NovelToon NovelToon
Celestia Online

Celestia Online

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Aksi / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: alicea0v

Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1-Masa depan Eltra

Mundurnya Kapten Leon dan pasukannya dari Desa Tura menyisakan keheningan aneh. Warga desa tadinya bersorak, perlahan diam teratur. Mata mereka menatap Alice dengan binar pemujaan yang melampaui logika manusia biasa.

Alice dan teman-temannya berdiri di tengah alun-alun, hanya bisa saling lirik, terjebak dalam kecanggungan yang menyesakkan.

Hening.

Kepala Desa Tura melangkah maju dengan getaran di pundaknya, memberanikan diri. "Wahai dewi yang agung.. Izinkan kami semua membalas kebaikan engkau.." Ia berucap dengan nada yang penuh penghormatan sedalam samudera.

"Ti.. Tidak usah kepala Desa.. Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan." jawab Alice sembari menyunggingkan senyum canggung.

"Oh... Betapa murah hatinya.... " Isak tangis tertahan pecah dari seorang ibu di kerumunan warga. Ia menutup mulutnya, tak kuasa Menahan haru.

Kepala desa yang mendengar jawaban Alice tampak sangat tersentuh. Atau mungkin, matanya memang sudah terlalu buta oleh kabut pemujaan.

"Wahai Dewi.. Yang mulia... Hamba mohon, berikan hamba dan warga Desa Tura, kesempatan untuk memberikan persembahan kepada engkau, kami masih memiliki sejumlah makanan di gudang persediaan yang belum di serang monster hijau. Izinkan kami mempersembahkannya padamu, wahai dewi yang agung." ucap sang kepala desa penuh khidmat.

"Persembahan? Kau pikir aku dedemit?" batin Alice, merasa geli sekaligus ngeri dengan sikap berlebihan itu."Tapi, aku dan teman-teman juga butuh tempat istirahat sih." Pikirnya lagi, penuh pertimbangan.

Alice memejamkan mata perlahan, menghela napas panjang untuk menenangkan sarafnya.

"Haaah.... "

Bruk...!!!

Suara hantaman serentak ke tanah mengejutkan Alice. Seluruh warga desa itu melihat Alice menghela napas dan langsung bersujud ketakutan.

"Am.. Ampuni kami Dewi... Apa kami membuat kesalahan sampai engkau harus merasa risau? Apa ada masalah dengan persembahan kami?" Kepala desa merangkak berlutut di dekat kaki Alice, menatap ujung sepatu gadis itu dengan raut wajah gelisah luar biasa.

Alice hanya bisa menatap mereka dengan pandangan malas, seolah sedang menonton drama kolosal yang terlalu maksa. Namun, satu hal yang ia sadari: ini bukan lagi akting. Tubuh-tubuh mereka bergetar di atas tanah itu adalah bukti nyata dari kefanatikan murni.

"Ampuni kami... Dewi.. " gumam warga serempak, menciptakan dengungan mistis di alun-alun.

"Eh? Menghela nafas saja, bisa bikin mereka begini? Apa-apaan ini?" Batin Alice keheranan. Ia lalu menoleh ke arah Xena dengan tatapan 'tolong bantu aku' yang sangat jelas.

Xena menangkap sinyal itu lalu mengangguk mantap. Ia melangkah maju, berhenti tepat di samping kepala desa yang masih berlutut, lalu berdehem keras untuk mencari perhatian.

"Uhumm... Kepala Desa yang baik hati... Dengarkan aku! Dewi.. Tidak marah dan risau! Dia hanya ingin kalian mengerti sesuatu." ucap Xena dengan nada berwibawa sedikit dipaksakan, diikuti anggukan mantap dari Alice.

​"Dewi Alice terbiasa dengan hidangan dari surga. Bahkan sungai tempatnya berendam pun dialiri anggur terbaik. Jadi... Beliau hanya ingin kalian paham bahwa kualitas persembahan kalian haruslah yang sebaik-baiknya! Ehehe... ehehe..." Xena menjelaskan, air liurnya hampir menetes membayangkan pesta pora gratis.

Alice mengangguk setuju pada awalnya, sebelum otaknya memproses kalimat Xena. "Xenaaaa...!!!" teriaknya dalam hati matanya terbelalak.

​Arthur mulai memijat pelipisnya. Albertio tersenyum kecut, sementara Violet tampak tidak peduli dengan kebohongan publik yang baru saja tercipta. Namun, bagi kepala desa, ucapan Xena adalah wahyu.

"Jadi begitu... Tentu.. Tentu saja nona teman dewi, hamba dan seluruh penduduk akan menyajikan makanan dan minuman terbaik kami!!" Ucap kepala Desa sambil mendongak menatap wajah Alice.

Alice ragu untuk mengoreksi, tidak ingin menghancurkan momentum harapan warga. "Kepala Desa... terima kasih telah melayani kami. Aku akan membalasnya saat manaku sudah pulih nanti." Alice mencoba menuntun pria tua itu untuk berdiri.

​"Ooh... sungguh maha pengasih... Dewi..." Kepala desa berdiri dengan tungkai gemetar karena haru. "Kalian dengar?! Ayo bersiap! Sajikan jamuan makan malam terhebat untuk Sang Dewi dan para pelindungnya!"

Seketika, warga bersorak dan berpencar. Mereka menata meja, membersihkan sisa pertempuran, dan mengamankan stok makanan secara sukarela yang luar biasa.

Arthur berdiri di samping Alice. "Lihatlah, apa yang mereka lakukan untukmu Alice. Seminggu lalu kau adalah gadis yang tersesat di hutan. Sekarang kau adalah dewi mereka." Arthur memperhatikan warga, mereka sedang sibuk bekerja.

"Entahlah, Arthur. Tapi jika kekuatan ku ini memang bisa menyelamatkan dunia, maka akan ku gunakan untuk membawa kedamaian." Balas Alice dengan senyum elegan. "Demi keselamatan dunia, dan diriku sendiri. Aku tidak mau mati disini sebelum bisa pulang ke duniaku!" Pikirnya dalam hati.

putra kepala Desa mendekat dari kejauhan, setelah mengamankan beberapa stock makanan. Ia berlutut dengan satu kaki di samping ayahnya, menghadap Alice.

"Ayah, makanan kita cukup untuk persembahan malam ini. Dan masih tersisa untuk persediaan satu bulan ke depan. Makhluk hijau tadi tidak sempat merusak semuanya."

"Bagus, sajikan makanan terbaik beserta anggur terbaik kita." Perintah kepala Desa mantap.

"Baik!" Jawab putra kepala desa itu dengan sigap dan langsung berdiri bersiap melaksanakan tugasnya.

"Kepala Desa, maaf.. Tapi masalah anggur itu... " Potong Alice ingin protes secara lembut.

"Ah begitu.. Saya mengerti! Anakku, siapkan juga anggur untuk mandi dewi Alice!" Tambah kepala desa tegas yang di balas oleh anggukan mantap oleh anaknya sendiri.

Alice sedikit ternganga mendengar perintah aneh tersebut. "Tidaaaak.... Bukan itu...!!! Aku mau bilang aku tidak bisa minum anggur, aku cuma mau segelas susu!!!" batinnya berteriak panik. Ia mencoba menggapai tangan putra kepala desa, namun pemuda itu sudah melesat pergi menjalankan titah ayahnya.

Alice menoleh dan menemukan Xena sedang tersenyum puas. Alice menatapnya dengan pandangan tajam dan kesal, namun Xena hanya pura-pura bodoh sembari mengamati warga yang bekerja keras tanpa dibayar sepeser pun.

Waktu kian berlalu, semburat jingga di langit Desa tura perlahan memudar menyisakan kegelapan malam yang di hiasi bintang dan rembulan. Aroma masakan begitu menggoda, mengisi udara di sekitar Alun-alun Desa. Cahaya berasal dari beberapa lilin dan api unggun menjadi sumber utama penerangan malam itu.

​Pesta berlangsung sangat meriah. Meja-meja kayu panjang dipenuhi roti gandum, daging empuk, dan buah-buahan segar. Alice dan teman-temannya duduk di meja utama yang telah dihias sedemikian rupa.

Warga desa sibuk bercerita dan makan bersama dengan keluarga, kehidupan ini di berikan Alice sore tadi, membuat mereka bisa menatap orang-orang yang mereka cintai sekali lagi dengan penuh rasa syukur.

Namun, di tengah keriuhan itu, Alice duduk dengan perasaan berkecamuk. Ia menatap rekan-rekannya—Arthur yang tampak lelah, Albertio masih diam seribu bahasa, Xena asyik mengunyah dan meminum anggur, bahkan air liurnya menetes, dan Violet sedang asyik memutar-mutar belatinya lalu mencincang daging yang sebenarnya sudah terpotong rapi dengan wajah riang.

​"Teman-teman..." Alice membuka suara, memecah keheningan di meja mereka. "Aku ingin meminta maaf. Gara-gara kekuatanku dan keputusanku tadi, kalian semua sekarang ikut menjadi buronan kerajaan bersamaku."

​Arthur meletakkan gelas kayunya, menatap Alice dengan tatapan tenang seperti biasanya. "Jangan dipikirkan, Alice. Tanpa kejadian hari ini pun, aku memang sudah bosan melihat ketidakadilan di dunia ini. Setidaknya sekarang aku tahu alasan kenapa aku mengangkat pedang."

​"Lagipula, makanan di sini enak!" celetuk Xena, mulutnya di penuhi makanan. "Menjadi buronan sambil kenyang itu jauh lebih baik."

Violet tetap diam, mencincang daging di piringnya. wajah riangnya terlihat aneh. Sementara itu, Albertio meminum anggurnya perlahan.

"Tempat ini tidak buruk." Albertio menatap meja tenang, "Alice, akulah yang seharusnya minta maaf. Kejadian di dungeon tadi.." Ia menggantung kalimatnya penuh penyesalan yang dalam.

Alice menggenggam tangan Albertio pelan, membuat pria itu sedikit terkejut dan menatapnya.

"Albertio, aku mengerti perasaan mu, tidak usah minta maaf. Tapi.. " Alice melirik Albertio, ia tersenyum nakal, membuat pria itu bergidik ngeri.

"Ta.. Tapi?" Tanya Albertio pelan sambil menelan ludah.

"Bersiaplah menuruti satu permintaan ku, kau berhutang padaku! Aku hampir mati karena mu tahu." Alice mendengus pura-pura kesal, namun malah membuatnya terlihat menggemaskan.

"Oh.. Ba.. Baiklah.. Selagi permintaan itu tidak berlebihan." Balas Albertio ragu.

"Kau harus menuruti Alice, pengguna katana bodoh. Dia tidak akan menyesatkanmu... ku rasa." Arthur bersedekap memejamkan mata.

"Kau tahu apa, ksatria kaku!" Balas Albertio ketus. "Tapi.. Yah.. Ku rasa... Dari semua yang kau lakukan Alice, kau tidak akan berbuat aneh-aneh seperti Xena." Albertio tersenyum simpul, senyum yang tulus untuk pertama kalinya sejak keluar dari reruntuhan Athena.

"Apwaa...??? Aku twidak... Awneeeh... Aku mmmm nyam..nyam.. Aku ini... Profesional!!!" Xena merengek kesal sambil mengunyah sepotong daging di mulutnya.

"Yah kau sangat profesional Xena, kami semua tahu itu." Balas Albertio tersenyum simpul sembari melirik Arthur.

Brak..!!

Xena menghentak meja pelan dengan tangannya. Lalu menunjuk-nunjuk wajah Albertio, menggunakan potongan daging yang masih di tangan. Tingkah Xena membuat warga Desa menoleh pada gadis itu, namun mereka tidak berani ikut campur.

"Kau meremehkanku ya?!" Tanya Xena kesal dan imut.

Alice mengusap pelan punggung Xena mencoba menenangkannya.

"Xena, sudah.. Dia hanya menggodamu.."

"Hufft.. " Xena memalingkan wajah dari Albertio menutup kekesalan yang di buat-buat.

Alice mendekatkan wajahnya ke telinga Xena, lalu berbisik pelan, sangat pelan sehingga hanya Xena yang bisa mendengarkannya.

"Xena.. Jangan lupa, di kamar kita ada seember anggur yang di siapkan warga." Mata Alice perlahan menggelap menatap Xena. "Harus kita apakan anggur itu? Aah... Ya, sebagai pendamping dewi yang sering mandi di surga, kau harus menggosok punggungku benarkan?" Ucap Alice menatap sisi wajah Xena, senyumnya membuat wanita itu merinding.

"Hiii....!!! A... Alice?" Xena menoleh ke arah Alice dengan gerakan patah-patah, wajahnya memucat. "Te.. Tentu saja.. Ahaha.." Ia menelan ludahnya sambil menghindari kontak mata pada Alice secara langsung. Alice hanya tersenyum simpul melihat tingkahnya itu.

Suasana di alun-alun menjadi sangat kikuk dan anehnya terasa harmonis kali ini. Mereka makan sangat lahap, Albertio dan Xena mulai membahas pelombaan meminum anggur. Violet yang sejak tadi makan dalam diam tiba-tiba berbicara serius.

"Baiklah, kita sekarang sudah jadi buronan. Kita tidak bisa kembali ke kota. Jadi selanjutnya bagaimana?" Violet menatap teman-temannya serius.

"Kau benar vio, kita butuh rencana." Arthur menopang dagu menggunakan satu tangannya.

"Baiklah, apa rencanamu dewi yang agung?" Tanya Albertio tenang menatap Alice.

"Ummm aku?" Alice tersentak heran sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Tentu saja kau, kau yang memulai semua ini." Balas Albertio tenang.

Alice menyipitkan matanya, sebuah kebiasaan jika ia sedang berpikir keras. Sementara rekannya menatap Alice dengan serius.

"Eltra celestia sudah menganggapku berbahaya, aku tidak akan bisa hidup aman di luar sana tanpa perlindungan dari arthur dan yang lain." Batin Alice menganalisis situasi saat ini.

"Caranya hanya 2, Lari atau hadapi, jika aku berlari aku harus lari kemana? Itupun hanya menunda waktu, cepat atau lambat mereka akan menemukanku." Pikir Alice sembari mengetuk jari ritmis di atas meja. Mendadak matanya sedikit menajam. Lalu ia menatap mereka satu persatu.

"Teman-teman, aku akan menguasai kerajaan ini." Alice berbicara sangat yakin. Membuat Xena yang sedang memperhatikan sambil minum anggur, menyemburkan anggur tersebut.

"Pfff.... Apa? Alice? Kau sadar apa yang kau katakan?" Tanya Xena tidak percaya, semburan wanita itu membasahi wajah Arthur, Arthur hanya mengusap wajahnya yang basah dengan sisa-sisa kesabaran yang ada.

"Xena, bertingkahlah seperti...-Seorang gadis-" Arthur memelankan suaranya di kata terakhir." Tapi aku juga bertanya-tanya Alice, pasukan kerajaan itu sangat kuat. Kita hanya berlima. Bagaimana mungkin kita bisa menguasai kerajaan ini? " Arthur membersihkan wajahnya yang basah.

Alice hanya tersenyum simpul menatap mereka, membuat semua orang penasaran.

"Arthur, saat pertama kali berjumpa, kau bilang kalau Eltra Celestia ini kerajaan yang sangat menjunjung tinggi dewa bukan?" Alice menyeringai tipis menatap Arthur.

"Ya begitulah, kenapa dengan itu?" Arthur balik bertanya karena rasa penasaran.

"Bagaimana jika... Kita gantikan dewa lama mereka, dengan dewi yang baru?" Alice memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh warga yang sibuk berpesta di sekitar mereka. Pernyataan itu membuat mereka semua terbelalak kagum. Violet tersenyum tipis di samping Alice.

"Mengagumkan... cara ini... Sepertinya kita punya peluang untuk menguasai ibukota!" Violet tersenyum riang.

"Dewi baru? Apa itu artinya kita akan membuat keyakinan baru?" Xena mulai terlihat serius meski sisa remah-remah roti ada di pinggir bibirnya.

"Tidak Xena." Alice memejamkan mata dan tersenyum. "Jika kita membuat keyakinan yang bertentangan dengan iman mereka saat ini, itu akan sangat sulit. Mungkin kita akan langsung di buru dan di bunuh." Alice menatap mereka semua, ia tersenyum misterius.

"Kita akan mengubah sejarah, kita akan ceritakan bahwa dewa lama mereka hanyalah anak-anakku yang ku utus saat aku masih di surga, Dan sekarang aku yang turun langsung ke benua Vlagria untuk membawa kehidupan bagi dunia ini." Alice menjelaskan lore cerita yang baru saja ia pikirkan untuk memanipulasi rakyat Eltra.

"Dengan begini..." Alice menatap mereka semua, tatapannya sedikit licik, bangkit karena hasrat untuk bertahan hidup.

Arthur ternganga mendengar rencana Alice. Albertio menajamkan pandangannya, violet semakin tersenyum lebar, hanya Xena yang bingung sendiri.

"Dengan ini, kita tidak memaksa mereka memeluk iman baru, kita hanya memberikan mereka pelajaran bahwa dewa lama mereka adalah anakmu Alice, dan sekarang mereka harus menyembah ibunya." Arthur bergumam kagum oleh rencana Alice.

"Mereka tidak akan berani menyerangmu sembarangan, jika mereka menyerangmu, mereka akan merasa berdosa karena menyerang ibu dari dewa mereka sendiri." Tambah Albertio tenang.

"Ternyata kau licik juga ya nona kelinci?" Violet menepuk pundak Alice pelan, Alice hanya membalasnya penuh senyuman.

"Tunggu!! Tunggu! Jadi bagaimana? Bukannya kita mau menguasai kerajaan, kenapa malah membahas keluarga dewa?" Xena kembali mengunyah daging dan roti, ia kebingungan menatap Alice. Tindakannya itu hanya membuat Arthur dan Albertio menggelengkan kepala mereka pelan.

"Rencana yang bagus, lalu bagaimana langkah awal dari penyebaran cerita ibu dewi palsu ini?" Arthur kembali bertanya serius.

Alice melirik makanan yang ada di meja mereka, disana ada roti, buah segar, daging, anggur, dan beberapa sayuran. Semuanya adalah hasil penimbunan warga desa dalam waktu beberapa bulan belakangan ini.

Ia lalu kembali menatap rekannya.

"Perdagangan." Alice berbisik pelan, "dengan berdagang ke beberapa kota dan desa terdekat, kita bisa menyebarkan racun ini ke ibukota." Alice lalu bersandar di kursinya dan meminum susu di gelasnya.

"Racun yang menyebar di dalam tubuh pasti akan memberikan rasa sakit pada otak, otak yang terganggu akan memberi perintah pada organ tubuh yang belum terkena racun untuk membersihkannya. Jadi bersiaplah teman-teman, mereka pasti tidak akan tinggal diam setelah ini." Alice menyilangkan kakinya dengan anggun, gerakannya yang anggun sangat kontras dengan gelas berisi susu di tangannya.

"Ide bagus, kita akan lakukan itu besok. Sekarang aku sangat lelah." Albertio terhuyung pelan berusaha menahan kantuk yang mulai menerpa.

Arthur melambaikan tangan kepada kepala desa yang berada di meja lain, kepala desa yang sedang mengomeli anaknya itu, perlahan berdiri dan menghampiri meja Alice.

"Ada apa tuan Arthur? Apa persembahan kami ini sudah sesuai dengan selera anda dan dewi Alice?" Kepala desa tersenyum ramah.

"Tentu saja pak kepala desa, sudahlah pak, tidak usah berbicara formal padaku. Kita sudah kenal sejak lama bukan?" Arthur meminum anggurnya mantap.

"Ahaha anda benar sekali, Tapi tetap saja tuan Arthur, anda membawa dewi ke desa kami.. Itu sesuatu yang sangat saya hargai." Balas kepala desa ramah.

Violet memotong pembicaraan mereka. "Pak, dewi sudah lelah dan ingin segera beristirahat. Mulai sekarang kami akan menginap di desa ini sementara." Violet memainkan belatinya pelan.

Namun kata-kata Violet disambut oleh keheningan yang...aneh, bahkan suara jangkrik pun terdengar sangat nyaring saat itu. Sebuah keheningan yang datang sebelum badai tiba.

Hening...

Beberapa detik kemudian, warga yang sedang berpesta berteriak penuh semangat merasa desa mereka di berkahi.

​"WOOOOOOH! DEWI AKAN TINGGAL DI SINI?!"

"BERKAH! DESA KITA DIBERKAHI!"

"PANEN TAHUN INI PASTI BAGUS!"

"AKU HARUS MEMINUM AIR MANDI DEWI AGAR AWET MUDA!!!"

Sorak sorai itu menggema di udara malam yang cukup dingin, membuat Wajah Alice sedikit memerah.

"Bwahahaha... Dengar itu, Alice... Mereka akan meminum air sisa mandimu! " Xena tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja.

Albertio hanya mendengus tenang melempar senyum tipis, Arthur memalingkan wajahnya menatap lilin di meja yang tiba-tiba terlihat sangat menarik di bandingkan apapun.

Psshh..!!!

Wajah Alice memerah padam, asap imajiner seolah mengepul dari telinganya. Ia menunduk malu lalu menendang kecil Kaki Xena di bawah meja.

Violet bertepuk tangan riang, "benar sekali, minum sebanyak banyak... nyAaak..." Mulutnya di bekap paksa oleh telapak tangan Alice.

"Ke.. Kepala desa, kalau begitu kami beristirahat dulu ya!!!" Ucap Alice, wajahnya memerah, ia berdiri membekap mulut violet dan menyeretnya ke rumah yang tadinya di siapkan warga hanya untuk mereka menginap malam ini.

Langkah kaki Alice di ikuti oleh Xena yang melambai kepada warga sambil membawa sekantung makanan dan botol anggur di tangan lainnya. Arthur dan Albertio juga mengikuti dari belakang secara perlahan, menuju tempat istirahat yang sudah di siapkan penduduk.

Akhirnya, mereka bisa beristirahat tenang malam ini, setelah hari yang panjang dan melelahkan.

​Di saat yang sama, jauh di dalam sebuah kediaman mewah Eltra Celestia, laporan rahasia mendarat di meja seorang Duke. Kapten Leon berdiri dengan sikap tegak, memberikan laporan terperinci mengenai kejadian di Desa Tura.

​"Dia bukan sekadar penyihir penyembuh, Tuan," ucap Leon, nadanya begitu serius. "Penduduk desa menyembahnya seperti dewi. Jika dibiarkan, pengaruhnya akan menggoyahkan otoritas kerajaan dan gereja."

Duke Franscov yang mendengar itu Tersenyum licik. Kabar tentang Alice bukan lagi sekadar rumor pinggiran; ia telah menjadi ancaman nyata yang harus segera dipadamkan sebelum cahayanya menyinari seluruh benua. namun Franscov justru semakin senang mendengar berita itu.

"ahahaha... AHAHAHAHA PAK TUA... Ini yang terbaik..!!! Sepertinya masa-masa kejayaanmu akan segera berakhir! ahahaha..!!" Franscov tertawa licik di sela-sela hembusan asap cerutunya.

perlahan tawa itu memudar, ia berusaha menarik nafas, menenangkan getaran kesenangan yang menjalar di seluruh tubuhnya.

"hah... hah.. hah... " Franscov tersenyum licik.

"Apa pembunuh terbaik kita sudah mulai bekerja?" Tanya Franscov pelan kepada kepala pelayan di sampingnya.

"sudah Tuan...!!" Jawab pelayan itu gemetar ketakutan di samping Franscov yang membuat mata pria itu berkilat dingin sembari tersenyum tipis.

​Roda peperangan besar baru saja mulai berputar di antara pusat kerajaan dan desa kecil yang kini menjadi lebih spesial.

1
T28J
buset, kebablasan bah, jauh banget 20 meter 🤣
alicea0v: Eh, Kejauhan kah🤭🤭🤭 gomenasaai..
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
aku akan selalu mendukungmu/Rose/
Manusia Ikan 🫪
TUH SUDAH AKU DUGA DARI AWAL CHAPTER 🤣
Manusia Ikan 🫪: insting ku ini cukup kuat loh/Doge/
tidak ada yang kebetulan untuk nama author dan MC yang sama... kecuali keduanya saling terhubung🥴
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
inilah tantangannya :v
Manusia Ikan 🫪
semangat ya, aku juga gitu T_T
cape😅
alicea0v: makasih bg 🤣 semangat atta halilintar.
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
Hai sayang☺
Manusia Ikan 🫪
is is iiis :v
Manusia Ikan 🫪: iyaa, cantik kok kayak authornya🌹
total 6 replies
Manusia Ikan 🫪
wow bisa ganti POV gitu ya dari sudut pandang ketiga ke pertama... menarik manrik... 🥴
Manusia Ikan 🫪
ooh bagus bagus, aku bakal copy skill ini untuk ceritaku selanjutnya😜
Manusia Ikan 🫪: iya iyaaa :v
total 4 replies
Manusia Ikan 🫪
baru juga aku selesai nulis pertempuran di reruntuhan kuno juga, sama sama di ganggu oleh debu yang bikin sedak sama sakit mata😹 malah ketemu bab ini di sini, kebetulan macam apa ini. 😹
Manusia Ikan 🫪
segala ada lubang 😹
Manusia Ikan 🫪: iyaaah, maap baru hadir :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
uweeek daging orc🥴
Manusia Ikan 🫪
temaram artinya apa?
Manusia Ikan 🫪: oalaaah :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
agak kejam juga aturannya😹
alicea0v: kan dunianya jadi real gitu🤭
total 1 replies
T28J
cantik. juga si Hestia /Drool/
alicea0v: Ehehe... 🤭 apa ceritanya udah bagus kak? apa yang kurang?
total 1 replies
T28J
kasih bunga untuk 3 jam nya /Rose/
alicea0v: Terima kasih /Drool/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bahaya, bisa meninggal oleh tersedak kalau kayak gitu🥴
alicea0v: Roti bantal bang.. gak kesedak kok.. 😄
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
/Sob/ gak jadi sedih deh gue🤣
alicea0v: Wah makasih banyak kakak, kalau ada kritik yang membangun jangan segan-segan ya.. 🙏🙏😍😍
total 3 replies
T28J
/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!