terkesima saat melihat air dari selang itu kini membentuk lengkungan indah serupa dengan air pancuran di kolam-kolam mewah. Ia mencoba menggapai air tersebut dengan tangan mungilnya. Kami tertawa bersama—menikmati momen bahagia kami di taman kecil belakang rumah.
Momen ini, akan menjadi kenangan membekas bagiku dan Hamzah, ketika kelak ia dewasa. Aku tak tahu, entah kapan ajal akan menemuiku. Entah siapa yang lebih dulu di antara kami. Aku … hanya bisa memasrahkan semuanya pada Allah yang Maha Kekal.
Detik jam terus berlalu. Hingga siang kini mulai menggantikan pagi. Aku dan Hamzah baru saja selesai melaksanakan salat zuhur bersama. Tiba-tiba, kudengar ia berdoa dengan nada lirih.
“Ya Allah. Berikanlah surga untuk umi Zahla. Lapangkan kuburnya. Jauhkan umi Zahla dari azab kubur ya Allah. Juga, kasih abaty dan umi Adelin umur yang panjang. Aamiin.”
Aku membalikkan badan ke arahnya. Lantas tersenyum dan membelai lembut rambutnya.
Kedua mataku memanas seolah ingin menumpahkan hujan. Lagi, aku menangis sebab ketulusan anak ini. Kupeluk ia dengan erat. Berharap doa-doanya benar-benar Allah kabulkan.
“Semoga doa-doa Hamzah Allah kabulkan ya, Nak.”
“Aamiin, Umi.”
Saat kami tengah larut dalam pelukan, tiba-tiba sebuah suara mobil di luar sana menghentikan pelukan kami. Hamzah lantas berlalu menuju suara itu. Ia bahagia saat mengetahui bahwasannya yang datang adalah sang ayah.
“Abaty pulang!” teriaknya sambil berlari menuju Mas Afwan yang kini telah berada di depan pintu rumah. Mereka berpelukan. Sebuah kecupan sayang ia daratkan di kening Hamzah.
Aku ikut menyambut kepulangannya. Kutampilkan raut wajah bahagia. Kemudian menyalaminya. Ia menerima sambutanku dengan senyum lebarnya. Lantas mengecup keningku.
“Abaty kok lama sekali sih, pulangnya? Kan Hamjah sama Umi mau ketemu Abaty. Ajak main Abaty.”
Ia membalas tanya Hamzah dengan tawa renyahnya. Lalu, ia menjawab.
“Kan Abaty lagi kerja tadi, Sayang. Sekarang kan udah pulang,” jawabnya sembari duduk pada sebuah sofa ruang tamu. Kulihat wajah lelah itu. Terllihat sedikit pucat dan lesu. Mungkin, belakangan karena ia sering begadang mengurusiku.
“Sayang, makan siang? Aku baru aja selesai masak, loh. Makan dulu, yuk!” ajakku sambil duduk di sampingnya.
“Iya, Sayang. Kamu masak apa?”
“Ada sayur sup ayam sama cabe. Kalau mau, aku ambilin, ya. Soalnya kami udah makan tadi.”
“Na’am. Syukron, Sayang.” balasnya seraya tersenyum padaku. Lantas tangan itu membelai lembut wajahku.
Aku beralih menuju dapur. Mengambil nasi di dalam magic com. Beralih mengambil sayur sup ayam di dalam sebuah panci yang terletak di atas kompor. Saat aku kembali, ternyata Mas Afwan sudah terlelap di atas sofa ruang tamu. Aku menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan.
Aku berjalan menujunya. Kugenggam tangan itu. Genangan air mata di balik kelopak mataku bagai memberi isyarat bahwa aku mengkhawatirkannya. Pelan-pelan, kubangunkan dirinya.
“Sayang, lelah kali, ya?” Ini supnya udah aku ambilin.”
Tiba-tiba, ia terbangun ketika mendengar suaraku. Ia membalasnya dengan senyuman. Meihat sup ayam itu sekilas, lalu mulai menyantapnya.
“Syukron, ya Zaujaty. Jazaakillahu khair,” ucapnya seraya tersenyum padaku. Kubalas senyuman itu, lalu berkata.
“Afwan. Wa jazaakallahu khair, Sayang.,”
Denting sendok itu beradu dengan cepat di atas piring. Ia menyantapnya dengan begitu lahap. Sesekali ia memandangku kembali dan tersenyum. Tiba-tiba. Hamzah datang setelah tadi ia sibuk bermain di dalam kamar. Ia membawakan segelas air untuk ayahnya. Dengan berjalan hati-hati, air itu tumpah sedikit demi sedikit di lantai.
Mas Afwan lantas tersenyum. Ia menyambut pemberian anaknya dengan senyum bahagia.
“Syukron, anak Abaty. Jazaakallahu khair.”
“Afwan, wa jazaakallahu khail,” balasnya kemudian berlalu lagi menuju kamarnya. Mungkin untuk kembali bermain bersama robot kesayanganya.
“Sayang, sore ini aku akan pergi safar. Kemungkinan pulang lusa. Boleh, kan?”
Seketika darahku berdesir. Bagaimana mungkin malam ini aku akan menghabiskan waktu sendirian tanpanya? Kupegang jantungku. Ia kembali berdebar seolah tanpa permisi dan aba-aba.
“Memangnya … ada apa, Sayang?” tanyaku memastikan ucapannya.
“Ada safar bersama para jamaah kajian dan juga ustaz lainnya. Semua yang ikut ikhwan. Kami akan menghadiri kajian umum yang dibawakan oleh syaikh dari Madinah di Jakarta.”
Aku mengangguk. Anggukan yang sejatinya menunjukkan bahwa aku paham.
“Boleh, ya? Syukron, ya, Sayang. Nanti aku bawakan oleh-oleh untuk kamu. Jaga anak kita ya, Sayang,” ucapnya seraya membelai lembut rambutku.
Mataku memanas. Tangis di balik kelopak mata sebentar lagi hendak turun. Namun, kutahan semua itu dengan kembali menebar senyum padanya. Lagi pula, ia safar bersama jamaah laki-laki dan ustaz. Tidak mungkin aku ikut di sana. Bisa-bisa, aku menyusahkannya.
Sore itu datang. Aku telah menyiapkan baju-baju untuk keperluan safar Mas Afwan. Kulihat, ia sedang menyemprotkan sebuah parfum ke baju kokonya. Aku menghampirinya sembari membawa tas berisi pakaiannya selama safar.
“Ini Mas. Pakaiannya semua di sini. Kalau pakaian dalam ada di bagian sini, ya,” ucapku seraya tersenyum.
“Baik, terima kasih ya, Sayang. In sha Allah doakan suamimu selama di perjalanan, ya.” Aku menganggukkan kepala lantas tersenyum padanya.
"Fii amanillah, Sayang," ucapku sambil menyalami tangannya.
Ia mengecup keningku lama. Lalu berkata, "Ma'asalamah. Hamzah! Abaty pergi dulu, ya."
"Abaty mau ke mana lagi?" tanya Hamzah penasaran.
"Safar, Nak. In sha Allah Abaty pulang dua hari lagi, ya."
Hamzah mengangguk lantas menyalami tangan ayahnya. Sang ayah menggendongnya, mencium sekilas pipinya, lalu menurunkannya kembali.
"Fii amanillah, Abaty," ucap Hamzah sambil melambaikan tangannya.
"Ma'asalamah."
Malam yang mencekam datang. Aku duduk di tepi jendela kamar yang sedikit terbuka dengan mengenakan jilbabku. Hamzah kali ini tidur bersamaku. Aku ingin, ada yang menemaniku malam ini. Kubaca beberapa buku untuk penenang hatiku di kala ketakutan oleh sepi. Sebuah buku fiqih wanita yang bagus untuk dibaca semua muslimah.
Lembar demi lembar kubaca. Namun tiba-tiba … entah mengapa darahku seolah berdesir. Kuucapkan istigfar berulang kali. Kugenggam jantungku yang kini kian berdebar tanpa jeda. Aku … lagi-lagi dirundung penyakit yang aku sendiri tak paham dengannya.
Tiba-tiba … sebuah bisikan di telinga kembali hadir. Sebuah kalimat yang mampu meluluhlantakkan hatiku.
“Kamu tak berguna!” Suara itu. Bukan suara orang lain, melainkan … suaraku sendiri.
“Kamu tak layak ada!”
Napasku memburu. Dada bagai dihunus ribuan belati. Aku menepi ke sudut dinding kamar. Kutahan suara yang hendak mengeluarkan teriakan. Tidak! Aku tak mungkin melakukannya bukan? Lihat saja, anakku sedang tidur bersamaku malam ini. Lagi pula, ia telah mengetahui teriakanku hampir setiap malamnya.
Kututup mata perlahan. Berlindung dengan menekuk lutut. Kutenggelamkan wajahku ke dalam lipatan tangan. Suara-suara itu semakin berkumpul seperti membacakan sebuah mantra dengan cepat. Hingga tiba-tiba semuanya diam. Namun, ada satu suara yang kini menetap. Suara yang mengatakan bahwa ….
“Kamu tak lagi suci, Adelin!”
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥